Category Archive Kubah Masjid

Masjid Raya Akbar At Taqwa Bengkulu

Masjid Raya Akbar At Taqwa

Masjid Raya Akbar At Taqwa merupakan sebuah masjid yang berada di Provinsi Bengkulu, Indonesia. Dibangun pertama kali pada tahun 1988, membutuhkan waktu 1 tahun dan selesai pada tahun 1989. Masjid ini memiliki kemiripan yang besar dengan model bangunan Istana Era Kolonial Belanda yang terlihat dari taman ynag luas, dengan penataan yang sangat rapih seperti pada Istana Kepresidenan, maupun taman Istana Kerajaan.

Lokasinya terletak di Jalan Soekarno Hatta, Ds. Anggut Atas, Kec. Gading Cempaka, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Masjid megah ini saat ini menjadi salah satu ikonik kebanggaan bagi masyarakat benguku karena bangunan masjidnya terbilang sangat megah, dengan taman yang spesial.

Masjid Raya Akbar At Taqwa

Pembangunan Masjid Raya Akbar At Taqwa

Masjid Raya Akbar dibangun pertama kali pada tahun 198, pada masa kepemimpinan Gubernur Soeprapto. Bangunannya kemudian diresmikan pertama kali pada tanggal 01 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto. Luas bangunan utamanya mencapai 879,2 meter persegi, dan keseluruhan bangunan termasuk bangunan pendukung adalah 1.104,5 meter persegi. Dengan luas yang cukup memadai tersebut, jamaah yang dapat ditampung secara bersamaan mencapai 3.000 jamaah.

Keunikan yang sangat terasa adalah dari hamparan rumput hijau di halaman masjid yang sangat kental dengan nuansa sejuk, sehingga para jamaah dapat bersantai di kawasan tersebut sembari menikmati pemandangan hijau.

Arsitektur Bangunan Masjid

Bangunan Masjid Raya Akbar At-Taqwa mengadopsi arsitektur bangunan perpaduan antara budaya tradisional Indonesia dan budaya Turki serta sedikit sentuhan Yunani, sehingga menghasilkan bentuk bangunan masjid yang sangat indah dengan ciri khas tersendiri.

Ciri khas yang paling terlihat adalah dari bentuk kubah bertingkat tiga yang justru jika dilihat dari jauh tampak seperti mitos dalam film-film luar angkasa yang biasa di sebut UFO (Unidentified Flying Object). Kubah bersusun tersebut dibuat dengan puncak kubah besar khas Turki dengan undak-undak has Indonesia, namun tetap di buat dalam desain melingkar dan bukan persegi empat seperti biasanya. Diantara tingkatan kubah masjid dan atap tersebut juga turut dibuat jendela-jendela kecil sebagai ventilasi udara dan juga jalan masuk cahaya matahari.

Masuk ke dalam masjid, kita akan melihat beberapa pilar beton bundar yang turut menopang struktur atapnya. Di serambi juga terlihat beberapa pilar yang menopang struktur luar seperti pada bangunan kuil-kuil kuno yunani.

Balutan warna putih di keseluruhan bagian bangunannya juga turut dijadikan sebagai sebutan untuk masjid ini. Masyakrat sekitar juga kerap menyebutnya sebagai “Masjid Putih”, karena keseluruhan bangunan luar dan dalam dibalut dengan warna putih.

Citarasa Indonesia juga sangat kental, terutama pada bagian interior masjidnya. Sedangkan Citarasa Turki dapat kita lihat dari 4 menaranya yang dibangun menjulang tinggi dengan ujung lancip, terpisah dari bangunan utamanya, dan ditempatkan di keempat sudut bangunan utama.

Arsitektur Masjid Raya Akbar At Taqwa

Keempat menara di Masjid Raya Akbar At-Taqwa ini dapat menghadirkan sebuah ciri khas Turki namun tetap dengan sentuhan klasik Indonesia, terlihat dari menaranya yang dibuat dengan denah segi empat, persis seperti menara masjid tua di Sumatera lainnya.

Yang paling “keen” dari bangunan masjid ini adalah kawasan taman di sekelilingnya. Seluruh taman di berikan rumput hijau terhampar luas mengelilingi bangunannya, dengan jalur kecil sebagai akses ke dalam areal. Artinya, areal parkir masjidnya ditaruh agak jauh dari wilayah bangunan utama, sehingga menghasilkan areal yang super sejuk. Tidak heran jika banyak pelancong sengaja untuk mampir ke masjid ini dan bersantai sejenak memandang pemandangan yang mamukau.

Masjid Al Ihsan Kota Kayu Sumatera Selatan

Masjid Al Ihsan

Salah satu provinsi di bagian selatan pulau Sumatera yaitu Sumatera Selatan. Ibukota dari Sumatera Selatan adalah Palembang dan berbatasan dengan provinsi Jambi yang berada di sebelah utara, disebelah timur terdapat provinsi Kep. Bangka Belitung dan disebelah selatannya berbatasan langsung dengan Lampung. Sedangkan dibagian barat berbatasan dengan provinsi Bengkulu. Selain itu, Sumatera Selatan juga terkenal akan memiliki sumber daya alamnya yang begitu melimpah yaitu minyak bumi, gas alam dan juga batu bara. Palembang yang menjadi ibukota dari Sumatera Selatan sejak dahulu terkenal akan sebuah pusat dari Kerajaan Sriwijaya. Tak hanya itu saja, di Sumatera Selatan memiliki banyak tempat wisata yang begitu menarik dan sering dikunjungi oleh beberapa wisatawan lokal maupun dari luar daerah. Seperti wisata Sungai Musi, Jembatan Ampera, Pulau Kemaro, Danau Ranau dan tempat wisata lainnya yang tak kalah menarik. salah satunya bangunan masjid yaitu Masjid Al Ihsan.

