Category Archive Kubah Masjid

Masjid Islamic Center Baturaja Kabupaten OKU

Masjid Islamic Center Baturaja

Kini seiring dengan berjalannya waktu dan zaman yang semakin berkembang berbagai bangunan modern dan menarik semakin banyak dijumpai salah satu nya Masjid Islamic Center Baturaja. Salah satunya berada di setiap kota besar dan menjadi landmark tersendiri untuk kota tersebut. Baturaja pun memiliki sebuah bangunan yang luar biasa dan sangat terkenal disana pada umumnya di Pulau Sumatera. Baturaja sendiri merupakan sebuah ibukota OKU (Ogan Komering Ulu). Baturaja juga adalah salah satu kabupaten yang berada di Sumatera Selatan. Tak hanya itu saja, Baturaja sangat terkenal akan hasil dari perusahaan disana yang memproduksi semen dan namanya juga adalah Baturaja. Sedangkan nama dari OKU diambil dari dua nama sungai besar yang melintas dan mengalir disepanjang wilayah tersebut. Sungai tersebut adalah Sungai Ogan dan Sungai Komering. Maka tak heran dinamakan Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Baturaja juga lokasinya begitu strategis karena berada di jalur lintas tengahh Sumatera. Jalur tersebut selalu di lewati dan dipenuhi oleh berbagai macam kendaraan pribadi dan kendaraan umum serta kendaraan transportasi lainnya juga turut melewati dan memenuhi jalan lintas tersebut. Karena jalur tersebut merupkan jalur yang menghubungkan provinsi Lampug dan Sumatera Selatan. Selain itu disana juga terdapat sebuah bangunan masjid yang begitu modern dan megah di tepian ruas jalan Lintas tengah Sumatera tersebut. Terutama ketika hari libur tiba maka jalan tersebut lebih penuh dan ramai.

Bangunan yang modern dan megah tersebut bernama masjid Islamic Center Baturaja, yang berlokasi berada diatas bukit kecil di tengah kota Baturaja. Islamic Center saat ini menjadi sebuah ikon bagi kota baturaja. Masjid serta Komplek Islamic Center Baturaja berdiri diatas lahan seluas 10 hektar serta dilengkapi dengan berbagai sarana dan fasilitas. Bangunan megah tersebut dibangun hanya dalam kurun sau tahun dan menghasilkan sebuah bangunan yang begitu menarik perhatian siapapun. Pertama kali dibangun pada tahun 2007 lalu rampung di tahun 2008 dan diresmikan pada tanggal 26 Maret 2008.

Peresmian masjid serta komplek Islamic Center Baturaja diresmikan oleh Bupati Kabupaten OKU yang pada saat itu menjabat adalah H. Eddy Yusuf SH, MM. Peresmian masjid tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, ulama serta tokoh masyarakat dan juga masyarakat sekitar yang sangat antusias akan adanya bangunan islam yang modern dan megah tersebut. Mantan Bupati OKU juga turut hadir dalam acar peresmian masjid Islamic Center Baturaja yaitu Amiruddin Ibrahim. Beliau hadir diantara tengah-tengah para undangan yang jumlahnya mencapai 6.000 jiwa.

Dengan dibangunnya sebuah Islamic Centre di Kawasan Baturaja, kabupaten OKU, tentu saja kegiatan keislaman di Kabuapaten tersebut menjadi semakin aktif dan menarik. Hal ini dapat diwujudkan sebagai suatu refleksi kebutuhan hidup manusia dalam rangka meningkatkan kualitas hidup, sosial dan moral masyarakat sekitarnya.

Arsitektur Masjid Islamic Center Baturaja Kabupaten OKU

Arsitektur Bangunan Masjid & Islamic Centre Baturaja ini memiliki bangunan yang sangat megah, dengan desain perpaduan antara arsitektur modern, dengan arsitektural masjid di Timur Tengah. ciri-cirinya dapat ditemukan dari kubah masjid nya yang berukuran sangat besar berwarna biru laut, dengan hiasan 3 bola kecil dibagian puncaknya.

Kemudian, kubah kecil lainnya terletak di sekeliing masjidnya, dengan hiasan 1 bola keccil dibagian punckanya. Masjid ini dapat diakses melalui beberapa pintu utama, bangunannya dibuat dengan berongga-rongga seperti masjid-masjid timur tengah. Bentuk rongga seperti ini justru membuat ventilasi udara menjadi lebih terjamin, sehingga jamaah masjidnya tetap merasa sejuk meskipun berlama-lama di dalam masjid.

Masjid Agung Darul Muttaqin Batang

Masjid Agung Darul Muttaqin

Masjid Agung Darul Muttaqin terletak di Jalan Ahmad Yani, Desa Kauman, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Batang sendiri merupakan sebuah kecamatan, sekaligus Kabupaten dari Provinsi Jawa Tengah. Wilayahnya berada di tepi jalur Pantai Utara (Pantura) pulau jawa. Pusat pemerintahan Kabupaten Batang terletak di Kecamatan Batang, dilengkapi dengan seluruh fasilitas dan juga dibangun sebuah Masjid Agung dikawasan tersebut bernama “Masjid Agung Darul Muttaqin”.

Masjid Agung Batang ini berdiri tepat di bagian barat alun-alun, tepat di pusat kota Batang. Posisinya memang sangat strategis, sehingga masjid ini selalu ramai oleh para jamaah yang datang dari masyarakat sekitar, maupun dari berbagai daerah yang ingin menikmati ramainya kota, sekaligus beristirahat dan beribadah di masjid tersebut.

