Category Archive Kubah Masjid

Masjid Telok Manok – Masjid Tertua di Thailand

Masjid Telok Manok di Thailand

Terdapat sebuah provinsi Narathiiwat yang terletak di dalam Negara Thailand yang biasa disebut salah satu dari empat propinsi yang ada di daerah selatan Negara Thailand, dan di daerah tersebut terdapat sebuah masjid dengan bahan baku kayu yang telah berusia lebih dari 300 tahun. Masjid tersebut bernama masjid Telok Manok atau dikenal masyarakat sekitar sebagai nama masjid Taloh Manoh, masjid Talo Mano, masjid Wadi Hussein, serta masjid Al Hussein.

Menurut sejarah yang tersebar di masyarakat sekitar, Masjid Telok Manok telah dibangun semenjak tahun 1768, dan membuat masjid ini menjadi masjid tertua di Thailand sampai sekarang ini. Nama Telok Manok ini didapat dari nama desa tempat dibuatnya masjid ini, satu desa kecil yang terdapat kira-kira 25 km dari ibukota propinsi Narathiwat.

Dan untuk nama Al Hussein diambil dari nama ulama yang sudah harum nama nya menyebarkan agama islam saat itu didaerah desa Telok Manok Malaysia. Beliau disebutkan jadi pendiri masjid dengan bahan baku kayu itu.

Riwayat Pendirian Masjid Telok Manok

Warga setempat berasumsi jika masjid ini sudah dibangun dan berdiri sejak tahun 1768 di penghujung waktu kekuasaan kesultanan Patani. Untuk mengetahui siapa yang membangun masih butuh dikaji lagi, karena sampai sekarang ini beberapa periset belum dapat memastikan siapa pendiri masjid itu. Tetapi, warga seputar meyakini jika ulama yang bernama Wan Hussein Az-Sanawi atau Al-Hussein ialah pendiri atau perenovasi masjid itu pada tahun 1960-an. Ditambah lagi, beberapa sejarawan dari sana sudah setuju jika Al-Hussein memang jadi pendiri masjid itu, disaksikan dari riwayat jika beliau sudah mempunyai andil besar dalam penyebaran agama islam dari sana.

Masjid Telok Manok

Disekitaran Masjid Telok Manok terdapat sebuah sungai dengan air yang sangat jernih serta konon dipakai jadi tempat berwudhu oleh jamaah Al Hussein pada zaman dulu. Hingga saat ini, Masjid Telok Manok masih digunakan dengan baik jadi tempat ibadah meskipun usianya sangat tua. Dan pada saat perbaikan keseluruhan masjid juga tidak dikerjakan langsung oleh masyarakat sekitar, untuk menjaga nilai sejarah yang dimiliki oleh masjid ini.

Untuk arsitektur masjid nya di kombinasi antara gaya arsitektur China, Thai, serta Melayu. Terdapat ukiran-ukiran mirip bunga pada setiap pintu-pintu kayu, jendela, ventilasi, atap, dan mimbarnya.

Akses jalan menuju ke masjid ini sangat sempit dengan jalan agak menjulang naik. Sedangkan bangunan utama masjid terbagi dalam 2 bangunan yang jadikan satu yang keseluruhannya dibuat seperti rumah panggung / rumah tradisionil tradisi melayu. Umumnya design rumah panggung itu mempunyai arah untuk menghindarkan binatang buas dan menghindarkan kebanjiran karena iklim yang lembab dari sana.

Langkah pembangunan masjid ini termasuk unik, sebab serupa dengan teknik pembangunan rumah kayu di tanah jawa dengan skema tanpa ada paku besi, cuma memakai skema interloking di antara satu kayu dengan yang lain. Beberapa hiasan ukiran ikut juga menghiasi bangunan kayu itu, dari mulai ukiran tumbuh-tumbuhan, daun, sulur sulum, ukiran bunga dan ukiran-ukiran dengan budaya China. Ukiran tersebut terdapat pada kayu interlocking di bagian bawah atap dan juga tiang penopang atap masjid.

Perbaikan yang berlangsung pada Masjid Telok Manok ini cuma pada Atapnya, yang sebelumnya menggunakan daun palm, jadi genteng bikinan lokal dalam style patani. Bentuk yang paling unik dapat dilihat dari atap masjid, sebab mempunyai 2 atap yang sama-sama bertumpang tindih, atap kecil di atas atap penting adalah cerminan dari atap penting. Pada halaman bagian atap masjid terdapat sebuah menara kecil, yang fungsinya untuk meletakkan pengeras suara saat mengumandangkan adzan.