Masjid Al Ihsan

Masyarakat Sumatera Selatan pun mayoritas beragama islam. Yaitu sebanyak 94.30% memeluk agama islam, disusul dengan agama Kristen Protestan 1.96% kemudian Budha 1.76%, lalu agama Katolik 1.11% dan agama Hindu 0.87%. Dari beberapa agama yag diyakini oleh masyarakat Sumatera Selatan, agama islam adalah yang paling banyak di pilih. Maka tak heran disana juga banyak bangunan tempat beribadah umat muslim yang mudah ditemui dimana saja. Dan meskipun semua agama ada di Sumatera Selatan, mereka memiliki toleransi tinggi dalam menghormati perbedaan keyakinan tersebut.

Arsitektur Bangunan Masjid Al Ihsan

Salah satu bangunan masjid yang menjadi perhatian bagi para warga adalah masjid Al-Ihsan. Lokasi masjid tersebut berada di Jalan Beringin 3, Sukadana, Kota Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Jika dilihat dari segi bangunanannya, luas dari masjid ini termasuk dalam sebuah bangunan masjid yang besar namun tetap mempertahankan dalam arsitektur Indonesia. Tetapi masjid Al-Ihsan bukanlah sebagai masjid Jami yang berada di Kota Kayu Agung. Statusnya hanya sebagai masjid lain pada umumnya yang biasa difungsikan untuk melaksanakan ibadah shalat umat muslim.

Lokasi dari masjid Al-Ihsan yaitu berada dalam satu komplek perumahan KPS BTN dan Lestari Permai. Tempat tersebut termasuk strategis. Bentuk dari masjid tersebut sangat khas dengan gaya asli Indonesia yang seperti halnya berbagai bangunan masjid di Sumatera Selatan. Terbukti pada bagian atap masjid ini yang memiliki desain seperti atap limas bersusun. Kemudian dari denah bangunannya juga adalah segi empat ditambah dengan ke empat soko guru yang berfungsi sebagai penopang struktur atap masjid tersebut.

Jika dilihat dari bagian luar, bangunan masjid Al-Ihsan terkesan sederhana dengan dinding catnya yang berwarna biru. Di sekeliling masjid tersebut pun dipasangi oeh pagar pendek karena berada di pinggir jalan. Halaman dari masjid Al-Ihsan pun terkesan begitu sederhana dan tidak begitu luas. Para jamaah yang biasanya melaksanakan ibadah disana merupakan para warga setempat. Jadi mereka jarang membawa kendaraan pribadi ketika akan melaksanakan ibadah shalat di masjid Al-Ihsan.

Interior Masjid Al Ihsan

Sebelum memasuki bagin dalam masjid, maka pintunya harus ditutup kembali secara rapat. Hal tersebut dikarenakan bagian dalam ruangan masjid tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas AC. Sehingga para jamaah yang melaksanakan ibadah disana semakin merasakan khusyu’ dan sejuk. Pada bagian mihrabnya dbangun menjorok keluar bangunan serta terdapat ukiran khas Palembang yang menghias bagian muka mihrab tersebut dengan bentuk gapura dibalut warna emas. Lantai masjid pun sudah dikeramik warna putih serta dilengkapi oleh tempat untuk berwudhu dan juga toilet.

Kemegahan Masjid Raya Kisaran – Sumatera Utara

Masjid Raya Kisaran

Sebuah bangunan masjid yang menjadi ikon dan kebanggaan bagi warga Kabupaten Asahan menjadi daya tarik tersendiri. Bangunan masjid tersebut bernama masjid Raya Kisaran. Kabupaten Asahan sendiri adalah sebuah kabupaten yang berada di Sumatera Utara. Ibukota dari Kabupaten Asahan adalah Kisaran. Luas dari wilayah tersebut mencapai 3.675 kilo meter persegi. Tetapi pada sebelumnya ibukota dari Kabupaten Asahan adalah Tanjung Balai. Perlu diketahui bahwa Kabupaten Asahan adalah sebuah kabupaten pertama di Indonesia yang membentuk sebuah lembaga pengawas pelayanan umum. Lembaga tersebut diberi nama Ombusman Daerah Asahan.

Bangunan masjid Raya ini terletak di Jalan Imam Bonjol Kisaran, Tebing Kisaran, Kisaran Barat, Kabupaten Asahan Sumatera Utara. Pada sebelumnya masjid tersebut bernama Masjid Agung Kisaran. Kemudian di Asahan telah diresmikan bangunan masjid Agung yang bernama Masjid Agung H. Ahmad Bakrie. Lalu masjid tersebut dirubah menjadi masjid Raya Kisaran. Lokasi masjid Raya ini sangat strategis yaitu berada di pusat kota Kisaran di wilayah Kisaran Barat. Maka tak heran masjid tersebut selalu dipenuhi oleh para jamaah ataupun penduduk dan pengendara yang melewati masjid itu untuk sekedar beristirahat atau melaksanakan ibadah. Serta lokasinya yang mudah djangkau karena berada di pinggir jalan raya.

Selain itu, letaknya yang berada di pusat kota Kisaran menjadi pilihan dan favorit dari muslim sekitar untuk melaksanakan ibadah shalat lima waktu secara berjamaah di masjid Raya Kisaran. Selain itu, para muslim disana juga sangat antusias ketika hari raya Idul Fitri dan Idul Adha tiba karena dapat melaksanakan shalat sunah tersebut berjamaah. Selain itu juga mereka dapat berkumpul dan bersilaturahmi dengan sesama muslim lainnya yang lokasi rumah mereka berjauhan. Sehingga momen tersebut adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh para muslim Asahan.

