Category Archive Kubah Masjid

Masjid Abu Beureuh

Masjid Baitul A’la Lilmujahidin atau “Masjid Beras Segenggam”, atau juga bisa dikenal sebagai “Masjid Abu Beureuh”, terletak di Kampung Beureuneuen, Kecamatan Mutiara Barat, Kabupaten Pidie, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Masjid Abu Beureuh-aceh

Bangunan ini sudah berumur sangat tua, hingga 64 tahun lamanya, bercat putih dan masih berdiri kokoh di kawasan Jln. Medan-Banda Aceh. Bangunon kuno ini juga memiliki 2 menara yang menjulang tinggi yang terletak di bagian depan masjidnya.

Masjid yang juga dikenal dengan nama “Masjid Abu Beureueh” ini mengambil nama pendirinya yaitu Abu Beureuh yang mendirikan masjid ini pada tahun 1951 – 1952 silam. Hingga sekarang pun bangunan masjid tersebut masih selalu dipenuhi dan juga dkunjungi oleh para jamaah serta peziarah. Dibagian belakang masjid pun terdapat sebuah makan dari Abu Beureuh yang diteralis putih. Di dalamya ada dua pohon jarak serta batu nisan yang terdapat tulisan “Tgak Syi Di Beureu’eh (Tgk. Muhammad Dawud Beureuh’eh), Lahir Ahad, 17 Jumadil Awal 1317 (23 September 1899), wafat Rabu 14 Zulaidah 1407 (10 Juni 1987)”. Telah jelas disebutkan dalam nisan tersebut dari kelahiran Abu Beureuh dan disebutkan juga kapan beliau wafat.

Selain itu bangunan masjid yang seluas 1.350 meter persegi tersebut telah terpasang paving block yang ditata secara rapi. Sekarang juga sudah terdapat sebuah menara yang tingginya seperti tower seluler di bagian paling ujung timr. Menara tersebut terlihat begitu menjulang tinggi dan menjadi salah satu ciri khas dari bangunan masjid tersebut.

Interior Masjid Baitul A’la Lilmujahidin/Masjid Abu Beureuh.

Dalam proses pembangunan masjid Beras Segenggam sangat berbeda dengan proses pembangunan pada masjid lainnya. Karena dalam pembangunannya dilakukan secara sukarela dan bergotong royong. Hal tersebut dikarenakan tak lepas ari tokoh Abu Beureuh yang memiliki kharismatik di Aceh yang juga sebagai pemimpin dalam pembangunan amsjid tersebut. Maka tak heran sangat banyak dari orang-orang yang sukarela dalam proses membangun masjid Beras Segenggam di Pidie.

Dana untuk membangun masjid Beras Segenggam pun bukan berasal dari dana Pemerintah atau berasal dari berbagai donatur melainkan dari masyarakat sekitar yang juga sukarela murni dari masyarakat sekitar yang juga menyumbangkan untuk pembangunan masjid tersebut. Dengan keunikan itulah masjid Segenggam Beras sangat populer hingga sekarang karena memiliki cerita dari proses pembangunan yang berbeda dan menarik.

Yang sangatlah menarik yaitu Abu Beureuh meminta kepada seluruh masyarakat di Pidie untuk menyumbangkan dengan cara menyisihkan beras dari rumah mereka masing-masing. Lalu hal tersebut dikenal dengan nama Breuh Sigenggam (Beras Segenggam) yang digunakan untuk biaya pembangunan masjid Beras Segenggam. Beliau mengingatkan kepada masyarakat supaya menyisihkan segenggam beras sebelum memasak, kemudian ditempatkan di tempat khusus. Selanjutnya beras tersebut akan dikumpulkan oleh petugas panitia pembangunan masjid tersebut.

Para panitia pembangunan masjid tersebut mendatangi ke rumah penduduk selama satu minggu sekali yang di utus oleh Abu Beureuh. Selain itu, jika para warganya memiliki bahans emen atau bahan bangunan lainnya maka para panitia tersebut akan menerimanya dan dikumpulkan untuk membangun masjid Segenggam Beras.

Tapi dalam proses pembangunannya tidak berjalan mulus karena Abu Beureuh memimpin pasukan untuk berperang. Setelah selesai berperang, pembangunan masjid tersebut kembali dilanjutkan dan rampung pada tahun 1973. Bangunan masjid tersebut dapat menampung para jamaah mencapai jumlah 1000 jamaah. Masjid yang didominasi dengan dinding berwarna putih serta kedua menarannya yang menjulang tinggi selalu dipenuhi oleh para jamaah terutama pada saat bulan Ramadhan tiba.

Masjid Baitul Islam Kanada

Masjid Baitul Islam atau Baitul Islam Mosque, merupakan sebuah bangunan masjid yang berdiri dengan cukup megah di Vaughan, Utara Toronto, yang dikelola oleh Jamaah Ahmadiyah (AMJ) di Kanada. Peresmian penggunaaan pertama kali masjid ini dilakukan pada tanggal 17 Oktober 1992, yang dihadiri oleh Khalifatul Masih IV (Pemimpin Ahmadiyah Internasional) dan beberapa Anggota Parlemen Kanada.

Masjid-Baitul-Islam-–-Vaughan-Ontario-Kanada

Sekilas Tentang Vaughan dan Toronto

Vaughan merupakan sebuah kota di Ontario, Kanada. Berada di wilayah York, tepat di sebelah utara Toronto, Ontario.Vaughan merupakan sebuah kota dengan pertumbuhan ekonomi, penduduk dan infrastruktur tercepat di Kanada antara tahun 1996 hingga 2006. Tingkat pertumbuhan penduduknya mencapai 80,2%, yang merupakan populasi hampir dua kali lipat sejak tahun 1991 menurut Data Statistik Kanada.Kota ini juga merupakan Kota Terbesar Ke-5 di Greater Toronto Area, dan Kota Terbesar ke-17 di Kanada.