Walau cuma memiliki bahan baku kayu, tetapi bangunan itu bisa bertahan sampai beberapa ratus tahun, serta masih mempunyai nilai riwayat serta estetika sendiri. Maka dari itu, warga tidak melakukan renovasi pembangunan secara keseluruhan untuk masjid Telok Manok di bagian tidak hanya atapnya.

Masjid Al Ikhsan – Masjid Islamic Center di Kota Bangkinang Riau

Masjid Al Ikhsan Kota Bangkinang

Warga Kota Bangkinang yang terdapat di Kabupaten Kampar, Propinsi Riau pantas berbangga dengan kedatangan Masjid Al-Ikhsan di wilayahnya. Masalahnya masjid yang terdapat di kompleks Islamic Center ini adalah simbol yang makin menguatkan citra Kampar jadi Serambi Mekah Riau.

Situasi religius benar-benar sangat kuat di kabupaten yang berjuluk Bumi Sarimadu ini. Tidak hanya sebagian besar penduduknya yang beragama Islam, simbolisasi sehari-harinya masyarakat juga memperingatkan pada situasi kota Mekah. Di kota ini, baju muslim jadi baju keseharian.

Tempati area seluas 1,5 hektar, bangunan masjid yang bergaya seni arsitektur Timur Tengah ini kelihatan begitu istimewa serta indah dari beberapa pojok. Kubahnya yang berwarna keemasan jadikan masjid ini jadi fokus perhatian.

Tempat Islamic Center di jalan raya yang menyambungkan dua propinsi, Riau serta Sumatra Barat, membuat Masjid Al-lkhsan seolah-olah jadi penyambut pendatang di Propinsi Riau.

Masjid Al Ihsan

Keunikan Kubah Masjid Al Ikhsan

Supremasi warna cokelat yang lembut di tubuh bangunan serta warna tembaga pada kubah yang berupa buah salak membuat masjid jadi begitu indah serta berkesan ramah.

Kesan-kesan ini ada dari pengaturan taman yang diperlengkapi air mancur serta gazebo di seputar masjid. Kehadiran Islamic Center serta Masjid Al-lkhsan, yang oleh beberapa warga dimaksud Markaz Islami itu memang digunakan sebagai taman kota. Keceriaan warga Bangkinang jadi panorama keseharian disana.

Masuk ruang masjid, sesudah dipanggil oleh taman yang indah, pengunjung akan melalui satu koridor panjang dengan tiang-tiang batu sebelum masuk pintu utama. Koridor ini melambangkan satu perjalanan panjang sebelum ke arah inti Illahi.

Melalui pintu utama akan kelihatan bentangan luas ruangan utama masjid. Pandangan akan langsung ke arah sisi mihrab. Mihrab terdapat dikit tambah tinggi dibanding lantai ruang serta diperlengkapi mimbar terbuka untuk tempat khatib berkhotbah.

Islamic Center Bangkinang

Sisi dalam kubah yang berbentuk ceruk besar membuat situasi dalam masjid berasa sejuk serta istimewa. Empat buah tiang penyangga yang bergaris tengah lumayan besar dengan aksen ukiran meningkatkan nuansa elegan di ruangan itu.

Keseluruhannya, keindahan serta keelokan yang dipertunjukkan, baik dibagian luar atau dalam bangunan masjid, jadikan masjid ini begitu wajar dikukuhkan jadi satu diantara tujuan wisata religi di Propinsi Riau.

Masjid Agung Al Falah – Masjid Seribu Tiang di Jambi

Masjid Agung Al Falah

Masjid Agung Al Falah merupakan masjid yang paling besar di Propinsi Jambi. Sesaat banyak masjid tampilkan keindahan lewat bentuk bangunan istimewa dengan beberapa detil ornament jadi penghias, daya tarik paling besar Masjid Agung Al Falah malah pada bagian kesederhanaannya.

Dilihat sekilas, bangunan masjid ini terlihat hanya seperti satu pendopo terbuka dengan beberapa tiang penyangga serta satuu kubah besar di atasnya. Bentuk bangunan yang terbuka tanpa adanya pembatas semacam ini membuahkan kesan-kesan ramah.