Hal yang unik dan menarik telah terjadi di tahun 2009 lalu dimana Kelompok Blogger Asahan di Kota Kisaran melakukan penanaman pohon langka yang bernama Gaharu. Penanaman pohon tersebut di pekarangan masjid. Kegiatan tersebut juga bekerjasama dengan pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Raya Kisaran. Pada saat itu suasana di masjid tersebut sangat ramai dan sangat membanggakan karena merupakan sebuah kegiatan yang positif.

Disekitar area masjid tersebut terdapat toko-toko yang menjual berbagai hasil tulisan ilmuan dari Asahan yang menjual berbagai pernak pernik souvenir khas Asahan. Contohnya seperti rajutan sajadah dari kapas rangkaian tasbih dari bahan cangkang lokan serta anyaman peci yang bahannya berasal dari rotan. Selain itu, mereka juga menjajakan berbagai jajanan khas Asahan yang dijual dengan kemasan yang sangan rapi dan rasanya yang tak kalah enak. Sehingga jika ada wisatawan yang datang mengunjungi Asahan dapat membeli di tempat tersebut sebagai oleh-oleh dari Asahan.

Selain itu, masjid ini juga selalu difungsikan sebagai tempat keagamaan lainnya. Seperti halnya ketika acara keislaman serta beberapa ceramah dan pengajian yang dilaksanakan di masjid Raya Kisaran. Masjid tersebut selalu ramai setiap harinya terutama pada saat bulan suci Ramadhan maka para jamaah semakin meningkat karena melaksanakan ibadah shalat terawih secara berjamaah di masjid tersebut. Terutama pada sore hari sebelum berbuka puasa di areal depan masjid Raya Kisaran selalu ramai oleh berbagai jajanan khas bulan puasa. Lengkap dengan berbagai makanan pendamping lainnya yang begitu menggoda. Tempat tersebut selalu dipenuhi oleh siapapun untuk membeli menu berbuka puasa. Itulah momen yang sangat dirindukan oleh muslim setempat di Asahan.

Masjid Jami Darunnajah Kabupaten OKI Sumatera Selatan

Masjid Jami’ Darunnajah

Masjid Darunnajah terletak di Blok A, Desa Bumiarjo Makmur, Kecamatan Lempuing, Kabupaten OKI, Provinsi Sumatera Selatan. Masjid Darunnajah ini dijadikan sebuah sebuah Masjid Jami’ untuk Desa Bumiarjo dan Kecamatan Lempuing.

Sebagai sebuah Masjid Jami’, Masjid Darunnajah ini dibangun dengan sangat megah dan indah. Jika kita mampir ke situs Kementerian Agama (Kemenag), dijelaskan bahwa bangunan Masjid Darunnaja ini dibangun pada tahun 2010, diatas tanah wakaf dengan luas 1.250 meter persegi.

Pembangunan masjid ini dilakukan pada kontur tahan yang tidak rata, sehingga lantai basement dapat dipergunakan sebagai tempat untuk menempatkan beberapa tempat seperti Area Parkir Kendaraan Roda Dua, Kamar Mandi, Gudang, Tempat Wudhu, dan juga beberapa ruang pendukung lainnya. Lantai pada bagian atas yang sama tinggi dengan permukaan jalan raya dijadikan sebagai ruang utama untuk sholat di masjdi ini. Masjid ini dibangun dengan dua lantai, yaitu lantai dasar / basement, dan lantai utama.

Masjid Jami Darunnajah

Desa Bumiarjo Makmur yang menjadi tempat berdirinya masjid ini merupakan sebuah desa yang baru di definisikan sebagai sebuah desa pada tanggal 12 November 2014 lalu. Hal ini dilakukan sebagai wujud dari upaya Pemerintah Kabupaten OKI dalam menggalakkan program pembangunan Desa. Sebelum terpisah menjadi sebuah desa yang baru, Bumiarjo Makmur menjadi satu dengan wilayah Desa Bumiarjo.

Arsitektur Bangunan Masjid Jami’ Darunnajah

Bangunan Masjid Darunnajah dibangun dengan basis arsitektural modern, dilengkapi dengan kubah bawang tunggal dengan warna hijau dibagian atapnya. Dua menara kembar didirikan dibagian atap sisi depan masjid, mengapit pada pintu gerbang utama.

Pada sisi bangunan yang menghadap ke jalan raya di tempatkan sebuah beranda dengan bentuk yang sangat megah, dilengkapi dengan bedug yang digunakan sebagai pertanda masuknya waktu sholat. Posisi bangunan Masjid Darunnajah ini terletak di sisi utara jalan, sehingga bangunan masjidnya menghadap ke selatan.

Masuk ke bagian dalam masjid, kita akan langsung dihadapkan kepada beberapa interior bangunan yang minimalis namun sangat megah. Sebanyak delapan soko guru berbentuk bulat terbuat dari beton berdiri kokoh ditengah-tengah ruangannya sebagai penopang struktur atapnya. Empat soko guru menopang struktur kubahnya, sedangkan empat lainnya menjadi penopang struktur atap dibagian bawah kubah.

Masing-masing soko guru tersebut dihiasi dengan pola ukiran batu alami. Kemudian pada sisi bagian dalam kubah di hias dengan lukisan langit biru, beserta beberapa awan putih di sekelilingnya. Dibagian bawah kubah atau leher kubah dibuat dengan ornamen mirip dengan jendela-jendela kecil sebagai ventilasi udara dan cahaya alami.

