Category Archive Kubah Masjid

Masjid Kubah Kecubung Palangkaraya

Masjid Kubah Kecubung

Disetiap kota besar saat ini selalu memiliki ikon tersendiri yang menjadi ciri khas dari kota tersebut. tak hanya dari segi kuliner dan wisata alamnya saja, berbagai bangunan yang menarik menjadi salah satu landmark yang dimiliki setiap kota tertentu. Sama halnya dengan kota Palangkaraya yang berada di Kalimantan Tengah. Kini ibukota dari Kalimantan Tengah tersebut sedang mempersiapkan sebuah bangunan untuk tempat beribadah umat muslim disana. Bangunan masjid tersebut terkesan menarik karena dirancang begitu menarik dan juga terkesan megah, masjid tersebut Masjid Kubah Kecubung.

Hal yang menarik dan unik dari masjid di Palangkaraya tersebut adalah pada bagian kubahnya yang sangat berbeda dengan kubah pada masjid lainnya. Jika di Depok Jawa Barat terdapat sebuah masjid yang kubahnya dilapisi oleh emas dan dikenal dengan nama masjid kubah emas atau nama masjid tersebut adalah masjid Dian Al-Mahri. Berbeda dengan masjid yang diperkirakan selesai pada tahun 2018 tersebut memiliki bentuk kubah batu Kecubung. Maka masjid tersebut dinamakan masjid Kubah Kecubung yang berada di Palangkaraya.

Masjid Kubah Kecubung

Batu Kecubung sendiri merupakan salah satu Batu Mulia yang nilainya cukup tinggi. Dilihat dari warnanya, batu kecubung sangat menarik dengan warna ungu hingga warna merah muda. Nama asli dari batu kecubung adalah Amethyst. Sementara di Indonesia masih terdapat jenis batu kecubung Combong yng bentuknya memiliki lubang dari atas sampai ke bawah. Selain memiliki warna yang begitu menarik, batu kecubung juga dikenal dengan corak alamiah yang begitu indah. Bahkan proses alamiah tersebut terjadi dari proses alamiahnya yang mencapai selama jutaan tahun lamanya.

Arsitektur Bangunan Masjid Kubah Kecubung

Masjid Kubah Kecubung di Palangkaraya menggunakan bau kecubung pada bagian kubahnya sehingga terkesan begitu unik dan juga menarik. Masjid tersebut juga merupakan satu-satunya masjid yang menggunakan baha batu mulia pada kubahnya. Hal tersebut terlepas dari pulau Kalimantan yang terkenal akan gudangnya berbagai batu permata bahkan sudah menyebar hingga mancanegara. Pada tanggal 18 Juni 2011 lalu dilakukan peletaka batu pertama untuk membangun masjid tersebut. Peletakan batu pertama tersebut dilakukan oleh Menteri Agama Suryadharma Ali. Untuk membangun masjid ini maka dana yang diperkirakan adalah sebesar Rp. 120 miliar. Hal tersebut dikarenakan perkiraan dari bangunan masjid Kubah Kecubung akan dibangun secara modern dan bahan-banhannya pun terkesan begitu berkualitas. Salah satunya bahan untuk membuat kubah masjid yang berasal dari batu kecubung.

Bangunan masjid ini didirikan diatas lahan seluas 3.6 hektar di Jalan RTA Milono Kilometer 4.5 Palangkaraya. Pada saat peletakan batu pertama disana oleh Menteri Agama yang waktu itu adalah Suryadharma Ali, turut juga hadir Bang Haji Rhoma Irama. Sehingga acara tersebut sangat ramai. Tak hanya jajaan tokoh ulama dan tokoh penting lainnya yang ikut menghadiri peletakan batu pertama terebut, banyak juga masyarakat yang mengikutinya.

Masjid Kubah Kecubung Palangkaraya

Dalam sebuah perencanaan, diperkirakan selain ruang shalat masjid Kubah Kecubung akan dilengkapi oleh gudang, ruang majlis taklim, toko dan juga kamar mandi. Luas dari bangunan masjid ini mencapai 12.577 meter persegi. Terdiri dari bangunan utama masjid yang mencapai 2.793 dan selasar masjid seluas 2.830 meter persegi. Diperkirakan masjid Kecubung ini dapat menampung para jamaah di bagian dalam sebanyak 4500 jamaah dan di bagian luar dapat menampung hingga berjumlah 3800 jamaah. Dana untuk membangun masjid tersebut berasal dari APBD Kota Palangkaraya, sumbangan masyarakat serta dari sumbangan lainnya. Diharapkan jika telah selesai dibangun, masjid Kecubung ini akan menjadi salah satu pusat keislaman di Palangkaraya dan tentunya menjadi ikon baru yang dimiliki oleh kota tersebut.

Masjid Raya Babussalam Timika Papua

Masjid Raya Babussalam

Masjid Raya Babussalam yang saat ini dijadikan sebagai masjid Agung bagi Kabupaten Mimika terletak di Jalan KH. Dewantoro, Keluaran Kwamki, Kecamatan Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Timika sendiri adalah pusat Ibukota Kabupaten Mimika. Dikota Timika sendiri sedikitnya terdapat 54 Masjid dan 50 Musholla yang tersebar di seluruh pelosok Timika.

Masjid Raya Babussalam ini bukanlah satu-satunya masjid Besar di Kota Timika, namun masih banyak sekali masjid lainnya yang juga berukuran besar seperti Masjid Besar Al-Furqon yang berada di Kwamki.

Masjid Agung Babussalam sendiri menjadi sebuah Landmark untuk tanah mutiara hitam. Meskipun berdiri di tanah yang mayoritas umatnya adalah Nasrani, namun kerukunan umat beragama di sana tetap sangat terjaga. Hal inilah yang kemudian harus diacungi jempol.