Arsitektur Masjid Agung Darul Muttaqin Batang

Jika dilihat dari bangunan masjid agung darul muttaqin, terlihat bahwa Masjid Agung ini mengadopsi konsep arsitektural modern dipadukan dengan arsitektur bangunan khas nusantara Indonesia. Arsitektur modern bisa dilihat dari bangunan serambi masjid nya, serta bangunan menaranya. Sedangkan untuk desain asli nusantara bisa kita lihat dari bentuk atap limas bersusunnya.

Masjid ini pada awalnya hanya berlantai satu, namun setelah renovasi dilakukan penambahan lantai pun dilakukan agar dapat menampung lebih banyak jamaah sekaligus. Saat ini jamaah yang bisa ditampung sekaligus sekitar 2.000 hingga 3.000 orang. Bangunan hasil renovasi terakhir hampir keseluruhannya dibalut dengan marmer maupun keramik, sehingga terlihat sangat megah.

Menara Masjid Agung ini memang sengaja dibuat tunggal, dengan ketinggian mencapai 29 meter. Konon angka 2 pada angka tersebut melambangkan Allah dan Muhammad, sedangkan angka 9 melambangkan Wali Songo sebagai ulama yang menyebarkan Islam di Indonesia. Kemudian filosofi lain juga ikut diimplementasikan dengan badan menara yang berbentuk segi enam yang melambangkan rukun iman. Untuk ruang yang berada di bawah menara saat ini dimanfaatkan sebagai ruang perpustakaan dan ruang kesekretariatan.

Sebelum mengalami renovasi besar-besaran, bangunan awal dari Masjid Agung Batang ini memiliki desain masjid tradisional dengan atap limas bersusun, khas bangunan-bangunan kuno di Indonesia. Bagian ruang utama tempat sholat memang sudah mengalami renovasi, namun keasliannya masih tetap bisa dilihat. Sebagian besar ornamen yang ada pada masjid ini dibuat sedemikian rupa dengan bahan baku kayu, ditambah dengan hiasan ukiran-ukiran cantik disekelilingnya.

Bagian yang sudah tidak asli sama sekali adalah pada bagian serambi masjid, yang dirombak seutuhnya menjadi serambi masjid modern.

Pada gerbang utama bahkan diberi lampu yang dibuat dengan desain kaligrafi arab gundul “Masjid Agung Muttaqin Batang”, dibalut dengan warna hijau muda dan hijau tua, sehingga menghasilkan suatu hiasan yang bagus.

Aktivitas Masjid Agung Batang

Sebagai sebuah Masjid yang ditentukan sebagai Masjid Agung untuk suatu kabupaten, tentunya fungsi Masjid Agung Darul Muttaqin bukan hanya sebagai tempat peribadatan sholat fardhu dan sholat jum’at saja.

Berbagai kegiatan turut dilakukan misalnya aktifitas pendidikan. Sebanyak 3 lembaga pendidikan dibawahi oleh Yayasan Masjid Agung Darul Muttaqien, seperti TK Al-Karomah, TPQ Al-Karomah, dan juga SMP Islam Batang. Selain 3 lembaga tersebut ada juga lembaga dibelakang Masjid Agung yaitu Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrayah Aliyah dan Diniyyah.

Karena saking banyaknya lembaga yang berjejer di belakang Masjid Agung Batang ini, kampung dibelakang masjid mendapatkan julukan sebagai “KABELMAS” atau “Kampus Belakang Masjid”, karena memnag banyak sekali lembaga pendirikan yang berjejer disana, mulai dari tingkat TK hingga SMA.

Masjid Agung Kebumen – Jawa Tengah

Masjid Agung Kebumen

Bangunan Masjid Agung Kebumen didirikan di Jalan Pahlawan No. 197, Desa Kutosari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa tengah. Bangunan masjid ini dijadikan sebagai Masjid Agung untuk Kabupaten Kebumen, sehingga pemilihan lokasinya tentu saja diletakkan di alun-alun Kabupaten Kebumen. Lokasinya tepat berada di komplek pusat pemerintahan Kabupaten Kebumen, dekat dengan rumah dinas bagi Bupati Kebumen. Beberapa kantor-kantor pemerintahan terlihat berjejer di komplek wilayah ini.

Sejarah Pembangunan Masjid Agung Kebumen

Pembangunan Masjid Agung Kebumen pertama kali dilakukan oleh putra dari Kiai Nurmaden yang bernama KH. Imanadi, beliau memiliki gelar sebagai Pangeran Nurudin bin Pangeran Abdurrahman (Kiai Marbut Roworejo). Pembangunan dilakukan pada tahun 1832, sehingga jika di kalkulasikan secara umur pembangunan pertama kali, Masjid Agung Kebumen menjadi yang tertua di wilayah Kabupaten Kebumen.

Menurut cerita turut yang beredar, KH. Imanadi selaku pendiri masjid ini merupakan salah seorang ahli fikih dan juga ahli hukum ketatanegaraan yang juga turut aktif dalam membantu perjuangan Pangeran Diponegoro dalam perang melawan penjajah Belanda. Pada masa itu, bahkan beliau juga pernah ditangkap dan ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pada saat Kebumen dipimpin oleh Aroeng Bingang IV, KH. Imanadi dibebaskan dari penjara kemudian diangkat menjadi Penghulu Landrat (Kepala Kantor Departemen Agama / Pengadilan Agama), dan di hadiahi sebuah tanah luas di barat Alun-Alun Kebumen yang saat ini kita kenal dengan Dusun Kauman.