Ciri spesial dari masjid ini ialah jumlah tiang sampai 1.000 Tiang. dan sebenarnya jumlah tiangnya itu tidaklah sampai seribu buah tetapi hanya 232. Tiang, tiang ini dipakai jadi susunan konstruksi tahan terhadap gempa. Bentuk tiang juga bermacam. Seperti tiang – tiang pada umumnya berwarna putih polos.

Tetapi, ketika masuk di sisi tengah masjid kalian akan melihat barisan 40 tiang bergaris tengah semakin besar dibanding tiang dibagian luar masjid. Sisi bawah tiang ditengah-tengah ini dihiasi ornament ukiran kayu. Tiang – tiang tersebut terbuat dari tembaga kuningan yang dihadirkan dari Jepara, Jawa TengahMasjid Agung Al Falah - Masjid Seribu Tiang

Keindahan Masjid Agung Al Falah

Keindahan bagian dalam masjid semakin kelihatan dari bentuk mihrabnya yang terdapat pada dinding sisi barat yang disebut hanya satu dinding di masjid ini.Mihrab tersbut dihiasi dengan ukiran serta kaligrafi dari kuningan dan tembaga.

Disamping kanan mihrab tersebut terdapat kaligrafi yang berlafal asma Allah SWT, dan sedang di bagian kirinya terdapat kaligrafi Nabi Muhammad SAW. Diluar itu, di samping kanan dan kiri mihrab tersebut terdapat dinding yang dihiasi dengan ukiran. Dan di tengahnya terdapat beberapa nama empat khulafaurrasyidin, yaitu Abu Bakar Ash Sidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, serta Ali bin Abi Thalib.

Kubah besar yang hanya disapu dengan cat putih di luarnya, nyatanya mempunyai hal yang menakjubkan bila dilihat dari dalam. Bagian dalam kubah ini dihiasi dengan aksen hiasan geometris dengan bermacam warna, putih, hijau muda, hijau tua, merah muda, serta biru. Kubah ini makin indah adanya kaligrafi terbuat dari kaca yang tertulis beberapa nama Allah

Interior Masjid Agung Al Falah

Pemberian nama Al-Falah pada masjid ini bermakna kemenangan pada masjid yang tampilkan banyak hal – hal yang menarik dibagian dalamnya ini bukan tanpa ada fakta. “Al-Falah” secara islam dapat diartikan sebagai kehidupan manusia di dunia sebaiknya meraih kemenangan dengan mempertebal keimanan serta ketakwaan, Mengenai dari tinjauan riwayat, masjid ini terletak di Tanah Pilih Seseko Betuah, yaitu tanah punya Kerajaan Melayu Jambi pada tahun 1855 dan dikuasai oleh pemerintah Belanda (Benteng Belanda). Tetapi, karena perjuangan yang gigih, pada akhirnya tempat itu bisa dikuasai oleh pemerintah Melayu Jambi.

CV. SAM JAYA UTAMA RT. 05 RW 02 Desa Wonoanti Kecamatan Gandusari Trenggalek Jawa Timur

No HP  : 081 2222 9385

No WA : 081 2222 9385

Email   : [email protected]

Masjid Ar Raisiyah Kota Mataram Nusa Tenggara Barat

Masjid Ar Raisiyah Mataram

Masjid Ar Raisiyah Mataram – Pada tahun 1400M, Desa Sekarbela, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, terdapat sebuah kerajaan yang berkuasa yaitu kerajaan Hindu, yang disebut cabang dari kerajaan Karang Agung Bali, dengan rajanya bernama Anak Agung. Pada saat pertengahan kekuasaan Anak Agung hadir seseorang penebar agama Islam, seseorang waliyullah ke Sekarbela.

Siapa nama penebar Islam itu, warga Sekarbela belum kenal namanya dengan jelas. Tapi, mereka cuma menyebutkan dengan panggilan Tuan Guru Sekarbela, dibanding kenal nama aslinya. Jadi satu warga yang dikuasai Kerajaan Hindu, Tuan Guru sering tertarik untuk selalu sebarkan agama Islam. Ditambah lagi waktu itu Tuan Guru mengerti benar jika disana mulai tumbuh penganut Islam.

Dengan penuh kepercayaan, Tuan Guru mulai mendatangi beberapa masyarakat pinggir serta nyatanya mendapatkan sambutan baik. Sebab kearifan serta takzimnya, dia juga disukai pengikut-pengikutnya. Karenanya, jamaahnya tidak saja ada di Sekarbela, tetapi ada di tetangga desa yang tidak jauh dari Sekarbela. Seperti Sesela, Pagutan, serta beberapa tempat di daerah Lombok.

