Category Archive Kubah Masjid

Masjid Taqwa Kota Metro

Masjid Taqwa

Masjid Taqwa terletak di Jalan Letjend Alamsyah Ratu Prawira Negara No.1 , Kempung Imopuro, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro, Provinsi Lampung. Kota Metro sendiri merupakan sebuah Kota Otonom Kedua yang berada di Provinsi Lampung yang sebelumnya menjadi bagian sekaligus ibukota dari Kabupaten Lampung Tengah.

Di Kota Metro daerah Lampung berdiri sebuah masjid yang megah, tetapi sudah berumur cukup tua yang menjadi Landmark dan kebanggaan untuk masyarakat setempat yang bernama “Masjid Taqwa”. Bangunan masjid yang kita lihat saat ini merupakan hasil dari pembangunan ulang secara total dengan merobohkan bangunan masjid asli dan hanya menyisakan menaranya.

Proses pembangunan yang pada awalnya bertujuan renovasi justru menghasilkan proses pembangunan ulang dengan merobohkan hampir keseluruhan bangunan utamanya. Hal ini menyebabkan beberapa kontroversi terjadi di kalangan masyarakat sekitar. Apalagi bangunan utama masjid asli sudah tidak tersisa lagi, hal inilah yang disayangkan oleh masyarakat sekitar karena bangunan masjid tersebut memiliki sejarah yang panjang. Namun, kontroversi tersebut terjadi setelah bangunan lama dirobohkan, apa hendak dikata, semuanya sudah hancur, terpaksa bangunan baru harus segera di selesaikan sebagai pengganti tempat beribadah masyarakat sekitar.

Kemegahan Masjid Taqwa yang bisa kita lihat saat ini, masjid tersebut berhadapan langsung dengan Taman Kota Metro, menjadi salah satu masjid termegah se-provinsi Lampung. Pembangunan Masjid super megah ini tentu saja menghabiskan dana yang sangat besar. Anggaran yang dipergunakan untuk pembangunan Masjid Taqwa ini mencapai Rp. 18 miliar dan baru selesai pada bulan Mei 2015. Dengan bangunannya yang besar, masjid ini dapat menampung hingga lebih dari 2.000 jamaah sekaligus. Ukuran bangunan utamanya berdenah persegi dengan ukuran 45 x 45 meter, dan dibangun dengan lantai dua.

Lantai pertama digunakan sebagai ruang sholat utama, sedangkan lantai kedua digunakan sebagai ruangan perpustakaan. Kemudian pada belakang bangunannya dibangun kantor pengurus dengan beberapa sentuhan representatif dan beberapa ruangan yang biasanya digunakan oleh beberapa mahasiswa yang ikut mengurusi masjid ini.

Riwayat Masjid Taqwa Kota Metro

Masjid Taqwa Kota Metro didirikan pertama kali pada tanggal 21 Juli 1967 dan dibangun secara mandiri oleh masyarakat islam di Kabupaten Lampung Tengah. Pada saat itu Masjid Taqwa diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, KH. Ahmad Dahlan, pada tanggal 23 Mei 1969. Sebenarnya, renovasi yang beberapa kali dilakukan teptap mempertahankan bentuk awalnya, untuk menghargai semua pihak yang berjasa terhadap pembangunan masjid tersebut.

Pada tanggal 27 Januari 2004, H. A Sajoeti selaku Ketua Yayasan Dakwah dan Pemeliharaan Masjid menyerahkan pemeliharaan Masjid Taqwa ini kepada Pemerintah Kota Metro. Inilah yang menjadi awal kontroversi yang terjadi, disaat pemerintah berkeputusan untuk membangun ulang Masjid Taqwa tersebut secara keseluruhan.

Pada bulan Maret 2013, Pemerintah Kota Metro merencanakan proyek pembangunan ulang terhadap Masjid Taqwa. Meskipun menuai beragam kontroversi, namun pembangunan masjid akhirnya berlangsung selama 2 tahun dan diresmikan penggunaannya pertama kali oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin pada tanggal 09 Mei 2015. Peresmian tersebut juga dilakukan pembukaan Musabaqoh Tilawatil Qur’an ke-44 yang berada di Kota Metro, Provinsi Lampung.

Dalam sambutan Menteri Agama pada saat itu, beberapa semangat juga turut di berikan kepada masyarakat agar tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Kemudian mengambil hikmah, serta lebih memanfaatkan fungsi masjid ini sebagai tempat pendidikan dan ibadah untuk masyarakat sekitar.

Masjid Agung Al Musabaqah Subang – Jawa Barat

Masjid Agung Al Musabaqah

Masjid Agung Al-Musabaqah Subang ini terletak di Karanganyar, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang Jawa Barat. Jadi tak heran biasanya ketika libur panjamg tiba, kawasan Subang pada jalan utamanya akan sangat macet karena banyak sekali orang yang melakukan perjalanan. Kata Subang sendiri sebenarnya berasal dari kata Suweng atau dikenal sebagai anting-anting. Tetapi ada juga yang mengatakan sebenarnya nama tersebut berasal dari Babakan Subang. Babakan Subang adalah sebuah kampung yang kebanyakan dihuni oleh para muhajirin atau pendatang dari daerah yang bernama Subang di Kabupaten Kuningan. Mereka didatangkan oleh perusahaan perkebunan P & T Land ke setiap daerah yang saat ini dikenal dengan kabupaten Subang. Namun ada juga yag menyebutkan bahwa naa kabupaten tersebut berasal dari salah satu istri dari Prabu Siliwangi yang bernama Subang Larang.

