Category Archive Kubah Masjid

Masjid Agung Lasusua – Kolaka Utara

Masjid Agung Lasusua

Bangunan Masjid Agung Lasusua berdiri dengan sangat megah di Jalan Bypass Desa Ponggiha, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Lasusua sendiri merupakan sebuah nama kecamatan yang sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Kolaka Utara. Sebenarnya, Masjid Agung Lasusua ini memiliki nama resmi yaitu “Masjid Agung Bahrurrasyad Wal Ittihad”. Karena namanya agak terlalu panjang dan sulit diingat, akhirnya masjid ini hingga sekarang lebih dikenal dengan sebutan “Masjid Agung Lasusua”, karena memang masjid ini ditujukan sebagai pusat peribadatan dan kegiatan keagamaan untuk masyarakat Kabupaten Lasusua.

Pembangunan Masjid Agung Lasusua sendiri dilakukan pada tahun 2008, pada masa pemerintahan Rusdi Mahmud, Bupati Kolaka Utara yang menjabat kala itu. Kemudian bangunan masjid ini pertama kali digunakan untuk sholat Idul Fitri tahun 2011 lalu, meskipun pada saat itu proses finishing untuk masjid ini belum selesai secara keseluruhan.

Riwayat Pembangunan Masjid Agung Lasusua

Pembangunannya memang membutuhkan waktu yang agak lama yaitu sekitar 9 tahun, dari tahun 2008 hingga tahun 2017. Pembangunannya selesai secara total pada bulan Juni 2017 lalu, dengan luas bangunan yang mencapai 2.500 meter persegi, berdiri diatas lahan seluas 22.500 meter persegi. Dengan ukuran yang cukup besar tersebut, Bangunan Masjid Agung Lasusua dapat menampung hingga 3.000 jamaah sekaligus.

Hal yang unik dari pembangunan masjid ini adalah integrasinya yang cukup mengesankan beriringan dengan pembangunan pusat pemerintahan untuk Kabupaten Kolaka Utara. Bangunan Masjid Agung Lasusua berdiri dengan sangat megah diatas lahan reklamasi yang berada di lepas pantai Lasusua. Tidak hanya bangunan Masjid Agung Lasusua yang dibangun, namun juga seluruh jaringan jalan raya yang membentang sepanjang pantai juga turut dibangun bersamaan. Tentu saja hal ini membuat lahan reklamasi tersebut menjadi sangat indah, terutama jika dilihat dari atas. Jalurnya dibuat memiliki 6 jalur yang berbeda menuju bangunan masjidnya.

Sekilas Tentang Kabupaten Kolaka Utara

Kabupaten Kolaka Utara yang beribukota di Kecamatan Lasusua ini merupakan sebuah kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Kolaka yang disahkan pada tanggal 18 Desember 2003 lalu. Kolaka Utara menjadi salah satu wujud pemekaran Kabupaten yang memiliki tingkat pertumbuhan yang pesat, terutama pada Infrastruktur, Pendidikan, dan Perekonomiannya, terutama ditopang oleh sektor pertambangan. Kota Kabupaten ini pada awalnya memang cukup tertinggal, namun saat ini sudah dirubah menjadi sebuah kota metropolitan yang indah, bahkan mampu meraih anugerah Adipura.

Yang unik dari Kolaka Utara adalah menjadi satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Tenggara yang mempunyai jalan tol. Jalan tol tersebut disebut dengan Tol Lasusua – Tobaku, dimana pembangunannya menghabiskan dana milyaran rupiah karena diharuskan untuk mereklamasi laut Lasusua. Sebelum adanya jalan tol, akses jalan ke Dermaga Tobaku dari Lasusua harus melewati terjalnya jalan di pegunungan Lasitarda sehingga akses bisnis sedikit terganggu.

Arsitektur Bangunan Masjid

Karena dibangun di lepas pantai yang merupakan tanah reklamasi dari laut, tentu saja pemandangan yang diberikan terasa sangat indah, terutama pada saat sunrise (matahari terbit).

Bangunan Masjid Agung Lasusua ini memiliki konsep arsitektural khas Timur Tengah modern. Sebuah kubah berukuran besar di pasang di tengah-tengah bangunan utama, dengan balutan warna kuning keemasan. Beberapa kubah kecil dengan warna yang sama juga ikut dipasang di sekeliling kubah masjid utama.

Sebanyak 3 menara masjid yang dibangun di sisi barat, utara dan selatan terpisah dengan bangunan utama menjualgn tinggi dengan bentuk bangunan yang sangat indah. Bangunan menaranya dibuat berbentuk bulat, dengan kubah kecil di bagian atasnya, yang juga berwarna keemasan.

Bangunannya dibuat dengan sangat megah, dengan hiasan mozaik dibagian fasad dan gerbangnya. Masuk kedalam masjid, kita akan disuguhi dengan keindahan kemegahan tersendiri, terutama dari bagian lantai dan dinding yang dibalut keramik yang mengkilap. Berbagai ornamen termasuk lukisan kaligrafi juga dapat kita temukan di beberapa sudut bagian masjidnya.

Masjid Agung Majalaya Kabupaten Bandung

Masjid Agung Majalaya

Masjid Agung Majalaya merupakan Masjid yang berada di pusat kota Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lokasinya berada di tengah keramaian pasar tengah Majalaya, bersebelahan dengan Kantor Urusan Agama kecamatan Majalaya dan Alun Alun kota Majalaya. Di Lingkungan Masjid Agung Majalaya ini juga menjadi tempat berkantornya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat (BAZ) Kecamatan Majalaya.

