Category Archive Kubah Masjid

Masjid At Taqwa Desa Tanjung Alai Sumatera Selatan

Masjid At Taqwa

Ogan Komering Ilir merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Selatan. Biasanya masyarakat menyebutnya dengan OKI dan ibukota OKI di Kayu Agung. Luas dari Ogan Komering Ilir mencapai 19.023,47 kilometer persegi dan penduduknya sudah mencapai 787.513 jiwa. Pada tahun 2015 lalu, kabupaten Ogan Komering Ilir sudah memiliki 18 Kecamatan yang terdiri dari 314 desa dan 13 kelurahan. Sekitar 75% dari luas wilayah OKI merupakan rawa. Sedangkan 25% merupakan sebuah daratan. Wilayah tersebut dialiri oleh banyak sungai dan memiliki wilayah laut serta pantai. Kabupaten OKI juga terdiri dari berbagai macam suku. Mereka berasal dari suku asli Ogan dan juga dari suku pendatang Jawa, Bali dan juga Sunda. Sedangkan suku asli penduduk OKI terdiri atas Suku Ogan, Suku Komering, Suku Kayuagung, Suku Panesa/Danau, dan Suku Pegagan. dan di daerah tersebut terdapat sebuah tempat ibadah umat muslim yaitu masjid at taqwa.

Mayoritas penduduk OKI beragama islam. Disana juga terdapat berbagai bangunan tempat beribadah umat muslim. Salah satunya adalah masjid At-Taqwa yang berlokasi di Tanjung Alai, Sirah Pulau Padang, Ogan Komering Ilir, Tanjung Alai Kota Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan. Masjid tersebut terkesan begitu kusam dan termasuk sebuah bangunan yang sudah dibangun sejak lama.

Masjid At Taqwa

Tanjung Alai sendiri merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Sirah Pulau Padang. Lokasi masjid ini pun mudah ditemukan karena memang berada di sebuah tempat yang cukup strategis. Bangunan masjid tersebut terkesan begitu sederhana dengan sentuhan gaya asli Nusantara. Bentuk atapnya limas bersusun dan juga memiliki sebuah menara disamping bangunan utama masjid. Tetapi masjid At-Taqwa tidak memiliki kubah.

Arsitektur Bangunan Masjid At Taqwa

Dinding luar masjid At Taqwa didominasi dengan warna lembut warna krem serta ada juga warna hijau muda. Pada bagian menara masjid nya memang termasuk menara yang dibangun seperti menara pada zaman dahulu dan merupakan menara masjid yang usianya sudah tua. Hal tersebut dapat ditemukan di beberapa bangunan masjid yang usianya juga sudah sangat tua yang berada di Sumatera Selatan. Bentuk menara tersebut adalah persegi empat serta dilengkapi dengan balkoni dan beberapa masih ada tangga di dalam menara tersebut. Tangga itu digunakan oleh muadzin untuk mengumandangkan adzan. Dan yang paling unik adalah pada bagian ujung menara tersebut terdapat bulan sabit namun bentuknya terbalik. Bagian bintangnya berada di bawah sedangkan bulan sabitnya berada di atas.

Meskipun merupakan sebuah bangunan tua, namun masjid ini pernah dilakukan renovasi pada bagan badan bangunannya saja. Diganti dengan mengunakan bahan semen dan juga batu bata agar lebih kokoh dan tahan lama. Mihrab yang berada di dalam ruangan masjid dapat terlihat dari jalan raya karena letak dari masjid ini berada di sisi timur jalan raya. Bagian depan masjid pun sudah memakai keramik warna putih sehingga ketika mengunjungi masjid At-Taqwa, dari luar saja sudah terasa begitu adem. Lalu memasuki bagian dalam masjid yang terkesan begitu sederhana seperti bangunan masjid lain pada umumnya.

Menara Masjid At Taqwa

Pada interior masjid At-Taqwa sudah dilengkapi dengan kipas angin sehingga para jamaah yang melaksanakan ibadah disana merasa lebih khusyu’. Selain itu, sudah tersedia juga sajadah yang tertata rapi dan lantainya pun sudah di keramik. Selain itu, terdapat juga beberapa hiasan kaligrafi meskipun tidak mendominasi bagian ruangan tersebut. Biasanya para jamaah masjid akan datang lebih banyak ketika hari jum’at karena melaksanakan ibadah shalat jum’at berjamaah. Dan juga pada saat bulan suc Ramadhan tiba maka para jamaah warga sekitar selalu memenuhi masjid At-Taqwa.

Masjid Al Hidayah Pancawati Klari

Masjid Al Hidayah

Penyebaran ajaran islam di Nusantara begitu pesat yang dimulai sejak abad ke 7 Masehi. Pada saat penyebaran islam itu dibawa oleh para pedagang Arab yang ternyata telah menjalin hubungan dagang dengan Indonesia pada masa perkembangan Kerajaan Sriwijaya. Dan wilayah yang pertama kali menerima pengaruh islam adalah daerah panai Sumatera Utara atau dikenal dengan wilayah Samudera Pasai dan disitu terdapat sebuah masjid yaitu Masjid Al Hidayah. Dari sana, perkembangan islam mulai menyebar ke Pulau Jawa.

Pulau Jawa juga tak lepas dari pengaruh tentang adanya orang-orang Arab dan Persia yang pada saat itu mengurungkan niatnya untuk menyerang Kaling di bawah pemerintahan Ratu Siman pada tahun 674 Masehi. Dan perlahan islam pun mulai menyebar di pulau Jawa sehingga mayoritas penduduknya memeluk agama islam. Dan Karawang adalah salah satu kabupaten yang berada di Jawa Barat merupakan sebuah kota yang tak lepas dari sejarah islam tersebut. Tak hanya terkenal sebagai kota Industri, Karawang juga memiliki berbagai bangunan masjid. Salah satunya berada di Jalan Kosambi Tegalsari, Pancawati, Klari Kabupaten Karawang Jawa Barat.