Ketika islam memasuki kabupaten Subang maka sejarahnya tak lepas dari peran seorang RM. Wangsa Ghofarana. Beliau ini orang yang sangat berjasa dalam menyebarkan agama islam dan disebut-sebut sebagai orang pertama kali yang menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Ternyata TM. Wangsa Ghofarana adalah seorang putra dari Sunan Wanapati yaitu seorang Raja di Talaga. Ghofarana sendiri telah disebutkan adalah seorang yang pertama kali memeluk ajaran islam dari Talaga. Penyebaran agama islam di Talaga sendiri adalah hasil kerja keras dan yang mulia dilakukan oleh Sunan Gunung Jati. Kemudian Wangsa Ghofarana wafat lalu dimakamkan di Nangkabeurit, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang. Hingga sekarang pun makam beliau selalu dikunjungi oleh para peziarah yang berasal tak hanya dari Subang saja. Tak hanya itusaja, sebagai bentuk atas jasanya beliau yang sangat mulia dalam menyebarkan agama islam di Subang, namanya beliau juga kini telah diabadikan dalam sebuah nama jalan yang membentang di depan Masjid Agung Al-Musabaqah Subang.

Riwayat Pembangunan Masjid Agung Al Musabaqah

Proses pembangunan masjid Agung Al-Musabaqah Subang ini dimulai sejak tahun 1978 lalu yang didirikan diatas tanah wakaf seluas 10.000 meter persegi. Sedangkan luas dari bangunannya sendiri yaitu 7.500 meter persegi dan masjid tersebut dapat menampung jamaah sebanyak 1000 jamaah. Namun bangunan masjid yang sedang berdiri kokoh saat ini adalah hasil dari renovasi yang telah dilakukan pada masa pemerintahan Bupati Eep Hidayat dan juga atas bantuan dari Menteri Perhubungan yang pada saat itu menjabat adalah Haryanto Danutiro. Perbaikan masjid tersebut dilakukan pada tahun 1993.

Sebelum menjadi bangunan masjid yang sangat besar serta megah, masjid Agung Al-Musabaqah berupa bangunan beton juga ada kubah masjid utama yang bentuknya bundar dibagian atap masjid. Ditambah juga dengan beberapa kubah yang ukurannya lebih kecil serta dilengkapi dengan satu menara. Lalu keseluruhan masjid tersebut dicat dengan menggunakan warna putih. Namun saat ini sangat berbeda dengan bangunan yang lebih modern dilengkapi dengan dua lantai, tiga pintu akses. Kemudian terdapat juga menara yang jumlahnya dua serta kubah besarnya yang berada di atap masjid.

Masjid Besar Al Istiqomah Kabupaten Pangandaran

Masjid Al Istiqomah

Masjid Besar Al-Istiqomah yang terletak di Kelurahan Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat dijadikan sebagai masjid Besar / Agung untuk Kecamatan Pangandaran. Pangandaran sendiri sudah menjadi salah satu Daerah Otonom Baru / Pisahan dari Provinsi Jawa Barat, yang diresmikan pada tahun 2012 pada Undang-Undang No. 21.

Pangandaran sendiri menjadi salah satu daerah hasil pemekaran dari Kabupaten Ciamis, dan diresmikan pada tanggal 25 Oktober 2012. Pangandaran sendiri juga dikenal sebagai tempat yang sangat luas, dengan pariwisata pantainya yang begitu memukau. Bahkan selain itu, Pangandaran juga terkenal dengan wilayah bisnis dengan perusahaan yang paling terkenal adalah Perusahaan Penerbangan Susi Air, apalagi bos dari maskapai penerbangan tersebut juga menjadi salah satu orang penting di Pemerintahan Kabupaten Pangandaran.

Beliau adalah Susi Pujiastuti, atau biasa dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan Bu Susi, beliau merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan yang sangat nyentrik dan terkenal dengan aksi-aksi berani yang dilakukannya dalam menjaga sumber daya kelautan yang dimiliki Indonesia dari para pencuri maupun Bajak Laut. Sebelum menjadi sebuah Kabupaten sendiri, daerah Pangandaran sudah memiliki Masjid Besar nan Megah yang menjadi Landmark sekaligus kebanggaan masyarakatnya, yaitu Masjid Besar Al-Istiqomah.

Masjid ini didirikan di pusat kota, tidak jauh dari kawasan wisata pantai Pangandaran, tepatnya di sekitar tugu Ikan Pangandaran. Di samping itu juga , disana terdapat sebuah Maskapai Penerbangan Susi Air, sekaligus rumah dari menteri Susi. Masjid Besar Al-Istiqomah dikenal juga dengan sebutan “Masjid Agung Pangandaran” karena memang masjid ini merupakan yang terbesar dan termegah di Kabupaten Pangandaran, meskipun pada saat didirikan Kabupaten Pangandaran belum terpisah dari Kabupaten Ciamis

masjid al istiqomah

Menurut cerita dari warga setempat, Masjid Besar Al-Istiqomah ini dibangun diatas lahan tanah yang diwakafkan oleh Bapak H. Karlan (Alm.) , beliau merupakan ayah kandung dari Bu Menteri Susi. Selain itu, Hampir semua biaya pembangunan masjid ini ditanggung oleh Bu Susi. Menurut warga, Bu Menteri bahkan melarang warganya untuk meminta sumbangan dijalan-jalan, karena beliau sudah menyanggupi hampir keseluruhan biaya pembangunannya.

Arsitektur Masjid Besar Al-Istiqomah Pangandaran

. Masjid Raya Al-Istiqomah Pangandaran ini dibangun dengan bangunan minimalis yang memiliki kesan yang modern. Bisa dianggap arsitektur masjid ini berbeda dengan masjid lainnya. Dibangun dengan denah persegi panjang, dengan 1 kubah utama berukuran besar ditengah-tengah bangunannya. Namun ada yang unik dari kubah ini, yaitu kubahnya dibentuk setengah lingkaran dan polos, tidak seperti kubah bawang maupun kubah setengah lingkaran yang dihiasi dengan beragam ornamen lainnya.