Majalaya merupakan salah Desa sekaligus juga nama kecamatan di kabupaten Bandung, provinsi Jawa Barat. Secara geografis, Majalaya berada diketinggian sekitar 683 meter dari permukaan laut sehingga udara di kota ini cukup sejuk dibandingkan dengan kawasan pantai Jawa Barat. Di era tahun 1960-an, Majalaya sempat dijuluki sebagai kota Dolar sebagai akibat dari kemajuan ekonominya yang luar biasa pesat. Di pusat kota Majalaya ini sudah sejak jaman penjajahan Belanda telah berdiri sebuah Masjid Agung bersebelahan dengan Alun Alun Kota.

Arsitektur Bangunan Masjid

Masjid Agung Majalaya memiliki gaya arsitektur mirip dengan Masjid Demak di Jawa Tengah dengan atap limas bertumpang empat. Pada setiap tingkatan terdapat jendela jendela kaca berukuran kecil sebagai sumber cahaya alami disiang hari. Bagian atap kubah masjid atau sirap Masjid berasal dari Kalimantan. Di dalam masjid terdapat empat sokoguru menyangga struktur atap tumpangnya. Masing masing sokoguru berbentuk bulat berdiameter sekitar 50 cm, pada bagian bawah tiang terdapat umpak berbentuk segi empat berwarna putih berukuran 80 cm x 80 cm x 105 cm yang berasal dari Demak.

Ruang utama masjid berukuran 14,70 m x 14,70 m. Pintu masuk ke ruang utama berada di sisi timur, berukuran lebar 1,95 m dan tinggi 2,23 m. Sementara di sisi utara dan selatan terdapat dua pintu masuk lainnya. Pintu masuk ini berbentuk lengkung pada bagian atasnya, yang serupa dengan elemen bangunan masjid di kawasan Timur Tengah. Pintu kiri dan kanan masjid ini masing masing mengarah ke area tempat berwudhu, dan hanya dua pintu ini yang selalu dibuka sepanjang waktu.

Ruang utama dikelilingi oleh serambi dengan jendela-jendela pada dindingnya. Ruang mihrab masjid ini cukup unik. Bagian atapnya berbentuk setengah bola, yang terlihat dari bagian yang menonjol diluar bangunan. Bagian atap sebelah dalam tersusun dari kayu. Pada dinding mihrab terdapat hiasan dekoratif berbentuk lengkung warna hijau di bagian sudutnya.

Batu bata yang digunakan untuk membangun masjid ini menggunakan batu bata press sayati untuk bagian dalam bangunan, sedangkan bagian luar bangunan menggunakan bata press buatan pabrik milik Belanda yang berada di Ujung Berung. Lantai masjid bagian dalam masjid ini sama seperti yang digunakan di Masjid Cipaganti dan SMPN 5 Bandung masih terawat dengan baik.

Di teras masjid ini terdapat kentongan (kohkol) yang diberi nama Gemper Sekaten yang dibuat pada 24 Juni 1941. Kohkol yang dipesan langsung oleh Hernawan Soemaryo terbuat dari kayu jati Jepara dan memiliki panjang sekira 1,70 meter. Waktu itu, masyarakat yang mau membunyikan kohkol itu dikenakan tarif sebesar satu benggol (sakeuntreung sabenggol).

Riwayat Masjid Agung Majalaya

Masjid Agung Majalaya pada mulanya merupakan sebuah suaru kecil dari bambu beralaskan tembok berdiri diatas tanah wakaf Rd H. Tubagus Zainudin. Di tahun 1939 bangunan tersebut dibongkar dan dibangun ulang dengan ukuran yang lebih besar atas usulan dari Kades Majalaya H.Abdul Gafur dan didukung oleh Rd. Hernawan Soemarjo sebagai asisten wedana (camat) pada waktu itu. Rd.H. Kosasih (Desa Cibodas) kemudian terpilih sebagai ketua panitia pembangunan dibantu oleh Rd. Dendadibrata (Desa Panyadap) sebagai sekretaris dan Ijradinata (Desa Majalaya) sebagai bendahara.

Pembangunan dimulai tahun 1940 dengan dana awal 15.000 Gulden diperoleh dari anggota panitia yang sebagian merupakan para pengusaha. Proses pembangunannya melibatkan arsitek Ir. Suhamir, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Biaya pembangunan masjid juga diperoleh dengan menggalang sedekah amal jariyah dari masyarakat di Kecamatan Majalaya. Masyarakat juga menyetor bahan bangunan seperti batu dan pasir. Bahkan Rd. Hernawan Soemarjo berinisiatif beserta aparat desa berkeliling naik sepeda ontel hias mengajak masyarakat menyumbang masjid.

Tahun 1942 bangunan Masjid beserta tempat berwudhu selesai dan mulai dipakai masyarakat. Namun pada tahun yang sama setelah pecah Perang Dunia ke-2, pembangunan Masjid terhenti sementara karena sebagian masyarakat Majalaya mengungsi. Bahkan beberapa bagian Masjid rusak akibat terkena tembakan peluru pesawat Belanda.

Tahun 1944, masjid sempat menjadi markas dan basis pertahanan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) di Majalaya. Baru setelah Kemerdekaan pembangunan dan pengumpulan dana Masjid dimulai kembali. Dan ada bangunan balai nikah di sebelah utara Masjid ini. Tahun 1950-an jendela-jendela Masjid yang tadinya hanya berupa lubang dipasang kaca dan jendela yang terbuat dari kayu jati. Tahun 1982 tempat wudhu dipindahkan ke sebelah barat Masjid. Enam tahun berikutnya, karena jemaah semakin banyak kolam yang mengelilingi Masjid diubah menjadi Serambi (bale). Tempat wudlu diperbaiki dan jumlah toilet diperbanyak.