Masjid Al Hidayah

Arsitektur Bangunan Masjid Al Hidayah

Masjid tersebut bernama masjid Al-Hidayah. Ukuran dari bangunan masjid tersebut tidak begitu megah dan mewah melainkan terkesan sederhana dan tergolong kecil. Lokasinya hanya beberapa meter dari pertigaan Kosambi menuju ke Desa Tegalsari. Tepatnya disebelah sisi kiri jalan raya dipinggir kali irigasi maka masjid Al-Hidayah akan ditemukan. Masjid tersebut cukup unik dengan bentuknya yang sederhana ditambah warna pada dinding masjid tersebut yang cukup terang benderang. Hal itulah yang membuat masjid ini memiliki daya tarik tersendiri.

Desain dari masjid Al-Hidayah sebenarnya merupakan khas dari Indonesia dengan atapnya yang termasuk atap joglo. Tetapi kemudian atap masjid tersebut dimodifikasi dengan bentuk yang baru sehingga hasilnya begitu menarik. Dan pada akhirnya tetap dengan pola dasar masjid yang beratap tumpang dengan tiga susun. Tetapi hanya saja dua susun atap paling atas adalah berbeda dari masjid lain pada umumnya.

Hal unik lainnya yang dimiliki masjid ini adalah terdapat menara yang jumlahnya ada tiga dibangun di atap masjid tersebut. Di bagian sisi depan atap masjid dibangun menara kembar yang jumlahnya ada dua dengan bentuk menara yang sederhana tetapi termasuk dalam ide yang kreatif. Sedangkan menara satunya tak lebih unik dan berbeda dengan kedua menara sebelumnya. Dilihat dari bentuk menara yang ketiga ini termasuk lebih rumit dimana pada bagian ujung menara tersebut ditempatkan sebuah kubah kecil berwarna hijau. Lalu kubah kecil tersebut dibingkai dengan kerangka beton yang mencengkram tiga sisinya.

Menara Masjid Al Hidayah

Meskipun memilih gaya asli Indonesia, namun masjid Al-Hidayah memiliki kubah yang ukurannya kecil di bagian puncak menara tersebut. Hal itu dikarenakan tetap ingin tidak mau kehilangan unsur kubah dan menara yang biasanya menjadi ciri khas dari sebuah bangunan masjid. Serta tetap mempertahankan pola struktur bangunan masjid tradisional Indonesia.

Tempat berdirinya masjid Al-Hidayah yang berasa dekat dengan jalan raya membuat masjid tersebut selalu ramai oleh kendaraan yang melewatinya. Selain itu tak jarang dari para pengendara yang melaksanakan ibadah shalat di masjid tersebut sambil beristirahat sejenak. Selain itu, di sekitar masjid ini banyak terdapat tempat tinggal para warga sekitar dan beberapa pertokoan. Dinding masjid Al-Hidayah didominasi oleh warna yang lembut yaitu warna krem dan paduan warna coklat. Bagian dalam masjid pun terkesan begitu sederhana namun tetap terasa kenyamanan dan kesejukan di bagian ruangan interior masjid ini.

Masjid Nurul Huda Kalangan Gelumbang Muara Enim

Masjid Nurul Huda

Masjid Nurul Huda ini terletak di Kampung Tiga Kalangan Kelurahan Gelumbang, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Pada awalnya, bangunan masjid ini hanyalah sebuah musholla kecil yang dibangun dengna dana swadaya masyarakat Kampung Tiga Kelurahan Gelumbang. Seiring dengan berjalannya waktu, dan juga semakin bertambahnya para jamaah, akhirnya dilakukan pemugaran dengan hasil bangunan yang bisa kita lihat sampai saat ini.

Setelah pemugaran dilakukan, dan bangunan masjid ini mulai difungsikan kembali, akhirnya bangunan Masjid Nurul Huda juga digunakan sebagai tempat sholat jum’at dan juga sholat 2 hari raya. Sebelum dilakukan perluasan untuk masjid ini, para masyarakat sekitar berbondong-bondong ke Kampung Satu Kelurahan Gelumbang atau ke Masjid Jami’ Babussalam untuk melaksanakan sholat jum’at dan juga perayaan hari besar islam.

Beberapa tokoh masyarakat yang ikut serta didalam pembangunan dan perluasan Masjid Nurul Huda ini adalah Ust. Nang Cik, Ust. H. Nang Hamid, dan Ust. Abdul Mukti. Selain itu, peran masyarakat sekitar juga memiliki andil penting, karena mereka senantiasa bergotong royong untuk melakukan pembangunan masjid.

Masjid Nurul Huda

Arsitektur Masjid Nurul Huda

Bangunan Masjid Nurul Huda memiliki arsitektur khas nusantara, dengan atap masjid limas bersusun 2. Kemudian pada bagian puncak dari atap limas tersebut di berikan satu ornamen bulan bintang.

Bentuknya memang sangat sederhana mengigat bangunan masjid ini terletak di tengah-tengah perkampungan. Pengeras suara di masjid ini hanya diletakkan pada jendela sisi utara dan sisi selatan masjid, karena memang kumandang adzan hanya ditujukan untuk masyarakat sekitar.

Untuk tempat wudhu dan toiletnya di letakkan terpisah dengan bagian bangunan utamanya. Kemudian sebuah tempat penampungan air yang berukuran kecil digunakan sebagai penampung air untuk berwudhu.