Kemudian, jika kita lihat bahwa masjid ini memiliiki 1 menara yang menjulang tinggi, berada di samping utara masjid, dengan dengan bangunan utamanya namun masih terpisah. Kemudian pada bagian atasnya diberikan penangkal petir, karena pengeras suara diletakkan dibagian atas pada menara tersebut. Masjid ini memang dibangun di daerah ramai, terutama banyak dari pegawai Maskapai penerbangan Susi Air yang selalu melakukan sholat jamaah di Masjid Tersebut.

Bangunan masjid ini dibangun dengan sangat modern, dengan bahan baku beton dan cor di hampir keseluruhan bangunannya. Pada bagian depan bangunan masjid ini, dibangun sebuah gerbang utama tanpa teralis besi yang bertuliskan “Masjid Besar Al-Istiqomah”.

Pada bagian ruangan utamanya kita dapat menemukan sebuah ruangan mihrab dengan ornamen memukau di sekelilingnya. Kemudian berbagai macam hiasan kaligrafi juga turut dibangun di dalam masjid ini.

Pada bagian depan sebelah utara, dibuat sebuah monumen unik, berbentuk kayu di tengah-tengah perempatannya. Monumen / tugu ini juga sering diabadikan untuk berfoto.

Masjid Agung Sumber Cirebon

Masjid Agung Sumber

Masjid Agung Sumber Cirebon – Masjid Sumber dijadikan sebagai masjid agung untuk kabupaten Cirebon, lokasi berdirinya saat ini terletak di komplek kantor pemerintahan Kabupaten Cirebon, atau tepatnya di Jalan Sunan Drajat, Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat.

Masjid Agung Sumber Cirebon

Proses Pembangunan Masjid

Rencana pembangunan masjid ini sebenarnya sudah digulirkan sejak tahun 1986, namun karena tidak kunjung mendapatkan bantuan dari pemerintah maka pembangunannya pun baru dimulai pada tahun 1988. Bahkan setelah pembangunan dimulai, prosesnya memakan waktu yang cukup lama, karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh pihak masjid dan masyarakat sekitar.

Pada akhirnya bantuan dari berbagai pihak datang dan masjid dapat diselesaikan pada tahun 1993. THingga total dana yang dihabiskan untuk pembangunan masjid ini lumayan besar, yakni sekitar Rp. 7.8 miliar. Memang dana yang dihabiskan cukup besar, namun beberapa fasilitas memang disediakan secara lengkap, seperti gedung perpustakaan, kantor DMI, Kantor Sekretariat DKM, Kantor LPTQ dan Kantor RISMA. Beberap akantor tersebut memang sengaja dibuat sebagai kantor sekretariat pengurus Masjid Sumber, dan juga pihak yang melayani dan menangani beberapa kegiatan masyarakat.

Terdapat area parkir yang sangat luas beserta taman juga turut dibangun didepan masjid. Berikut , Masjid ini bahkan juga dilengkapi dengan gedung Taman Kanak-Kanak Islam, sebagai tempat belajar bagi anak-anak.

Proses pembangunan Masjid Agung Sumber dimulai dengan pembukaan lahan pada bulan November 1988, diiringi dengan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Bapak Kol. (Inf) Haji. Mehmet Thohir, Bupati KDH TK II Cirebon yang menjabat saat itu. Tetapi setelah pembangunan sampai pada tahap awal, prosesnya ini sangat melambat karena keterbatasan dana yang ada.

Kemudian barulah pada sekitar bulan Agustus 1922, uluran tangan dari berbagai pihak swasta datang untuk menyuntikkan dana mereka secara ikhlas kepada pembangunan Masjid Agung Sumber yang terkendala. Barulah setelah berbagai dana dapat dikumpulkan, prosesi pembangunan dapat berjalan dengan lancar kembali, selesai dan diresmian pada tanggal 29 September 1993 oleh H. R. Yogi S. Memet, Gubernur KDH TK. 1 Jawa Barat, saat masa pemerintahan Bupati Cirebon Kol. H. Soewendo.

Renovasi Masjid Agung Sumber Kabupaten Cirebon

Sejak pembangunannya selesai hingga saat ini, Masjid Agung Sumber sudah mengalami beberapa kali pemugaran yaitu pada tahun 1996 pada masa pemerintahan Bupati Kol. H. Rahmat Djoehana untuk membangun tempat berwudhu berbentuk segi enam untuk jamah pria dan wanita, dan pembuatan pintu gerbang utama.

Kemudian dilanjutkan tahun 1999, dengan menambahkan gedung Taman Kanak-Kanak Islam Plus. Pembangunan kembali dilakukan pada tahun 2003 dengan menambahkan berbagai kios disekitar areal masjid bagi para musafir yang mampir ke Masjid Agung Sumber untuk menunaikan sholat, ataupun sekedar beristirahat. Kemudian pembangunan terakhir dilakukan pada tahun 2012 dengan menambahkan bangunan menara terpisah dari bangunan utama masjid.

Arsitektur Bangunan Masjid Agung Sumber

Masjid ini didirikan dengan luas sekitar 2.393 meter persegi, diatas area seluas 10.916 meter persegi, dan dapat menampung hingga 2.500 jamaah sekaligus dibagian ruang utama. Tetapi, biasanya pelataran masjid pun juga digunakan sebagai tempat sholat tambahan pada waktu sholat 2 hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha.

Selain membangun beberapa ruang sholat utama, masjid ini juga dilengkapi dengan berbagai ruangan seperti ruang serba guna, Perpustakaan, dan beberapa ruang sekretariat. Dan ada lima unit tempat berwudhu, enam toilet juga dibangun, serta taman dan area parkir yang cukup luas.