Masjid Raya Al Arif Jagal Senen Jakarta

Masjid Raya Al Arif

Masjid Raya Al Arif didirikan sejak abad ke-17, dan masjid ini masih berdiri kokoh melewati zaman. Masjid ini terletak di Jalan Stasiun Senen RW 03, Kampung Senen, Desa Senen, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Masjid Raya Al Arif menjadi salah satu masjid paling tua di daerah Ibu Kota Jakarta. Masjid yang sudah ada sejak abad ke-17 ini menurut sejarah dibangun oleh seorang bangsawan kesultanan Gowa , Sulawesi Selatan, Upu Daeng Arifuddin, yang kemudian dijadikan nama untuk masjid ini.

Sejarah Pembangunan Masjid Raya Al Arif Jagal Senen

Masjid Raya Al Arif awal mulanya disebut sebagai “Masjid Jagal Senen”, karena masjid ini terletak dikawasan tukang Jagal Hewan di pasar Senen. Kemudian barulah pada tahun 1969, nama masjid ini diganti dengan Masjid Raya Al Arif Jagal Senen.

Menurut sejarah, Masjid ini didirikan oleh Upu Daeng H Arifuddin, seorang pedagang yang berasal dari Bugis, dibantu oleh masyarakat sekitar pada tahun 1695. Selain untuk syiar agama islam, masjid ini juga dijadikan sebagai pusat tempat ibadah bagi pada pedagang, perantau, dan masyarakat sekitar. Dengan bantuan dari para jamaah, masjid ini akhirnya mendapatkan dana untuk merubahnya menjadi sebuah bangunan Masjid Jami’ di Kampung Jagal.

Upu Daeng Arifuddin adalah seorang keturunan asli dari Raja Goa dan beliau menjadi seorang pejuang kemerdekaan yang sangat disegani saat melawan kolonial Belanda pada masa itu. Upu Daeng Arifuddin wafat pada tahun 1745, kemudian dimakamkan di sekitar barat Masjid Raya Al Arief Jagal Senen.

Masjid ini juga pernah mengalami renovasi yang dilakukan pada tahun 1960-an dengan dana sumbangan sebesar Rp. 400 juta dari perusahaan garmen asal Pondok Kopi, Jakarta Timur. Masjdi Al-Arif ini bahkan sempat terancam dibongkar karena Ali Sadikin, Gubernur Jakarta yang menjabat kala itu ingin melebarkan area Pasar.

Bahkan pembongkaran juga hampir dilakukan pada saat masa penjajahan Jepang di Indonesia, namun usaha tersebut gagal kareana konon pada saat masjid ini diambil fotonya sebelum dibongkar, selalu muncul sosok lelaki berjubah putih di areal masjid yang tak lain adalah sosok Arifuddin.

Arsitektur Bangunan Masjid Raya Al Arief Jagal Senen

Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen dibangun dengan denah Segi Empat, memiliki ukuran yang cukup luas, sekitar 550 meter persegi dengan atap kubah masjid berbentuk limas bersusun. Masjid ini berdiri di atas lahan tanah wakaf dari pendiri masjid Daeng Arifuddin dengan luas sekitar 2.850 meter persegi. Saat ini tanah wakaf tersebut sudah dialamatkan pada ahli warisnya, agar tidak ada sengketa yang mungkin terjadi.

Masjid Jagal Senen ini memiliki lantai keramik yang dibalut dengan karpet sajadah yang empuk. Kemudian dibagian tengah bangunan utamanya terdapat 4 soko guru sebagai tiang utama penyangga bangunan struktur atap masjid ini.

Ruangannya dibatasi dengan dinding dibagian belakang, sebagai pemisah antara jamaah pria dan wanita. Ruangan Sholat Pria dan Ruangan Sholat Wanita memang sengaja dibuat dengan satu dinding terluar masjid dibagian pinggir. Kemudian pada bagian terluar masjid ini dibatasi dengan pagar tralis besi dengan 1 gerbang untuk akses masuk.

Untuk tempat wudhu diletakkan disebelah selatan masjid, namun tetap terpisah antara tempat wudhu pria dan tempat wudhu wanita. Selain itu juga disediakan toilet khusus untuk pria dan wanita, dan juga toilet umum di sekitar areal masjid. Untuk membatasi areal tempat wudhu, toilet dan bangunan masjid diberikan sebuah karpet yang terbuat dari karet, sehingga air dari toilet tidak ada yang ikut menempel pada saat masuk masjid.

Masjid Agung Darussalam Cilacap

Masjid Agung Darussalam

Masjid Agung Darussalam adalah masjid Agung buat Kabupaten Cilacap propinsi Jawa Tengah. Masjid ini berdiri istimewa di samping alun alun kota Cilacap, serta sekarang telah berusia lebih dari dua era. Sesudah melalui tujuh kali perbaikan semenjak pertama-tama dibuat, sekarang Masjid ini tampil istimewa serta keren di pusat kota Cilacap. Satu bangunan menara ditambah lagi di tahun 2003, serta sentuhan modern ditambah lagi kebangunan masjid yang masih menjaga bentuk aslinya serta sekarang sudah diputuskan jadi masjid cagar budaya bersama dengan lima masjid yang lain di Jawa Tengah.

Masjid Agung Darussalam Cilacap dibuat pada tanggal 29 April 1776 oleh mbah Kyai Kali Husen serta mbah Kyai Kali Ibrahim, kedua-duanya keturunan Sunan Kalijaga. Perbaikan pertama dikerjakan oleh umat Islam se Kabupaten Cilacap pada tahun 1929, sedang masjid agung yang lama dipindah serta dibawa oleh penghulu pertama ke Kawunganten, sesudah beberapa lama dipindahkan ke Desa Kalijeruk pada tahun 1969.