Masjid Agung Babussalam Timika Papua

Arsitektur Masjid Raya Babussalam Timika Papua

Bangunan Masjid Raya Babusalam Timika Papua ini memiliki atap limas bertumpang 3 dengan hiasan warna hijau di setiap bangunannya. Untuk bagian atap ke-3 atau puncaknya didirikan sebuah kubah besar berbahan metal berwarna perak dengan ujung lancip dengan ornamen bulan bintang. Meskipun desainnya terbilang kuno, namun masjid ini tetap memberikan sentuhan modern di beberapa bagiannya. Misalnya saja areal parkir dan taman yang didesain dengan pohon palem di sekitar taman.

Pada bangunan bagian bawah dibangun dengan beton cor, dikelilingi oleh tiang-tiang penyangga atap. Kemudian pada bagian atas tiang dibuat beberapa lengkungan-lengkungan diantara dua tiangnya. Masjid ini memang didesain dengan dominasi warna hijau pada setiap bangunannya, terutama pada bagian eksterior dan atapnya, serta pagar dan gerbang yang mengitari masjid ini. Warna hijau disini adalah suatu filosofi bahwa masjid ini sangat cinta kepada Nabi Muhammad, dengan mengadopsi warna yang sangat digemari oleh Rasulullah SAW, yaitu warna hijau.

Masuk kedalam masjid kita dapat menemukan ruangan yang lumayan lega, dimana atapnya terlihat sangat tinggi, namun tetap memperhatikan sirkulasi udara disana, mengingat di Papua cuacanya lumayan ekstrim.

Pada bagian Mihrab dibuat seperti cekukan kecil, dengan desain lengkungan kecil dibagian atas, dan juga ditempatkan 1 mimbar sederhana berbahan kayu ukiran dibagian sampingnya.

Aktifitas Masjid

Sebagai sebuah Masjid Raya / Agung, tentu saja masjid ini tidak hanya dipergunakan sebagai tempat ibadah sholat fardhu dan sholat jum’at saja. Namun, masjid ini juga dipergunakan untuk berbagai kepentingan lainnya seperti perayaan hari besar Islam, Sholat Idul Fitri dan Idul Adha, Tahun Baru Muharram, Maulid Nabi, Nuzulul Qur’an dan lain sebagainya.

Beberapa pengajian pun juga turut dilaksanakan di masjid ini, dan fasilitas prosesi pemakaman juga turut dihadirkan oleh para pengurus masjid. Kegiatan belajar membaca Al-Qur’an atau Taman Pendidikan Al-Qur’an juga turut di lakukan di masjid ini.

Puncak keramaian pada Masjid Babusssalam ini terjadi pada saat Bulan Ramadhan, terutama pada saat hari pertama bulan Ramadhan. Jamaah yang datang untuk melaksanakan sholat tarawih bahkan tidak dapat dimuat lagi didalam bangunan utama masjid. Oleh karena itu, beberapa tikar kemudian digelar dibagian areal pelataran dan parkir untuk para jamaah yang tidak tertampung.

Uniknya, pada saat awal-awal pelaksanaan sholat tarawih, beberapa aparat keamanan dikerahkan dan turut menjaga pelaksanaan tersebut. Meskipun di sekitar masjid ini dipenuhi dengan berbagai pemeluk agama Nasrani (katolik dan Protestan), namun kerukunan umat beragama disana benar-benar sangat terjaga dan akur. Mereka bahkan menyadari bahwa bulan puasa merupakan suatu bulan yang mulia bagi umat islam, sehingga warung-warung dan tempat makan sekitar juga bersedia untuk tutup.

Masjid Al Mujahidin Puncak Jaya Papua

Masjid Al Mujahidin

Berkembangnya ajaran islam di Nusantara telah tersebar hingga ke penjuru wilayah. Tak heran hingga sekarang agama islam menjadi mayoritas yang diyakini oleh masyarakat Indonesia. Tak hanya di pulau Jawa dan pulau Sumatera saja yang dipenuhi oleh umat muslim, di Papua juga terdapat umat muslim yang tinggal disana. Meskipun bukan merupakan yang terbanyak, namun mereka dapat hidup dengan rukun. Dan di Papua juga terdapat sebuah bangunan masjid yang juga merupakan satu-satunya masjid berada di distrik Mulia ibukota Kabupaten Puncak Jaya. Masjid tersebut bernama masjid Al-Mujahidin dan bangunan masjid tersebut berdiri di komplek Markas Komando Resor Militer 171/PVT. Masjid Al-Mujahidin juga menjadi tumpuan umat muslim yang tinggal di komplek tersebut.

Pada bulan Mei 2015 lalu masjid Al-Mujahidin direnovasi oleh para Prajurit Korem 171/PVT serta turut andil juga pengurus masjid ini yang dipimpin oleh Perwira Rohani islam Bintal Korem 171/PVT yaitu Letnan Dua Inf Suyono. Setelah direnovasi bangunan masjid tersebut terlihat lebih luas dan kokoh jika dibandingkan dengan bangunan masjid yang sebelumnya.

Arsitektur Bangunan Masjid Al Mujahidin

Setelah selesai dibangun kembali, bangunan masjid Al-Mujahidin semakin banyak dikunjungi oleh para jamaah untuk melaksanakan ibadah shalat serta aktivitas keagamaan lainnya. Tak hanya masyarakat sekitar saja yang memenuhi masjid tersebut, beberapa tokoh penting serta pejabat pemerintahan kota dan daerah juga selalu menyempatkan untuk mengunjungi masjid tersebut. Salah satunya adalah ketika Menteri Sosial Dra. Khofifah Indar Parawansa berserta rombongan. Kunjungan dari Menteri Sosial tersebut sesuai dengan rangkaian kunjungan kerjanya ke Kabupaten Puncak Jaya. Tepatnya pada tanggal 20 Agustus 2015 kemarin Dra. Khofifah Indar Parawansa dating ke Puncak Jaya bersama rombongannya serta disambut dengan sangat hangat oleh Bupati Puncak Jaya, yaitu Henok Ibo beserta Kapolres Puncak Jaya dan juga seluruh anggota POLRI dan TNI. Kedatangan tersebut semakin bertambah ramai ketika beliau menyempatkan ke masjid Al-Mujahidin Puncak Jaya.