Kemudian cerita berlanjut, pada sekitar tahun 1832, tanah yang merupakan hadiah dari Aroeng Bingang IV kepada KH. Imanadi sebagian diwakafkan untuk pembangunan Masjid Agung ini. Kemudian pada tahun 1836, serambi masjid untuk Masjid Agung Kebumen mulai didirikan. Sebagai informasi, KH. Imanadi selaku pendiri Masjid Agung ini di semayamkan di Dusun Pesucen, Wonosari.

Peninggalan KH. Imanadi Yang Masih Asli Hingga Kini

Ada beberapa artefak asli peninggalan KH. Imanadi yang masih digunakan saat ini, dan masih asli dari zaman KH. Imanadi yaitu dua bedug yang bernama Bedug Ijo Manung Sari (Bedug Hijau) dan Bedug Biru dengan ukuran lebih kecil. Uniknya, kedua bedug tersebut hanya dibunyikan pada saat hari jum’at dan pada saat perayaan hari-hari besar islam saja.

Arsitektur Masjid Agung Kebumen

Masjid Agung Kebumen tentu saja pada awalnya juga memiliki bangunan khas Nusantara dengan ciri khas atap limas bersusun. Ciri khas tersebut tetap dipertahankan hingga kini, namun hanya dilakukan perluasan pada bangunan dan pergantian pada struktur penyangga dan atapnya. Sebuah menara masjid yang menjulang tinggi juga turut dibangun terpisah dari bangunan utamanya.

Bangunan Masjid Agung saat ini sudah dibangun dengan dua lantai. Ruangan utama tempat sholat ditempatkan di lantai dasar, dengan pembagian separuh bagian depan untuk jamaah laki-laki, dan separuh bagian belakang untuk jamaah wanita. Sedangkan lantai dua digunakan untuk ruang tambahan sholat jika pada lantai dasar sudah tidak cukup untuk menampung jamaah. Selain itu, dua serambi masjid yang terletak di bagian luar juga sering difungsikan sebagai ruang sholat tambahan pada saat hari-hari besar islam datang.

Dibagian luar masjid terdapat gapura unik dengan dua menara yang sangat ramping dengan masing-masing puncaknya dihiasi dengan kubah metal berukuran kecil. Kubah kecil dengan desain yang sama juga turut dipasang di bagian puncak dari atap limas bersusun.

Masuk kedalam masjid, kita akan menemukan suasana ruangan yang megah namun dengan perpaduan suasana klasik yang begitu kerasa. Suasana modern dapat ditemukan di beberapa dinding serta bagian mihrab. Sedangkan nuansa klasik dapat ditemukan dari beberapa tiang penyangga masjid yang terbuat dari kayu berukuran besar, serta mimbar yang juga terbuat dari kayu ukir.

Masjid Al Birru Pertiwi – Masjid Kubah Emas Bojonegoro

Masjid Al Birru Pertiwi

Masjid dengan nama Al-Birru Pertiwi ini terletak di Jalan Raya Dander KM 10, Desa Dander, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Di situs tersebut terdapat berbagai informasi yang menjelaskan letak masjid, kegiatan masjid, pengurus masjid, dan semua hal mengenai Masjid Kubah Emas ini. Masjid Al-Birru Pertiwi ini juga sering di sebut dengan “Masjid Kubah Emas”, karena memang kubahnya dilapisi dengan emas asli.

Pemberian nama Masjid ini dari pendirinya yaitu keluarga besar “Pertiwi”. Pendirinya merupakan keturunan dari Santosa Hardjosuwito dengan istrinya Pertiwi yang saling gotong royong membuat masjid ini. Beberapa putra-putri yang membuat masjid ini adalah Sugeng Santosa, Suprapto Santosa, Supramu Santosa, Widodo Santosa, Winarto Santosa, Wijiningsih Santosa.

Keenam putra-putri dari Santosa Hardjosuwito inilah yang membangun dan mendanai total Masjid ini. Dijelaskan dalam situs resminya bahwa pembangunan masjid ini didasarkan atas rasa syukur kehadirat Yang Maha Kuasa atas diberikannya kesejahteraan kepada seluruh keluarga besar Santosa. Dan juga, pembangunannya merupakan bukti dan pembaktian diri kepada orang tua mereka.

Seluruh keluarga besar Santosa lahir dan dibesarkan di Desa Bander, maka dari itu pembangunan Masjid Al-Birru ini juga di lokasi tersebut, agar dapat memberikan manfaat penuh kepada tetangga dan masyarakat.

Pembangunan Masjid Al-Birru Pertiwi

Bangunan Masjid Al-Birru Pertiwi atau Masjid Kubah Emas ini dimulai dengan meletakkan batu pertama oleh Bupati Bojonegoro, Drs. Suyoto, M.Si pada tanggal 24 Maret 2012. Beliau jugalah yang mengesahkan penggunaan masjid ini pada tanggal 25 januari 2014.

Selain difungsikan sebagai tempat ibadah sholat lima waktu dan sholat jum’at, keluarga Santosa selaku pendiri masjid ini berharap bahwa bangunan Masjid Al-Birru ini dapat digunakan sebagai pusat kegiatan para masyarakat sekitar.

Selain itu, berbagai penyelenggaraan kegiatan seperti kegiatan pendidikan, diskusi, pelatihan, moral, syiar, pengajian, serta pemberdayaan masyarakat juga diharapkan untuk dilakukan di masjid ini. Sehingga, diharapkan bahwa bangunan Masjid ini dapat memberikan kemashlahatan umat, dan menjadi Rahmatan lil alamin bagi seluruh penduduk Desa Bander dan sekitarnya.