Masjid Ar Raisiyah Lombok Barat

Awal Masuk Agama Islam di Kota Mataram

Lihat semakin hari berasa semakin bertambah saja pemeluk agama Islam, Tuan Guru terpanggil hatinya untuk membangun satu masjid kecil yang atapnya terbuat dari alang-alang dengan empat buah tiang. Letak masjid tidak di desa Sekarbela, tapi di desa Pagutan.

Saat beberapa pemeluk Islam rasakan begitu senangnya mempunyai satu masjid, mereka juga punya niat untuk bikin acara syukuran. Mereka setuju untuk mengundang Tuan Guru, jadi orang yang mempunyai ide membangun masjid. Untuk pastikan apa Tuan Guru ingin ada dalam acara itu karena itu diutuslah seorang untuk menjemputnya.

Saat si penjemput masih ditengah-tengah jalan, dia lihat Tuan Guru ada di tengahnya grup orang yang sedang membuat Gocekan (sabung ayam). Lihat insiden yang sangat aneh ini, si penjemput langsung kembali pada Pagutan. Tapi, yang diadukan lalu memang cukup lain hingga muncul intrik serta fitnah mengenai Tuan Guru.

Sebab jumlahnya keanehan yang didengar oleh Raja Anak Agung, ia begitu cemas bahkan juga takut untuk berkompetisi. Karena itu, raja mengutus kaki tangannya untuk membunuh Tuan Guru Sekarbela. Atas panduan seorang yang tidak simpati, Tuan Guru bisa diamankan serta dibawa ke satu tempat bernama Padadang Reak, Kuranji. Disini Tuan Guru pada akhirnya dibunuh oleh kaki tangan Raja Anak Agung.

Dengan terbunuhnya Tuan Guru, beberapa pengikutnya menuntut pertanggungjawaban dari Anak Agung, yang pada akhirnya mendapatkan perlawanan dari pihak tentara Kerajaan Anak Agung, yang menyebabkan dibakarnya masjid itu. Serta, meletuslah konflik serta peperangan yang banyak mengonsumsi korban. Peperangan itu diketahui dengan panggilan Perang Congah.

Lihat masjid hanya satu telah dibumi hanguskan oleh prajurit Anak Agung, seseorang tokoh warga yang sangat disegani, Tuan Guru H. Mohammad Toha, terketuk hatinya untuk membuat kembali masjid yang dibakar itu.

Namun, jumlahnya pemeluk agama Islam tiap tahunnya bertambah karena itu bangunan masjid tidak dapat menyimpan jamaah. Lihat kenyataan itu karena itu Tuan Guru H. Mohammad Rais pelanjut kepemimpinan H. Mohammad Toha mengusulkan untuk memperluas bangunan masjid.

Jadi tokoh warga serta tokoh Islam, ditambah lagi ilmunya tinggi, ia begitu disegani warga Lombok. Atas ide H. Mohammad Rais yang lahir tahun 1867 masjid itu sukses diperbaiki. Seperginya H. Mohammad Rais, kepengurusan masjid dipegang oleh warga, yakni penghulu Haji Idhar.

Lihat layanan Tuan Guru Mohammad Rais untuk melestarikan namanya, warga merubah nama masjid itu jadi Masjid ar- Raisiyah, yang diambil dari induk kata Rais.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin Kota Banjarmasin

Masjid Raya Kota Banjarmasin – Berdiri begitu istimewa dengan menara yang menjulang tinggi pas berada di jantung kota, Masjid Raya Sabilal Muhtadin merupakan masjid salah satu diantara landmark kota Banjarmasin. Masjid ini dijadikan sebagai fasilitas peribadahan serta pusat syiar Islam disana.

Masjid ini merupakan nama penghormatan pada ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary (alm) itu dibuat diatas tanah luas sisa asrama tentara Tatas.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin

Keunikan Masjid Raya Sabilal Muhtadin

Pada masa kolonialisme Belanda, tempat ini diketahui dengan Fort Tatas atau Benteng Tatas. Keseluruhan bentuk masjid ini termasuk unik dengan peletakan kubah yang berupa bundar pipih diatas bangunan berupa geometris kotak persegi panjang. Di sekitar bangunan ada sebuah menara kecil yang terdapat empat menara, masing-masing tinggi 21 meter serta satu menara utama setinggi 45 meter.