Pada bagian Mihrab dihiasi dengan ornamen-ornamen berwarna keemasan dan kecoklatan. Kemudian sepasang pilar kecil ditempatkan di sisi dan kanan mihrabnya. Pada sisi kiblatnya dihiasi dengan rangkaian kaligrafi Al-Qur’an dan Lafadz Allah dibagian tengahnya. Mimbar yang minimalis terbuat dari kayu dengan ukiran khas ditempatkan di sebelah mihrabnya.

Tidak lupa beberapa kaligrafi masjid juga turut di lukiskan pada sekeliling dinding bagian atas, yang menambah keindahan masjid ini. Pada plafon masjid diwarnai dengan coklat muda, dengan beberapa lampu LED di sekelilingnya.

Lantai pada masjid ini dilapisi dengan keramik putih bersih. Kemudian pada shaff paling depan dilapisi kembali dengan karpet sajadah berwarna merah. Jamaah pria ditempatkan pada sisi kiri, sedangkan jamaah wanita ditempatkan pada sisi kanan dengan pembatas berupa kain kelambu yang digantung diatas aluminium.

Tentu saja sebagai semuah Masjid Jami’ bangunannya didirikan dengan sangat megah, serta selalu terjaga kebersihan bagian dalam maupun luarnya.

Masjid Babul Chair Ketapang – Kalimantan Barat

Masjid Babul Chair

Masjid Babul Chair merupakan sebuah masjid yang berlokasi di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, lebih tepatnya berada di Desa Tengah, Kecamatan Delta Pawan. Nama “Masjid Babul Chair” atau bisa diartikan sebagai “Pintu Kebaikan” memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kota Ketapang.Karena pada dasarnya letaknya berada tepat di pusat kota tersebut, ditengah-tengah hiruk-pikuk dan lalu-lalang kendaraan yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Keberadaannya sendiri menjadi sebuah saksi bisu pergantian waktu dan budaya yang terjadi di kota tersebut. Setiap waktu, masyarakat ketapang akan selalu dapat mendengar lantunan adzan khas dari bangunan yang memiliki sejarah cukup panjang tersebut, sekaligus mengingat-ingat bahwa Masjid Babul Chair merupakan bangunan masjid tertua kedua, setelah Masjid Jami’ Kerajaan Matan, Kelurahan Kauman.

Masjid Babul Chair

Sejarah Berdirinya Masjid Babul Chair

Berdasarkan cerita yang dituturkan oleh Ketua Pengurus Masjid Babul Chair, H. Amri Has, dikatakan bahwa bahwa bangunan masjid ini diprakarsai oleh beberapa tokoh agama dari kawasan Matan, Hilir Utara.

Pada awalnya, masyarakat di seberang Kota lama Kerajaan Matan jika hendak melaksanakan sembahyang Jum’at berjamaah harus menyeberang ke Kampung Kaum. Hal ini perlu dimaklumi karena Masjid Kaum merupakan satu-satunya bangunan Masjid Jami’ (masjid untuk sholat Jum’at) pada masa itu.

Akhirnya, karena memang harus menyeberangi sungai dan dirasa cukup memberatkan para masyarakat, maka beberapa tokoh dari Matan, Hilir Utara, serta masyarakat Kecamatan Delta Pawan, Muara Pawan, bersepakat untuk membangun sebuah bangunan masjid baru. atau lebih tepatnya membangun ulang sebuah surau yang sudah ada sebelumnya di lokasi yang tak jauh dari lokasi berdirinya Masjid Babul Chair saat ini.

Pada tahun 1948, dimulailah pembangunan masjid tersebut. Lokasi dipilihnya tempat tersebut tepat dipinggir Jalan Darussalam, atau yang saat ini dikenal sebagai Jln. MT. Haryono. Amri menjelaskan kembali bahwa pada saat itu, Jalan Darussalam atau Jalan MT. Haryono tersebut merupakan sebuah jalan hasil pengerasan tanah yang dilapisi kulit pohon ale-ale.

Kemudian, masa-masa pembangunan tersebut merupakan masa peralihan, setelah masa kekosongan pemerintahan Kerajaan Matan pada sekitar tahun 1943. Ketika itu, Panembahan Gusti Muhammad Saunan ditangkap oleh pasukan sekutu (Jepang), dan tidak kembali lagi, kemungkinan di asingkan ke luar negeri.

Baca juga : Keindahan Masjid Qiblatain

Pada tahun 1948 merupakan tahun-tahun dimana masa pemerintahan Kerajaan Matan berada di bawah Majelis Pemerintahan Kerajaan Matan, atau bisa disebut NICA. Jadi, kemungkinan besar izin pembangunan Masjid Babul Chair ini tak lepas dari NICA,dan tercatat bahwa pada masa itu Kerjaaan Matan dipimpin oleh 3 pangeran dalam mengatur pemerintahannya. Mereka adalah Pangeran Mangku Negara atau Uti Halil, Pangeran Adipati atau Uti Aplah, dan Pangeran Anom Laksamana atau Uti Kencana. Mereka bertiga inilah yang disebut sebagai Majelis Pemerintahan Kerajaan Matan yang mengatur wilayah Matan setelah zaman kekosongan.

Tokoh yang terlibat ikut dalam pembangunan Masjid Babul Chair yaitu H. Hasan Zulkifli, H. Abdussamad, Sabran dan Asri Yatim. Mereka bersama-sama mulai mendirikan masjid ini secara bertahap. Pembangunannya selesai pada sekitar tahun 1953, diresmikan pada hari jum’at sekaligus digunakan untuk sholat jum’at pertama kali. Kemudian, bagian yang masih asli dari tahun 1948 adalah bagian papan nama di bagian depan, dan juga 4 soko guru (tiang penyangga) yang berada di tengah-tengah masjidnya. Namun, sayangnya 4 soko guru tersebut juga sudah tidak asli lagi, karena sudah terbalut dengan beberapa papan yang diukir dan dihiasi sedemikian rupa. Selain papan nama, dan soko guru, keseluruhan bangunan sudah mengalami pergantian total.