Arsitektur & Sarana Masjid Kubah Emas

Bangunan Masjid ini dibuat diatas lahan seluas 3 hektar, yang sebelumnya merupakan lahan sawah yang dimiliki oleh Ibu Pertiwi Santosa binti Karso Prawiro.

Jika dilihat secara fisik, bangunan Masjid ini berukuran 25 x 13 meter, dengan tiga lantai. Lantai pertama digunakan sebagai ruang serba guna, biasanya digunakan sebagai ruang pertemuan dan musyawarah. Kemudian lantai dua atau lantai satu digunakan sebagai tempat sholat pria, sedangkan lantai tiga digunakan untuk jamaah wanita. Bangunan yang cukup luas tersebut dapat menampung hingga 1.000 jamaah sekaligus.

Spesifikasi dan harga Hp Terbaru

Berbagai sarana dan prasarana untuk masjid ini juga turut dibangun agar dapat digunakan secara umum seperti beberapa ruangan kelas dan pertemuan serta pelatihan. Kemudian sebuah ruang perpustakaan dengan ribuan koleksi buku juga dapat didatangimasyarakat sekitar setiap harinya.

Lalu, pada halaman masjid juga sengaja dibangun taman dengan bunga-bunga dan tumbuhan hijau yang semakin membuat indah kawasan Masjid Al-Birru Pertiwi ini. Seluruh kegiatan Desain hingga Pembangunan Masjid Kubah Emas ini dilakukan oleh PT. Garis Prada, yang dipimping oleh Bapak Uke Setiawan, salah seorang arsitektur yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang Masjid dan Kubah. Beliau juga merupakan salah satu suami dari putri keturunan keluarga besar Santosa.

Masjid Giriloyo Yogyakarta

Masjid Giriloyo

Yogyakarta atau terkenal dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu tempat yang terkenal akan wisata Candi. Diantaranya yaitu Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Ratu Boko, Candi Ijo dan beberapa candi lainnya yang masih banyak lagi. Dibalik wisata candi tersebut juga memiliki sebuah cerita yang tidak dapat dipisahkan dengan bangunan candi tersebut. Tak hanya wisata candi saja, Yogyakarta juga memiliki wisata pantai, gua dan wisata belanja yang sangat terkenal hingga mancanegara. Pada pembahasan kali ini yang akan kita bahas yaitu bangunan masjid tua yang ada di Yogyakarta yaitu Masjid Giriloyo.

Contoh dari wisata pantai di Yogyakarta yaitu antara lain Pantai Parangtritis, Pantai Parangkusumo, Pantai Indrayanti, Pantai Slili dan beberapa pantai lainnya yang masih banyak lagi. Selain itu wista guanya juga sangat banyak, contohnya antara lain Gua Banteng, Gua Bribn, Gua Dagang, Gua Pindul dan lain sebagainya. Dan yang terkenal tempat wisata di Yogyakarta adalah Malioboro. Tak hanya Malioboro saja, Pasar Beringharjo, XT Square hingga Pasar Seni Gabungan menjadi tempat wisata belanja yang disukai oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun Malioboro adalah yang paling populer karena memang menyediakan tepat yang nyaman dengan suasana kota Yogyakarta yang kental. Tempat ini juga sering dimanfaatkan oleh para wisatawan untuk berfoto dan juga tempat untuk bermain sinetron atau film.

Disamping memiliki beberapa tempat wisata yang terkenal dan sangat bermacam-macam, Yogyakarta masih memegang tradisi Jawa dan ajaran islam sehingga tak heran jika mengunjungi Yogyakarta maka akan menemukan beberapa bangunan masjid yang usianya sudah sangat tua namun masih berdiri kokoh dan difungsikan hingga sekarang. bangunan masjid tersebut bernama masjid Giriloyo Yogyakarta. Masjid Girioyo berada di Wukirsari, Imogiri Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan masjid tersebut tergolong sudah sangat tua karena memang telah ada sejak dahulu kala.

Keberadaan masjid Giriloyo memiliki hubungan erat dengan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Pamijatan serta komplek makam dari setiap Raja Mataram di Imogiri. Jika dilihat ternyata usia serta pemakaman dari masjid tersebut tidak jauh berbeda yaitu dibangun sejak abad ke 16. Pembangunan dari kedua tempat terseut juga diperkirakan pada saat masa pemerintahan dari Sultan Agung.

Riwayat Pembangunan Masjid Giriloyo

Pembangunan masjid Giriloyo atau dikenal juga dengan nama masjid Girilaya diprakasai oleh Pangeran Jumaniah. Beliau adalah seseorang yang dekat dengan Sang Sultan Agung yang tak lain adalah paman dari Sultan Agung. Pembangunan masjid ini berdasarkan perintah langsung dari Sang Sultan. Hal tersebut juga dikarenakan merupakan sebuah bagian dari rencana pembangunan komplek pemakaman kerajaan. Lokasi dari masjid Giriloyo juga berdekatan dengan makam Sultan Cirebon ke VI dan Panembahan Ratu Pakungwati II. Beliau adalah menantu dari raja Mataram Sunan Amangkurat I yaitu putra dari Sultan Agung.

Masjid serta komplek pemakamannya sangat dirawat dan dijaga oleh pengurus sehingga selalu terlihat bersih dan nyaman jika ada pengunjung atau peziarah yang ingin mengunjungi makam, maka akan menaiki tangga batu dan melewati Masjid Giriloyo. Dilihat dari segi bangunannya, masjid tersebut sangat sederhana. Pada bagian ruang utama masjid masih terlihat utuh dengan model tumpang pada atap masjid nya. Seperti halnya masjid lainnya, bagian dalam masjid pun terlihat sederhana. Tersedia mimbar untuk khotib serta empat soko guru dari kayu jati untuk menopang atapnya.