Sedangkan untuk Toronto yang terletak di sebelah selatan Kota Vaughan tempat berdirinya Masjid Baitul Islam ini adalah Ibukota untuk Provinsi Ontario, Kanada. Terletak di Golden Horseshoe di Ontario Selatan Pantai Utara Danau Ontario. Sensus penduduk Toronto pada tahun 2016 menyatakan bahwa setidaknya ada 2.731.571 jiwa yang tinggal di kota tersebut. sehingga, kota Toronto menjadi Kota Terbesar di Kanada dan Kota Terbesar ke-4 di Amerika Utara menurut populasinya.

Sekilas Tentang Peace Village (Desa Perdamaian)

Bangunan Masjid Baitul Islam ini berdiri di daerah yang berdama “Peace Village” atau “Desa Perdamaian”, atau juga biasa dikenal dengan “Desa Ahmadiyah”. Desa ini merupakan perwujudan dari sebuah proyek perumahan monumental dengan 260 rumah yang dibangun di atas lahan seluas 200.000 meter persegi. Terdapat sembilan jalur akses ke lingkup wilayah ini dan diberi nama sesuai dengan nama Khalifa dan Ilmuwan Ahmadiyah terkemuka lainnya. Jalan utama di Peace Village disebut dengan Ahmadiyah Avenue, memiliki taman komunitas yang dinamai dengan Ahmadiyah Park. Masjid Baitul Islam ini yang kita bahas saat ini berdiri ditengah kompleks perumahan muslim Ahmadiyah tersebut, sehingga dapat terlihat dari semua akses jalan.

Desa ini direncanakan pertama kali oleh Naseer Ahmed, mulai di rekonstruksi pada tanggal 05 April 1999. Kemudian pada bulan Maret 2009 perluasan masjid dilakukan dengan menambah beberapa bangunan sekunder termasuk Sekolah Menengah di lahan kosong di sekitarnya.

Arsitektur Masjid Baitul Islam


Arsitektural bangunan Masjid Baitul Islam ini tergolong cukup unik, karena keseluruhan bangunannya dipenuhi dengan warna putih bersih dan perak mengkilap. Seperti kebanyakan masjid-masjid Ahmadiyah lainnya, bangunan puncak menara dan kubah dibuat dari bahan baku baja berwarna perak mengkilap sehingga terlihat sangat megah. Entah kenapa, hampir keseluruhan bangunan milik Komunitas Ahmadiyah yang tersebar di seluruh dunia memakai bahan baku baja sebagai kubah dan puncak menaranya. Kemungkinan besar hal ini disebabkan daya tahan yang dimiliki oleh baja lebih besar daripada jenis kubah lain seperti beton maupun aluminium.

Bangunan masjidnya dibuat dengan bertingkat 2, dengan dua bangunan pendukung di sisi kanan dan kiri masjid. Sebuah menara dengan desain unik di bangun di sisi kanan bangunan, menyatu dengan bangunan utama. Menara tersebut dibuat dengan sangat masif dan besar, dengan tiga tingkat bangunan mulai dari bawah (terbesar) hingga puncak (terkecil).

Meskipun dibangun hanya untuk sekitar 260 rumah tangga yang menempati Peace Village, namun bangunan masjidnya tetap dibuat seluas mungkin karena tidak menutup kemungkinan bahwa penduduk muslim lainnya akan ikut beribadah di masjid ini.

Bangunan sekunder di bagian kanan dan kiri masjid digunakan untuk beberapa fungsi seperti kantor administrasi, ruang kelas, perpustakaan, dan ruang serba guna.

Masjid Jami Kampung Baru Jakarta

Masjid Jami’ Kampung Baru sering dikenal sebagai “Masjid Bandengan” merupakan sebuah masjid tertua yang ada di Provinsi DKI Jakarta. Tepatnya berada di Jln. Bandengan Selatan, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta, dan lokasinya pun juga dekat dengan Masjid Al-Anshor Pekojan yang sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya.

Masjid-Jami’-Kampung-Baru-Inpak

Masjid Jami Kampung Baru Inpak

Pada awalnya, bangunan masjid ini merupakan masjid yang didirikan oleh Saudagar Muslim dari India, yang digunakan untuk tempat ibadah pada waktu berdagang dan tinggal di Sunda Kelapa / Batavia. Saat ini, Masjid Jami’ Kampung Baru Inpak juga sudah dijadikan sebagai salah satu cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi (PemProv) DKI Jakarta.

Masjdi ini dulunya memiliki cukup banyak jama’ah yang berasal dari masyarakat Pekojan dan sekitarnya yang merupakan keturunan India asli. Dulu masyarakatnya memang di dominasi oleh masyarakat dari negri India, namun saat ini sudah menjadi minoritas disana.

Bahkan jika kita menelisik ke RT/RW 12/05, saat ini hanya ada dua kelapa keluarga yang beragama muslim, dan selebihnya adalah kaum non-muslim. Jadi tidak heran jika untuk sehari-harinya, jamaah di Masjid Jami’ Kampung Baru Inpak ini hanya sedikit, dan mayoritas justru berasal dari pedagang yang mampir untuk beribadah yang tentunya berasal dari luar wilayah Pekojan.

Masjid Jami’ Kampung Baru akan penuh jika pada saat sholat jum’at datang, karena di gunakan untuk sholat jum’at berjamaah. Apalagi, menurut pengakuan anak-anak remaja sekitar, mereka seperti enggan untuk bermain ke masjid karena penduduk sekitarnya dipenuhi dengan kaum non-muslim. Mereka lebih memilih untuk bermain dan belajar di musholla dekat tempat tinggal mereka saja.

Salah satu imam masjid disana mengatakan bahwa dulunya kawasan Masjid Jami’ Kampung Baru sangat asri, penuh dengan pepohonan rindang. Tapi kini sangat ironis, gersang dan berdebu akibat dari hiruk pikuk lalu lintas kendaraan di sekitar Jln. Bandengan Selatan.