Perbaikan serta pembangunan Menara Masjid

Di tahun 2003, Masjid Agung Darussalam Cilacap ini diperlengkapi dengan satu bangunan menara setinggi 40 meter. Pembangunan menara ini habiskan ongkos Rp 577 juta, Rp 400 juta salah satunya datang dari APBD serta bekasnya dari beberapa donatur. Peresmian menara itu dikerjakan di hari Kamis 30 Oktober 2003 oleh Bupati Cilacap waktu itu, H Probo Yulastoro,SSos MM.

Upacara peresmian itu bersamaan dengan Hari Ke-empat bulan suci Romadhon tahun 2003. Pembangunan menara masjid ini jadi sisi proses dari perbaikan Masjid Agung Darussalam yang habiskan budget Rp 5 miliar. Pembangunan masjid serta gedung serbaguna Graha Darussalam habiskan Rp 4,3 miliar, sedang menara Rp 577 juta.

Kenakan kain sarung merah dengan pakaian koko warna cokelat muda, saat peresmian itu Bupati bersama dengan Wakil Bupati H Thohirin Bahri, BA dibarengi Pelaksana pembangunan masjid, Samirun, serta perencana pembangunan Drs Soeprihono,SH MM (Kepala Binprasda), mengevaluasi lantai satu menara yang berperan jadi tempat pekerjaan takmir masjid. Perbaikan itu diawali semenjak 1999 adalah perbaikan yang ke-7, semenjak dibuat pada tahun 1819 oleh KH Syeikh Mochammad Saleh.

Arsitektur Masjid Agung Darussalam Cilacap

Masjid Agung Darussalam ini berdiri di atas tempat seluas 3500 meter persegi dengan luas bangunan sampai 2500 meter persegi. Masjid yang masuk dalam cagar budaya itu masih menjaga empat saka guru, 12 saka rawa, serta 16 saka emper, dan balok-balok penjepit serta atap masjid yang berupa joglo.

Mustoko masjid mirip bangunan masjid Demak peninggalan Wali Songo, sedang menara seperti arsitektur masjid Nabawi di Madinah. Kemampuan masjid dapat menyimpan 3.500 jamaah atau 2x kemampuan bangunan awalnya. Menara masjid itu terdiri dari enam lantai serta satu mustaka setinggi delapan meter.

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah Kota Tanjung Balai

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah adalah satu diantara masjid peninggalan Kesultanan Asahan, berada di Jalan Masjid, Ds. Indra Sakti, Kec. Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Masjid ini dibuat seluas 1.000 meter persegi di atas tempat tanah wakaf seluas 10.000 meter persegi.

Masjid ini adalah masjid yang termasuk telah tua sebab telah berusia lebih dari 100 tahun lamanya. Pertama-tama dibuat pada tahun 1886 oleh Sultan Akhmadsyah saat kesultanan Asahan masih pada saat kejayaannya di Sumatera Utara. Pada akhirnya sampai sekarang nama masjid ini juga diadopsi dari nama pendirinya yakni Sultan Akhmadsyah.

Saksi Bisu Tragedi Pembantaian Sumatera Utara

Masjid ini nyatanya mempunyai waktu yang kelam jadi saksi bisu kejadian mengerikan yang berlangsung di Sumatera Utara. Pada bulan Maret tahun 1946, terjadi kejadian keonaran sosial yang merusak hampir keseluruhnya kesultanan di wilayah Tanjung Bali. Keonaran itu mengonsumsi beberapa ratus korban jiwa, satu diantara bukti ada di satu diantara makam masal yang berada di samping Masjid Agung Sultan Akhmadsyah, disana tercatat jika makam itu ialah makam 73 korban meninggal dalam keonaran sosial itu.

Nyatanya kejadian mengerikan itu didalangi oleh PKI yang mengatasnamakan diri jadi pembela Feodalisme. Selanjutnya barisan warga pemula dikasih senjata untuk kemudian menghajar keluarga kesultanan melayu yang ada di tanah Asahan. Tidak hanya pembunuhan berlangsung tindakan perampokan, penjarahan, penghancuran aset-aset bangunan kesultanan dan lain-lain. Pada akhirnya kesultanan melayu di tanah Asahan juga roboh karena kejadian itu.

Riwayat Pembangunan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Berdasarkan catatan riwayat, Masjid Raya Sultan Akhmadsyah ini diawali pada tahun 1884 serta memakan waktu 2 tahun sepanjang proses pembangunan sampai tahun 1886. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Sultan Ahmadsyah atau biasa diketahui dengan gelar Marhum Maharaja Indrasakti yang menyuruh Kesultanan Asahan dari tahun 1854 sampai 1888.

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah adalah masjid yang lebih tua dari dua masjid tua lain yang ada di propinsi sumatera utara, yakni Masjid Raya Al-Mahsun (1909) Kota Medan, serta Masjid Raya Sulimaniya (1894) Kabupaten Serdang Bedagai.

Masjid ini dahulunya bukan sekedar digunakan jadi tempat sholat jamaah saja, tetapi digunakan jadi tempat peningkatan diri buat warga seputar serta tempat pengaturan taktik penebaran agama islam diwilayah itu. Bangunan masjid ini dipakai jadi tempat berkumpulnya beberapa pejuang sumatera utara dalam kobarkan semangat untuk menantang beberapa penjajah.

Arsitektur Bangunan Masjid

Sedang untuk sisi Arsitekturnya, masjid ini mempunyai keunikan masjid Melayu, dimana bangunannya berupa persegi panjang, selanjutnya tepian atapnya mempunyai ciri khas bangunan melayu yakni mempunyai pahatan Puncak Rebung.