Masjid Raya Al Aqsa Merauke – Papua

Masjid Raya Al Aqsa

Masjid Raya Al-Aqsa terletak di Jalan TMP Trikora, Kelurahan Pulau Lima, Kecamatan merauke, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Berdiri dengan sangat megah di Pusat Kota Merauke, sehingga dijadikan sebagai Majsid Raya / Agung untuk Kota dan Kabupaten tersebut. Masjid Al-Aqsa dijadikan sebagai salah satu Landmark untuk kota Merauke yang terletak di ujung paling timur di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini.

Bangunan Masjid Al-Aqsa ini sangat begah dengan gaya arsitektural modern, lengkap dengan pelataran yang snagat luas dibagian depan masjid, dan juga ditambah salah satu bangunan air mancur dibagian tengah pelataran dan taman tersebut. Sebagai Masjid Raya, tentu saja peletakan lokasinya harus mudah diakses oleh penduduk sekitar, maka dari itu dipilihkan lokasi jantung Kota Merauke sebagai lokasinya.

Didepan Masjid Raya ini berdiri sebuah tugu penanda untuk Kota Merauke yang dinamakan Tugu Brawijaya. Tugu ini memiliki filosofi yang unik, dengan angka 969 yang memiliki arti Merauke akan berumur panjang. Angka 9 pertama diartikan sebagai damai dan sejahtera, kemudian angka 6 berarti keseimbangan. Kemudian pada puncak tugu dibuat sebuah replika bola dunia yang dapat diartikan Merauke harus mendunia. Ditambah dengan tulisan 1902 yang menandakan lahirnya Kota Merauke, tepatnya pada tanggal 12 Februari 1902.

Masjid Raya Al Aqsa

Sejarah dan Arsitektur Masjid Raya Al-Aqsa

Jika kita merujuk pada Situs Simas Kemenag, Bangunan Masjid Raya Al-Aqso berdiri diatas lahan seluas 24.350 meter persegi, dengan luas bangunannya mencapai 6.000 meter persegi, dan pertama kali dibangun pada tahun 1980.

Proses pembangunan Masjid Raya Al-Aqsa ini memakan waktu sangat lama, bahkan setelah 31 tahun berlalu, atau pada tahun 2011 lalu pembangunan masjid ini baru mencapai 90% dan belum selesai total. Namun, setelah kita lihat saat ini, masjid ini memang menjadi begitu megah dan sangat membanggakan.

Bangunan Masjidnya dibangun dengan dua lantai, kemudian dengan beberapa tangga kembar didepan masjid menuju langsung ke beranda yang terhubung langung ke lantai utama shola di lantai 2. Atapnya juga dibangun dengan lantai dua, kemudian pada bagian puncaknya dilengkapi dengan satu kubah besar dengan mozaik kalimah “Laailaahaillallah” dengan balutan warna ke-emasan.

Kubah masjid ini pada awalnya dibangun dengan kubah beton tunggal, namun dengan ukuran yang lebih kecil dan ditopang oleh 4 bangunan semi kubah yang menempel dibagian kubah utama. Namun kemudian bagian tersebut diganti dengan satu kubah tunggal yang lebih besar seperti yang dapat kita lihat saat ini. Di keempat penjuru atap bangunanya juga dibangun beberapa kubah namun dengan ukuran yang lebih kecil.

Penataan interior masjidnya sangat unik, dengan perpaduan keramik berwarna kemerahan, dan cat putih. Kemudian pada hampir setiap pilar dan dindingnya dilapisi dengan keramik. Ruang mihrabnya dilengkapi dengan 2 selasar pilar bundar di bagian kiri dan kanan mengapit ruangannya.

Interior Masjid Raya Al Aqsa

Kemudian, pada bagian mimbarnya terbuat dari bahan baku kayu, dengan ukiran yang sangat indah, dan diletakkan di sisi kanan luar mihrab. Bangunan masjid nya memiliki sebuah area Void, dimana area tersebut dapat membuat jarak antara lantai menjadi cukup lega, dan juga menjadi sirkulasi udara yang memadai.

Aktivitas Masjid Raya Al-Aqsa

Sebagai Masjid Agung / Raya untuk Kota dan Kabupaten Merauke, tentu saja masjid ini tidak hanya difungsikan sebagai ruang sholat utama saja. namun juga difungsikan sebagai tempat perayaan hari-hari besa Islam lainnya seperti Tahun Baru Hijriyah, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, serta sholat 2 hari raya.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Masjid Raya Baiturrahman

Di Aceh terdapat sebuah masjid yang terkenal hingga penjuru dunia. Masjid tersebut adalah masjid Raya Baiturrahman. Terkenal karena disebut dengan negeri Serambi Mekah. Alasan nya yaitu karena sejak dahulu kala Aceh merupakan gerbang pintu masuknya agama Islam ke nusantara hingga ke wilayah Asia Tenggara.

Jika dilihat dari luar, bangunan masjid ini seperti bangunan yang berasal dari India, yaitu Taj Mahal. Dengan keindahan masjid ini menjadikan daya tarik tersendiri di Aceh, bahkan karena saking mempesonanya, tak hanya warga lokal saja yang datang hanya untuk mengunjungi Masjid Baiturrahman ini. Beberapa wisatawan lainnya dari berbagai kota dan nusantara sengaja datang ke masjid ini khususnya mereka yang mencari nuansa religi, serta ingin lebih mendekatkan diri dengan sang pencipta.