Kemegahan masjid ini bahkan terlihat pada saat pengunjung didalam ruang utama sholat, karena lantainya sangat mengkilap dan terjaga kebersihannya. Kemudian kubah masjid utamanya dihiasi dengan berbagai lukisan, dan dibawah kubah terdapat lampu gantung yang indah.

Masjid Agung Lasusua – Kolaka Utara

Masjid Agung Lasusua

Bangunan Masjid Agung Lasusua mempunyai desain dan bangunanya sangat megah di Jalan Bypass Desa Ponggiha, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Lasusua ini merupakan sebuah nama kecamatan yang sekaligus juga menjadi nama ibukota Kabupaten Kolaka Utara. Masjid Agung Lasusua ini sebenarnya memiliki nama resmi “Masjid Agung Bahrurrasyad Wal Ittihad”. Karena namanya panjang dan sulit diingat, akhirnya masjid ini lebih dikenal dengan sebutan “Masjid Agung Lasusua”, karena memang masjid ini ditujukan sebagai pusat peribadatan dan kegiatan keagamaan untuk masyarakat Kabupaten Lasusua.

Pembangunan Masjid Agung Lasusua ini dilakukan pada tahun 2008, pada masa pemerintahan Rusdi Mahmud, Bupati Kolaka Utara. Kemudian bangunan masjid ini pertama kali digunakan untuk sholat Idul Fitri tahun 2011 lalu, meskipun pada saat itu proses finishing untuk masjid ini belum selesai secara keseluruhan.

Riwayat Pembangunan Masjid Agung Lasusua

Pembangunan masjid ini memang membutuhkan waktu yang lumayan lama yaitu sekitar 9 tahun, dari tahun 2008 hingga tahun 2017. Pembangunannya selesai secara total pada bulan Juni 2017 lalu, dengan luas bangunan yang mencapai 2.500 meter persegi, berdiri diatas lahan seluas 22.500 meter persegi. Ukuran yang cukup besar tersebut, Bangunan Masjid Agung Lasusua ini mampu menampung hingga 3.000 jamaah sekaligus.

Hal yang unik dari pembangunan masjid ini adalah integrasinya yang cukup mengesankan beriringan dengan pembangunan pusat pemerintahan untuk Kabupaten Kolaka Utara. Masjid Agung Lasusua ini berdiri dengan sangat megah dan indah diatas lahan reklamasi yang berada di lepas pantai Lasusua. Tidak hanya bangunan Masjid Agung Lasusua yang dibangun, namun juga seluruh jaringan jalan raya yang membentang sepanjang pantai juga turut dibangun bersamaan. Karena masjid ini di bangun di atas tanah reklamasi ,tempat ini menjadi lebih indah. Jalur menuju masjid memiliki 6 jalur yang berbeda.

Sekilas Tentang Kabupaten Kolaka Utara

Kabupaten Kolaka Utara yang beribukota di Kecamatan Lasusua ini merupakan sebuah kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Kolaka yang disahkan pada tanggal 18 Desember 2003 lalu. Kolaka Utara menjadi salah satu wujud pemekaran Kabupaten yang memiliki tingkat pertumbuhan yang pesat, terutama pada Infrastruktur, Pendidikan, dan Perekonomiannya, terutama ditopang oleh sektor pertambangan. Kota Kabupaten ini pada awalnya memang cukup tertinggal, namun saat ini sudah dirubah menjadi sebuah kota metropolitan yang indah, bahkan mampu meraih anugerah Adipura.

Yang unik di Kolaka Utara adalah salah satunya Kabupaten di Sulawesi Tenggara yang mempunyai jalan tol. Jalan tol tersebut memiliki nama yaiutu Tol Lasusua – Tobaku, dimana pembangunannya menghabiskan dana milyaran rupiah karena diharuskan untuk mereklamasi laut Lasusua. Sebelum adanya jalan tol Lasusua, akses jalan ke Dermaga Tobaku dari Lasusua harus melewati terjalnya jalan dan extrimenya di pegunungan Lasitarda sehingga akses bisnis sedikit terganggu.

Arsitektur Bangunan Masjid

Karena dibangun di lepas pantai yang merupakan tanah reklamasi dari laut, tentu saja pemandangan yang diberikan terasa sangat indah, terutama pada saat sunrise (matahari terbit).

Bangunan Masjid Agung Lasusua ini mempunyai konsep arsitektural khas dari Timur Tengah modern. Kubah berukuran besar ini di pasang di tengah-tengah bangunan utama, dengan balutan warna kuning keemasan. Tidak hanya itu saja beberapa kubah kecil memiilki warna yang sama juga ikut dipasang di sekeliling kubah masjid utama.

Sebanyak 3 menara masjid yang dibangun di sisi barat, utara dan selatan terpisah dengan bangunan utama menjualgn tinggi dengan bentuk bangunan yang sangat indah. Bangunan menara masjid  dibuat berbentuk bulat, dengan hiasan kubah kecil di bagian atasnya, yang juga berwarna keemasan.

Bangunan masjid dibuat dengan sangat megah dengan hiasan mozaik dibagian fasad dan gerbangnya. Masuk kedalam masjid, kita akan disuguhi dengan keindahan kemegahan tersendiri, terutama dari bagian lantai dan dinding yang dibalut keramik yang mengkilap. Berbagai ornamen termasuk lukisan kaligrafi juga dapat kita temukan di beberapa sudut bagian masjidnya.