Masjid Al Mujahidin Puncak Jaya Papua

Tak hanya Menteri Sosial saja yang menyempatkan diri untuk singgah di masjid ini, tetapi juga pejabat militer, Panglima Komando Daerah Militer XVII Cendrawasih, Meyjen TNI Hinsa Siburian. Beliau berkunjung ke masjid tersebut dalam sebuah rangkaian kunjungannya ke Puncak Jaya bersama dengan Asisten Operasional . Setiap kunjungan ke Puncak Jaya pasti selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid Al-Mujahidin.

Karena bangunan masjid Al-Mujahidin adalah satu-satunya masjid yang berada di Distrik Mulia, maka tak heran di masjid tersebut tak hanya difungsikan sebagai tempat beribadah saja. Tetapi juga digunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan lainnya. Seperti halnya beberapa hari besar Islam. Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi hingga pelaksanaan ibadah shalat Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan di masjid Puncak Jaya. Jika kedua hari besar tersebut tiba, maka para jamaah yang melaksanakan ibadah shalat semakin banyak ingga ke pelataran masjid. Bahkan para jajaran Polri serta TNI yang beragama islam pun ikut berjamaah di masjid tersebut. Sedangkan para perwira lainnya yang non muslim bertugas untuk menjaga mereka yang sedang melaksanakan ibadah shalat.

Jika dilihat dari segi bangunannya, masjid ini bukan termasuk bangunan yang megah dan mewah. Masjid tersebut terlihat sangat sederhana dengan adanya sebuah kubah yang ukurannya tidak terlalu besar di atap masjid. Kubah tersebut berbahan alumunium. Selain itu bentuk atap masjid pun bersusun serta dinding masjid yang dicat menggunakan warna putih. Meskipun bentuk bangunan masjid tersebut sederhana, namun di masjid tersebut tak pernah sepi untuk dipenuhi oleh para jamaah.

Masjid Agung Al Falah Tanah Bumbu – Kalimantan Selatan

Masjid Agung Al Falah

Masjid Agung Al-Falah berlokasi di Gunung Antasari, Kota Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Memang agak aneh jika kita mendengar nama “Tanah Bumbu” disini, karena memang pada masa pemberian nama kota kabupaten tersebut terkenal dengan penghasil rempah (bumbu) yang sangat melimpah, sehingga nama Bumbu kemudian disematkan didalam namanya.

Kabupaten Tanah Bumbu sendiri beribukota di Batulicin, dan sangat terkenal dengan slogan kabupatennya yaitu “Kabupaten Bumi Bersujud”, artinya filosofi yang dapat diambil adalah masyarakat di Kabupaten tersebut benar-benar memegang teguh pada keislaman yang kuat.

Masjid Agung Al Falah Tanah Bumbu

Masjid Al-Falah yang akan kita bahas inilah yang dijadikan sebagia Masjid Agung untuk Kabupaten Bumbu yang terletak di Kota Batulicin.

Peresmian Masjid Agung Al-Falah Tanah Bumbu

Masjid nan Megah ini pertama kali diresmikan penggunaannya oleh Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Dr. H.M Hatta Ali SH. Tepatnya pada hari Jum’at Tanggal 18 Maret 2016 silam.

Peresmian kemudian diawali dengna sambutan dari Ketua Mahkamah Agung, dilanjutkan dengan acara penandatanganan sebuah prasasti pembangunan masjid yang dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Selatan, H. Sahbirin Noor S.Sos MH. Pemotongan pita pun turut dilakukan dan dilanjutkan dengan sholat Jum’at berjamaah bersama-sama dengan masyarakat sekitar..

Pembangunan dan Arsitektur Masjid

Masjid Agung Al-Falah mulai didirikan pada bulan April 2014 lalu, dengan adopsi gaya arsitektur bangunan khas Timur Tengah, dan menggabungkan beberapa unsur murni dari budaya Kalimantan Selatan pada bagian interior masjidnya.

Bangunannya didirikan diatas lahan tanah seluas 1,6 hektar di Jalan Kodeco Km 2,5 Batulicin. Kapasitas yang mampu ditampung oleh masjid ini adalah ribuan jamaah, dengan kapasitas parkir sementara untuk roda 4 sekitar 100 unit, kemudian untuk roda 2 sekitar 150 kendaraan. Kawasan parkirnya pun ditata dengan sangat rapi, terpisah antara mobil dan motor. Hal ini dilakukan agar akses untuk masuk dan keluar menjadi sangat mudah.

Pembangunan Masjid Agung Al-Falah pertama kali di gagas oleh Jhonlin Group, kemudian mulai dilaksanakan pembangunannya pada tanggal 11 April 2014. Namun, setelah proyek ditanda tangani secara resmi oleh Ketua Mahkamah Agung, pembangunan Masjid Agung mengalami beberapa kendala yang mengharuskan penundaan pembangunan selama 2 tahun.

Jika dilihat dari seni bina bangunannya jelas sekali masjid ini mengadopsi arsitektur masjid-masjid yang berada di Turki / Timur Tengah. Namun kemudian dipoles dengan beberapa unsur budaya asli dari daerah Kalimantan Selatan pada bagian interiornya. Kemudian untuk dinding masjid ini menggunakan batu granit.