Pintu tama masjid ini terletak di bagian timur, utara, dan selatan, dengan desain yang sama persis. Masing-masing dua jendela juga diletakkan di seluruh bagian sisinya. Yang unik dari bangunan Masjid Nurul Huda ini adalah jendela dan pintu pada masjid ini hanya dibatasi dengan rongga-rongga yang dibuat dari besi.

Masuk ke bagian dalam masjid, kita akan disambut dengan desain yang sangat klasik dan sederhana, tanpa ornamen-ornamen yang terlalu banyak. Hanya ada lafadz “Allah” dan “Muhammad” yang diletakkan pada dinding depan.

Mihrab untuk masjid ini dibangun dengan menjorok keluar, dengan denah persegi panjang. Lalu, satu mimbar yang terbuat dari kayu dengan beberapa ukiran juga turut diletakkan di samping mihrab.

Areal untuk masjid ini masih sangat luas, sehingga jika ada dana berlebih, pihak masyarakat dan pengurus masjid ingin melakukan perluasan kembali agar bangunan Masjid Nurul Huda menjadi lebih lega.

Arsitektur Bangunan Masjid Nurul Huda

Sekilas Tentang Kampung Tiga Kalangan

Kampung Tiga Kalangan yang terletak di Kelurahan Gelumbang ini pada awalnya dikenal karena ada sebuah pasar tradisional yang berada di lokasi tersebut. Hingga saat ini, jika kita berkeliling di dekat area Masjid ini, dapat ditemui berbagai kios-kios pasar kecil yang dibangun oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI), Gelumbang.

Pada awalnya, stasiun yang ada di Gelumbang ini merupakan stasiun sekunder untuk mengantar pasokan batu bara. Namun seiring perkembangan zaman yang lebih mengandalkan listrik sebagai bahan bakarnya, tentu saja lambat laun stasiun kecil Gelumbang mulai ditinggalkan, dan kereta api hanya berhenti di stasiun besar saja.

Saat ini, suasana di wilayah sekitar masjid ini sudah tidak seramai pada zaman dahulu, karena fungsi stasiun yang dihentikan. Sehingga, sebenarnya sudah tidak relevan lagi jika nama kampung “Kalangan” masih digunakan untuk kampung ini. Meskipun begitu, adat dan budaya tidak mengijinkan untuk merubah nama tersebut, sehingga sampai saat ini pun wilayah sekitar Masjid Nurul Huda masiing dikenal dengan Kampung Tiga Kalangan.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi

Masjid Muhammad Cheng Hoo

Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi merupakan salah satu dari beberapa “Masjid Cheng Hoo” yang ada di Indonesia. Tentu saja bangunan masjid ini seperti lazimnya bangunan Masjid Cheng Hoo lainnya, yaitu memiliki gaya arsitektur paduan Tiongkok dan Timur Tengah.

Masjid ini dapat berdiri dengan kokoh karena inisiatif warga keturunan Tionghoa yang beragama Islam dan tergabung di dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Dana pembangunan masjid ini berasal dari Warga Tionghoa, PITI, dan juga donasi dari warga lokal setempat. Tentu saja karena bangunannya menganut gaya Tiongkok, banyak dari ornamen bangunannya yang didatangkan langsung dari negeri Tirai Bambu China.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi

Pembangunan masjid ini pertama kali diresmikan pada tanggal 26 November 2016 silam, oleh Menkopolhukam, Bapak Wiranto. Juga turut hadir Konsul Jenderal Tiongkok Untuk Indonesia di Surabaya, Gu Jingqi, dan juga berbagai tokoh agama, termasuk perwakilan dari pengurus wilayah NU (Nahdlatul Ulama’) Jawa Timur. Komandan Distrik Militer 0825, Letkol Inf. Robby Bulan juga turut hadir. Antusiasme masyarakat sekitar juga sangat terlihat dengan berkumpulnya mereka untuk menyaksikan sendiri betapa megah dan uniknya Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi tersebut.

Penamaan Masjid Cheng Hoo di Banyuwangi

Nama “Muhammad Cheng Hoo” yang juga diberikan kepada Masjid Cheng Hoo di Banyuwangi ini merupakan sebuah bentuk apreasiasi dan penghormatan bagi seornag Laksamana Tiongkok yang berdagang dan menyebarkan agama islam ke kawasan Asia Tenggara, bernama “Muhammad Cheng Hoo”.

Beliau merupakan pelaut muslim yang berasal dari Yunnan, Tiongkok, yang menjelajah dunia sambil berdagang dan menyebarkan agama islam pada sekitar tahun 1405 hingga 1433. Beliau juga merupakan orang kepercayaan Kaisar Ketiga Dinasti Ming, Yongle. Sang kaisar kemudian memerintahkan Muhammad Cheng Ho untuk melakukan pelayaran guna memetakan wilayah yang mungkin dapat di jadikan kekuasaan China. Sepanjang masa hidupnya, setidaknya Laksamana Muhammad Cheng Hoo sudah melakukan 7 kali pelayaran, terutama di wilayah Asia Tenggara. Sedangkan di Indonesia, beliau juga pernah mendarat di Sumatera, Palembang, dan Jawa.

Yang unik dari sejarah tersebut adalah, pada waktu senggang dari kegiatan berdagang, beliau terus mencoba untuk melestarikan agama islam dimanapun kakinya menginjak tanah. Padahal, hampir keseluruhan kru awak kapal yang ikut merupakaan pengatur Agama Buddha.

Arsitektur Bangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi

Seperti masjid-masjid Cheng Hoo lainnya, arsitektur yang dianut oleh Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi ini sangat unik. Atap masjid nya dibuat dengan lima tingkat, dengan ujung yang semakin mengecil, khas arsitektural Pagoda Buddha. Selain itu, desain bagian pagar dan gapura masjidnya juga hampir persis dengan kelenteng, karena memiliki perpaduan warna yang sangat khas yaitu Merah Menyala, Kuning dan Hijau.