Masjid Agung Majalaya Kabupaten Bandung

Masjid Agung Majalaya yang tepatnya di pusat kota Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Yang berlokasi di tengah keramaian pasar tengah Majalaya, yang berada di samping Kantor Urusan Agama kecamatan Majalaya dan Alun Alun kota Majalaya. Di sekitar lingkungan Masjid Agung Majalaya ini juga digunakan sebagai tempat kantornya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat (BAZ) Kecamatan Majalaya.

Majalaya merupakan salah satu desa dan juga nama kecamatan di kabupaten Bandung, provinsi Jawa Barat. Secara geografis, Majalaya berada diketinggian sekitar 683 meter dari permukaan laut sehingga udara di kota ini cukup sejuk dibandingkan dengan kawasan pantai Jawa Barat. Pada era 1960-an, Majalaya sempat dijuluki sebagai kota Dolar dikarenakan kemajuan ekonominya yang luar biasa pesat. Masjid ini telah berdiri sejak masa penjajahan Belanda yang berada di sebelah alun-alun Kota Majalaya.

Masjid Agung Majalaya Kabupaten Bandung

Arsitektur Bangunan Masjid Agung Majalaya

Masjid Agung Majalaya mempunyai bentuk arsitektur yang mirip dengan Masjid Demak di Jawa Tengah dengan atap limas bertumpang empat. Yang pada setiap tingkatan terdapat jendela kaca yang berukuran kecil sebagai sumber cahaya alami disiang hari. Untuk bagian atap kubah masjidnya atau sirap Masjid berasal dari Kalimantan. Di dalam masjid terdapat empat sokoguru menyangga struktur atap tumpangnya. Masing masing sokoguru berbentuk bulat berdiameter sekitar 50 cm, pada bagian bawah tiang terdapat umpak berbentuk segi empat berwarna putih berukuran 80 cm x 80 cm x 105 cm yang berasal dari Demak.

Ruang utama masjid memiliki ukuran 14,70 m x 14,70 m. Untuk pintu masuk ke ruang utama berada di sisi timur, yang berukuran lebar 1,95 m dan tinggi 2,23 m. Dan untuk sisi utara dan selatan terdapat dua pintu masuk lainnya. Pintu masuk ini mempunyai bentuk lengkung pada bagian atasnya, yang serupa dengan elemen bangunan masjid di kawasan Timur Tengah. Pintu kiri dan kanan masjid ini dibuat masing-masing mengarah ke area tempat berwudhu, dan cuma dua pintu ini yang selalu dibuka sepanjang waktu.

Ruang utama masjid dikelilingi oleh serambi dengan jendela pada dindingnya. Ruang mihrab masjid ini cukup unik. Di bagian atapnya yang berbentuk setengah bola, terlihat dari bagian yang menonjol diluar bangunan. Bagian atap sebelah dalam tersusun dari kayu. Untuk hiasan dekoratif berbentuk lengkung dan didominasi warna hijau di bagian sudutnya.

Batu bata yang digunakan untuk membangun masjid ini menggunakan batu bata press sayati untuk bagian dalam bangunan, sedangkan bagian luar bangunan menggunakan bata press buatan pabrik milik Belanda yang berada di Ujung Berung. Lantai masjid bagian dalam masjid berbentuk seperti yang digunakan di Masjid Cipaganti dan SMPN 5 Bandung masih terawat dengan baik.

Masjid ini memiliki teras yang terdapat kentongan (kohkol) yang diberi nama Gemper Sekaten yang dibuat pada 24 Juni 1941. Kentongan yang dipesan langsung oleh Hernawan Soemaryo itu terbuat dari kayu jati Jepara dan memiliki panjang sekira 1,70 meter. Pada saat itu, masyarakat yang mau membunyikan kentongan itu dikenakan tarif sebesar satu benggol (sakeuntreung sabenggol).

Riwayat Masjid Agung Majalaya

Masjid Agung Majalaya dulu sebuah suaru kecil dari bambu yang beralaskan tembok berdiri diatas tanah wakaf Rd H. Tubagus Zainudin. Di tahun 1939 bangunan tersebut dibongkar dan dibangun ulang dengan ukuran yang lebih besar atas usulan dari Kades Majalaya H.Abdul Gafur dan didukung oleh Rd. Hernawan Soemarjo yang mempunyai jabatan sebagai asisten wedana (camat) pada saat itu. Rd.H. Kosasih (Desa Cibodas) lalu terpilih sebagai ketua panitia pembangunan yang dibantu oleh Rd. Dendadibrata (Desa Panyadap) yang mempunyai tugas sebagai sekretaris dan Ijradinata (Desa Majalaya) sebagai bendahara.

Pembangunan masjid ini dimulai tahun 1940 dengan dana awal 15.000 Gulden yang diperoleh dari anggota panitia yang sebagian anggotanya merupakan para pengusaha. Proses pembangunannya melibatkan arsitek Ir. Suhamir, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Biaya pembangunan masjid juga diperoleh dari penggalangan sedekah amal jariyah dari masyarakat di Kecamatan Majalaya. Masyarakat juga membantu menyetor bahan bangunan seperti batu dan pasir. Bahkan Rd. Hernawan Soemarjo mempunyai ide beserta aparat desa dengan berkeliling naik sepeda ontel hias mengajak masyarakat menyumbang masjid.

Pada tahun 1942 bangunan Masjid beserta tempat berwudhu selesai dikerjakan dan mulai digunakan masyarakat. Tetapi pada tahun itu juga setelah pecahnya Perang Dunia ke-2, pembangunan Masjid ini berhenti untuk sementara dikarenakan sebagian masyarakat Majalaya mengungsi. Apalagi ditambah beberapa bagian Masjid rusak akibat terkena tembakan peluru pesawat Belanda.