Sumber : Bentrap

Dinding masjid pun terbuat dari batu bata serta lantainya berasal dari tegel yang berwarna hijau tua. Ketika memasuki masjid Giriloyo, jamaah dan pengunjung atau peziarah akan merasakan kesejukan dan kenyamanan karena memang disekitar masjid tersebut banyak sekali pepohonan yang tumbuh sehingga sangat terasa segar dan sejuk.

Masjid Ar-Raudhah Pekojan – Jakarta Barat

Masjid Ar Raudhah

Jika kita berkunjung ke Jalan Pekojan II, Desa Pekojan, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota, dapat ditemukan bahwa ada sebuah masjid tua yang sama sekali tidak berbentuk sebuah masjid pada umumnya, dan hanya berbentuk seperti rumah hunian masyarakat sekitar. Masjid tersebut bernama Masjid Ar-Raudhah.

Pekojan sendiri merupakan wilayah yang pernah menjadi saksi bisu pembantaian ratusan bahkan ribuan orang Tionghoa oleh Batavia karena pemberontakan yang dilakukannya. Namun setelah penjajah berhasil diusir, wilayah Pekojan mulai berangsur pulih dan mulai ramai oleh penduduk sekitar.

Masjid Ar-Raudhah sendiri dahulunya difungsikan sebagai tempat perkumpulan anggota Jami’atul Khair (Perkumpulan Kebaikan). Organisasi tersebut dibentuk oleh Ali dan Idrus, anggota keluarga Shahab, untuk mengumpulkan orang-orang dalam penyebaran Syiar agama Islam.

Organisasi tersebut memang awalnya hanya ditujukan sebagai organisasi penyebaran dan perkumpulan kegiatan Islam. Namun pada masa itu, organisasi ini sempat di curigai oleh pemerintah kolonial belanda dengan mengatasnamakan pemberontakan. Kemudian pada tahun 1903, para pengurus masjid mengajukan permohonan kepada pemerintah Belanda, dan barulah pada tahun 1905 mereka resmi diakui sebagai organisasi kolonial Belanda.

Ide dasar dari pembentukan organisasi Jamiatul Khair ini adalah untuk membimbing para pemuda islam agar tumbuh dengan pemikiran positif sebagai bentuk kebebasan dan kemerdekaan yang juga pernah dilakukan oleh organisasi Budi Utomo pada tahun 1908.

Keunikan Masjid Ar Raudhah Pekojan

Keunikan Masjid Ar-Raudhah Pekojan adalah memiliki sumber mata air yang tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau. Padahal kedalaman sumur tersebut pastinya kalah dengan sumur yang saat ini dibuat. Air ini bahkan dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai air yang menyehatkan dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Masjid Ar-Raudhah saat ini sudah terhimpit oleh berbagai bangunan sekitar, dan harus masuk pada sebuah gang kecil di Jalan Pekojan II untuk dapat sampai di Masjid ini. Jika dilihat dari luar, masjid ini didominasi oleh warna putih pada tembok, dan hijau pada jendela dan pintunya.

Dominasi warna seperti ini juga bisa kita temukan pada masjid di wilayah sekitar yaitu di Masjdi An-Nawier yang terletak di Penjagalan. Memang jika dilihat dari luar bahkan kita tidak akan sadar bahwa bangunan yang sangat mirip dengan rumah hunian biasa tersebut merupakan sebuah masjid, apalagi ada beberapa sofa yang diletakkan di teras untuk para tamu.

Namun, ketika kita masuk kedalam bangunan tersebut, kita akan disambut dengan bangunan layaknya sebuah masjid pada umumnya. Yaitu dibagian depan ruangan terdapat mimbar, rak Al-Qur’an, kemudian lantainya dibalut dengan sajadah panjang. Pada bagian ruangan sebelah pojok kiri dijadikan sebagai tempat sholat untuk jamaah wanita.

Kemudian jika kita masuk pada ruangan selanjutnya (masih di bagian dalam masjid), kita akan menemukan ruangan yang memiliki sekolam mata air yang besar. Mata air didalam Masjid Ar-Raudhah ini bahkan menurut penduduk sekitar belum pernah kering sekalipun, dan kedalamannya bahkan tidak diketahui hingga saat ini. Biasanya pada musim kemarau / kekeringan, mata air pada masjid ini digunakan sebagai sumber air untuk mencukupi kebutuhan masyarakat sekitar.

Meskipun hanya memiliki bangunan masjid yang sangat kecil, namun masjid ini telah mengalami perubahan zaman yang besar, yaitu dari masa penjajahan belanda, hingga kemerdekaan yang dapat kita rasakan saat ini. Paling tidak, masjid dengan bentuk yang hanya seperti rumah ini tetap dipertahankan oleh masyarakat sekitar meskipun sudah ada masjid-masjid lain yang berukuran lebih besar.