Masjid Raya Baiturrahman

Arsitektur Masjid Raya Baiturrahman

Desain arsitektur masjid Raya Baiturrahman sesuai dengan gabungan konsep di berbagai negara. Pada gerbang pertama masjid menyerupai konsep sebuah rumah klasik yang berada di Belanda. Terdapat juga di depan pintu masjid utama, serambi-serambi yang arsitekturnya seperti masjid-masjid di Spanyol. Sedangkan terdapat pula pintu yang dijadikan sekat menuju ruang utama yang memiliki arsitektur berkonsep kuno dari negara India.

Selanjutnya di bagian ruangan utama masjid akan terlihat hamparan luas lantai yang berbahan marmer berwarna putih berasal dari Italia. Ditambah juga dengan tiang penyangga yang dicat warna putih dan dihiasi dengan sedikit aksen hiasan di bawahnya. Karena keselurahannya didominasi warna putih menjadikan ruangan ini terlihat sangat lapang dan luas.

Masjid Raya Baiturrahman mempunyai 7 kubah dengan 4 menara sekunder dan 1 menara induk. Setiap tahun masjid ini terus berkembang pesat dari sisi arsitektur hingga kegiatan kemasyarakatannya yang dilaksanakan di masjid ini. Hingga saat ini, luas bangunan masjid Raya Baiturrahman mencapai 4 ha dengan satu sisi bagian halaman terdapat kolam dan dibagian halaman lainnya tumbuh rumput dan bunga yang sangat hijau dan indah ditata secara rapi dan indah.

Pembangunan Kubah Masjid

Ketika dalam proses pembangunan, kubahnya memprioritaskan seni arsitektur yang sangat modern. Pada umumnya kubah di masjid lain tidak bersistem panel enamel dan tidak menggunakan paku drilling yang biasanya hanya bertahan hingga kurang lebih 4 tahun. Kubah masjid enamel ini dipilih karena selain bentuknya yang sangat bagus, elegan dan lebih mempesona. Sedangkan di bagian dalam kubah utama tepat berada di tengah ruangan utama sudah dilengkapi dengan hiasan lampu gantung yang memuat hingga 17 titik cahaya penerang. Hiasan lampu itu pun terlihat dari mihrab masjid di bagian tengah depan ruangan.

Namun pada tanggal 26 Desember masjid ini terkena musibah Tsunami di Aceh dan juga telah menewaskan banyaknya korban jiwa. Tetapi masjid ini tidak mengalami kerusakan dan banyak warga setempat yang memilih menyelamatkan diri dengan berlindung didalam masjid. Kemudian pada tanggal 28 Juli 2015 Gubernur Aceh Zaini Abdullah membangun infrastruktur yang ditandai dengan groundbreaking pemancang tiang pertama. Proyek ini direncanakan untuk membangun 12 unit payung elektrik dan basement sebagai lokasi parkir mobil dan sepeda motor yang diperkirakan mampu menampung 254 mobil dan 343 sepeda motor.

Basement tersebut dilengkapi dengan tempat wudhu dan toilet pria wanita. Bahan yang digunakan untuk basement berasal dari marmer Italia atau Spanyol. Pemerintah Aceh sengaja memperbaiki lanskap ini sehingga mirip masjid Nabawi.

Masjid Raya Baiturrahman merupakan masjid bersejarah yang sekaligus menjadi ikon bagi kota Aceh dan juga sebagai simbol peradaban umat Islam serta misi penyebaran Islam hingga Tanah Air. Sangat dianjurkan bagi para jamaah atau wisatawan untuk berkunjung ke masjid ini ketika berada di Aceh.

Masjid Ali Bin Abi Thalib – Madinah

Masjid Ali Bin Abi Thalib

Masjid Ali Bin Abi Thalib berlokasi di Jalan As-Salam, Al Manakhah, Madinah. Atau lebih tepatnya berada sekitar 290 sebelah barat Masjid Nabawi, dan berjarak sekitar 122 meter dari Masjid Ghamama. Menurut suatu riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan Sholat Ied pada bangunan Asli Masjid ini. Tetapi pada sejarah lain mengatakan, Masjid ini dibangun di teratak rumah milik Khalifah Ali Bin Abi Thalib. Kemungkinan besar sejarah yang kedua inilah yang benar, karena masjid ini berdekatan dengan Masjid Abu Bakar dan Masjid Ghamama.

Pembangunan dan Renovasi Masjid

Pembangunan Masjid Ali Bin Abi Thalib dibangun pada saat masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, saat itu beliau memerintah di Madinah. Kemudian, renovasi pertama kali dilakukan pada tahun 881 H oleh Gubernur Madinah, Dhaigham Al-Manshuri. Renovasi masjid yang kedua dilaksanakan pada tahun 1269 H, pada masa pemerintahan Sultan Abdul Majid.

Pemugaran masjid berikutnya dilakukan oleh Raja Fahd pada tahun 1411 H, dengan memperluas areal masjidnya menjadi 682 meter persegi, dan ditambahkan pula menara setinggi 26 meter di samping bangunan utamanya. Menara Masjid ini dibangun hampir mirip dengan menara yang dimiliki oleh Masjid Umar bin Khattab.