Saat ini, Kampung Baru Inpak (India Pakistan) justru di penuhi oleh perumahan Tionghoa, padahal pada abad ke-17, kampung tersebut dihuni oleh orang-orang Koja dari India, serta beberapa orang Melayu, dan Arab yang kesemuanya beragama muslim.

Masjid ini juga merupakan masjid kedua yang didirikan oleh orang-orang Moor (India) yang tinggal pada abad ke-17. Sedangkan masjid yang sebelumnya didirikan adalah Masjid Al-Anshor Pekojan pada tahun 1648.

Interior Bangunan Masjid

Banyak diantara para pedagang Muslim yang berasal dari Arab Saudi dan India datang ke Indonesia dengan jalur Sunda Kelapa dan menetap di sana.

Pedagang dari India yang menetap kemudian membangun sebuah masjid di daerah tersebut sebagai sarana kebutuhan tempat ibadah mereka.

Masjid Raya Kampung Baru dibangun pertama kali oleh Syekh Abu Bakar yang merupakan salah satu pedagang muslim dari India yang memutuskan untuk tinggal di daerah tersebut. Pekerjaan pembangunannya dimulai pada tahun 1743 dan baru selesai pada tahun 1748.

Dalam sebuah artiek berbahasa Belanda yang dibuat pada tahun 1829, Masjid Kampung Baru juga disebut dengan Temple of the Moor (Moorsche Tempel). Dari istilah inilah kemudian muncul asal usul bangunan Masjid Jami’ Kampung Baru yang dibangun oleh Muslim Moor namun di identikkan dengan Muslim India.

Meskipun secara terminologi bahasa, Moor sendiri merupakan sebuah sebutan untuk kelompok etnis Muslim Afrika Utara, termasuk Maroko dan sekitarnya, yang pada masa kejayaannya berhasil menaklukkan sebagian besar benua Eropa, kemudian mendirikan kerajaan Islam di Spanyol (Andalusia)

Masjid Mimar Sinan Istanbul Turki

Masjid Mimar Sinan terletak di Barbaros Mh. AK Zambak, Atasehir, Istanbul, Turki. Masjid dengan desain Emperium Usmaniah ini berdiri dengan megahnya di daerah Anatolia, terhimpit oleh berbagai gedung pencakar langit di Ibukota Turki, Istanbul.

Masjid-Mimar-Sinan-–-Istanbul-Turki
Dengan ukurannya yang megah dan luas, Masjid Mimar Sinan dapat menampung hingga 10 ribu jamaah sekaligus. Peresmian penggunaannya pertama kai dilakukan pada tanggal 20 Juli 2012 oleh Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. Pada acara tersebut juga turut hadir Presiden Gabon, Ali Bongo Ondimba, Direktur Departemen Urusan Agama Turki, Dr. Mehmet Gormez, dan Juru Bicara Parlemen Nasional Iraq, Osama Nujaifi.

Masjid ini memang tergolong baru, karena baru berumur sekitar 5 tahun. Penamaan masjid ini diambil dari Almarhum Mimar Sinan, seorang arsitek legendaris dari kekhalifahan dinasti usmaniyah Turki. Masjid Mimar Sinan ini dirancang oleh arsitek Hilmi Senalp, namun merujuk kepada rancangan asli dari Sang Arsitek Legenda Mimar Sinan.

Bangunan Masjid Mimar Sinan sengaja dibangun di daerah Anatolia, karena sebelumnya didalam area tersebut belum ada satupun masjid yang difungsikan sebagai Masjid Agung / Jami’ atau dalam bahasa Turki disebut “Selatin” dilokasi Anatolia.

Sebutan Masjid “Selatin” muncul dari jaman kuno leluhur Turki. Yaitu sebuah masjid yang dibangun dengan desain unik dan diperintahkan langsung oleh Sultan pada jaman dulu. Kota Istanbul sendiri hingga kini sangat terkenal dengan berbagai masjid besar nan megah yang menganut arsitektural Emperium Usmaniyah. Beberapa yang paling terkenal adalah Masjid Selimiye dan Masjid Sehzade.

Masjid Sehzade inilah yang merupakan karya pertama dari Mimar Sinan yang disebutkan diatas, dan sekaligus menjadi kiblat dari rancang seni bina bangunan untuk Masjid Mimar Sinan ini.

Pembangunan Masjid Mimar Sinan

Pembangunan Masjid Mimar Sinan terbilang cukup singkat, yaitu hanya membutuhkan waktu sekitar 20 bulan saja. Dana yang dihabiskan adalah sekitar 40 juta Lira. Arsitek Hilmi Senalp merancang ini dengan rujukan rancangan yang telah dibuat oleh Mimar Sinan. Yaitu sebuah masjid dengan 6 menara yang menjulang tinggi yang dari zaman dulu hingga saat ini menjadi ciri khas masjid-masjid yang berada di Turki.

Arsitektur Masjid Mimar Sinan


Pembangunan sengaja dilakukan dengan desain yang lebih megah dan besar. Hal ini dilakukan karena Masjid Mimar Sinan akan difungsikan sebagai sebuah Masjid Jami’ untuk kota Anatolia.

Bangunan utamanya dibangun setinggi 42 meter, dilengkapi dengan 4 menara setinggi 72 meter dengan tiga lantai. 1 Kubah besar di ditempatkan dibagian tengah-tengah atas bangunannya, sedangkan beberapa kubah kecil ditempatkan di sekelilingnya.

Kapasitas yang dapat ditampung oleh masjid ini adalah sekitar 10.000 jamaah, dengan lahan parkir yang cukup luas. Berbagai fasilitas seperti Ruang Belajar (kelas) dan Ruang Konferensi juga turut dibangun.