Style arsitektur Timur Tengah yang dirawat masjid ini kelihatan dari komponen hias kaligrafi yang diukir pada bahan tembaga berwarna gelap tertulis ayat-ayat Al-Quran serta Asma’ul Husna yang ditulis didalam style Naski, Diwani, Riqah, Tsulus, serta Kufik, semakin meningkat nilai estetis untuk tingkatkan pujian pada Yang Maha Kuasa.

Selain itu, motif ciri khas Kalimantan yang berupa tumbuh &#8211 tumbuhan dipakai. Tidak hanya memberi kesan-kesan hidup serta dinamis, motif ini ditujukan untuk menghindarkan relief jadi gambar pemujaan seperti yang banyak berlangsung pada motif bergambar manusia serta hewan.

Kemegahan Kubah Masjid Raya Sabilal Muhtadin

Untuk pemakaian kubah besar, tiang- tiang kuat, dan dinding tebal serta padat di masjid sering memberi nuansa yang berat dan kadang merasa mendesak. Maka dari itu diberi keseimbangan berbentuk bentuk kerawang pada pintu-pintu serta dinding. Bentuk kerawang ini memberi situasi yang diakibatkan dari karakter tembus pandangnya.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Pemakaian komponen digunakan untuk memunculkan rasa mudah untuk kelihatan lampu hias yang ada dibagian dalam ruangan utama. Lampu hias ini terbagi dalam 17 buah unit gantungan serta beberapa ribu bola kaca yang tersusun dalam lingkaran bergaris tengah 9 meter.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin memang diberikan untuk pusat pekerjaan sosial serta keagamaan warga Banjarmasin. Tidak bingung jika di kompleks masjid itu pun ada Taman Maskot serta Siring Sungai Martapura yang merupakan tempat wisata.

Masjid diperlengkapi dengan fasilitas pendidikan Sekolah Islam Sab’a Muhtadin yang diinginkan akan mencetak generasi penerus bangsa Sanz pintar serta masih dalam koridor religiusitas.

Demikian ulasan tentang Masjid  Raya Sabilal Muhtadin, info lebih lanjut:

CV. SAM JAYA UTAMA RT. 05 RW 02 Desa Wonoanti Kecamatan Gandusari Trenggalek &#8211 Jawa Timur HP : 081 2222 9385 WA : 081 2222 9385 Email : [email&#160protected] Kubah Masjid Galvalum Kubah Masjid Enamel.

Masjid Agung Palembang – Darussalam

Sejarah Berdirinya Masjid Agung Palembang

Masjid Agung pada awalnya dimaksud Masjid Sultan. pertama pada tahun 1738, serta pengesahnnya di hari Senen tanggal 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748. Masjid Agung dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin yang diketahui dibangun dengan Jayo Wikramo (tahun 1724-1758).

Masjid Agung Palembang ini peninggalan dari Kesultanan Palembang Darussalam, serta jadi satu diantara masjid paling tua di Kota Palembang. Masjid ini ada di utara Istana Kesultanan Palembang, di belakang Benteng Kuto Besak yang bersebelahan dengan saluran sungai Musi.

Dengan ada di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, pas di pertemuan Jalan Merdeka serta Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. Masjid Agung Palembang mulai dibuat pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Pembangunan berjalan sepanjang 10 tahun serta sah dipakai jadi tempat peribadatan kaum muslim Palembang pada tanggal 28 Jumadil Awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M.

Masjid Agung 1753 awalannya masjid ini bernama Masjid Sultan, dan belum mempunyai menara. Bentuk masjid hampir mempunyai ukuran 30 x 36 meter. Dengan luas sampai 1080 meter persegi. dahulu, Masjid Sultan adalah masjid paling besar di nusantara yang dapat menyimpan 1200 jama’ah.

Sejarah Berdirinya Masjid Agung Palembang

Arsitektur Masjid Agung Palembang

Masjid Sultan direncanakan oleh seseorang arsitek dari Eropa. Ide bangunan masjid ini menggunakan gabungan dengan arsitektur Nusantara, Eropa serta Cina. model ciri khas arsitektur Nusantara ialah skema susunan bangunan penting berundak tiga dengan puncaknya berupa limas. bagian ke-3 sebagai pucuk masjid atau mustaka mempunyai tahap berukiran bunga tropis. Di bagian ujung mustaka ada mustika berpola bunga mekar. Bentuk setiap bangunan masjid dikuasai bangunan basic candi Hindu-Jawa, yang lalu diserap Masjid Agung Demak.