Musholla Diatas Laut Nurul Bahar Probolinggo

Musholla Nurul Bahar Probolinggo

Pada umumnya sebuah bangunan tempat beribadah berada di tempat yang cukup strategis atau bahkan di sebuah desa sekalipun. Bahkan di setiap masing-masing penjuru wilayah memiliki bangunan masjid atau musholla yang difungsikan sebagai tempat beribadah umat muslim. Dan biasanya berdiri kokoh diatas daratan atau tanah. Namun berbeda dengan tempat beribadah yang satu ini. Selain unik dan menarik, tempat ini juga selalu dipenuhi oleh para jamaah setiap memasuki waktu shalat. Bangunan tersebut bernama musholla Nurul Bahar yang berlokasi di Bee Jay Bakau Resort, Pantai Mayangan, Kota Probolinggo Jawa Timur. Musholla tersebut berdiri di sebuah laut yang terpampang luas. Musholla atau sebuah masjid yang ukurannya lebih kecil tersebut memiliki pemandangan yang luar biasa. Jika dilihat dari kejauhan, musholla tersebut tidak terlihat sebagai bangunan untuk beribadah melainkan seperti perahu layar yang sedang bersandar atau seperti sebuah kapal layar yang sedang terdampar.

Selain tempat didirikan musholla Nurul Bahar yang begitu unik dan berbeda dengan musholla atau masjid lainnya, ternyata ada hal unik dan menarik selain itu. Yaitu pada bagian atap musholla menggunakan bahan kain tenda yang berwarna putih. Kain tenda tersebut pun didatangkan langsung jauh-jauh dari Jerman. Lalu pada bagian tembok dan dindingnya berbahan papan kayu kelapa. Kemudian ditambah dengan dinding kaca di setiap sudut ruangan musholla tersebut. hal itu dilakukan agar para jamaah yang sedang melaksanakan ibadah shalat atau ibadah lainnya dapat merasakan keindahan dan kenyamanan melaksanakan ibadah di tengah laut yang begitu luas dan mempesona.

Riwayat Pembangunan Musholla Nurul Bahar

Ketika didirikan Musholla Nurul Bahar, warga sekitar begitu antusias karena pembangunan tempat beribadah tersebut sangat unik terlebihnya sangat membantu para nelayan atau siapapun yang berada di sekitar wilayah tersebut untuk melaksanakan shlalat di musholla tersebut. Lalu setelah rampung tepatnya pada tanggal 13 November 2016 lalu para jamaah pun tidak pernah sepi mengunjungi musholla tersebut sekaligus melaksanakan ibadah disana.

Kawasan Wisata BJBR – Labuhan Mayangan

BJBR atau Bee Jay Bakau Resort Probolinggo sendiri merupakan sebuah tempat wisata dimana Musholla terapung ini berdiri. Sehingga jika ingin mengunjungi musholla yang terapung di atas rawa / laut ini anda harus mengunjungi kawasan wisata Mangrove BJBR.

Pada awalnya, BJBR merupakan sebuah hutan Mangrove yang sangat kumuh dan penuh sampah. Akhirnya pemerintah kota mengalokasikan dana untuk merubah tempat tersebut agar menjadi salah satu sasaran wisata yang menarik di Probolinggo atau bahkan di Indonesia. Saat ini Wisata tersebut dikenal dengan sebutan Labuhan Mayangan, dan memiliki luas wilayah sekitar 89 hektar.

Kawasan wisaata ini dibangun pertama kali pada tahun 2013. Belum lama memang, namun tentu saja memiliki seluruh kelebihan sebagai tempat wisata misalnya saja penginapan, trek jogging dari jembatan kayu 700 meter, kemudian tidak lupa fasiitas musholla Nurul Bahar yang ditempatkan tepat diatas laut. Sehingga suasana jogging dan juga suasana beribadah di musholla Nurul Bahar mendapatkan sensasi yang berbeda, dengan adanya angin sepoi-sepoi semilir segar berhembus dari lautan.

Kawasan Labuhan Mayangan ini memiliki 2 zona wisata yaitu Pantai Majengan yang terkenal dengan pasir putih dan keindahan ombak laut serta beberapa tebingnya, dan Hutan Mangrove sebagai ekosistem alami yang dapat kita hirup udaranya yang segar. Dibagian pantai, kita dapat menemukan berbagai fasilitas wahana air seperti perahu kanoe, waterboom, taman air, voli pantai dan lain sebagainya, sehingga lengkap sudah wisata pantai, mangrove, ditambah keunikan wisata religi diwilayah ini.

Masjid Baiturrahman Kabupaten Ngawi

Masjid Baiturrahman

Masjid Baiturrahman menjadi masjid Agung untuk Kabupaten Ngawi, terletak di Desa Margomulyo, kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Karena menjadi masjid agung, pemilihan lokasi Masjid Agung Baiturrahman diletakkan di alun-alun kota Ngawi. Meskipun menjadi masjid agung, Masjid Baiturrahman tetap mempertahankan arsitektur masjid aslinya, dengan seni bina bangunan yang kental dengan nuansa Klasik Indonesia, meskipun sudah pernah direnovasi pada tahun 2010 lalu.

Sejarah dan Arsitektur Masjid Agung Baiturrahman Ngawi

Masjid Agung Baiturrahman ini didirikan pertama kali pada hari Selasa Kliwon tanggal 25 November 1879 Masehi oleh Bupati Ngawi ke-6, Raden Mas Tumenggung Brotodiningrat. Pada saat itu, masjid ini belum memiliki nama dan masyarakat sekitar menyebutnya sebagai “Masjid Gedhe” atau “Masjid Besar”.

Data detail pembangunan masjid ini dapat kita lihat dari sebuah prasasti yang terukir dengan huruf arab pegon (gundul) diatas papan kayu jati yang diletakkan diatas pintu masuk ruangan utama untuk sholat.

Kemduian, Masjid Baiturrahman ini diresmikan oleh Bupati Soelardjo pada tanggal 07 April 1988. Penetapan nama resmi tersebut seiring dengan selesainya proses pemugaran besar-besaran yang dilakukan pada masjid ini.