Masjid ini mempunyai kekhasan tertentu dari bagian arsitekturnya,yakni tidak mempunyai tiang penyangga apa pun di bangunannya, walau sebenarnya untuk fondasi serta bangunan masjid cuma dibikin tanpa ada semen, cuma memiliki bahan baku batu bata serta pasir saja. ini diperuntukkan untuk filosofi mulia jika Allah Tuhan Yang Maha Esa tidak memerlukan tiang penyangga untuk berdiri.

Selanjutnya kekhasan lain kelihatan pada peletakan kubahnya, dimana kubah masjid tidak diletakkan ditengahnya bangunan masjid sama dengan biasanya, tetapi ditempatkan dibagian depan bangunan masjid. Hingga bila disaksikan dari arah depan, masjid ini berkesan seperti masjid yang biasa saja, tetapi sembunyikan semua kekhasan dibelakangnya.

Masjid ini mempunyai mimbar yang unik, yakni mimbar dengan ornament China yang memang dihadirkan langsung dari negeri China, dengan hiasan pahatan kaligrafi Ciri khas Tsuluts.

Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun

Masjid Agung Baitul Hakim

Masjid Agung Baitul Hakim kota Madiun adalah satu diantara masjid tua bersejarah di kota Madiun semenjak daerah kota ini masih adalah ibukota dari kabupaten Madiun, walau tentunya susah buat siapa saja untuk temukan ketuaan dari bangunan masjid agung istimewa yang berdiri disamping barat alun alun Madiun ini.

Tetapi jika masuk ke masjid sampai ke ruang sholat penting tempat ada mihrab serta mimbar, anda akan temukan ruang utama masjid ini yang disebut ruang pokok serta adalah bangunan asli semenjak pertama-tama masjid ini dibuat. Sesudah melalui beberapa perbaikan serta pembangunan sekarang Masjid Baitul Hakim Madiun ini tampil menarik dengan sentuhan kekinian tanpa ada mengakibatkan kerusakan bangunan aslinya yang dijaga utuh disamping barat bangunan istimewa ini.

Masjid Agung Baitul Hakim ( atau disebutkan Masjid Agung Madiun ) adalah Masjid paling besar di Kota Madiun. Ciri yang gampang disaksikan ialah supremasi warna biru pada masjidnya serta 5 kubah besar (satu ditengah-tengah yang terbesar dibagian depannya ada 3 kubah lebih kecil serta disamping selatannya ada 1 kubah ) dan menara tinggi menjulang di tiap pojok bangunan masjid dan satu menara besar yang tingginya seputar 25 mtr. berada di samping utara pintu gerbang masuk masjid.

Riwayat Masjid Agung Baitul Hakim

Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun direncanakan dibuat pada jaman kolonial Belanda saat di pimpin oleh Ronggo Jumeno yakni seputar tahun 1830 an masehi. Namun perbaikan dengan besar itu diawali pada tahun 2002. Pada tahun 2011 perbaikan paling akhir dikerjakan dengan meningkatkan luas serambi masjid membuat kubah serta menara sampai seperti sekarang.

Masjid Baitul Hakim dibuat dengan memadupadankan seni arsitektur Jawa, Timur Tengah, serta Eropa. Arsitektur Jawa masih kental kelihatan pada bangunan penting dengan bentuk atap limasan atau joglo. Ruangan ini ada pilar sejumlah 16 pilar yang terbuat dari kayu jati alas asli serta semua utuh.

Pilar-pilar ini benar-benar unik sebab semua tidak tegak lurus tetapi miring sebesar 5-8 derajat. Pilar-pilar ini miring telah semenjak awal pertama-tama masjid ini dibuat. Sedangkan bangunan barunya memakai langgam bangunan masjid kekinian.

Pada bulan Ramadhan, masjid ini seringkali membuat buka puasa, serta khotbah. Diluar itu, membuat shalat Malam berjamaah pada 10 malam paling akhir, serta dikerjakan saat malam tanggal ganjil.

Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo

Masjid Agung Baiturrahmah

Masjid Agung Baiturrahmah adalah masjid agung kabupaten Sukoharjo di provinsi Jawa Tengah. Pembangunan masjid ini menghabiskan dana sebesar 32,4 milyar rupiah yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah. Dari total anggaran 32,4 miliar, antara lain untuk perencanaan dan review 89 juta, proyek fisik 31,551 miliar dan untuk pengawasan dianggarkan 449,132 juta. Pembangunannya selesai pada akhir Desember 2017 yang lalu.

Masjid tersebut dibangun dua lantai memiliki daya tampung hingga 2600 jamaah. Lantai 1 digunakan bagi jamaah laki laki, mampu menampung sebanyak 1.750 jamaah sekaligus. Lantai 2 terdiri dari Kantor MUI, ruang rapat, perpustakaan, dan sekretariat remaja masjid. Lantai 3 untuk jamaah wanita yang menampung 850 jamaah.

Masjid Agung Baiturrahmah juga menyediakan ruang untuk marbot dan takmir masjid, ruang imam masjid dan disediakan juga lima kamar penginapan musafir. Masjid juga dilengkapi lift untuk memudahkan akses disabilitas. Lahan tempat masjid Agung Baiturrahmah ini berbentuk travesium terbentuk dari simpangan ke jalan Kutilang disebelah selatan masjid.

Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo dibuka untuk umum pada hari Jumat 4 April 2018. Pembukaan Masjid ditandai dengan peresmian yang dilakukan Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya. Dalam upacara peresmian tersebut Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya mengaku bersyukur pembangunan masjid kebanggaan warga Sukoharjo akhirnya selesai tepat waktu.