Arsitektur Masjid Ali Bin Abi Thalib

Bangunan masjid Ali Bin Abi Thalib dibangun dengan denah Persegi Panjang. Memiliki panjang sekitar 35 meter dan lebar 9 meter. Didirikan 1 serambi yang berakhir di dua arah, timur dan barat. Memang tidak ada anjuran bagi para jamaah haji untuk sholat ataupun beribadah ketika melaksanakan haji atau umrah. Namun, Masjid ini sengaja di bangun untuk mengenang perjuangan Sang Khalifah, sekaligus Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Bagian Mihrab diletakkan di tengah dinding kiblat, berupa sebuah ruangan kecil. dengan tinggi hingga 3 meter, cekungannya mencapai 1,25 meter. Kemudian Bagian menara masjid ini dibangun dengan tegak dan diletakkan di sebelah timur, di dekat ajlan masuk kedalam masjid. Memang menara ini didirikan tidak begitu tinggi, namun dibangun dengan memiliki satu balkon, dibuat dengan puncak kerucut yang terbuat dari logam.

Pembangunan masjid ini tergolong unik, yaitu dibangun dari batu basal, kemudian dibalut dengan cat warna putih. Sedangkan pada bagian timur dihiasi dengan batu bassal berwarna hitam. Jadi, jika dilihat dari bagian luar, kita akan melihat arsitektur yang sangat sederhana, namun tetap memberikan kemegahan maksimal. Dilihat dari bagian luarnya, terlihat seluruh bagian bangunannya sangat terawat daripada bangunan lain disekitar. Hal ini dikarenakan Masjid merupakan Rumah Allah bagi orang Madinah, sehingga kemuliaan masjid harus selalu lebih diutamakan. Bukan hanya dari kemegahan bangunannya saja, namun juga dengan menjaga kebersihannya secara total, dari luar maupun dalam masjid.

Menara Masjid Ali Bin Abi Thalib

“Kebersihan adalah sebagian daripada Iman”, kalimat itulah yang selalu di pegang teguh dan selalu di aplikasikan oleh masyarakat madinah. Mereka selalu memperhatikan kemashlahatan sebuah masjid daripada rumah maupun bangunan lainnya. Orientasi tentunya diprioritaskan kepada masjid, sehingga seluruh bangunan masjid yang ada di Madinah terus terjaga kelestariannya hingga saat ini.

Masjid ini berlokasi di tepi jalan raya, sehingga bagian parkirnya tidak begitu luas. Apalagi jalan raya tersebut di dominasi oleh kendaraan roda 4, sehingga pada saat waktu sholat tiba, beberapa pinggir jalan akan terdapat jejeran rapi dari mobil milik para jamaah.

Masjid Jami Halimatul Amin Cikarang Utara

Masjid Jami’ Halimatul Amin

Sebuah bangunan masjid yang berdiri megah terihat di Jalan Raya Industri Pasir Gombong, No. 29b, Pasirgombong, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Bangunan masjid tersebut bernama masjid Jami’ Halimatul Amin. Lokasi dari masjid tersebut termasuk dala kategori strategis karena secara administratif masjid beserta beberapa kantor samsat tepat diseberangnya menjadi bagian dari wilayah Desa Pasir Gombong, meskipun lokasinya sangat pas dengan perbatasan desa Cikarang Kota.

Pada awalnya, masjid ini merupakan masjid pribadi, karena juga dibangun diatas lahan milik pribadi dan juga dengan dana pribadi juga. Namun, seiring berjalannya waktu tentu saja sebagai fungsi sebuah masjid, tidak hanya digunakan untuk pribadi saja namun juga terbuka untuk umum. Apalagi, letak lokasinya yang didepan kantor layanan publik, rasanya tidak pantas jika masjid ini hanya difungsikan untuk keluarga pribadi saja.

Karena terletak berseberangan dengan Samsat, tentu saja masjid ini sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat, meskipun sebagian besar berkunjung hanya untuk berteduh menunggu proses pembuatan surat pajak maupun surat kendaraan lainnya selesai. Bahkan, pekarangan masjid ini kerap dijadikan lahan parkir bagi para pengunjung yang bertujuan ke samsat.

Masjid Jami Halimatul Amin

Tentu saja, karena terletak di keramaian, banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya berada di pinggir-pinggir masjid. Sehingga, jika pada waktu istirahat pastinya masjid ini sangat ramai dengan berbagai pembeli jajanan, termasuk para pengunjung Samsat yang lelah menunggu terlalu lama.

Pembangunan dan Arsitektur Masjid Jami Halimatul Amin

Masjid Jami’ Halimatul Amin dibangun dengan gaya yang modern, menggunakan perpaduan warna-warni yang cerah untuk membuat bangunan masjid ini menonjol diantara bangunan lain disekitarnya. Lokasi denah tanah tempat berdirinya masjid ini tidak lurus, sehingga pengarahan terhadap kiblat menjadi sedikit miring terhadap jalan raya.

Lokasi masjid ini bisa dibilang sangat strategis, dimana bangunannya terletak di ruas jalan industri yang menghubungkan pertigaan Pasir Gombong ke Pasar Cikarang, dan juga persis didepan bangunan Samsat Cikarang Utara. Hal inilah yang membuat masjid ini sangat mudah ditemukan bagi siapa saja yang ingin berkunung ke masjid ini, acuannya adalah Samsat Cikarang Utara.

Baca juga : Masjid Terbaik di Indonesia

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 2013 lalu, prosesnya lumayan cepat dilakukan karena memang dana pembangunannya mengalir dengan lancar dari pencetusnya yang tinggal tepat di sebelah masjid ini. Beliau jugalah yang mendirikan Masjid Nurul Amin, Perum Mega Regency Blok A, Sukaragam, Serang Baru, Bekasi.