Tentu saja jika kita melihat secara sekilas, kita tiba-tiba akan merasakan sensasi budaya China yang beigut kental di masjid tersebut. uniknya, bangunan Masjid ini tidak memiliki pintu masuk, dan hanya dibuat seperti sebuah pendopo tanpa dinding di bagian selatan, utara dan timur. Sedangkan untuk sisi kiblat dibuat tembok yang membentang dari utara ke selatan, dengan tempat imaman (mihrab) dibagian tengah-tengahnya.

Bangunan Masjid ini didirikan dengan luas sekitar 28 x 26 meter. Selain bangunan masjid, di komplek tersebut berdiri sebuah Pondok Pesantren yang memiliki luas hingga 2 hektar.

Interior Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi

Sebagai informasi, Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi ini menjadi Masjid Cheng Hoo terbesar di Indonesia, sekaligus digunakan sebagai sarana masjid untuk Pondok Pesantren. Pondok yang dibangun diberi nama “Adz-Dzikra Muhammad Cheng Hoo”, dan sekaligus menjadi satu-satunya pesantren Cheng Hoo pertama yang diresmikan di Indonesia.

Masjid Raya Akbar At Taqwa Bengkulu

Masjid Raya Akbar At Taqwa

Masjid Raya Akbar At Taqwa merupakan sebuah masjid yang berada di Provinsi Bengkulu, Indonesia. Dibangun pertama kali pada tahun 1988, membutuhkan waktu 1 tahun dan selesai pada tahun 1989. Masjid ini memiliki kemiripan yang besar dengan model bangunan Istana Era Kolonial Belanda yang terlihat dari taman ynag luas, dengan penataan yang sangat rapih seperti pada Istana Kepresidenan, maupun taman Istana Kerajaan.

Lokasinya terletak di Jalan Soekarno Hatta, Ds. Anggut Atas, Kec. Gading Cempaka, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Masjid megah ini saat ini menjadi salah satu ikonik kebanggaan bagi masyarakat benguku karena bangunan masjidnya terbilang sangat megah, dengan taman yang spesial.

Masjid Raya Akbar At Taqwa

Pembangunan Masjid Raya Akbar At Taqwa

Masjid Raya Akbar dibangun pertama kali pada tahun 198, pada masa kepemimpinan Gubernur Soeprapto. Bangunannya kemudian diresmikan pertama kali pada tanggal 01 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto. Luas bangunan utamanya mencapai 879,2 meter persegi, dan keseluruhan bangunan termasuk bangunan pendukung adalah 1.104,5 meter persegi. Dengan luas yang cukup memadai tersebut, jamaah yang dapat ditampung secara bersamaan mencapai 3.000 jamaah.

Keunikan yang sangat terasa adalah dari hamparan rumput hijau di halaman masjid yang sangat kental dengan nuansa sejuk, sehingga para jamaah dapat bersantai di kawasan tersebut sembari menikmati pemandangan hijau.

Arsitektur Bangunan Masjid

Bangunan Masjid Raya Akbar At-Taqwa mengadopsi arsitektur bangunan perpaduan antara budaya tradisional Indonesia dan budaya Turki serta sedikit sentuhan Yunani, sehingga menghasilkan bentuk bangunan masjid yang sangat indah dengan ciri khas tersendiri.

Ciri khas yang paling terlihat adalah dari bentuk kubah bertingkat tiga yang justru jika dilihat dari jauh tampak seperti mitos dalam film-film luar angkasa yang biasa di sebut UFO (Unidentified Flying Object). Kubah bersusun tersebut dibuat dengan puncak kubah besar khas Turki dengan undak-undak has Indonesia, namun tetap di buat dalam desain melingkar dan bukan persegi empat seperti biasanya. Diantara tingkatan kubah masjid dan atap tersebut juga turut dibuat jendela-jendela kecil sebagai ventilasi udara dan juga jalan masuk cahaya matahari.

Masuk ke dalam masjid, kita akan melihat beberapa pilar beton bundar yang turut menopang struktur atapnya. Di serambi juga terlihat beberapa pilar yang menopang struktur luar seperti pada bangunan kuil-kuil kuno yunani.

Balutan warna putih di keseluruhan bagian bangunannya juga turut dijadikan sebagai sebutan untuk masjid ini. Masyakrat sekitar juga kerap menyebutnya sebagai “Masjid Putih”, karena keseluruhan bangunan luar dan dalam dibalut dengan warna putih.

Citarasa Indonesia juga sangat kental, terutama pada bagian interior masjidnya. Sedangkan Citarasa Turki dapat kita lihat dari 4 menaranya yang dibangun menjulang tinggi dengan ujung lancip, terpisah dari bangunan utamanya, dan ditempatkan di keempat sudut bangunan utama.

Arsitektur Masjid Raya Akbar At Taqwa

Keempat menara di Masjid Raya Akbar At-Taqwa ini dapat menghadirkan sebuah ciri khas Turki namun tetap dengan sentuhan klasik Indonesia, terlihat dari menaranya yang dibuat dengan denah segi empat, persis seperti menara masjid tua di Sumatera lainnya.

Yang paling “keen” dari bangunan masjid ini adalah kawasan taman di sekelilingnya. Seluruh taman di berikan rumput hijau terhampar luas mengelilingi bangunannya, dengan jalur kecil sebagai akses ke dalam areal. Artinya, areal parkir masjidnya ditaruh agak jauh dari wilayah bangunan utama, sehingga menghasilkan areal yang super sejuk. Tidak heran jika banyak pelancong sengaja untuk mampir ke masjid ini dan bersantai sejenak memandang pemandangan yang mamukau.