Desainnya sendiri bisa dibilang megah dan simple. Balutan warna di hampir keseluruhan bangunannya memakai warna putih kecoklatan. Sedangkan untuk bagian puncak-puncaknya, termasuk puncak kubah dan menara di balut dengan warna Biru.

Jika dilihat dari kejauhan, masjid ini terlihat begitu mungil diantara gedung-gedung pencakar langit disekelilingnya. Bahkan jika dibandingkan secara ukuran, tinggi masjid ini versus tinggi bangunan sekitarnya hanya 1/3 saja.

Pada bagian depan masjid terdapat taman yang ditata dengan sangat rapi, berhiaskan rerumputan nan hijau, kemudian diberikan jalan setapak diantara taman tersebut.

Masuk kedalam masjid, kita akan disuguhi dengan pemandangan ruangan yang sangat luas, dengan desain interaktif. Tentu saja kemegahan sangat terlihat dari hiasan kaligrafi yang berwarna keemasan, menghiasi berbagai sudut ruang utama.

Masjid Agung A.G KH. Abdul Rahman – Ambo Dalle, Kota Pare-Pare

Masjid Agung Kota Pare-Pare, atau kita akan menyebutnya dengan “Masjid Agung Pare-Pare”, terletak di Jln. Jenderal Ahmad Yani KM 2, Kecamatan Ujung Baru Soreang, Kota Pare-Pare, Provinsi Sulawesi Selatan.

Masjid Agung A.G KH. Abdul Rahman Ambo Dalle,
Kota Pare-Pare sendiri menjadi sebuah Kota yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan, dan sekaligus menjadi sebuah Kabupaten di wilayah tersebut. Seperti Kota dan Kabupaten lainnya, wilayah Pare-Pare juga memiliki sebuah Masjid Agung dengan nama “A.G KH. Abdul Rahman Ambo Dalle”.

Masjid-Agung-A.G-KH.-Abdul-Rahman-–-Ambo-Dalle-Kota-Pare-Pare

Pembangunan Masjid Agung Pare-Pare

Majid Agung Kota Pare Pare diresmikan pertama kali pada tanggal 11 Oktober 2013, oleh H. Sjamsu Alam, Walikota Pare-Pare yang menjabat kala itu. Pembangunan masjid ini menghabiskan dana hingga Rp. 24 miliar, dari APBD Kota Pare Pare. Dengan dana yang sangat besar, tentu saja bangunan Masjid yang dihasilkan sangatlah megah dan indah, tak heran jika Masjid Agung Pare-Pare menjadi masjid terindah kedua se-antero provinsi Sulawesi Selatan setelah Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Pada tahun 2015 lalu, Masjid Agung Pare-Pare secara resmi berganti nama menjadi “A.G. KH. Abdul Rahman Ambo Dalle”. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Wali Kota Pare-Pare, yang dibacakan pada saat Haul ke-19 atas wafatnya A.G. KH. Ambo Dalle yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Dakwah Wal Irsyad, Lil Banat, Ujung Lare, pada tanggal 29 November 2015 silam.

AG disini merupakan singkatan dari Anre Gurutta, dan disematkan kedalam nama KH. Abdurrahman Ambo Dalle, seorang tokoh terkemuka di Kota Pare-Pare dan sekitarnya. Semasa hidupnya, beliau merupakan salah seraong guru terkemuka yang membangun Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI).

Masjid Agung Pare-Pare dapat kita temukan dari dua akses jalan, yaitu Jalan Ahmad Yani Poros Pare-Pare dan Kabupaten Sidrap, dan Jalan PDAM yang terletak tepat di belakang bangunan Masjid. Masjid berlantai 3 ini dapat menampung hingga 2.000 jamaah sekaligus, ditambah dengan area pelataran yang dapat menampung hingga 3.000 jamaah. Sehingga, total jamaah yang dapat ditampung adalah 5.000 jamaah sekaligus. Area pelataran yang sangat luas ini biasanya digunakan pada saat perayaan hari-hari besar islam, seperti perayaan 2 hari raya idul fitri dan sebagainya, pada saat jamaahnya benar-benar membludak.

Arsitektur Bangunan Masjid

Tampak depan Masjid Agung A.G KH. Abdul Rahman Ambo Dalle, Kota Pare-Pare. Masjid ini dibangun dengan sangat megah, dengan desain yang sangat unik. Dilengkapi dengan 1 kubah utama berukuran besar dibalut warna hijau tua, dengan aksen hiasan keramik berwana kuning di bagian bawahnya. Selain itu terdapat 4 kubah kecil yang diletakkan di 4 sudut masjidnya.

Sebanyak 2 menara yang menjulang tinggi turut dibangun mengapit pintu utama masjid ini, dengan ujung lancip berwarna kuning. Masjid ini memang dibangun dengan minimalis, modern, namun juga dengan tingkat kemegahan yang tinggi.

Berbagai fasilitas pun turut dibangun seperti Aula Serba Guna yang diletakkan di lantai dasar, full AC dan mampu untuk menampung hingga 500 orang sekaligus. Aula ini biasanya digunakan untuk acara-acara keislaman berukuran besar seperti acara Pengajian, maupun untuk acara resepsi pernikahan.

Keunikan lainnya adalah, masjid ini memiliki Ruang Underground / Basement / Bawah Tanah yang digunakan sebagai kantor-kantor untuk Organisasi Masyarakat (ORMAS) kota Pare-Pare. Di area bawah tanah tersebut juga terdapat fasilitas seperti toilet laki-laki, tempat berwudhu dan lain sebagainya.

Semua pengunjung yang ingin masuk kedalam areal masjid harus melewati areal berwudhu sebelum mendaki pulah tangga akses ke ruang utama sholat. Hal ini memastikan bahwa setiap pengunjung harus berwudhu dan bersuci dulu sebelum memasuki areal masjid.