Atap masjid berbentuk limas, terbagi dalam tiga tingkat. Di bagian atas bagian limas atap ada jurai daun simbar mirip tanduk kambing yang melengkung. Tiap bagian limas mempunyai 13 jurai. Bentuk jurai melengkung serta lancip. bentuk ini adalah bentuk atap kelenteng Cina. Keunikan arsitektur Eropa ada pada jendela masjid yang besar serta tinggi. Pilar masjid memiliki ukuran yang besar dan memberikan kesan-kesan kuat. Material bangunan seperti marmer dan kaca di import langsung dari Eropa.

Pembangunan Menara Masjid

Pada saat pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin menara masjid dibuat pada tahun 1758–1774. Tempat menara masjid ini terpisah dari bangunan penting, serta ada dibagian barat. menara masjid berbentuk sisi enam setinggi 20 mtr. model menara masjid ini mirip menara kelenteng. Bentuk atap menara melengkung di bagian ujungnya, dan beratap genteng. Menara masjid mempunyai teras berpagar yang melingkari bangunan menara.

Pemugaran serta Perbaikan Masjid Agung Palembang

ada tahun 1819 serta 1821 dikerjakan pemugaran masjid karena peperangan besar yang berjalan sepanjang lima hari beruntun. Perbaikan masjid dikerjakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Atap genteng menara masjid diganti atap sirap. Tinggi menara ditambah lagi adanya teras melingkar.

Umur Masjid Sultan, yaitu pada tahun 1848, dikerjakan pelebaran bangunan oleh pemerintah Hindia Belanda. model tradisional Gerbang Penting masjid dirubah jadi Doric model. Pada tahun 1879, Gerbang Penting masjid diperluas dengan penambahan tiang beton bundar. warna Gerbang Penting mirip pendopo, tetapi bergaya kolonial.

Masjid Agung Palembang

Pelebaran pertama Masjid Sultan dikerjakan pada tahun 1897. Tempat yang jadikan area lokasi masjid adalah wakaf. Lalu nama Masjid Sultan diganti menjadi Masjid Agung.

Perbaikan serta pelebaran masjid dikerjakan kembali pada tahun 1893. Pada tahun 1916 bangunan menara masjid disempurnakan. Lalu pada tahun 1930, dikerjakan pergantian pilar masjid. Yaitu meningkatkan jarak pilar dengan atap menjadi 4 meter.

Pada kurun tahun 1966-1969 dibuat lantai ke-2. Luas mesjid jadi 5.520 meter persegi dengan daya tampung 7.750 jama’ah. Pada tanggal 22 Januari 1970 diawali pembangunan menara baru yang disponsori oleh Pertamina. Menara baru ini setinggi 45 meter, mengikuti menara asli bergaya Cina.

Perbaikan Masjid Agung diresmikan pada tanggal 1 Februari 1971. Semenjak tahun 2000, Masjid Agung dikerjakan perbaikan kembali, serta usai pada tanggal 16 Juni 2003 bersamaan dengan peresmiannya oleh Presiden RI Hj. Megawati Soekarno Putri. Masjid Agung Palembang yang istimewa serta berdiri kuat sekarang dapat menyimpan 9000 jama’ah.

CV. SAM JAYA UTAMA RT. 05 RW 02 Desa Wonoanti Kecamatan Gandusari Trenggalek-Jawa Timur

HP : 081 2222 9385

WA : 081 2222 9385

Email :[email protected]

Masjid Al Falah Tanjung Batu – Sumatera Selatan

Masjid Al Falah Tanjung Batu

Masjid Al-Falah ialah masjid bersejarah yang terdapat di tengah- tengah desa. Masjid ini jadi kebanggaan warga ditempat, sekaligus juga deskripsi ceramah Islam tempo dahulu di Desa Tanjung Batu. Pendirian masjid ini konon memiliki kandungan riwayat tertentu buat masuk serta mengembangnya Islam di sini.

Satu keyakinan yang masih terpatri di warga Tanjung Batu jika bangunan suci ini dibuat oleh seseorang ulama serta pakar pahat dan ukir dari tanah Jawa bernama Abdul Hamid yang dahulunya kerja di Kasultanan Palembang Darussalam.