Masjid Al Ihsan Kota Kayu Sumatera Selatan

Masjid Al Ihsan

Salah satu provinsi di bagian selatan pulau Sumatera yaitu Sumatera Selatan. Ibukota dari Sumatera Selatan adalah Palembang dan berbatasan dengan provinsi Jambi yang berada di sebelah utara, disebelah timur terdapat provinsi Kep. Bangka Belitung dan disebelah selatannya berbatasan langsung dengan Lampung. Sedangkan dibagian barat berbatasan dengan provinsi Bengkulu. Selain itu, Sumatera Selatan juga terkenal akan memiliki sumber daya alamnya yang begitu melimpah yaitu minyak bumi, gas alam dan juga batu bara. Palembang yang menjadi ibukota dari Sumatera Selatan sejak dahulu terkenal akan sebuah pusat dari Kerajaan Sriwijaya. Tak hanya itu saja, di Sumatera Selatan memiliki banyak tempat wisata yang begitu menarik dan sering dikunjungi oleh beberapa wisatawan lokal maupun dari luar daerah. Seperti wisata Sungai Musi, Jembatan Ampera, Pulau Kemaro, Danau Ranau dan tempat wisata lainnya yang tak kalah menarik. salah satunya bangunan masjid yaitu Masjid Al Ihsan.

Masjid Al Ihsan

Masyarakat Sumatera Selatan pun mayoritas beragama islam. Yaitu sebanyak 94.30% memeluk agama islam, disusul dengan agama Kristen Protestan 1.96% kemudian Budha 1.76%, lalu agama Katolik 1.11% dan agama Hindu 0.87%. Dari beberapa agama yag diyakini oleh masyarakat Sumatera Selatan, agama islam adalah yang paling banyak di pilih. Maka tak heran disana juga banyak bangunan tempat beribadah umat muslim yang mudah ditemui dimana saja. Dan meskipun semua agama ada di Sumatera Selatan, mereka memiliki toleransi tinggi dalam menghormati perbedaan keyakinan tersebut.

Arsitektur Bangunan Masjid Al Ihsan

Salah satu bangunan masjid yang menjadi perhatian bagi para warga adalah masjid Al-Ihsan. Lokasi masjid tersebut berada di Jalan Beringin 3, Sukadana, Kota Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Jika dilihat dari segi bangunanannya, luas dari masjid ini termasuk dalam sebuah bangunan masjid yang besar namun tetap mempertahankan dalam arsitektur Indonesia. Tetapi masjid Al-Ihsan bukanlah sebagai masjid Jami yang berada di Kota Kayu Agung. Statusnya hanya sebagai masjid lain pada umumnya yang biasa difungsikan untuk melaksanakan ibadah shalat umat muslim.

Lokasi dari masjid Al-Ihsan yaitu berada dalam satu komplek perumahan KPS BTN dan Lestari Permai. Tempat tersebut termasuk strategis. Bentuk dari masjid tersebut sangat khas dengan gaya asli Indonesia yang seperti halnya berbagai bangunan masjid di Sumatera Selatan. Terbukti pada bagian atap masjid ini yang memiliki desain seperti atap limas bersusun. Kemudian dari denah bangunannya juga adalah segi empat ditambah dengan ke empat soko guru yang berfungsi sebagai penopang struktur atap masjid tersebut.

Jika dilihat dari bagian luar, bangunan masjid Al-Ihsan terkesan sederhana dengan dinding catnya yang berwarna biru. Di sekeliling masjid tersebut pun dipasangi oeh pagar pendek karena berada di pinggir jalan. Halaman dari masjid Al-Ihsan pun terkesan begitu sederhana dan tidak begitu luas. Para jamaah yang biasanya melaksanakan ibadah disana merupakan para warga setempat. Jadi mereka jarang membawa kendaraan pribadi ketika akan melaksanakan ibadah shalat di masjid Al-Ihsan.

Interior Masjid Al Ihsan

Sebelum memasuki bagin dalam masjid, maka pintunya harus ditutup kembali secara rapat. Hal tersebut dikarenakan bagian dalam ruangan masjid tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas AC. Sehingga para jamaah yang melaksanakan ibadah disana semakin merasakan khusyu’ dan sejuk. Pada bagian mihrabnya dbangun menjorok keluar bangunan serta terdapat ukiran khas Palembang yang menghias bagian muka mihrab tersebut dengan bentuk gapura dibalut warna emas. Lantai masjid pun sudah dikeramik warna putih serta dilengkapi oleh tempat untuk berwudhu dan juga toilet.

Kemegahan Masjid Raya Kisaran – Sumatera Utara

Masjid Raya Kisaran

Sebuah bangunan masjid yang menjadi ikon dan kebanggaan bagi warga Kabupaten Asahan menjadi daya tarik tersendiri. Bangunan masjid tersebut bernama masjid Raya Kisaran. Kabupaten Asahan sendiri adalah sebuah kabupaten yang berada di Sumatera Utara. Ibukota dari Kabupaten Asahan adalah Kisaran. Luas dari wilayah tersebut mencapai 3.675 kilo meter persegi. Tetapi pada sebelumnya ibukota dari Kabupaten Asahan adalah Tanjung Balai. Perlu diketahui bahwa Kabupaten Asahan adalah sebuah kabupaten pertama di Indonesia yang membentuk sebuah lembaga pengawas pelayanan umum. Lembaga tersebut diberi nama Ombusman Daerah Asahan.