Arsitektur Masjid Agung Al Falah

Proyek pembangunannya sangat rapi karena di lakukan oleh Jhonlin Group yang bekerja sama dengan Konsultan PT. Graha Cipta Adi Prana, sedangkan untuk kontraktor pelaksananya adalah PT. Grici Mas, Jakarta.

Pembangunan Masjid Agung ini juga menjadi salah satu wujud nyata keterlibatan pihak-pihak perusahaan swasta yang turut aktif memberikan bantuan kepada program pembangunan masjid. Bantuan kemudian disalurkan melalui suatu program yang diberi nama Corporate Social Responsibility (CSR).

Jika melihat sisi bagian luarnya, dinding-dinding bagian luar membatasi area pelataran atau biasa disebut dengan plaza masjid di daerah timur tengah. kemudian 1 kubah besar berwarna keemasan di letakkan di atas ruang utama sholat. Lalu, pada bagian Utara dan Selatan masjidnya dibangun dua menara masjid yang menjulang tinggi, ramping dengan ujung lancip berkubah keemasan. Inilah yang menjadi ciri khas dari masjid-masjid yang biasa kita temukan di daerah Timur Tengah.

Masjid Raya Husnul Khatimah Kotabaru

Masjid Raya Husnul Khatimah

Sebuah bangunan masjid dengan model khas dari Nusantara sangat menarik siapa saja yang melihat bangunan tersebut. Masjid itu berada di Kalimantan Selatan tepatnya di Jalan Suryagandamana, Kelurahan Sebatung, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kota Baru Kalimantan Selatan. Masjid tersebut bernama masjid Raya Husnul Khatimah. Masjid tersebut merupakan sebuah masjid Raya yang berada di Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Tengah. Bangunan masjid tersebut sangat khas dengan nuansa Nusantara dengan arsitektur masjid atap limas.

Bangunan masjid tersebut pertama kali dibangun pada masa Kotabaru dipimpin oleh H.M.R Husein yang merupakan seorang Bupati Kotabaru yang ke 9. Beliau menjabat sebagai Bupati pada periode 1985 hingga 1990. Karena merupakan sebuah bangunan masjdi Raya di Kotabaru, maka tak heran masjid tersebut bukan hanya difungsikan sebagai tempat beribadah saja melainkan jga sebagai aktivitas keagamaan lainnya yang berada di Kotabaru. Termasuk juga sebagai pusat dari pelepasan dan penyambutan jamaah haji yang berasal dari Kabupaten Kotabaru. Tak heran ketika musim haji, masjid Raya ini selalu dipadati oleh para jamaah haji, kerabat serta pengurus yang mempersiapkan keberangkatan serta kepulangan dari jamaah haji.

Masjid Raya Husnul Khatimah

Arsitektur Bangunan Masjid Raya Husnul Khatimah

Bangunan masjid Raya Husnul Khatimah sangat khas dengan nuansa Nusantara yang begitu kental. Tidak seperti biasanya dimana sebuah bangunan masjid Raya yang memiliki nunasa modern dengan kubah besar dan menara yang menjulang tinggi. Terlihat ciri dari Indonesia nya dengan atap limas yang bersusun tiga dan struktur pada atap masjid tersebut ditopang menggunakan empat tiang soko guru yang berdiri di tengah-tengah ruang utama masjid tersebut. Ketika memasuki masjid tersebut, maka keaslian dari Nusantara akan semakin terasa karena masjid tersebut didominasi menggunakan bahan dari kayu. Termasuk juga pada bagian plaforn dan tiang masjid. Nuansa seperti itu akan terasa lebih alami dibandingkan pada nuansa masjid modern yang saat ini kian banyak didirikan.

Masjid Raya Husnul Khatimah juga direncanakan akan dilakukan renovasi pada masa kepemimpinan Bupati H. Sayed Jafar, SH serta Wakil Buati yang bernama Ir. Burhanuddin. Hal tersebut dikarenakan masjid tersebut sangat diperlukan untuk diperluas dan dibangun lebih besar lagi dibandingkan dengan bangunan yang sebelumnya. Selain itu, rencana lain juga agar masjid Raya ini memiliki desain lain yang lebih menarik sehingga terlihat lebih indah dan cantik. Direncanakan juga akan ditambahkan dengan sentuhan modern pada masjid Raya tersebut. Perencanaan tersebut disampaikan olej Bupati setelah selesai melaksanakan shalat isya’ berjamaah di masjid Raya ini. Tepatnya pada hari Sabtu tanggal 21 Mei 2016 tahun lalu. Bahkan panitia dari perbaikan masjid tersebut melibatkan dari Institut 10 Nopember Surabaya dalam pembuatan Sketsa Proposal awal dalam pembangunan masjid Raya Husnul Khatimah.

Interior Masjid Raya Husnul Khatimah

Beberapa kegiatan keislaman pun dilakukan di masjid Raya Husnul Khatimah dengan diwadahi oleh sebuah organisasi yang disebut dengan Pemuda Remaja Islam Masjid Agung Husnul Khatimah yang disingkat dengan nama Prima Husnul Khatimah. Organisasi tersebut diprakasai oleh bapak Mukarram sebagai pelopor dari adanya organisasi tersebut. Bahkan organisasi Pemuda Remaja Islam Masjid Agung Husnul Khatimah telah dibentuk pada tahun 1987 lalu.

Organisasi Pemuda Remaja Islam Masjid Husnul Khatimah telah beberapa kali mengadakan kegiatan yang bersifat sosial. Tetapi pada umumnya kegiatan tersebut bersifat keagamaan dan selalu di datangi oleh para jamaah yang sangat banyak.