Prasasti yang ada diatas pintu ruang induk selain difungsikan sebagai pencatat detail asli pembangunan, juga dimaksudkan sebagai hiasan melihat beberapa pahatan indah yang bertuliskan lafadz basmalah dengan hiasan unggas di bagian kanan dan kirinya. Kemudian ditambahkan pula tulisan “Muhammad” dibagian kanan dan kirinya.

Meskipun pintu aslinya sudah tidak digunakan lagi, namun prasasti tersebut tetap dipertahankan dengan direkatkan kepada tembok diatas pintu yang baru.

Beberapa prasasti juga turut diukir diatas papan kayu tebal dari kayu jati yang diletakkan diatas gawang masuk ke Mimbar. Prasasti tersebut bertuliskan pembuatan mimbar asli yang dilakukan pada tanggal 16 April 1881 Masehi, dan selesai pada tanggal 13 Agustus 1881.

Kemudian masih ada 1 prasasti lagi yang diletakkan di bagian mustaka masjid, yaitu suatu hiasan seperti mahkota yang dipasang dibagian puncak palign tinggi di masjid. Prasasti tersebut berisi tentang tanggal pembuatan mustaka yang dibuat pada tanggal 26 Agustus 1881 dan dibuat oleh Kanjeng Brotodiningrat.

Riwayat Renovasi Masjid Agung Kabupaten Ngawi

Masjid Agung Baiturrahman Ngawi sudah mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran, yaitu pada tahun 1924 dilakukan pergantian atap sirab bangunan induk dengan bahan baku seng oleh Bupati Ngawi pada kala itu. Renovasi berikutnya dilakukan pada tahun 1977 oleh Bupati Soewojo dengan menambahkan bangunan serambi dan gapura.

Pada tahun 1981, pemugaran kembali dilakukan oleh Bupati Panoedjoe dengan menambahkan ruang pawastren (ruang untuk jamaah wanita), yang saat ini digunakan sebagai ruang perpustakaan dan tempat wudhu untuk jamaah wanita. pemasangan karpet juga turut dilakukan diatas tegel diruang utama masjid.

Renovasi masjid besar-besaran ini kemudian dilakukan pada tahun 1986, oleh Soelarjo, Bupati Ngawi yang menjabat saat itu. Renovasi dimulai pada tanggal 18 Juli 1986 Masehi, dan baru selesai pada tanggal 15 April 1988 Masehi. Peresmian renovasi tersebut dilakukan oleh H. Zahid Hussein, dan diperkirakan bangunan baru tersebut mampu untuk menampung hingga 3.000 jamaah sekaligus.

Pemugaran bangunan masjid itu menghabiskan dana hingga sekitar Rp. 360 juta, yang terdiri dari Rp. 200 juta dari swadaya Masyarakat, dan bantuan dari presiden RI yaitu Rp. 160 juta.

Kemudian pemugaran masjid terakhir dilakukan pada tahun 2007, dan selesai proses pembangunan pada tahun 2009. Masjid ini dibangun dengan kesan modern dan diresmikan oleh H. Sukarwo (Pak De Karwo), Gubernur Jawa Timur, pada tanggal 26 Oktober 2010.

Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan Jakarta Utara

Masjid Al Mukarromah

Masjid Al-Mukarromah menjadi salah satu masjid tertua di Jakarta. Masjid ini dibangun pada abad ke-18 dan berlokasi di Jalan Lodan Kelurahan Bandan Ancol Kecamatan Padebangan Kabupaten Jakarta Utara Provinsi Jakarta.

Masjid Al Mukarromah dapat berarti Masjid Yang Dimuliakan. Pembangunan masjid ini dibangun pada tahun 1879, dan baru berupa sebuah musholla kecil, ditempatkan didekat 2 makam Ulama besar pada masa penjajahan belanda. Pertama kali dibangun oleh Sayid Abdul Rachman bin Alwi As-Syafitri, dan kemudian pada tahun 1908 di renovasi oleh putra beliau Sayid Alwi bin Abdul Rachman bin Alwi As-Syafitri menjadi sebuah bangunan masjid.

Riwayat Pembangunan Masjid Al-Mukarromah

Riwayat Pembangunan Masjid Al-Mukarromah Kampung Bandan memang cukup unik. Awalnya Habib Abdurrahman yang merupakan seorang saudagar bertemu dengan Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, di Empang, Kabupaten Bogor pada tahun 1874. Kemudian pada kesempatan berbincang tersebut, Habib Abdullah berpesan kepada Sayid Abdul Rachman mencari dan menelusuri 2 makam tua yang berada di sekitar Kampung Bandan. Jika ketemu, Habib Abdullah berpesan agar Sayid Abdul Rachman membangun suatu tempat ibadah dan memelihara wilayah tersebut dengan baik.

Konon, kedua makam tersebut merupakan makam para Waliyullah yang semasa hidupnya dihabiskan untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di perkampungan Bandan. Pada saat itu, perkampungan tersebut menjadi perkampungan budak yang dijajah oleh ulah penjajah keji Belanda. Kedua ulama tersebut bahkan pernah terlibat peperangan dengan VOC pada sekitar tahun 1682.

Habib Abdurrahman kemudian menemukan kedua makam tua tersebut, dan Habib Abdullah membenarkan bahwa makam tersebut merupakan makam Waliyullah yang dicari. Habib Abdurrahman setelah itu menjalankan nasehat dari Habib Abdullah untuk membeli tanah, dan juga mendirikan tempat sholat / Musholla pada tahun 1879. Pada saat itu, Musholla tersebut juga menjadi sebuah pusat penyebaran agama islam yang dilakukan oleh Habib Abdurrahman.