Proyek Masjid Agung Baiturrahmah dikerjakan oleh PT Sinar Cerah Sempurna Semarang. Masjid dibangun di lahan seluas 7.713 meter persegi dengan luas bangunan 2.805 meter persegi. Untuk bangunan masjid seluas 2.565 meter persegi, gedung TK 195 meter persegi dan rumah imam 45 meter persegi. Masjid ini juga memiliki halaman dan taman yang luas dan sejuk sehingga bisa digunakan sebagai lokasi bersantai sejenak.

Dibangun dengan rancangan yang menawan dan cukup instagramable bagi para pengguna instagram karena kecantikan masjid ini. Megahnya bangunan masjid ini menjadikannya sebagai salah satu objek wisata pavorit warga di Sukoharjo. Keberadaan masjid ini menjadi ikon baru Kabupaten Sukoharjo.

Arsitektur Masjid Agung Baiturrahmah

Masjid Baiturohmah dibangun dengan sentuhan arsitektur Timur Tengah. Dua kubah bercat hijau kombinasi kuning telah terpasang di atap masjid, satu kubah di atap utama masjid sedangkan satu kubah lainnya dipasang di atap beranda. Bangunan utama masjid dilengkapi dengan kubah utama ditapnya bewarna hijau dengan kombinasi warna kuning.Kubah yang ukurannya lebih kecil dengan warna yang sama dipasang diatas beranda masjid.

Dua menara besar tinggi menjulang mengapit bagian depan masjid ini disisi kiri dan kanan. Sementara empat kubah lainnya yang lebih ramping ditempatkan di empat penjuru atap masjid mengapit kubah utama di bagian atap. Enam menara ini menyimbolkan rukun Islam.

Pembangunan masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo ini menggantikan bangunan masjid agung yang lama di lokasi yang sama. Pada awal proyek pembangunan masjid, bangunan masjid agung yang lama dirobohkan dibongkar secara total untuk kemudian dibangun kembali dalam bentuk yang lebih megah seperti yang kita lihat saat ini. Bangunan sebelumnya justru merupakan bangunan dengan langgam nusantara dengan atap joglo.

Masjid Tiban Wonokerso di Wonogiri

Masjid Tiban Wonokerso

Masjid Tiban Wonokerso dipercaya dibuat wali serta terlebih dulu dari pada Masjid Agung Demak. Bahkan juga, masjid kuno itu dikatakan sebagai maket atau mode awal Masjid Agung Demak. Masjid Tiban Wonokerso direncanakan dibuat pada Tahun 1479 Masehi. Hal tersebut bisa disaksikan dari sinyal berbentuk bentuk penyu dibagian atas masjid yang bisa di artikan angka 1401 Saka atau sama juga dengan 1479 Masehi.

Masyarakat dusun tidak ada yang mengetahui dengan tentu siapa yang membuat masjid itu serta kapan dibuat. Masalahnya masjid itu terlebih dulu ada daripada dusun. Dulu lokasi masjid adalah rimba belantara. Menurut cerita, Masjid Wonokerso pertama kali diketemukan Ki Ageng Tugu atau Tuhu Wono bersama dengan pengikutnya, Ki Agung Serang serta Kiai Gozali, waktu buka rimba di daerah Sembuyan (Wonogiri selatan).

Riwayat Masjid Tiban Wonokerso

Menurut cerita yang berkembang, Masjid Tiban dibuat beberapa wali. Waktu itu wali dikasih pekerjaan Raja Demak untuk cari kayu jati pilihan jadi bahan baku saka guru Masjid Agung Demak. Waktu itu Walisongo di pimpin Sunan Kalijaga mencari Bengawan Solo ke arah Rimba Jati Donoloyo. Sesampainya di satu tempat yang banyak ditumbuhi pohon jati Walisongo putuskan untuk hentikan penelusuran. karena mereka yakini itu Rimba Jati Donloyo yang disebut.

Disana mereka membuat satu masjid jadi tempat melaksanakan ibadah sekaligus juga tempat menginap. Tetapi sesudah tahu nyatanya kayu jati yang mereka mencari tidak jua diketemukan. Pada akhirnya Walisongo sadar jika tempat itu bukan rimba jati yang sampai kini dicari. Setuju mereka tinggalkan tempat itu tersebut Masjidnya. Serta masjid yang mereka meninggalkan itu yang dipercaya jadi Masjid Tiban Wonokerso dan diketemukan oleh Ki Ageng Tugu.

Dalam hubungannya dengan riwayat Kabupaten Wonogiri, disebut jika Raden Mas Said atau lebih diketahui dengan panggilan Pangeran Sambernyawa sudah pernah satu waktu bersembunyi dibawah kolong masjid ini dari kejaran tentara Belanda. Ini membuat penjajah Belanda yang mengejarnya merasakan kehilangan jejak.

Arsitektur Masjid

Bangunan Masjid Tiban Wonokerso masih original, memiliki bentuk seperti bangunan rumah panggung yang dianjang, tetapi mirip Masjid Agung Demak dengan ukuran 7,5 x 7,5 meter. Semua sambungan kayu memakai pasak kayu jati bukan paku besi. Ke empat ompak yang disebut soko guru, semua terbuat dari inti kayu jati. Di antara satu dengan yang lain berlainan, baik bentuk atau ciri-ciri batang kayu dan ukurannya.

Dalam ruang Masjid Tiban Wonokerso, ada satu mimbar kayu jati tua dengan ukiran unik. Di sana-sini ada simbolisasi kebesaran Islam bintang Oktagonsegi delapan. Ukiran yang sama banyak didapati di setiap sambungan kerangka masjid.