Masjid Baitunnur Calgary, Alberta, Canada

Masjid Baitunnur (atau bisa dieja dengan “Baitunnur” atau “Baitun Noor”) yang memiliki arti “House of Light” atau “Rumah Cahaya” merupakan sebuah masjid yang dibangun dan dikelola oleh Komunitas Muslim Ahmadiyah di wilayah Castleridge Calgary, Alberta, Negri Kanada.

Bangunan Masjid Baitunnur juga dikenal sebagai masjid terbesar di Kanada dan juga sebagai masjid terbesar di Amerika Utara. Diperkiraan saat ini ada sekitar lebih dari 3.500 anggota Komunitas Muslim Ahmadiyah di Calgary.

Masjid-Baitunnur-–-Calgary-Alberta-Canada

Sejarah Pembangunan dan Pembukaan Untuk Publik

Pembangunan Masjid Baitunnur dimulai dengan peletakan batu pondasi pertama pada tahun 2005 silam. Konstruksi secara keseluruhan selesai pada tahun 2008 dengan perkiraan biaya sebesar C$ 15 juta. Dana sebesar itu ternyata bukan didanai penuh oleh Komunitas Ahmadiyah saja, namun sebesar C$ 8 juta berasal dari warga Calgarian lokal.

Masjid Baitun Nur di buka untuk publik pada tanggal 05 Juli 2008. Sebanyak lebih dari 5.000 orang trut hadir diacara tersebut termasuk pejabat tinggi seperti Perdana Menteri Kanada, Sthephen Harper, Pemimpin Partai Oposisi, Sthephane Dion, dan Walikota Calgari, Dave Bronconnier.

Selain itu, beberapa tokoh agama seperti Uskup Katolik Roma Calgari, Fred Henry juga turut hadir, dan Mirza Masroor Ahmad, yaitu kepala tertinggi Komunitas Muslim Ahmadiyah di seluruh dunia juga turut mengawasi berjalannya acara pembukaan publik tersebut.

Sementara beberapa anggota / aliran agama islam lain tidak diundang ke acara tersebut. Menurut Kaufman dari Edmonton Sun, kelompok Muslim penganut ajaran Sunni yang tergabung dalam Muslim Sunni Islamic Council of Canada, yang dipimpin oleh Syed Soharwardy tidak diundang, karena perbedaan fahamnya sangat keras. Umat Islam Sunni percaya bahwa Muslim Ahmadiyah “Tidak Nyata” dan mereka juga tidak menganggap Baitun Nur sebagai sebuah “Masjid”. Tentunya, perbedaan faham terlalu keras seperti ini sangat disayangkan, mengingat perbedaan pendapat diantara umat muslim kata Nabi adalah sebuah Rahmat yang harus di syukuri, bukan untuk di perdebatkan.

Pujian untuk Komunitas Muslim Ahmadiyah datang dari beberapa tokoh termasuk Harper yang mengatakan bahwa “Calgarian, Albertan, dan Canadian (Warga Calgari, Alberta, dan Canada), akan melihat wajah Islam moderat yang murah hati di masjid ini”.

Menurut majalah keduataan besar, ucapan Harper tersebut tidak hanya ditujukan kepada kelompok Islam militan diluar negeri yang kadang mengambil jalan keras, namun juga kepada simpatisan islam di Kanada, khususnya di Calgari dan Alberta.
Harper berharap tidak ada lagi insiden-insiden keras yang melibatkan sebuah etnis agama, terutama agama islam di negaranya, agar persahabatan dan perdamaian antar agama dapat terjalin selamanya.

Arsitektur Bangunan Masjid Baitunnur

Secara keseluruhan jika dilihat sekilas, Bangunan Masjid Baitunnur mengadopsi seni bina bangunan Arsitektur modern dengan sedikit sentuhan milik Timur Tengah pada Kubah dan Menaranya. Namun, ada yang unik dari Kubah dan Menara tersebut, dimana keseluruhan bagiannya dilapisi dengan Baja mengkilap, sehingga terlihat begitu megah untuk dipandang.

Komplek Masjid Baitunnur memiliki luas sekitar 4.500 meter persegi (48.000 kaki persegi). Menaranya dibuat menjulang setinggi 30 meter, sedangkan Kubah nya dibuat dari bahan baja dengan ukuran yang sangat besar.

Eksterior bangunannya pun juga unik, yaitu 99 Asmaul-Husna dilukisnan di sekeliling bangunan luarnya, sehingga jika kita mengelilingi bangunan masjid, kita akan dapat membaca seluruh “nama-nama Suci Allah”.

Selain bangunan utama sebagai tempat ibadah, Masjid Baitunnur juga memiliki bangunan dengan fungsi lain seperti ruang kelas, ruang kantor, areal khusus untuk anak-anak (agar tidak mengganggu jamaah lain), dapur dan ruangan pusat kegiatan komunitas tersebut.

Bangunan masjidnya secara keseluruhan sangat megah. Kemegahan juga dapat dilihat dari lampu gantung seberat 400 Kg yang harganya mencapai C$ 50.000

Masjid Babussalam

Masjid Babussalam di jadikan Masjid Agung

untuk Kota Sabang yang berada di Jln. Tengku, Kota Sabang, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Masjid Agung Babussalam juga menjadi masjid yang berada di paling barat nusantara Indonesia kita.

masjid-agung-babbusalam

Pastinya kita sudah tidak asing lagi dengan Kota Sabang, karena sejak kecil kita sudah mendengar lagu Indonesia dengan sajak “Dari Sabang Sampai Merauke”, inilah Kota Sabang, kota paling barat di Nusantara Kita Indonesia.

Kota Sabang berada di Pulau Weh, dikota ini juga di beri tanda dengan salah satu Monumen bernama “Tugu Nol Kilometer” yang didirikan disebuah bukit pada kota ini.