Masjid Al-Akbar Balangan – Kalimantan Selatan

Masjid Al Akbar

Masjid Al Akbar terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani, KM 2, Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Kabupaten Balangan sendiri menjadi sebuah kabupaten hasil dari pemekaran dari Kabupten Hulu Sungai Utara, yang ditetapkan pada tanggal 25 Februari 2003. Hal ini wujud dari Undang-Undang Nomor 2, tentang Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Saat Peresmian pemekaran di Kabupaten Balangan ini dilaksanakan pada tanggal 08 April 2003, oleh Menteri Dalam Negeri yaitu Hari Sabarno. Sehingga, tanggal tersebut menjadi tanggal hari jadi Kabupaten Balangan yang dirayakan setiap tahunnya. Ada yang unik dari kabupaten ini, yaitu memiliki sebuah Motto “Sanggam : Sanggup Bawawi Gasan Masyarakat”, atau jika di artikan dalam bahasa Indonesia berarti “Sanggup melaksanakan tugas yang didasari oleh keikhlasan masyarakat”. Daerah Kabupaten Balangan mempunyai luas sekitar 1.819 Kilometer Persegi dan dibagi menjadi 8 Kecamatan yang berbeda.

Masjid Al Akbar Balangan

Berdasarkan letak geografis Kabupaten Balangan ini bisa dikatakan cukup strategis, karena terletak di jalan poros lintas Kalimantan. Sehingga, Kabupaten ini memiliki kesempatan untuk menjadi kabupaten persinggahan bagi berbagai macam pelancong dari Banjarmasin, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.

Pembangunan Masjid Al-Akbar dan Islamic Centre Balangan

Pembangunan Masjid Al Akbar pertama kali dibangun pada tanggal 22 Desember 2014. Diresmikan oleh Bupati Kabupaten Balangan, H. Sefek Effendie, kemudian dihadiri oleh berbagai perangkat dan satuan kerja perangkat daerah sekitar. Pembangunan masjid ini memakan waktu hingga 4 tahun dari tahun 2010 silam. Pembangunannya menggunakan dana penuh dari Pemerintah yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Balangan.

Dengan selesai dan diresmikan penggunaannya, Masjid Agung Al-Akbar ini menjadi salah satu objek wisata religi tambahan bagi Kabupaten yang memiliki julukan “Bumi Sanggam” ini. Sebelumnya, hanya ada 1 objek wisata religi yang ada di Kabupaten Balangan, yaitu Makam Datuk Kandang Haji, Kecamatan Juai.

Dengan luas bangunan yang sangat besar, jamaah yang dapat ditampung di masjid ini mencapai hingga 5.000 jamaah, sekaligus menjadikan Masjid Al-Akbar menjadi masjid terbesar dan terbegah di Kabupaten Balangan, serta Kawasan Banua Anam.

Setelah pembangunan Masjid selesai, Pemerintah Kabupaten Balangan berencana untuk membangun sebuah Islamic Centre di kawasan masjid tersebut. Islamic Centre nantinya akan digunakan sebagai tempat berpusatnya seluruh kegiatan keagamaan yang berada di wilayah tersebut.

Arsitektur Bangunan Masjid

Bangunan Masjid Al-Akbar dibangun dengan sangat megah dengan Arsitektur bangunan modern. Dilengkapi dengan 1 kubah besar dibagian atapnya, dan dibalut dengan aksen mozaik dari keramik pada sekeliling kubahnya. Kubah utama tersebut dikelilingi dengan 4 kubah kecil yang diletakkan di empat bagian sudutnya. Kemudian 1 menara menjulang tinggi dibangun dibagian depan samping masjid ini dengan denah persegi empat, dan berujung lancip.

Ruang Sholat Masjid Al Akbar Balangan

Jika kita mengunjungi masjid ini pada malam hari, pemandangan yang sangat indah akan kita dapatkan disaat bangunan masjid nan megah tersebut disinari oleh lampu-lampu yang sangat indah. Masjid ini memang sengaja dibuat dengan sangat megah, karena digunakan sebagai Masjid Agung untuk Kabupaten Balangan.

Pintu Akses utamanya dibuat dengan sagat besar, dengan kaca yang berukuran besar pula. Beberapa jendela kecil sengaja ditaruh di beberapa bagian ruangannya. Memasuki kedalam ruang utama masjidnya, tentu saja kita akan disuguhi dengan suasana ruangan yang sangat megah, dengan berbagai ornamen unik seperti kaligrafi dan sebagainya. Mihrab dengan ruangan minimalis, dengan pinggiran berlapis keramik membuat bangunan masjid ini menjadi sangat istimewa.

Masjid Babul Hasanah Kayong Utara

Masjid Babul Hasanah yang memiliki arti “pintu kebaikan” ini menjadi masjid tertua di Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat.

Sejarah Pembangunan Masjid Babul Hasanah

Bangunan Masjid Babul Hasanah didirikan pertama kali oleh seorang pemuka agama yang tersohor pada masa itu, yaitu Syekh Hasyim Al-Hadad. Sebelum diberi nama “Babul Hasanah”, pada saat itu warga sekitar menyebut masjid ini dengan nama “Tembok Baru”. Masjid Tembok Baru sendiri kala itu menjadi sebuah sebutan tren mengingat jalan didepan bangunan masjid tersebut baru dibangun. Kata “Tembok” sendiri dianalogikan sebagai “Jalan” oleh masayarakat Kayong Utara. Saat ini, tembok atau jalan baru yang membentang di depan bangunan Masjid sudah tidak seperti dulu lagi, dan sudah di aspal dengan baik karena merupakan sebuah jalan provinsi.