Bentuk Kubahnya benar-benar unik serta berlainan dengan Masjid biasanya, Masjid Tiban Wonokerso mempunyai Kubah berupa mahkota raja yang terbuat dari tanah. Meskipun dari tanah, sampai sekarang Kubah Masjid itu belum memperlihatkan kehancuran, walau dikonsumsi umur serta diterpa panas atau hujan.

Masjid itu sudah diputuskan jadi cagar budaya serta dilindungi UU No. 11/2011 mengenai Cagar Budaya. Sampai saat ini tempat ini tetap dipakai untuk sentral peribadahan umat muslim di sekelilingnya.

Perbaikan Masjid Tiban Wonokerso

Masjid berstruktur panggung itu sudah pernah diperbaiki pihak berkuasa. Satu diantara empat saka guru atau tiang masjid telah ditukar kayu jati yang memiliki bentuk sama dengan saka guru aslinya. Sisi ventilasi atas diberi tambahan susunan kayu berkaca. Diluar itu atap yang awalnya kayu jati ditukar darurat. Selebihnya semua sisi masjid masih asli, seperti mimbar serta dinding.

Pada 1982 dibuat susunan penambahan sisi depan yang saat ini berperan jadi teras masjid. Sejauh ini sisi dalam Masjid Tiban masih dapat dipakai melaksanakan ibadah. Banyak jemaah dari beberapa wilayah.

Kemegahan Masjid Agung Cianjur

Masjid Agung Cianjur

Kabupaten Cianjur sudah lama diketahui dengan Istana Kepresidenan Cipanas, wana wisana Gunung Gede Pangrango dan dengan Taman Cibodas di kakinya, Taman Bunga Nusantara mengejar selanjutnya ditetapkannya Situs Megalit Gunung Padang jadi tempat wisata Nasional mencuatkan nama Cianjur ke dunia Internasional. Cianjur mempunyai Masjid Agung Istimewa sebagai satu diantara Simbol kabupaten Cianjur yang adalah bangunan bersejarah

Tempatnya tidak jauh dari alun-alun, pendopo, serta kantor pos Cianjur. Masjid agung berlanggam ciri khas Nusantara satu komplek dengan ruangan pertemuan, alun-alun jadi ruang publik, sampai kantor pemerintahan yang disebut satu diantara ciri dari landskap perkotaan semenjak masa Kesultanan di Nusantara, dimana masjid jadi satu kesatuan dengan alun alun, pasar serta kedaton (pusat pemerintahan).

Style kombinasi kekinian serta klasik Nusantara cukup kental kelihatan di luar atau di masjid. Yang paling ciri khas ialah bentuk atapnya yang menjaga mode lama. berbentuk atap limas berdenah sisi empat dengan satu kubah kecil di puncaknya. Pertama-tama dibuat tahun 1810. Sesudah alami 7 kali perbaikan serta pelebaran, sekarang Masjid Agung Cianjur dapat menyimpan seputar 4000 jamaah dengan keseluruhan luas ruang 2.500 m². Walau sekarang sudah alami seringkali perbaikan serta pelebaran, nafas sejarahnya masih kental rasanya.

Masjid Agung Cianjur mempunyai tiga pintu penting serta masing masing pintu ini dinamakan. Pintu penting yang bernama Babul Marhamah ada dibagian timur dua pintu yang lain masing masing ada disamping selatan bernama Babussalam serta pintu Utara bernama Babussakinah. Nama nama pintu ini terpanjang di atas masing masing pintu, itu penyebabnya selintas lalu beberapa traveler terkadang menyebutkan nama masjid ini sesuai nama yang tercatat di atas pintu masjid ini hingga menimbulkan bermacam variasi nama pada masjid ini. Masjid Agung Cianjur sempat juga menyapu karunia jadi Mesjid paling baik di Jawa Barat baik dalam pengendaliannya atau kemegahannya.

Riwayat Masjid Agung Cianjur

Masjid Agung Cianjur, pertama-tama dibuat oleh warga Cianjur tahun 1810 M di atas tanah wakaf Ny. Raden Bodedar anak dari Kanjeng Dalam Sabiruddin yang disebut Bupati Cianjur ke-4. (tetapi sayang beberapa nama orang yang pertama kali membangunnya tidak tertera). Sebelumnya ukurannya benar-benar kecil. Seputar tahun 1820 M, pertama kali dikerjakan perbaikan serta peluasan, hingga ukurannya jadi 20 x 20 M² atau seluas 400 M².

Perbaikan serta pelebaran dikerjakan oleh cucu Dalam Sabirudin yaitu Penghulu Gede, Raden Muhammad Hoesein Bin Syekh Abdullah Rifai. Syekh Abdullah Rifai ialah anak dari Muhammad Hoesein yang berdarah Arab serta Banten dari keturunan Bayu Suryaningrat, beliau adalah Penghulu Agung Pertama Cianjur sekaligus juga menantu dari Kanjeng Dalam Sabiruddin, beliau menikah dengan NYR Mojanegara Binti Dalam Sabirudin.

Tahun 1879, masjid ini hancur sampai luluh lantak karena letusan Gunung Gede. Dalam momen itu merenggut korban yang lumayan banyak, diantaranya ialah ulama Cianjur, R.H. Idris bin R.H. Muhyi (Ayah dari KRH Muhammad Nuh, seseorang ulama besar Cianjur), yang berada tinggal di wilayah kampung Golongan Kidul.

Tahun 1880 atau setahun sesudah momen letusan Gunung Gede, Mesjid Agung Cianjur kembali dibuat oleh RH Soelaeman, yang pada saat itu menggenggam tempat jadi penghulu Agung bersama dengan RH Ma’mun bin RH Hoessein atau lebih diketahui dengan nama Juragan Guru Waas, dibantu oleh warga Cianjur. Saat itu Masjid Agung alami pergantian bentuk serta dikerjakan kembali pelebaran bangunannya. Hingga luasnya sampai 1.030 M².