Pada tahun 1944, masjid ini sempat dijadikan markas dan basis pertahanan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) di Majalaya. Dan baru setelah Kemerdekaan pembangunan dan pengumpulan dana Masjid dimulai kembali. Dan terdapat bangunan yaitu balai nikah yang berada di sebelah utara Masjid ini. Dan pada tahun 1950-an jendela Masjid yang tadinya hanya berupa lubang itu dipasang kaca dan jendela yang terbuat dari kayu jati. Untuk tahun 1982 tempat wudhu dipindahkan ke sebelah barat Masjid. Enam tahun berikutnya, karena jamaah semakin banyak kolam yang mengelilingi Masjid diubah menjadi Serambi (bale). Tempat wudlu diperbaiki dan jumlah toilet diperbanyak.

Demikian ulasan tentang Masjid Agung Majalaya, semoga ini dapat bermanfaat untuk kalian semua:).

Masjid Raya Al Arif Jagal Senen Jakarta

Masjid Raya Al Arif

Masjid Raya Al Arif didirikan sejak abad ke-17, dan masjid ini masih berdiri kokoh melewati zaman. Masjid ini terletak di Jalan Stasiun Senen RT 06 RW 03, Kampung Senen, Desa Senen, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Masjid Raya Al Arif menjadi salah satu masjid paling tua di daerah Ibu Kota Jakarta. Masjid yang sudah ada sejak abad ke-17 ini menurut sejarah dibangun oleh seorang bangsawan kesultanan Gowa , Sulawesi Selatan, Upu Daeng Arifuddin, yang kemudian dijadikan nama untuk masjid ini.

Sejarah Pembangunan Masjid Raya Al Arif Jagal Senen

Masjid Raya Al Arif ini awalnya disebut sebagai “Masjid Jagal Senen”, karena masjid ini terletak di area tukang Jagal Hewan di pasar Senen. Kemudian pada tahun 1969, nama masjid ini diganti dengan Masjid Raya Al Arif Jagal Senen.

Menurut sejarah, Masjid ini didirikan oleh Upu Daeng H Arifuddin, seorang pedagang yang berasal dari Bugis, dibantu oleh masyarakat sekitar pada tahun 1695.

Selain untuk menyiarkan agama islam, masjid ini juga dijadikan sebagai pusat tempat ibadah bagi para pedagang, perantau, dan masyarakat sekitar. Juga dijadikan sebagai pusat tempat ibadah bagi pada pedagang, perantau, dan masyarakat sekitar. Dengan bantuan dari para jamaah, masjid ini akhirnya mendapatkan dana untuk merubahnya menjadi sebuah bangunan Masjid Jami’ di Kampung Jagal.

Upu Daeng Arifuddin adalah seorang keturunan asli dari Raja Goa dan beliau menjadi seorang pejuang kemerdekaan yang sangat disegani saat melawan kolonial Belanda pada masa itu. Raja Upu Daeng Arifuddin wafat pada tahun 1745, beliau dimakamkan di sekitar barat Masjid Raya Al Arief Jagal Senen.

Masjid ini mengalami renovasi yang pada tahun 1960 dengan dana sumbangan sebesar Rp.500jt dari perusahaan garmen asal Pondok Kopi, Jakarta Timur. Masjdi Al-Arif ini bahkan sempat terancam dibongkar karena Ali Sadikin, Gubernur Jakarta yang menjabat kala itu ingin melebarkan area Pasar.

Bahkan pembongkaran juga hampir dilakukan pada saat masa penjajahan Jepang di Indonesia, namun usaha tersebut gagal kareana konon pada saat masjid ini diambil fotonya sebelum dibongkar, selalu muncul sosok lelaki berjubah putih di areal masjid yang tak lain adalah sosok Arifuddin.

Arsitektur Bangunan Masjid Raya Al Arief Jagal Senen

Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen dibangun dengan denah Segi Empat, memiliki ukuran yang cukup luas, sekitar 550 meter persegi dengan atap kubah masjid berbentuk limas bersusun. Masjid ini berdiri di atas lahan tanah wakaf dari pendiri masjid Daeng Arifuddin dengan luas sekitar 2.850 meter persegi. Saat ini tanah wakaf tersebut sudah dialamatkan pada ahli warisnya, agar tidak ada sengketa yang mungkin terjadi.

Masjid Jagal Senen ini mempunyai lantai keramik yang dibalut dengan karpet sajadah yang empuk. Dibagian tengah bangunan utama terdapat 4 soko sebagai tiang utama penyangga bangunan struktur atap masjid ini.

Ruangannya ini dibatasi dengan dinding di belakang, sebagai pemisah antara jamaah pria dan wanita.

Ruang Sholat Pria dan Ruang Sholat Wanita memang sengaja didesain dengan satu dinding terluar masjid dibagian pinggir. Kemudian pada bagian luar masjid ini dibatasi dengan pagar tralis besi dengan 1 gerbang untuk akses masuk.

Tempat wudhu berada disebelah selatan masjid, namun tetap terpisah antara tempat wudhu pria dan tempat wudhu wanita. Di masjid ini juga disediakan toilet khusus untuk pria dan wanita, dan juga toilet umum di sekitar areal masjid. Untuk membatasi areal tempat wudhu, toilet dan bangunan masjid diberikan sebuah karpet yang terbuat dari karet, sehingga air dari toilet tidak ada yang ikut menempel pada saat masuk masjid.

CV.SAM JAYA UTAMA RT. 05 RW 02 Desa Wonoanti Kecamatan Gandusari Trenggalek &#8211 Jawa Timur HP : 081 2222 9385 WA : 081 2222 9385 Email : [email protected] Kubah Masjid Galvalum Kubah Masjid Enamel.