Bangunan masjid Raya ini terletak di Jalan Imam Bonjol Kisaran, Tebing Kisaran, Kisaran Barat, Kabupaten Asahan Sumatera Utara. Pada sebelumnya masjid tersebut bernama Masjid Agung Kisaran. Kemudian di Asahan telah diresmikan bangunan masjid Agung yang bernama Masjid Agung H. Ahmad Bakrie. Lalu masjid tersebut dirubah menjadi masjid Raya Kisaran. Lokasi masjid Raya ini sangat strategis yaitu berada di pusat kota Kisaran di wilayah Kisaran Barat. Maka tak heran masjid tersebut selalu dipenuhi oleh para jamaah ataupun penduduk dan pengendara yang melewati masjid itu untuk sekedar beristirahat atau melaksanakan ibadah. Serta lokasinya yang mudah djangkau karena berada di pinggir jalan raya.

Selain itu, letaknya yang berada di pusat kota Kisaran menjadi pilihan dan favorit dari muslim sekitar untuk melaksanakan ibadah shalat lima waktu secara berjamaah di masjid Raya Kisaran. Selain itu, para muslim disana juga sangat antusias ketika hari raya Idul Fitri dan Idul Adha tiba karena dapat melaksanakan shalat sunah tersebut berjamaah. Selain itu juga mereka dapat berkumpul dan bersilaturahmi dengan sesama muslim lainnya yang lokasi rumah mereka berjauhan. Sehingga momen tersebut adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh para muslim Asahan.

Hal yang unik dan menarik telah terjadi di tahun 2009 lalu dimana Kelompok Blogger Asahan di Kota Kisaran melakukan penanaman pohon langka yang bernama Gaharu. Penanaman pohon tersebut di pekarangan masjid. Kegiatan tersebut juga bekerjasama dengan pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Raya Kisaran. Pada saat itu suasana di masjid tersebut sangat ramai dan sangat membanggakan karena merupakan sebuah kegiatan yang positif.

Disekitar area masjid tersebut terdapat toko-toko yang menjual berbagai hasil tulisan ilmuan dari Asahan yang menjual berbagai pernak pernik souvenir khas Asahan. Contohnya seperti rajutan sajadah dari kapas rangkaian tasbih dari bahan cangkang lokan serta anyaman peci yang bahannya berasal dari rotan. Selain itu, mereka juga menjajakan berbagai jajanan khas Asahan yang dijual dengan kemasan yang sangan rapi dan rasanya yang tak kalah enak. Sehingga jika ada wisatawan yang datang mengunjungi Asahan dapat membeli di tempat tersebut sebagai oleh-oleh dari Asahan.

Selain itu, masjid ini juga selalu difungsikan sebagai tempat keagamaan lainnya. Seperti halnya ketika acara keislaman serta beberapa ceramah dan pengajian yang dilaksanakan di masjid Raya Kisaran. Masjid tersebut selalu ramai setiap harinya terutama pada saat bulan suci Ramadhan maka para jamaah semakin meningkat karena melaksanakan ibadah shalat terawih secara berjamaah di masjid tersebut. Terutama pada sore hari sebelum berbuka puasa di areal depan masjid Raya Kisaran selalu ramai oleh berbagai jajanan khas bulan puasa. Lengkap dengan berbagai makanan pendamping lainnya yang begitu menggoda. Tempat tersebut selalu dipenuhi oleh siapapun untuk membeli menu berbuka puasa. Itulah momen yang sangat dirindukan oleh muslim setempat di Asahan.

Masjid Jami Darunnajah Kabupaten OKI Sumatera Selatan

Masjid Jami’ Darunnajah

Masjid Darunnajah terletak di Blok A, Desa Bumiarjo Makmur, Kecamatan Lempuing, Kabupaten OKI, Provinsi Sumatera Selatan. Masjid Darunnajah ini dijadikan sebuah sebuah Masjid Jami’ untuk Desa Bumiarjo dan Kecamatan Lempuing.

Sebagai sebuah Masjid Jami’, Masjid Darunnajah ini dibangun dengan sangat megah dan indah. Jika kita mampir ke situs Kementerian Agama (Kemenag), dijelaskan bahwa bangunan Masjid Darunnaja ini dibangun pada tahun 2010, diatas tanah wakaf dengan luas 1.250 meter persegi.

Pembangunan masjid ini dilakukan pada kontur tahan yang tidak rata, sehingga lantai basement dapat dipergunakan sebagai tempat untuk menempatkan beberapa tempat seperti Area Parkir Kendaraan Roda Dua, Kamar Mandi, Gudang, Tempat Wudhu, dan juga beberapa ruang pendukung lainnya. Lantai pada bagian atas yang sama tinggi dengan permukaan jalan raya dijadikan sebagai ruang utama untuk sholat di masjdi ini. Masjid ini dibangun dengan dua lantai, yaitu lantai dasar / basement, dan lantai utama.

Masjid Jami Darunnajah

Desa Bumiarjo Makmur yang menjadi tempat berdirinya masjid ini merupakan sebuah desa yang baru di definisikan sebagai sebuah desa pada tanggal 12 November 2014 lalu. Hal ini dilakukan sebagai wujud dari upaya Pemerintah Kabupaten OKI dalam menggalakkan program pembangunan Desa. Sebelum terpisah menjadi sebuah desa yang baru, Bumiarjo Makmur menjadi satu dengan wilayah Desa Bumiarjo.

Arsitektur Bangunan Masjid Jami’ Darunnajah

Bangunan Masjid Darunnajah dibangun dengan basis arsitektural modern, dilengkapi dengan kubah bawang tunggal dengan warna hijau dibagian atapnya. Dua menara kembar didirikan dibagian atap sisi depan masjid, mengapit pada pintu gerbang utama.

Pada sisi bangunan yang menghadap ke jalan raya di tempatkan sebuah beranda dengan bentuk yang sangat megah, dilengkapi dengan bedug yang digunakan sebagai pertanda masuknya waktu sholat. Posisi bangunan Masjid Darunnajah ini terletak di sisi utara jalan, sehingga bangunan masjidnya menghadap ke selatan.