Sebenarnya, pulau web dan Kota Sabang bukanlah menjadi pulau / kota yang paling barat di Indonesia secara real, karena masih ada Pulau Rondo dibagian barat laut pulau Sumatera, dan berbatasan langsung dengan kepulauan Andaman dan Nicobar milik negara India. Namun, karena pulau Rondo hanya berupa pulau karang, jadi pulau tersebut tidak dapat dihuni. Karena alasan tersebut kemudian pemerintah Indonesia menetapkan Pulau Weh dan Kota Sabang menjadi yang paling barat, sekaligus menjadi titik nol Indonesia.

Kota Sabang yang terletak di Pulau Weh ini pernah mengalami puncak kejayaannya, yaitu pada saat Pulau Weh ditetapkan sebagai pelabuhan laut internasional. Namun, kemajuan tersebut hanya sebentar saja seiring dengan perubahan kebijakan pemerintah yang terjadi.

Dikota Sabang terdapat sebuah masjid yang megah dengan nama “Masjid Agung Babussalam” yang terletak di kotanya. Uniknya, Masjid Agung Babussalam ini berdekatan langsung dengan sebuah Gereja, sehingga terdapat pemandangan yang tidak bisa terjadi di Indonesia.

Sejarah Masjid Agung Babussalam

Pada awalnya, Bangunan Masjid Agung Babussalam hanyalah sebuah masjid kecil. Namun, seiring dengan berjalannya waktu kebutuhan masyarakat, akhirnya pembangunan total Masjid Agung Sabang dilakukan dengan sangat megah. Masjid Agung Babussalam juga sering menjadi pusat kegiatan keagamaan, seperti peringatan hari-hari besar islam : Maulid Nabi, Tahun Baru Hijriah dan 2 sholat hari raya. Berbagai kegiatan seperti Musabaqoh Tilawatil Qur’an, dan berbagai pengajian juga di adakan di masjid ini.

Arsitektural Masjid Agung Babussalam Sabang

Masjid Agung Babussalam ini dibangun dengan model masjid-masjid khas Timur Tengah, yakni Turki Usmani. Bangunannya dibuat dengan sangat tinggi, besar, dan megah dengan dinding tembok yang sangat kuat.

Sebanyak 4 menara juga dibangun di 4 penjuru masjid, dengan satu kubah berukuran besar yang diletakkan diatas atapnya. Komplek Masjid Agung Babussalam juga dilengkapi dengan pelataran dan sebuah halaman yang sangat luas, dengan permukaan lantainya dibentuk dengan bahan keramik berpola bintang yang sangat megah.

Dari sinilah bangunan masjid juga dapat dilihat dengan sangat indah. Kemudian keempat menara di 4 penjuru masjid berbadan segi empat dengan hiasan mozaik berentuk panah seperti yang juga diterapkan pada pintu utama masjid. Maksud dari mozaik tersebut adalah ibadah harus berfokus untuk menuju tuhan.

Sebelum dilakukan pemugaran besar-besaran, Masjid Agung Babussalam Sabang lebiih mirip dengan beberapa masjid besar di Indonesia seperti Masjid Agung At-Tien, Taman Mini Indoneisa Indah (TMII), atau Masjid Al-Markaz Al-Islami Kota Makasar, Sulawesi Selatan. Keindahan dan kemegahan masjid ini menamba keindahan pulau Weh yang sudah sangat terkenal dengan wisata atas dan bawah laut. Berbagai air terjun, pantai pasir putih, gunung berapi dan juga berbagai wisata religi turut bisa kita temukan di pulau weh.

CV. SAM JAYA UTAMA RT. 05 RW 02 Desa Wonoanti Kecamatan Gandusari Trenggalek-Jawa Timur

HP : 081 2222 9385

WA : 081 2222 9385

Email :[email protected]

Masjid Al-Muqorrobin Cikarang

Masjid Al-Muqorrobin Cikarang – Masjid Al Muqorrobin terletak di Jalan Cikarang, Kampung Sukadamai, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Lokasi tepatnya adalah tepat berada di pinggir kanan jalan raya ke arah Serang dan Cibarusah jika kita berangkat dari arah Pasar Sentral Lippo Cikarang. Tidak jauh dari perumahan Vilal Mutiara Cikarang bangunan Masjid Al-Muqorrobin berdiri dengan kokoh dengan nuansa hijau yang menghiasi keseluruhan bangunannya.

Masjid-Al-Muqorrobin-Kandang-Roda-Cikarang-Selatan

Masjid Al-Muqorrobin, Kandang Roda, Cikarang Selatan. Lokasinya yang berada di pinggir jalan agak menyulitkan bagi para pengendara roda 4 jika ingin memarkirkan kendaraannya, apalagi jika dari arah yang berlawanan. Letaknya yang dipinggir jalan hanya menyediakan beberapa tempat untuk parkir kendaraan roda 2 saja, sedangkan kendaraan roda 4 tidak ada opsi lain selain memarkir kendaraannya di pinggir jalan raya.

Keadaanya yang terletak di pinggir jalan ini memberikan manfaat lainnya yaitu para jamaah yang berkunjung ke masjid ini menjadi tidak pernah sepi. Apalagi pada saat sholat jum’at datang, maka jamaah akan benar-benar memenuhi bangunan masjid ini baik di lantai pertama dan lantai kedua.

Sebetulnya bila diperhatikan dengan seksama, bangunan Masjid Al-Muqorrobin ini mempunyai 2 bagian bangunan yang terpisah. Terdapat 1 bangunan untuk para jamaah laki-laki, dan bangunan lainnya disiapkan untuk para jamaah wanita. namun, jika dilihat dari luar akan terlihat tetap dalam kesatuan satu bangunan saja.

Untuk tempat wudhu serta toiletnya terletak di sisi barat masjid, lewat dari sisi utara masjid. Pasokan air di masjid ini begitu berlimpah dengan penampungan air yang sangat besar sehingga jamaah tidak perlu khawatir kekurangan air untuk bersuci.

Bangunan masjid ini juga terletak di sisi jalan masuk ke beberapa komplek perumahan sekitar, sehingga tentu saja keramaian jamaah di masjid ini menjadi semakin bertambah.