Habib Abdurrahman wafat pada tahun 1908, setelah itu penyebaran agama islam dan kepengurusan Musholla tersebut diteruskan oleh putra beliau, Habib Alwi bin Abdurrahman As-Syafitri. Musholla tersebut kemudian baru dirubah menjadi sebuah bangunan masjid pada tahun 1913 dan selesai pada tahun 1917.

Arsitektur Masjid

Masjid Al-Mukarromah atau masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan “Masjid Keramat Al-Mukarromah” dibangun diatas tanah seluas 95 x 50 meter. Pada sekelilingnya dibangun pagar beton dengan jeruji besi, serta 1 gerbang utama juga turut dibangun di bagian selatan.

Masjid ini dibangun dengan luas 15 x 13 meter, dengan 2 buah pintu masuk utama untuk jamaah pria dan wanita. Makam kedua wali tersebut kemudian dibangun ulang didalam masjid, kemudian mihrab, dan serambi juga turut dibangun dengan megah.

Masjid Al-Mukarromah atau Masjid Keramat Kampung Bandan kemudian semakin ramai oleh para peziarah dan para pengunjung yang ingin melihat dan mengingat sejarah masjid tersebut. puncak keramaian masjid biasanya terjadi pada bulan Maulud dan bulan Sya’ban, serta menjelang puasa. Berbagai peziarah datang dari berbagai penjuru indonesia, ada yang berasal dari Jabodetabek, dan bahkan ada yang berasal dari luar Pulau Jawa.

Beberapa kali pemugaran juga turut dilakukan pada masjid ini seperti pada tahun 1956 dengan menambahkan ruangan dibagian belakang dan samping kanan masjid. Lalu pada tahun 1972 dilakukan pemugaran oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Pemugaran Total kemudian dilakukan pada tahun 1978 dengan menggantikan hampir seluruh komponen bangunan, namun tetap mempertahankan arsitektur aslinya.

Masjid Tuo Kayu Jao Kabupaten Solok

Masjid Tuo Kayu Jao

Masjid Tuo Kayu Jao ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia terutama bagi Kabupaten Solok dan Propinsi Sumatera Barat umumnya. Masjid ini diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke 16 tepatnya sekitar tahun 1599. Keberadaan masjid ini sekaligus menjadi bukti bahwa agama Islam di Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat ternyata telah berkembang sejak abad ke-16. Atap masjid Tuo Kayu Jao ini beratapkan ijuk yang dulu didirikan oleh beberapa ulama daerah setempat tetap dijaga keasliannya hingga kini. Di sebelah masjid ini terdapat sebuah tabuh (bedug) yang diyakini daerah setempat sudah memiliki umur sama dengan masjid tersebut. Lokasi Masjid Tuo Kayu Jao ini terletak di Jorong Kayu Jao Nagari Batang Barus Kecamatan Gunung Talang, kab Solok Provinsi Sumatera Barat.

Di samping keasliannya yang tetap terjaga hingga kini, arsitekturnya masjid ini juga memiliki kesamaan dengan Masjid Demak dan Banten terutama pada bentuk atapnya yang bersusun tiga. Sedangkan dari sisi filosofis bangunan masjid ini memiliki beragam perlambang. Atapnya yang terbuat dari ijuk melambangkan desain rumah adat Minangkabau yaitu Rumah Gadang. Di bagian mihrab juga diberi gonjong seperti Rumah Gadang. Jumlah tiang masjid Tuo Kayu Jao ini sebanyak 27 buah tiang, tiang tersbut melambangkan enam suku yang masing-masing terdiri dari ampek jinih (empat unsur pemerintahan adat) sehingga jumlahnya ada 24 bagian.

Ditambah lagi ada 3 unsur dari sebuah agama yaitu khatib, imam dan bilal, sehingga jumlahnya menjadi 27. Aroma kuatnya agama Islam di daerah tersebut juga tergambar dari jumlah jendelanya yang 13 buah. Ini untuk mengisyaratkan rukum Shalat yang 13 macam.

Arsitektur Bangunan Masjid Tuo Kayu Jao

Di awal pembangunan masjid tersebut hingga beberapa tahun lalu, pola bangunan masjid yang tidak memakai paku masih dipertahankan. bangunan tersebut tetap kokoh meski tidak satu bagian pun yang dipaku. Tapi hanya menggunakan pasak di setiap sambungannya. Namun hal itu sedikit berubah setelah dilakukan pemugaran. Namun yang jelas ciri khas masjid yang memakai ijuk dengan desain aslinya tetap dijaga.

Sebagai sebuah kebanggaan dan situs cagar budaya, mesjid tersebut dijadikan sebuah bukti bahwa di Nagari Batang Barus dan Kabupaten Solok secara umum, Islam telah berkembang sejak 400 tahun lalu. Hal ini menurutnya menjadi cerminan masyarakat yang memegang teguh agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perkembangannya sebagai tempat pariwisata yang ramai dikunjungi, wisata religi yang ditawarkan masjid tersebut sangat memukau pengunjung. Tidak hanya dari segi arsitektur bangunan yang unik, tapi juga dari kondisi alam yang memiliki topografi menawan, Masjid ini berada di lokasi yang berhawa sejuk dan dikelilingi oleh perkebunan teh. Di samping itu, kantor wilayahnya sangat memukau. Kantor wilayah tersebut terdiri dari lurah dan bukit yang saling bertaut dan berkombinasi sempurna.

Gratis Konsultasi 08122229385