Masjid Agung Darussalam Cilacap

Masjid Agung Darussalam

Masjid Agung Darussalam merupakan masjid Agung yang berada di Kabupaten Cilacap propinsi Jawa Tengah. Masjid ini berdiri istimewa di samping alun alun kota Cilacap, serta sekarang telah berusia lebih dari dua era. Sesudah melalui tujuh kali perbaikan semenjak pertama-tama dibuat, Masjid ini berdiri istimewa di samping alun alun kota Cilacap, serta sekarang telah berusia lebih dari dua era. Sesudah melalui tujuh kali perbaikan semenjak pertama-tama dibuat, sekarang Masjid ini tampil istimewa serta keren di pusat kota Cilacap. Satu bangunan menara ditambah lagi di tahun 2003, serta sentuhan modern ditambah lagi kebangunan masjid yang masih menjaga bentuk aslinya serta sekarang sudah diputuskan jadi masjid cagar budaya bersama dengan lima masjid yang lain di Jawa Tengah.

Masjid Agung Darussalam Cilacap dibuat pada tanggal 29 April 1776 oleh mbah Kyai Kali Husen serta mbah Kyai Kali Ibrahim, kedua-duanya keturunan Sunan Kalijaga. Perbaikan pertama dikerjakan oleh umat Islam se Kabupaten Cilacap pada tahun 1929, sedang masjid agung yang lama dipindah serta dibawa oleh penghulu pertama ke Kawunganten, sesudah beberapa lama dipindahkan ke Desa Kalijeruk pada tahun 1969.

Perbaikan serta pembangunan Menara Masjid

Di tahun 2003, Masjid Agung Darussalam Cilacap ini diperlengkapi dengan satu bangunan menara setinggi 40 meter. Pembangunan menara ini habiskan ongkos Rp 577 juta, Rp 400 juta salah satunya datang dari APBD serta bekasnya dari beberapa donatur. Peresmian menara itu dikerjakan di hari Kamis 30 Oktober 2003 oleh Bupati Cilacap waktu itu, H Probo Yulastoro,SSos MM.

Upacara peresmian itu bersamaan dengan Hari Ke-empat bulan suci Romadhon tahun 2003. Pembangunan menara masjid ini jadi sisi proses dari perbaikan Masjid Agung Darussalam yang habiskan budget Rp 5 miliar. Pembangunan masjid serta gedung serbaguna Graha Darussalam habiskan Rp 4,3 miliar, sedang menara Rp 577 juta.

Kenakan kain sarung merah dengan pakaian koko warna cokelat muda, saat peresmian itu Bupati bersama dengan Wakil Bupati H Thohirin Bahri, BA dibarengi Pelaksana pembangunan masjid, Samirun, serta perencana pembangunan Drs Soeprihono,SH MM (Kepala Binprasda), mengevaluasi lantai satu menara yang berperan jadi tempat pekerjaan takmir masjid. Perbaikan itu diawali semenjak 1999 adalah perbaikan yang ke-7, semenjak dibuat pada tahun 1819 oleh KH Syeikh Mochammad Saleh.

Arsitektur Masjid Agung Darussalam Cilacap

Masjid Agung Darussalam ini berdiri di atas tempat seluas 3500 meter persegi dengan luas bangunan sampai 2500 meter persegi. Masjid yang masuk dalam cagar budaya itu masih menjaga empat saka guru, 12 saka rawa, serta 16 saka emper, dan balok-balok penjepit serta atap masjid yang berupa joglo.

Mustoko masjid mirip bangunan masjid Demak peninggalan Wali Songo, sedang menara seperti arsitektur masjid Nabawi di Madinah. Kemampuan masjid dapat menyimpan 3.500 jamaah atau 2x kemampuan bangunan awalnya. Menara masjid itu terdiri dari enam lantai serta satu mustaka setinggi delapan meter.

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah Kota Tanjung Balai

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah adalah satu diantara masjid peninggalan Kesultanan Asahan, berada di Jalan Masjid, Ds. Indra Sakti, Kec. Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Masjid ini dibuat seluas 1.000 meter persegi di atas tempat tanah wakaf seluas 10.000 meter persegi.

Masjid ini adalah masjid yang termasuk telah tua sebab telah berusia lebih dari 100 tahun lamanya. Pertama-tama dibuat pada tahun 1886 oleh Sultan Akhmadsyah saat kesultanan Asahan masih pada saat kejayaannya di Sumatera Utara. Pada akhirnya sampai sekarang nama masjid ini juga diadopsi dari nama pendirinya yakni Sultan Akhmadsyah.

Saksi Bisu Tragedi Pembantaian Sumatera Utara

Masjid ini nyatanya mempunyai waktu yang kelam jadi saksi bisu kejadian mengerikan yang berlangsung di Sumatera Utara. Pada bulan Maret tahun 1946, terjadi kejadian keonaran sosial yang merusak hampir keseluruhnya kesultanan di wilayah Tanjung Bali. Keonaran itu mengonsumsi beberapa ratus korban jiwa, satu diantara bukti ada di satu diantara makam masal yang berada di samping Masjid Agung Sultan Akhmadsyah, disana tercatat jika makam itu ialah makam 73 korban meninggal dalam keonaran sosial itu.

Nyatanya kejadian mengerikan itu didalangi oleh PKI yang mengatasnamakan diri jadi pembela Feodalisme. Selanjutnya barisan warga pemula dikasih senjata untuk kemudian menghajar keluarga kesultanan melayu yang ada di tanah Asahan. Tidak hanya pembunuhan berlangsung tindakan perampokan, penjarahan, penghancuran aset-aset bangunan kesultanan dan lain-lain. Pada akhirnya kesultanan melayu di tanah Asahan juga roboh karena kejadian itu.