Arsitektural masjid Al-Muqorrobin, Kandang Roda, Cikarang Selatan

mimbar-Masjid-Al-Muqorrobin-Kandang-Roda-Cikarang-Selatan

Apabila dilihat sekilas, bangunan masjid ini dikombinasi berbagai macam unsur arsitektural dari beberapa masjid. Misalnya saja jika dilihat dari atapnya, maka akan terlihat seni arsitektur khas tradisional Indonesia dengan atap limasan bertingkat 2, meskipun atap kedua terlihat sangat kecil. Lalu seni modern akan terlihat dari bentuk kubah beton berwarna hijau di kedua bagian bagunan, yaitu bangunan khusus laki-laki dan bangunan khusus perempuan. Kemudian ditambah dengan satu menara yang tergolong lumayan menarik sebab hanya dibuat dengan sangat sederhana namun dengan tinggi menyamai puncak kubah. Jadi menara ini dibuat dengan desain segi delapan, dibalut dengan hijau muda. Apabila dilihat dari ornamen bagian puncaknya, kita dapat melihat bahwa masjid ini memiliki ciri khas islam yang sangat kental dengan simbol bulan bintang dengan tulisan lafadz “Allah” pada bagian tengahnya.

Terdapat Lengkungan pada masjid ini menjadi ciri khas , dari teras depan masjid hingga ke lantai dua. Lengkungan tersebut jika dimasukkan pada seni bina bangunan merupakan jenis universal, karena masjid-masjid di dunia sering menggunakan model tersebut. Ada seni bina bangunan yang nampak dengan sangat jelas merupakan bentuk eropa dari pilar-pilar bundar di sekeliling bangunannya.

 Jad pemisahan bangunan antara Jamaah laki-laki serta wanita ini memang ditujukan agar kekhusukan sholat lebih terjaga. Dibagian pintu masuk tempat sholat di kedua ruangan berbeda tersebut diberikan tulisan besar “Tempat Sholat Wanita” dan “Tempat Sholat Pria” dibagian atas pintu.

Tentu saja sebagai masjid yang dibangun di pinggir jalan, Masjid Al-Muqorrobin memiliki desain yang sangat luas, dan sudah cukup megah karena keseluruhan dinding bagian dalam dilapisi dengan keramik berwarna coklat.

Demikian ulasan kami tentang Masjid Al-Muqorrobin Cikarang semoga bermanfaat.

Masjid Soko Tunggal Yogyakarta

Masjid Soko Tunggal merupakan Masjid Keraton Kesultanan Ngayogyakarta terletak di Jalan Taman 1 No. 318, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jika dilihat dari namanya saja kita sudah bisa tahu bahwa masjid ini memang terletak di kawasan Keraton Yogyakarta, dan juga hanya memiliki satu soko, atau tiang penyangga. Umumnya, masjid-masjid kuno di Nusantara selalu memiliki 4 soko guru / penyangga inti, sebagai penopang atapnya. Namun pada masjid ini, soko yang menjadi penopang atap masjid nya hanya 1 dan tentu saja dengan desain sedemikian rupa, masjid ini tetap berdiri kokoh.

masjid-keraton-soko-tunggal

Soko Tunggal tersebut diletakkan di tengah-tengah ruangan utama untuk menyangga langsung ke puncak struktur atapnya, dengan pondasi yang biasa disebut dengan Umpak Batu (Landasan Batu). Umpak Batu tersebut sudah berasal dari zaman kekuasaan Sultan Agung Hanyokro Kusumo, salah seorang Raja Besar Kesultanan Mataram Islam pada kala itu. Seperti bangunan masjid-masjid lain yang sudah berumur tua, Masjdi Keraton Soko Tunggal ini juga tidak menggunakan Paku Besi untuk menyambungkal beberapa bangunannya, hanya dengan struktur kunci untuk menyambung masing-masing bagian kayunya.
Sejarah Pembangunan Masjid Soko Tunggal

Ada sebuah prasasti yang dibangun di Masjid Keraton Soko Tunggal yang menunjukkan Tarikh pembangunan masjid ini. Berdasarkan prasasti tersebut, Masjid Keraton Soko Tunggal didirikan pada hari Jum’at Pon, 21 Rajab 1392 Hijriah, atau bertepatan dengan 01 September 1972 Masehi. Masjid ini diresmikan penggunaannya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 28 Februari 1973.

Pembangunan masjid ini merupakan ide dari masyarakat setempat yang kemudian di akomodasi oleh pihak keraton. Pada saat itu, memang belum ada masjid yang dapat digunakan oleh masyarakat setempat, sehingga sholat jum’at berjamaah masih dilakukan di salah satu gedung komplek Tamansari, yaitu gedung Kedung Penganten.

Arsitektur Masjid Keraton Soko Tunggal

interior-masjid-keraton-soko-tunggal (1)

Perancangan bangunan Masjid Keraton Soko Tunggal dilakukan oleh R. Ngabehi Mintobudoyo (Alm.), yaitu arsitektur asli keratonan Ngayogyakarta yang terakhir. Dirancang memiliki bangunan dengan denah joglo, dengan satu menara yang terbuat dari besi, dan satu soko penyangga dengan ukuran 50 cm x 50 cm.

Bangunan masjidnya memang sangat kental dengan corak budaya jawa, dimana atap masjid dibentuk joglo, ditambahkan 4 soko brunjung, dan 4 soko bentung. Dua Umpak yang berukuran besar menjadi landasan bagi bangunan ini.