Masjid Babul Hasanah

Pemberian nama “Masjid Babul Hasanah” sendiri baru dilakukan oleh Syekh Hasyim pada sekitar tahun 1958. Nama tersebut diambil dari bahasa arab yang artinya “Pintu Kebaikan”. Hingga saat ini, generasi muda di Desa Ratau Panjang tidak mengenal lagi nama “Tembok Baru”.

Sejak didirikan pertama kali, Masjid ini sudah menjadi sebuah sentral bagi umat muslim sekitar dalam menunaikan ibadah wajib serta tempat pengadaan berbagai kegiatan islami. Untuk sholat Jum’at, kadang-kadang bangunan masjid ini sudah tidak mampu untuk menampung jamaah. Apalagi, jika datang perayaan Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, pelaksanaan sholat terpaksa dialihkan ke Lapangan Bola, Desa Rantau Panjang, jaraknya sekitar 1 Km dari Masjid Babul Hasanah.

Rehabilitasi Masjid Babul Hasanah

Sejak dibangun pertama kali, bangunan Masjid Babul Hasanah sudah mengalami 2 kali rehabilitasi ataupun perbaikan fisik bangunannya. Rehab pertama kali dilakukan pada tahun 1958, dan Rehab kedua dilakukan pada tahun 1996.

Saat ini, bangunan Masjid Babul Hasanah yang terbuat dari bahan baku kayu sudah mulai lapuk dan keropos. Karena itu, hampir keseluruhannya diganti dengan kayu lokal, maupun diperkuat dengan beberapa bahan lainnya. Bangunan Masjid ini berdiri kokoh hingga kini dan memiliki luas 12 x 12 meter persegi.

Bagian yang terbuat dari kayu yang masih bertahan hingga kini adalah bagian Fondasi masjidnya yang terbuat dari Kayu Ulin (Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Kayu Berlian atau Kayu Besi). Sedangkan bagian bangunan lainnya seperti tiang penopang, struktur atap, dan lain sebagainya sudah keropos dan diganti selurunya.

Arsitektur Bangunan Masjid

Masjid Hasanah saat ini memang sudah terlihat lumayan tua, dengan bangunan yang sudah banyak yang tidak terawat. Meskipun begitu, sejarah yang dikandungnya lumayan panjang, sehingga bisa dibilang keindahan bukanlah terletak pada bangunan masjidnya, akan tetapi pada sejarahnya.

Untuk bangunan masjidnya memang cukup sederhana, dengan atap limas dan dibagian puncaknya diberikan sebuah kubah dari penataan batu bata yang juga sudah berumur puluhan tahun. Seperti kubah-kubah masjid di Kalimantan yang sudah berumur tua, bangunan kubah dibuat cukup tinggi, dengan leher kubah yang memanjang.

Interior Masjid Babul Hasanah

Untuk tempat wudhu diletakkan terpisah di sebelah utara, terpisah dengan bangunan utama. Bangunan yang dapat kita lihat saat ini memiliki beberapa tiang penyangga dibagian depan dengan lengkungan yang dibentuk seperti kubah masjid. Diantara tiang-tiang tersebut diberikan pintu gerbang yang terbuat dari teralis besi.

Masuk kedalam masjid, kita akan melihat suasana kuno dan klasik, sehingga kita tidak bisa berharap menemukan suasana kemewahan. Tidak terlihat ornamen-ornamen seperti kaligrafi yang memukau, dan hanya beberapa lafadz kaligrafi sederhana yang terlihat menghiasi ruangannya.

Masjid Jami Adji Amir Hasanuddin Tenggarong – Kutai Kartanegara

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanuddin merupakan sebuah masjid bersejarah yang masih berdiri kokoh sampai saat ini. Bangunan masjidnya berdiri di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Sejarah Jami’ Adji Amir Hasanuddin

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanuddin pertama kali dibangun oleh Raja Sultan Sulaiman pada tahun 1874 M, di wilayah kesultanan Kutai Kartanegara.Pada awalnya, bangunan masjidnya hanya berupa musholla (surau) kecil. kemudian pada tahun 1930, barulah bangunan Surau tersebut di rombak ulang menjadi sebuah bangunan masjid dengan ukuran cukup besar. Pada saat perombakan tersebut, pemerintahan dipegang oleh Sultan Adji Mohammad Parikesit.

Jadi, pembangunan tahap pertama Masjid Jami’ Adji Amir Hasanuddin tahap pertama di lakukan pada masa pemerintahan Raja Sultan Sulaiman, sedangkan untuk tahap kedua dilakukan pada masa pemerintahan cucunya, Sultan Adji Muhammad Parikesit. Seorang yang memprakarsai perombakan tersebut adalah Menteri Kerajaan bernama Adji Amir Hasanuddin yang memiliki gelar Haji Adji Pangeran Sosronegoro. Nama menteri sekaligus pemrakarsa masjid ini lah yang kemudian di pakai sebagai nama masjid ini.

Masjid Jami Adji Amir Hasanuddin

Bangunan yang masih berdiri kokoh hingga saat ini, dan masih asli adalah Menara Masjid , Mimbar Masjid, Mihrab Masjid, dan juga Tiang Soko Guru.

Bangunan masjid ini dirancang menggunakan rumah adat provinsi Kalimantan Timur, dengan atap tumpang tiga berbentuk limass segi empat, sedangkan pada puncaknya terdapat atap limas segi lima. Pada setiap jarak antara tingkatan atap, diberikan beberapa ventilasi udara berupa jendela-jendela kecil.

Saat ini, Masjid Jami’ Adji Amir Hasanuddin sudah resmi dicadikan sebagia salah satu Cagar Budaya, sekaligus Masjid Bersejarah di Indonesia. Sehingga, bagi masyarakat sekitar, tentu saja masjid ini menjadi kebanggaan tersendiri karena memiliki nilai histori yang sangat panjang.