Masuk ke bagian dalam masjid, kita akan langsung dihadapkan kepada beberapa interior bangunan yang minimalis namun sangat megah. Sebanyak delapan soko guru berbentuk bulat terbuat dari beton berdiri kokoh ditengah-tengah ruangannya sebagai penopang struktur atapnya. Empat soko guru menopang struktur kubahnya, sedangkan empat lainnya menjadi penopang struktur atap dibagian bawah kubah.

Masing-masing soko guru tersebut dihiasi dengan pola ukiran batu alami. Kemudian pada sisi bagian dalam kubah di hias dengan lukisan langit biru, beserta beberapa awan putih di sekelilingnya. Dibagian bawah kubah atau leher kubah dibuat dengan ornamen mirip dengan jendela-jendela kecil sebagai ventilasi udara dan cahaya alami.

Pada bagian Mihrab dihiasi dengan ornamen-ornamen berwarna keemasan dan kecoklatan. Kemudian sepasang pilar kecil ditempatkan di sisi dan kanan mihrabnya. Pada sisi kiblatnya dihiasi dengan rangkaian kaligrafi Al-Qur’an dan Lafadz Allah dibagian tengahnya. Mimbar yang minimalis terbuat dari kayu dengan ukiran khas ditempatkan di sebelah mihrabnya.

Arsitektur Masjid Jami Darunnajah

Tidak lupa beberapa kaligrafi masjid juga turut di lukiskan pada sekeliling dinding bagian atas, yang menambah keindahan masjid ini. Pada plafon masjid diwarnai dengan coklat muda, dengan beberapa lampu LED di sekelilingnya.

Lantai pada masjid ini dilapisi dengan keramik putih bersih. Kemudian pada shaff paling depan dilapisi kembali dengan karpet sajadah berwarna merah. Jamaah pria ditempatkan pada sisi kiri, sedangkan jamaah wanita ditempatkan pada sisi kanan dengan pembatas berupa kain kelambu yang digantung diatas aluminium.

Tentu saja sebagai semuah Masjid Jami’ bangunannya didirikan dengan sangat megah, serta selalu terjaga kebersihan bagian dalam maupun luarnya.

Masjid Babul Chair Ketapang – Kalimantan Barat

Masjid Babul Chair

Masjid Babul Chair merupakan sebuah masjid yang berlokasi di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, lebih tepatnya berada di Desa Tengah, Kecamatan Delta Pawan. Nama “Masjid Babul Chair” atau bisa diartikan sebagai “Pintu Kebaikan” memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kota Ketapang.Karena pada dasarnya letaknya berada tepat di pusat kota tersebut, ditengah-tengah hiruk-pikuk dan lalu-lalang kendaraan yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Keberadaannya sendiri menjadi sebuah saksi bisu pergantian waktu dan budaya yang terjadi di kota tersebut. Setiap waktu, masyarakat ketapang akan selalu dapat mendengar lantunan adzan khas dari bangunan yang memiliki sejarah cukup panjang tersebut, sekaligus mengingat-ingat bahwa Masjid Babul Chair merupakan bangunan masjid tertua kedua, setelah Masjid Jami’ Kerajaan Matan, Kelurahan Kauman.

Masjid Babul Chair

Sejarah Berdirinya Masjid Babul Chair

Berdasarkan cerita yang dituturkan oleh Ketua Pengurus Masjid Babul Chair, H. Amri Has, dikatakan bahwa bahwa bangunan masjid ini diprakarsai oleh beberapa tokoh agama dari kawasan Matan, Hilir Utara.

Pada awalnya, masyarakat di seberang Kota lama Kerajaan Matan jika hendak melaksanakan sembahyang Jum’at berjamaah harus menyeberang ke Kampung Kaum. Hal ini perlu dimaklumi karena Masjid Kaum merupakan satu-satunya bangunan Masjid Jami’ (masjid untuk sholat Jum’at) pada masa itu.

Akhirnya, karena memang harus menyeberangi sungai dan dirasa cukup memberatkan para masyarakat, maka beberapa tokoh dari Matan, Hilir Utara, serta masyarakat Kecamatan Delta Pawan, Muara Pawan, bersepakat untuk membangun sebuah bangunan masjid baru. atau lebih tepatnya membangun ulang sebuah surau yang sudah ada sebelumnya di lokasi yang tak jauh dari lokasi berdirinya Masjid Babul Chair saat ini.

Pada tahun 1948, dimulailah pembangunan masjid tersebut. Lokasi dipilihnya tempat tersebut tepat dipinggir Jalan Darussalam, atau yang saat ini dikenal sebagai Jln. MT. Haryono. Amri menjelaskan kembali bahwa pada saat itu, Jalan Darussalam atau Jalan MT. Haryono tersebut merupakan sebuah jalan hasil pengerasan tanah yang dilapisi kulit pohon ale-ale.

Kemudian, masa-masa pembangunan tersebut merupakan masa peralihan, setelah masa kekosongan pemerintahan Kerajaan Matan pada sekitar tahun 1943. Ketika itu, Panembahan Gusti Muhammad Saunan ditangkap oleh pasukan sekutu (Jepang), dan tidak kembali lagi, kemungkinan di asingkan ke luar negeri.

Baca juga : Keindahan Masjid Qiblatain

Pada tahun 1948 merupakan tahun-tahun dimana masa pemerintahan Kerajaan Matan berada di bawah Majelis Pemerintahan Kerajaan Matan, atau bisa disebut NICA. Jadi, kemungkinan besar izin pembangunan Masjid Babul Chair ini tak lepas dari NICA,dan tercatat bahwa pada masa itu Kerjaaan Matan dipimpin oleh 3 pangeran dalam mengatur pemerintahannya. Mereka adalah Pangeran Mangku Negara atau Uti Halil, Pangeran Adipati atau Uti Aplah, dan Pangeran Anom Laksamana atau Uti Kencana. Mereka bertiga inilah yang disebut sebagai Majelis Pemerintahan Kerajaan Matan yang mengatur wilayah Matan setelah zaman kekosongan.