Bangunan Masjid Keraton Soko Tunggal dibangun seluas 900 meter persegi, sebuah lahan yang diwakafkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Bangunan masjidnya berukuran sekitar 10 m x 16 m, ditambah dengan bangunan serambi dengan ukuran 8 m x16 m, sehingga luas bangunan keseluruhan mencapai 288 mter persegi dan dapat menampung hingga 600 jamaah.
Sebagai bangunan masjid tua, pastinya memiliki filosofi pembangunan yang memang sengaja diimplementasikan. Seperti 4 buah soko bentung, 1 buah soko guru, jika dijumlahkan menjadi 5 buah. Filosofi yang bisa diambil adalah sebagai Rukun Islam, dan juga Pancasila. 1 Soko tunggal menunjukkan keesahan Tuhan Yang Maha Kuasa, atau jika dalam Pancasila berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dibangun juga sebuah Usuk Sorot yang berbentuk sebagai jari-jari payung yang dapat melambangkan Kewibawaan negara dalam melindungi rakyatnya.

Berbagai macam ukiran juga turut memiliki filosofi tersendiri, seperti Ukiran Probo yang melambangkan Kewibawaan, Ukiran Saton yang melambangkan Sawiji, dan ukiran Sorot yang melambangkan cahaya. Selain itu ada juga Ukiran Tlacapan yang berarti teguh pendirian, Ceplok-ceplok yang berarti memberantas kejahatan, dan Miron yang berarti kelak seluruh makhluk akan kembali kepada penciptanya.

Masjid Al Noor Kota Sharjah

Masjid Al Noor merupakan emirat terbesar ketiga di Uni Emirat Arab. Uni Emirat sendiri adalah sebuah negara federasi yang jumlahnya ada tujuh negara serta terkenal akan kekayaan minyak buminya. Ketujuh emirat tersebut antara lain Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Ras al-Khaiman, Fujairh, Aumm al-Qaiwain dan Sharjah. Selain memiliki kekayaan minyakk bumi yang begitu melimpah, Uni Emirat Arab juga sangat terkenal akan tempat bagi bangunan tertinggi di dunia. Jika mengunjungi ke tujuh tempat tersebut maka akan terpukau oleh bangunan serta gedungnya yang menjulang tinggi seolah-olah ujung tertinggi dari bangunan tersebut terlihat sangat kecil. Karena memiliki minyak bumi yang begitu melimpah, maka tak heran berbagai tekhnologi dan dari segi bangunan pun terlihat sangat modern dan maju.

interior-Masjid-Al-Noor-Kota-Sharjah

Pusat dari bukoota Sharjah merupakan yang paling sibuk dan ramai setiap saat. Disana juga merupakan pusat administrasi dan perdagangan utama degan kesatuan proyek budaya dan tradisi yang begitu mengesankan. Saharjah pernah mendapatkan prestasi yang begitu memukau dimana kota tersebut terpilih oleh UNESCO sebagai ibukota budaya dunia arab. Penghargaan tersbut didapatkan pada tahun 2007 lalu oleh kota metropolitan Sharjah. Di kota tersebut tak tanggung-tanggung memiliki 17 museum yang menjadikannya sebagai tempat terbaik bagi siapapun yang ingin mempelajari budaya dan sejarah Uni Emirat Arab.

Kota Sharjah juga terkenal akan sebuah kota yang memiliki bangunan masjid yang elegan dan begitu menarik. Di kota tersebut setidaknya terdapat bangunan masjid yang jumlahnya mencapai 600 masjid. 300 dari masjid tersebut berdiri di jantung kota Sharjah. Salah satu bangunan masjid yang menarik bagi siapapun yang melihatnya adalah masjid Al-Noor. Masjid tersebut terkesan begitu megah dan elegan. Berdiri kokoh dan menawan di jantung kota Sharjah membuat majid tersebut terkesan indah dan selalu ramai oleh para jamaah setiap waktunya.

Masjid Al-Noor menjadi salah satu masjid terbesar yang ada di kota Sharjah

Masjid lainnya yang memiliki ukuran besar serta sangat elegan adalah masjid Raja Faisal dan masjid Al-Maghfiroh. Selain terkenal akan bangunannya yang begitu luar biasa, lokasi masjid ini pun berada di tepian laguna Khalid di Kurnis Buhairah. Lokasi tersebut sangat tepat sambil menikmati keindahan dari arah laut ditambah dengan arsitektur masjid yang begitu menawan.

interior-Masjid-Al-Noor-Kota-Sharjah
Masjid Al-noor memiliki arsitektur yang begitu menarik yaitu merupakan paduan gaya Usmaniyah dan juga rancangan model masjid modern. Jika dilihat dari bagian luarnya, bangunan masjid ini terkesan mirip dengan masjid Sultan Ahmed yang berada di Istambul Turki. Tak hanya digunakan oleh para muslim untuk melaksanakan ibadah saja, bangunan masjid iniuga dibuka untuk umum. Maka siapa pun yang ingin mengunjungi masjid Al-Noor sangat diperbolehkan untuk memasuki masjid tersebut.

Pada bagian kubah utama masjid yang begitu besar, disekeliling kubah utama tersebut juga terdapat bentuk setengan kubah yang menempel pada kubah utama masjid Al-Noor. Selain itu terdapat juga puluhan kubah lainnya namun ukuran dari puluhan kubah tersebut terlihat lebih kecil. selanjutnya, masjid Al-Noor dihiasi dengan menara masjid yang menjulang tinggi dan mengapit terhadap bangunan utama masjid. Pada bagian menara masjid tersebut sangat khas dengan menara Usmaniyah yang terkenal akan bangunan yang begitu besar dan juga memiliki menara masjid yang menjulang tinggi. Tetapi meskipun demikian, pada bagian interior dan eksterior masjid Al-Noor sangat kental akan sentuhan Arabia.

Kemegahan dan keindahan tak hanya dapat dirasakan dan dilihat pada siang hari saja. di malam hari pun suasana tersebut masih terasa karena ditambah dengan berbagai cahaya lampu yang begitu terang. Dalam proses pembangunan masjid AL-Noor hanya dalam kurun waktu dua tahun. Dimualai pada tahun 2003 dan diresmikan pada 2005 lalu.

Gratis Konsultasi 08122229385