Sentuhan modern terasa sangat kental di masjid ini dengan pemilihan material bangunannya yang berkualitas tinggi. Kubah beton yang diletakkan dibagian atapnya dilapisi dengan berbagai lempengan enamel dengan warna hijau dan kuning cerah, sehingga menjadi perpaduan yang sangat apik. Begitu juga dengan 2 menara lancip yang terletak di samping kanan dan kirinya, keseluruhan bangunan menaranya dilapisi dengan bahan dan corak warna yang sama.

Jika kita melihat Masjid Jami’ Halimatul Amin, tentu saja kita akan teringat akan desain masjid y`qang ada di Timur Tengah, dengan ciri khas kubah masjid besar dan menara yang tinggi dan ramping. Keseluruhan bangunan mulai dari bangunan utama sengaja dibuat cukup tinggi agar terhindar dari banjir.

Kemudian memasuki area bangunan utama, kita akan dipertemukan dengan pintu masjid yang hampir sama dengan Masjid Nabawi di Madinah. Desain Masjid Jami’ Halimatul Amin ini mengadopsi desain yang dipunyai oleh Masjid Nabawi di Madinah, dan beberapa desain masjid di Timur Tengah lainnya.

Masjid Besar Al Hidayah Bekasi – Jawa Barat

Masjid Besar Al Hidayah

Masjid besar Al-Hidayah, sesuai namanya memang bangunannya lumayan besar, dengan dua lantai, dan bisa dibilang cukup megah di keseluruhan bangunannya. Bangunan masjidnya terletak di ruas jalan Imam Bonjol, Kampung Cibitung Kaum, Ds. Telaga Asih, Kec. Cikarang Barat, Kab. Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Ruas jalan tersebut adalah ruas jalan raya yang menghubungkan antara Cibitung dan Cikarang.

Masjid Besar Al-Hidayah ini seringkali digunakan sebagai tempat untuk penyelenggaraan pengajian untuk Kecamatan Cikarang Barat. Bebeberapa Da’I Kondang Indonesia tentu saja pernah memberikan ceramahnya di masjid ini, salah satunya adalah Ustadz Arifin Ilham.

Pembangunan Masjid Al-Hidayah ini semakin terus berlanjut dan berkembang, agar menjadi sebuah masjid yang sangat megah. Seperti kebanyakan bangunan masjid yang terletak di sisi timur pinggir ruas jalan, tentu saja masjid ini memiliki mihrab yang menghadap ke jalan raya. Sedangkan untuk pintu utama ditaruh disisi timur, dengan halaman yang bisa dibilang cukup luas.

Bngunan induk masjid ini dibangun dengan struktur beton berlantaikan dua dengan void di bagian depannya. Pada bagian lantai atas biasanya hanya dipakai untuk menampung jamaah sholat jum’at dan juga pada sholat 2 hari raya, serta beberapa peringatan hari besar islam lainnya yang membutuhkan ruang yang luas. Beberapa kegiatan tabligh akbar juga turut dilakukan rutin, dengan narasumber Ustadz-Ustadz kondang seperti Ustadz Ahmad Al-Habsy.

Masjid Besar Al Hidayah

Arsitektur Masjid Besar Al-Hidayah

Masjid Besar Al-Hidayah dibangun dengan arsitektural modern dengan implementasi bangunan masjid universal. Bangunannya memiliki kubah besar, dengan sebuah menara yang menjulang tinggi. Kubahnya diwarnai hijau tua seperti kubah di Masjid Nabawi Madinah. Sedangkan untuk menara besarnya terlihat menjulang tinggi dari atap bangunan sekitarnya.

Kubahnya dibuat dari beton dengan ornamen bulan sabit pada puncaknya. Sedangkan menara masjid nya dibuat lumayan unik, karena bagian tengah lebih besar daripada bagian dasarnya. Kemudian memanjang tinggi dengan puncak lancip dengan ornamen bulan sabit juga.

Pada bagian sisi selatan bangunan induknya dibangun sebuah bangunan tambahan yang hampir sama luasnya dengan bangunan utamanya. Bangunan tambahan tersebut juga didirikan dengan lantai dua, dengan maksud untuk tambahan ruang untuk jamaah yang tidak tertampung lagi. Menurut pengalaman yang pernah dilalui, jamaah akan penuh sesak hingga meluber ke jalanan pada waktu perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan. Sehingga, dibutuhkan bangunan sekunder lain yang dapat menampung lebih banyak jamaah lagi, agar proses perayaan hari besar menjadi lebih khidmat dan tidak khawatir dengan panas maupun hujan.

Tempat Wudhu untuk masjid ini disediakan di sebelah bangunan tambahan tersebut. Tempat wudhu untuk jamaah laki-laki buat memanjang di koridor. Beberapa kran air dipasang langsung disebuah bak penampungan air dari batu bata dan semen. Sedangkan untuk tempat wudhu jamaah wanita diletakkan dibagian terpisah.

Untuk tempat sholat wanita di hari-hari biasa disediakan sebuah ruangan terpisah, sehingga kenyamanan dan kekhusuk’an sholat lebih terjamin. Di ruangan jamaah wanita diletakkan satu almari dengan persediaan mukena bersih yang dapat digunakan untuk para musafir yang singgah dan ingin melakukan sholat namun lupa tidak membawa mukena.

Lantai dari keseluruhan bangunannya dilapisi dengan keramik berwarna putih bersih. Juga seluruh ruangan hampir dipenuhi dengan warna putih bersih saja, kecuali pada bagian plafon yang dilapisi dengan warn abiru laut.

Sebanyak 6 tiang penyangga dipasang diruang sholat utama, ditambah dengan beberapa tiang penyangga sekunder di sekelilingnya.

Gratis Konsultasi 08122229385