Tahun 1912, saat masjid berumur 32 tahun kembali dikerjakan perbaikan serta pelebaran salah satunya oleh RH Moch Said Penghulu Agung Cianjur, Isa al-Cholid salah seseorang guru thorekat, RH Tolhah Bin RH Ein al-Cholid serta H Akiya Bin Darham, masyarakat Cianjur keturunan Kudus.

Mesjid Agung Cianjur alami seringkali perbaikan serta pelebaran. Meski begitu, selama tahun 1950 sampai 1974, bentuk arsitekturnya masih dipertahankan, yakni bangunan dengan atap masjid persegi. Sampai sekarang, Masjid Agung Cianjur tertera telah tujuh kali alami perbaikan. Perbaikan keseluruhan terahir habiskan ongkos Rp 7,5 miliar, realisasinya mulai 2 Agustus 1993 sampai 1 Januari 1998 serta diresmikan pada tanggal 13 Juli 1998.

Masjid Agung Cianjur ini populer dengan kumandang adzan yang demikian merdu dari atas menara masjid. Dahulu, Muadzin yang populer pada saat itu salah satunya R. Muslihat (alm), seseorang pengurus mesjid serta muadzin masih Mesjid Agung Cianjur, masyarakat Jalan Bojongmeron, Warujajar, dan RH Duduh (alm) Sisi Keuangan KUA Kabupaten Cianjur masyarakat Jalan Oto Iskandardinata I Bojongherang, Buniwangi. Walau pada saat itu belum demikian diketahui kumandang adzan bergaya Surabaya atau Yogyakarta, ditambah lagi Mekah. Di Masjid Agung Cianjur kumandang suara adzan beberapa muadzin itu sampai sekarang belumlah ada tandingannya.

Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta – Masjid Ageng Keraton Hadiningrat

Masjid Agung Surakarta, dulu masjid ini bernama Masjid Ageng Keraton Hadiningrat serta dibuat oleh Pakubuwono III pada seputar tahun 1749. Terdapat di seputar Alun-alun Utara Keraton Surakarta, persisnya dibagian barat, masjid ini mempunyai tempat penting dalam penebaran Agama Islam di Solo.

Pembangunan masjid ini tidak lepas dari peranan penting yang digenggam oleh seseorang raja saat itu. Saat itu, raja bukan sekedar jadi pemangku kekuasaan paling tinggi dalam pemerintahan, dan juga jadi penyiar agama. Diluar itu, penentuan tempat masjid yang dekat sama keraton di inspirasi dari Masjid Agung Demak yang dibuat di dekat keraton serta alun-alun keraton.

Berdiri di atas tempat seluas hampir 1 hektare, bangunan penting masjid yang memiliki ukuran 34,2 mtr. x 33,5 mtr. dapat menyimpan seputar 2.000 jamaah. Selama perjalanannya, masjid ini sudah lewat beberapa menambahkan serta perbaikan.

Riwayat Pembangunan Masjid Agung Surakarta

Bangunan yang pertama dibikin ialah bagian utama masjid. Menambahkan pertama dikerjakan oleh Pakubuwono IV, yang memberi kubah dibagian atas masjid. Tidak seperti kubah biasanya yang bergaya Timur Tengah, kubah masjid ini bergaya Jawa. Memiliki bentuk mirip paku bumi.

Menambahkan selanjutnya dikerjakan oleh Pakubuwono X. Pakubuwono membuat satu menara di seputar masjid dan satu jam matahari untuk memastikan waktu solat. Pintu masuk masjid juga alami pergantian pada saat Pakubuwono X. Pintu bercorak gapura bangunan Jawa beratap limasan ditukar jadi bercorak Timur Tengah terbagi dalam tiga pintu, dengan pintu yang ada ditengah-tengah lebih luas dari ke-2 pintu yang mengapitnya.

Sesaat, Pakubuwono XIII membuat kolam yang mengelilingi bangunan penting masjid. Pembangunan kolam ini ditujukan supaya tiap orang yang akan masuk ke masjid dalam kondisi bersih. Tetapi, sebab beberapa fakta, kolam ini tidak digunakan. Diluar itu, Pakubuwono XIII membuat ruangan keputren serta serambi dibagian depan.

Menambahkan paling akhir dikerjakan oleh Pemerintah Surakarta. Masih di ruang masjid, ditambah lagi beberapa bangunan dengan peranan berlainan. Ada perpustakaan, kantor pengelola, serta poliklinik.

Pada waktu dulu, pengurus masjid ini adalah anggota abdi dalam keraton. Tiap pengurus diwajibkan terlebih dulu tuntut pengetahuan di Madrasah Mambaul Ulum yang terdapat antara masjid dengan Pasar Klewer. Tetapi sekarang, cuma kepala pengurus masjid sebagai abdi dalam keraton dengan gelar Tafsiran Anom. Sesaat, Madrasah Mambaul Ulum diurus oleh Departemen Agama serta jadikan pendidikan untuk warga umum.

Masih di seputar masjid, persisnya di samping utara, ada satu pemukiman yang bernama Kampung Gedung Selirang. Pemukiman ini menyengaja dibuat untuk rumah beberapa pengurus masjid.

Sampai sekarang, Masjid Agung Surakarta masih jadi pusat adat Islam di Keraton Surakarta. Masjid ini masih jadi tempat penyelenggaraan beberapa ritual yang berkaitan dengan agama, seperti sekaten serta maulud nabi, yang satu diantara serangkaian acaranya ialah pembagian 1.000 serabi dari raja pada warga.

Gratis Konsultasi 08122229385