16 Tiang Kayu Ulin (kayu besi) yang ada di masjid ini memiliki histori yang cukup unik. Karena pada awalnya, kayu-kayu tersebut akan digunakan sebagai instrumen untuk adat Ritual Kutai di pemandian Putra Mahkota yang akan naik tahta. Namun sayangnya, sebelum ritual tersebut dilakukan, Putra Mahkota Kerajaan, Adji Punggeuk justru meninggal dunia.

Akhirnya, atas keputusan Adji Amir Hasanuddin, ke-16 tiang tersebut digunakan untuk pembuatan bangunan masjid ini. Ketika sholat subuh sudah selesai dilakukan, para warga bergotong-royong dan membangun masjid ini dengan sukarela (tanpa upah), dan hanya mengharap ridho dari Allah SWT saja.

Arsitektur Bangunan Masjid Jami’ Adji Amir Hasanuddin

Bangunan masjid amir hasanuddin ini seperti bangunan masjid-masjid tradional lainnya, karena memang dibangun ulang pada abad ke-19. Seperti yang dijelaskan diatas, Atapnya berupa limas (joglo) bertumpang tiga, sedangkan pada bagian puncaknya (tingkat ketiga) atapnya berwujud limas segi lima.

Interior Masjid Jami Adji Amir Hasanuddin

Disamping bangunan utama, terdapat tempat wudhu yang juga dibuat dengan atap limas bertumpang dua, terlihat menyatu dengan bangunannya.

Kemudian, satu menara juga turut dibangun disamping masjid, dengan balutan warna putih dan dengan desain yang sangat simple, menara masjid tersebut terdiri dari 3 tiang batu bata, dengan puncak yang dibentuk seperti kubah kecil.

Seluruh struktur bangunan masjidnya tidak menggunakan paku besi satupun, dan hanya menggunakan struktur kunci dari kayu-kayu yang ada. Meskipun begitu, masjid ini sudah bertahan hingga 88 tahun lamanya (1930 – 2018).

Masuk kedalam masjid, kita akan menemukan ruangan yang lumayan luas dan klasik. Kita dapat menemukan beberapa bagian bangunan masjid yang masih asli seperti mihrab, mimbar, dan juga tiang soko gurunya.

Masjid Agung Ulul Azmi Pelalawan Riau

Masjid Agung Ulul Azmi

Masjid Agung Ulul Azmi & Islamic Centre Pelalawan terletak di Pangkalan Kerinci Barat, Pelawan Regency, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Pelalawan sendiri merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Riau yang baru dimekarkan, namun memiliki perkembangan pesat didalam infrastrukturnya, termasuk dalam bidang infrastruktur bangunan keagamaan.

Kabupaten Pelalawan memusatkan kegiatan pemerintahannya di Pangkalan Kerinci, yaitu suatu wilayah yang dikembangkan pemerintah untuk menjadi pusat kegiatan aktifitas ke-Islaman di wilayah tersebut. Pembangunan Masjid Agung ini yang menjadi bukti usaha dari pemerintah tersebut.

Riwayat Pembangunan Masjid Agung Ulul Azmi

Pembangunan Masjid Agung Ulul Azmi untuk Kabupaten Pelalawan ini mulai dibangun pertama kali pada tahun 2007, dengan anggaran proyek awal senilai Rp. 6,1 miliar. Namun, dalam proses pembangunannya, Masjid Agung ini tidak kunjung selesai. Bahkan anggaran kembali ditambahkan sekitar Rp. 3,6 miliar pada tahun 2009 lalu. Pembangunan masjid yang sudah menghabiskan dana hingga Rp. 9,1 miliar ini dimulai pada masa pemerintahan Bupati Asmun, dan belum juga selesai pada masa HM. Hari, Bupati Pelalawan periode berikutnya.

Masjid Agung Ulul Azmi

Pembangunan Masjid Agung ini sempat mengalami hambatan dan macet untuk waktu yang cukup lama akibat kasus korupsi yang terjadi di dalam proyek tersebut. Skandal Korupsi hampir ditemukan disetiap jengkal perkembangan proyek pembangunan tersebut, bahkan beberapa pelaku proyek harus berhadapan dengan Hakim dan dipenjara mulai tahun 2013.

Kerugian negara yang ditaksir mencapai angka fantastis senilai Rp. 7,7 miliar. Ironisnya lagi, proyek pembangunan tersebut diperparah dengan bangunan yang tidak layak pakai, karena beberapa bahan yang digunakan sangat tidak berkualitas.

Ironis Dibalik Pembangunan Sebuah Masjid & Islamic Centre

Sangat memprihatinkan dikala sebuah Masjid Agung & Islamic Center yang seharusnya dibangun untuk memenuhi fungsinya sebagai pusat pembinaan umat muslim, justru dalam proses pembangunannya diwarnai oleh tindak pidana korupsi yang sangat “Kotor”. Bahkan, pada saat proyek pembangunannya terbengkalai, menurut masyarakat sekitar lokasi tersebut justru dipergunakan untuk beberapa tindakan yang tidak senonoh. Melihat hal tersebut, Front Pembela Islam (FPI) Pelalawan sempat membuat pemerintah kepada Bupati HM. Haris untuk membuat pagar disekitar kawasan lokasi pembangunan yang terbengkalai tersebut, untuk menghindari penggunaannya kearah kemaksiatan.