Interior Masjid Babul Chair

Tokoh yang terlibat ikut dalam pembangunan Masjid Babul Chair yaitu H. Hasan Zulkifli, H. Abdussamad, Sabran dan Asri Yatim. Mereka bersama-sama mulai mendirikan masjid ini secara bertahap. Pembangunannya selesai pada sekitar tahun 1953, diresmikan pada hari jum’at sekaligus digunakan untuk sholat jum’at pertama kali. Kemudian, bagian yang masih asli dari tahun 1948 adalah bagian papan nama di bagian depan, dan juga 4 soko guru (tiang penyangga) yang berada di tengah-tengah masjidnya. Namun, sayangnya 4 soko guru tersebut juga sudah tidak asli lagi, karena sudah terbalut dengan beberapa papan yang diukir dan dihiasi sedemikian rupa. Selain papan nama, dan soko guru, keseluruhan bangunan sudah mengalami pergantian total.

Masjid Raya Al Aqsa Merauke – Papua

Masjid Raya Al Aqsa

Masjid Raya Al-Aqsa terletak di Jalan TMP Trikora, Kelurahan Pulau Lima, Kecamatan merauke, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Berdiri dengan sangat megah di Pusat Kota Merauke, sehingga dijadikan sebagai Majsid Raya / Agung untuk Kota dan Kabupaten tersebut. Masjid Al-Aqsa dijadikan sebagai salah satu Landmark untuk kota Merauke yang terletak di ujung paling timur di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini.

Bangunan Masjid Al-Aqsa ini sangat begah dengan gaya arsitektural modern, lengkap dengan pelataran yang snagat luas dibagian depan masjid, dan juga ditambah salah satu bangunan air mancur dibagian tengah pelataran dan taman tersebut. Sebagai Masjid Raya, tentu saja peletakan lokasinya harus mudah diakses oleh penduduk sekitar, maka dari itu dipilihkan lokasi jantung Kota Merauke sebagai lokasinya.

Didepan Masjid Raya ini berdiri sebuah tugu penanda untuk Kota Merauke yang dinamakan Tugu Brawijaya. Tugu ini memiliki filosofi yang unik, dengan angka 969 yang memiliki arti Merauke akan berumur panjang. Angka 9 pertama diartikan sebagai damai dan sejahtera, kemudian angka 6 berarti keseimbangan. Kemudian pada puncak tugu dibuat sebuah replika bola dunia yang dapat diartikan Merauke harus mendunia. Ditambah dengan tulisan 1902 yang menandakan lahirnya Kota Merauke, tepatnya pada tanggal 12 Februari 1902.

Masjid Raya Al Aqsa

Sejarah dan Arsitektur Masjid Raya Al-Aqsa

Jika kita merujuk pada Situs Simas Kemenag, Bangunan Masjid Raya Al-Aqso berdiri diatas lahan seluas 24.350 meter persegi, dengan luas bangunannya mencapai 6.000 meter persegi, dan pertama kali dibangun pada tahun 1980.

Proses pembangunan Masjid Raya Al-Aqsa ini memakan waktu sangat lama, bahkan setelah 31 tahun berlalu, atau pada tahun 2011 lalu pembangunan masjid ini baru mencapai 90% dan belum selesai total. Namun, setelah kita lihat saat ini, masjid ini memang menjadi begitu megah dan sangat membanggakan.

Bangunan Masjidnya dibangun dengan dua lantai, kemudian dengan beberapa tangga kembar didepan masjid menuju langsung ke beranda yang terhubung langung ke lantai utama shola di lantai 2. Atapnya juga dibangun dengan lantai dua, kemudian pada bagian puncaknya dilengkapi dengan satu kubah besar dengan mozaik kalimah “Laailaahaillallah” dengan balutan warna ke-emasan.

Kubah masjid ini pada awalnya dibangun dengan kubah beton tunggal, namun dengan ukuran yang lebih kecil dan ditopang oleh 4 bangunan semi kubah yang menempel dibagian kubah utama. Namun kemudian bagian tersebut diganti dengan satu kubah tunggal yang lebih besar seperti yang dapat kita lihat saat ini. Di keempat penjuru atap bangunanya juga dibangun beberapa kubah namun dengan ukuran yang lebih kecil.

Penataan interior masjidnya sangat unik, dengan perpaduan keramik berwarna kemerahan, dan cat putih. Kemudian pada hampir setiap pilar dan dindingnya dilapisi dengan keramik. Ruang mihrabnya dilengkapi dengan 2 selasar pilar bundar di bagian kiri dan kanan mengapit ruangannya.

Interior Masjid Raya Al Aqsa

Kemudian, pada bagian mimbarnya terbuat dari bahan baku kayu, dengan ukiran yang sangat indah, dan diletakkan di sisi kanan luar mihrab. Bangunan masjid nya memiliki sebuah area Void, dimana area tersebut dapat membuat jarak antara lantai menjadi cukup lega, dan juga menjadi sirkulasi udara yang memadai.

Aktivitas Masjid Raya Al-Aqsa

Sebagai Masjid Agung / Raya untuk Kota dan Kabupaten Merauke, tentu saja masjid ini tidak hanya difungsikan sebagai ruang sholat utama saja. namun juga difungsikan sebagai tempat perayaan hari-hari besa Islam lainnya seperti Tahun Baru Hijriyah, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, serta sholat 2 hari raya.

Gratis Konsultasi 08122229385