Riwayat Pembangunan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Berdasarkan catatan riwayat, Masjid Raya Sultan Akhmadsyah ini diawali pada tahun 1884 serta memakan waktu 2 tahun sepanjang proses pembangunan sampai tahun 1886. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Sultan Ahmadsyah atau biasa diketahui dengan gelar Marhum Maharaja Indrasakti yang menyuruh Kesultanan Asahan dari tahun 1854 sampai 1888.

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah adalah masjid yang lebih tua dari dua masjid tua lain yang ada di propinsi sumatera utara, yakni Masjid Raya Al-Mahsun (1909) Kota Medan, serta Masjid Raya Sulimaniya (1894) Kabupaten Serdang Bedagai.

Masjid ini dahulunya bukan sekedar digunakan jadi tempat sholat jamaah saja, tetapi digunakan jadi tempat peningkatan diri buat warga seputar serta tempat pengaturan taktik penebaran agama islam diwilayah itu. Bangunan masjid ini dipakai jadi tempat berkumpulnya beberapa pejuang sumatera utara dalam kobarkan semangat untuk menantang beberapa penjajah.

Arsitektur Bangunan Masjid

Sedang untuk sisi Arsitekturnya, masjid ini mempunyai keunikan masjid Melayu, dimana bangunannya berupa persegi panjang, selanjutnya tepian atapnya mempunyai ciri khas bangunan melayu yakni mempunyai pahatan Puncak Rebung.

Masjid ini mempunyai kekhasan tertentu dari bagian arsitekturnya,yakni tidak mempunyai tiang penyangga apa pun di bangunannya, walau sebenarnya untuk fondasi serta bangunan masjid cuma dibikin tanpa ada semen, cuma memiliki bahan baku batu bata serta pasir saja. ini diperuntukkan untuk filosofi mulia jika Allah Tuhan Yang Maha Esa tidak memerlukan tiang penyangga untuk berdiri.

Selanjutnya kekhasan lain kelihatan pada peletakan kubahnya, dimana kubah masjid tidak diletakkan ditengahnya bangunan masjid sama dengan biasanya, tetapi ditempatkan dibagian depan bangunan masjid. Hingga bila disaksikan dari arah depan, masjid ini berkesan seperti masjid yang biasa saja, tetapi sembunyikan semua kekhasan dibelakangnya.

Masjid ini mempunyai mimbar yang unik, yakni mimbar dengan ornament China yang memang dihadirkan langsung dari negeri China, dengan hiasan pahatan kaligrafi Ciri khas Tsuluts.

Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun

Masjid Agung Baitul Hakim – Masjid Agung Baitul Hakim kota Madiun merupakan bangunan yang berada diantara masjid tua bersejarah di kota Madiun semenjak daerah kota ini masih beribukota dikabupaten Madiun, walau tentunya susah buat demua saja untuk menemukan sisi ketuaan dari bangunan masjid agung istimewa yang berdiri disamping barat alun alun Madiun ini.

Namun, jika masuk ke masjid sampai ke ruang sholat penting tempat ada mihrab serta mimbar, Anda akan menemukan ruangan utama dari masjid ini yang dinamakan ruang pokok serta merupakan bangunan asli semenjak pertama-tama masjid ini dibuat. Sesudah melalui beberapa perbaikan serta pembangunan sekarang Masjid Baitul Hakim Madiun ini tampil menarik dengan sentuhan kekinian tanpa ada mengakibatkan kerusakan bangunan aslinya yang dijaga utuh disamping barat bangunan istimewa ini.

Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun

Masjid Agung Baitul Hakim atau bisa disebut Masjid Agung Madiun merupakan masjid paling besar di Kota Madiun. Khas yang mudah dilihat adalah kombinasi warna biru pada masjidnya serta 5 kubah besar (satu ditengah-tengah yang terbesar dibagian depannya ada 3 kubah lebih kecil serta disamping selatannya ada 1 kubah ) dan terdapat menara tinggi menjulang di tiap pojok bangunan masjid dan satu menara besar yang tingginya seputar 25 meter. Berada di samping utara pintu gerbang masuk masjid.

Riwayat Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun

Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun direncanakan pembuatan pada jaman kolonial Belanda pada saat di pimpin oleh Ronggo Jumeno yakni sekitar tahun 1830 an masehi. Tetapi perbaikan masjid dengan besar tersebut diawali pada tahun 2002. Pada tahun 2011 merupakan perbaikan paling akhir untuk pengerjaan dengan meningkatkan luas serambi masjid membuat kubah serta menara sampai seperti sekarang.

Masjid Baitul Hakim dibangun dengan campuran seni arsitektur Jawa, Timur Tengah, serta Eropa. Arsitektur Jawa masih melekat yang terlihat pada bangunan penting dengan bentuk atap limasan atau joglo. Ruangan ini mempunyai pilar dengan jumlah 16 pilar yang terbuat dari kayu jati alas asli serta semua utuh.

Pilar-pilar ini memang unik, karena semua tidak tegak lurus tetapi miring sebesar 5-8 derajat. Pilar-pilar ini miring telah semenjak awal pertama-tama masjid ini dibangun. Sebaliknya bangunan barunya memakai model bangunan masjid yang modern.

Pada saat bulan Ramadhan, masjid ini seringkali digunakan untuk buka puasa, serta khotbah. Diluar itu, membuat shalat Malam berjamaah pada 10 malam paling akhir, serta dikerjakan saat malam tanggal ganjil.

Demikian ulasan tentang Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun, info lebih lanjut:

CV. SAM JAYA UTAMA RT. 05 RW 02 Desa Wonoanti Kecamatan Gandusari Trenggalek &#8211 Jawa Timur HP : 081 2222 9385 WA : 081 2222 9385 Email : [email&#160protected] Kubah Masjid Galvalum Kubah Masjid Enamel.

Gratis Konsultasi 08122229385