Masjid Agung Ulul Azmi & Islamic Centre Pelalawan Saat Ini

Meskipun sempat terbengkalai dan mengalami beberapa insiden yang “Kotor”, Alhamdulillah akhirnya Masjid Agung Ulul Azmi & Islamic Centre Pelalawan saat ini sudah dapat berdiri dengan megah di tepi Jln. Lintas Timur Sumatera. Sementara itu, pembangunan gedung pendukung untuk pelaksanaan Islamic Centre memang masih belum jelas kelanjutannya, namun paling tidak sebuah bangunan masjid sudah bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Pada awal tahun 2016 lalu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk Kabupaten Pelalawan, H. Iswadi M. Yazid LC. Memberikan suatu masukan sekaligus kritikan kepada Pemerintah Kabupaten Pelalawan. Pemerintah Kabupaten dihimbau untuk lebih fokus dalam menjadikan Masjid Agung Ulul Azmi dan Islamic Centre Pelalawan sebagai sebuah Landmark serta pusat dari kegiatan Religi di Pelalawan.

MUI menegaskan bahwa pemerintah harus segera mem-fokuskan diri dalam pembangunan Masjid & Islamic Centre tersebut, agar fungsi yang seyogyanya dapat tercapai selama beberapa tahun kedepan. Berbagai fasilitas yang memadai juga harus segera dibangun, serta penyalahgunaan fasilitas Masjid & Islamic Centre tersebut harus ditindak keras.

Masjid Al-Ikhlas Bagansiapiapi Rokan Hilir Riau

Masjid Al Ikhlas

Di Pulau Sumatera tepatnya di Riau ternyata banyak sekali bangunan masjid yang begitu menarik dan memiliki daya tarik tersendiri. Salah satunya berada di Bagan Barat, bangko, Kabupaten Rokan Hilir Riau. Bangunan masjid tersebut bernama masjid Al Ikhlas. Lokasi masjid tersebut berdiri megah di Bagansiapiapi. Bagansiapiapi sendiri merupakan sebuah ibukota dari Kabupaten Rokan Hilir. Sebelumnya kabupaten Rokan Hilir adalah bagian ari Kabupaten Bengkalis lalu dibentuk menjadi sebuah kabupaten baru pada tanggal 4 Oktober 1999 lalu.

Bagansiapiapi juga terkenal sebagai Hongkong Van Andalas dan pernah meraih predikat sebagai kota terbersih ke 2 yang berada di Provinsi Riau. Sedangkan posisi pertama diraih oleh kota Bengkalis pada tahun 2011 kemarin. Tak hanya itu saja, kota Bagansiapiapi merupakan salah satu tempat yang pantainya selalu ramai di selat Malaka semasa penjajahan Belanda. Pada mas yaitu juga ternyata sudah berdiri kokoh bangunan masjid besar berjumlah tiga. Yaitu antara lain masjid Raya Al-ikhlas, masjid Raya Al-Ihsan dan masjid Al-Kautsar.

Masjid Al Ikhlas Bagansiapiapi

Lokasi masjid Al-Ikhlas yang begitu strategis menjadikan tempat ini selalu dipenuhi oleh para jamaah atau siapapun yang melewati wilayah tersebut. Terlebih letaknya juga persis di sebelah makam Pahlawan. Masjid Al-Ikhlas juga tak hanya difungsikan sebagai tempat beribadah umat muslim saja, tetapi juga sebagai Islamic Center Kabupaten Rokan Hilir. Maka tak heran berbagai kegiatan keislaman selalu dilakukan di masjid Al-Ikhlas. Terutama pada hari-hari besar islam tiba, di masjid tersebut semakin penuh dan ramai oleh berbagai deretan aktivitas untuk merayakan beberapa hari besar islam dan juga berbagai kegiatan pengajian dan juga tabligh akbar.

Tak hanya itu saja, keberadaan masjid tersebut juga menjadi ikon kebanggaan warga Rokan Hilir. Bentuk dari struktur bangunannya begitu menarik dengan mengadopsi dari gaya Turki Utsmani. Hal tersebut dibuktikan dengan bagian kubah masjid yang ukurannya ebsar serta ke empat menara yang berdiri menjulang tinggi di setiap penjuru bangunan masjid ini. Selain kubah utama yang berada di atap bangunan utama masjid, di ke empat sisi juga terdapat kubah yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan bangunan kubah utama. Selain itu terdapat juga empat menara lagi yang ukurannya lebih kecil ditambah dengan ke empat kubah bawang di masing-masing puncak menara masjid.

Bangunan Kubah Masjid Al Ikhlas

Hal menarik lainnya yaitu pada kubah masjid Al-Ikhlas memiliki warna yang begitu berbeda. Jika diperhatikan warna dari kubah tersebut adalah coklat dan tepatnya disebut dengan warna tembaga. Hal tersebut memberikan kesan tersendiri dimana biasanya kubah pada bangunan masjid berwarna emas atau warna lainnya yang mencolok serta ditambah dengan beberapa hiasan geometris pada kubah tersebut. Maka sangat mudah untuk mengenali bentuk dari bangunan masjid Al-Ikhlas jika dilihat dari jarak kejauhan. Selain itu warna yang sama juga dimiliki pada kubah yang berada di ujung ke empat menara masjid.

Interior Masjid Al Ikhlas Bagansiapiapi

Tak hanya bangunan masjid nya saja yang terlihat megah, masjid ini juga dilengkapi dengan pekarangannya yang begitu luas. Pada salah satu bagian pekarangan tersebut juga terdapat air mancur, sehingga memperindah suasana masjid ini. Dinding masjid pun berwarna putih secara keseluruhan yang mebuat masjid tersebut terkesan semakin elegan. Pada bagian pekarangan masjid pun dihiasi oleh pepohonan dan juga lampu-lampu sehingga ketika malam hari pun suasana di sekitar masjid akan terasa begitu indah dan mempesona. Tak heran masjid ini selalu dipenuhi oleh para jamaah dan pengunjung terutama pada hari Jum’at dan kedua Hari Raya Besar Islam.

Gratis Konsultasi 08122229385