Tentang berdirinya masjid ini, dengan tentu tidak seseorang juga pemuka agama serta tokoh warga Tanjung Batu tahu sebab bukti tidak ada. Tetapi, berita yang tersebar disana, masjid ini dibuat pada jaman Kasultanan Palembang, seputar beberapa ratus tahun kemarin.

Ceritanya, satu hari Abdul Hamid yang kaya dengan corak seni serta imajinasi diperintah oleh sultan untuk melukis permaisurinya. Pekerjaan itu ditangani oleh Abdul Hamid sampai larut malam. Sebab capek, dia juga mengantuk. Ditengah-tengah kantuk itu tanpa ada menyengaja tinta di kuas nya menetes di lukisan yang hampir usai itu dekat di kemaluan permaisuri. Saat lihat tetesan itu sultan murka. Sultan menduga Abdul Hamid melakukan perbuatan pantas pada permaisurinya sebab permaisur memiliki tahi lalat dalam tempat jatuhnya tinta itu.

Sultan memerintah Abdul Hamid agar dibunuh. Namun, gagasan itu didapati Abdul Hamid. Pada akhirnya, dia keluar dari Kasultanan Palembang. Dengan telusuri sungai, sampailah Abdul Hamid dalam suatu desa yang lalu lebih diketahui dengan sebutan Desa Tanjung Batu.

Masjid Al Falah Tanjung Batu

Pemugaran Masjid Al Falah

Abdul Hamid yang beragama Islam diterima hangat oleh warga ditempat sebab saat itu warga Desa Tanjung Batu sudah beragama Islam. Dia mulai meningkatkan kepiawaiannya mengukir dar memahat sekalian berdakwah. Dia lalu membuat satu masjid yang indah untuk mengganti masjid awalnya yang sudah ada. tetapi kecil serta kurang baik.

Cerita yang sampai sekarang ini dilegendakan orang, contohnya umang sugu kayu nya yang tidak pernah putus berpuluh meter waktu ia membuat masjid sebab awal pembangunannya bahan bangunan masjid ini memakai kayu. Abdul Hamid diketahui jadi figur yang hebat, banyak keahliannya serta pengetahuan agamanya.

Sikap yang ramah serta pintar memberi saran dan khotbah pada warga, membuat dia di cintai serta jadikan contoh masyarakat. Sebab kecakapannya itu, dia juga mengajar agama pada warga ditempat, termasuk juga pengetahuan pertukangan serta ukir mengukir emas

Sampai saat ini warga disana populer jadi pakar tukan serta pakar emas. Dari profesi berikut warga Tanjung Batu menggantungkan hidupnya. Serta, karena kepiawaiannya itu mereka jadi populer di semua Sumatera Selatan. Tidak kecuali kemasyhurannya ini sampai juga ke telinga Sultan Palembang.

Karena sudah salah memandang Abdul Hamid, ditambah lagi kepiawaiannya masih dibutuhkan karena itu sultan memerintah Abdul Hamid agar bisa dibawa kembali pada Kasultanan Palembang. Untuk membuktikan keabsahan berita itu, Kasultanan Palembang pesan satu pintu ukiran pada Abdul Hamid.

Ternyata pesanan itu bisa dituntaskan Abdul Hamid persis sesuai dengan kehendak sultan, hingga sultan betul-betul yakin dengar berita itu. Konon pintu pesanan itu sampai saat ini jadi satu diantara pintu diantara pintu-pintu yang menghiasi Masjid Agung Palembang. Tetapi, sayang yang mana pintu bikinan Abdul Hamid itu, tidak di- tahu dengan tentu sebab rupa serta memiliki bentuk sama juga dengan pintu-pintu yang lain.

Pada akhirnya, sultan kirim utusan untuk ajak kembali Abdul Hamid ke Kasultanan Palembang sebab sultan sendiri akhirnya sudah tahu duduk masalah sebenarnya tentang lukisan permaisuri dahulu.

Tapi, sebab Abdul Hamid sudah rasakan memiliki ikatan emosional dengan warga Tanjung Batu karena itu dia masih dengan pendiriannya tidak untuk ingin tinggalkan Desa Tanjung Batu. Ulama besar ini akhirnya meninggal dunia di Tanjung Batu OKI (Ogan Komering Ilir). Dia dihormati orang dengan panggilan Kedaluwarsa Sungging. Makamnya terdapat di seberang desa serta dikeramatkan orang.

Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin – Lampung Barat

Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin

Bangunan masjid tidak cuma difungiskan menjadi tempat melaksanakan ibadah kaum muslim saja. Namun menjadi satu simbol sendiri untuk kota itu. Beberapa bangunan masjid memiliki keunikan masing-masing supaya berkesan berlainan serta mempunyai daya tarik yang berbeda.

Salah satu bangunan masjid yang menarik buat siapa saja memandangnya ialah bangunan masjid yang ada di Lampung Barat. Bangunan masjid itu memiiliki nama masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin. Tetapi warga sekitar umumnya menyebutkan masjid itu dengan nama masjid Bintang Emas. Nama masjid ini lebih populer dibandingkan nama resminya yakni masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin.

Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin berdiri disebuah lokasi yang cukup strategis persisnya ada di Sekuting Terintegrasi, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Masjid ini jadi satu simbol dari Kabupaten Lampung Barat. Tidak cuma dipakai jadi tempat melaksanakan ibadah, berdakwah, pengajian dan kegiatan keagamaan yang lain, masjid itu jadi satu obyek wisata religi khususnya saat sore hari. Karena itu tidak bingung pada saat itu, tidak cuma jamaah saja yang penuhi masjid Islamic Center Baitu Mukhlisin dan juga beberapa warga menyengaja hadir berkunjung ke masjid itu untuk nikmati keindahan masjid serta situasi yang begitu menyenangkan.

Islamic Center Baitul Mukhlisin ialah satu Islamic Center sebagai kebanggaan buat masyarakat Kabupaten Lampung Barat. Bangunan itu terliht sangat istimewa karena adanya gabungan arsitektur Lampung dan arsitektur Arab. Masjid ini berdiri diatas tempat seluas 13.5 hektar. Sedangkan luas dari bangunan masjidnya sendiri yakni 4000 meter persegi. Untuk membangun satu masjid yang sedemikian istimewa, dana yang diperlukan untuk membangun masjid ini yakni sebesar Rp.43 milyar dana itu datang dari APBD tahun 2009-2010. Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin bisa menyimpan jamaah sampai sejumlah 7200 jamaah dengan sekaligus juga.

Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin

Peresmian Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin

Sesudah selesai dibuat karena itu masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin lalu diresmikan oleh Gubernur Lampung yang saat itu menjabat ialah Sjacroedin A.P dan bersama dengan Bupati Lampung Barat yang menjabat waktu itu ialah Mukhlis Basri. Peresmian masjid ini dilaksanakan di hari Jum’at tanggal 7 Mei 2010 tahun kemarin. Sesudah usai diresmikan, kegitan para jama’ah yang pertama kali yaitu sholat jum’at. Beberapa jamaah juga penuhi masjid istimewa itu yang terdoro dari beberapa jabatan, pangkat, tokoh warga, beberapa ulama dan warga seputar yang begitu ketertarikan adanya satu bangunan masjid di Lampung Barat.

Lalu pada esok harinya diteruskan dengan Pembukaan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke 38 dalam Tingkat Propinsi Lampung. Pekerjaan itu dibarengi oleh 14 kabupaten se Lampung. Saat itu nyatanya dalam peresmian masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin baru usai 90%. Tetapi keelokan masjid itu terasa sangat dalam nuansa hiasan serta ornament masjid yang begitu mempesona dan indah.

Yang menarik ialah warga sekitar mengatakan dengan Masjid Bintang Emas sebab bila dilihat denah kubah masjid itu dari atas akan berupa seperti bintang yang diwarnai dengan warna emas. Ditambah lagi adanya ornament bulan bintang di bagian ujung kubah masjid itu yang dilapis dengan emas. Diluar itu, berbentuk atap masjid sangat unik sebab mengambil dari ciri rumah tradisi Lampung. Disaat anda masuk keruangan penting masjid akan berasa lebih istimewa sebab memang ruangan itu kelihatan begitu istimewa serta sisi atap masjid yang tinggi sekali. Yang paling utama yakni susunan bangunan masjid ini merujuk pada ide bangunan tahan gempa yang begitu memperhitungkan dalam style lateral serta vertikal beban.

.

Masjid Agung Al Barkah – Kota Bekasi

Masjid Agung Al Barkah – Kota Bekasi yang disebut satu diantara kota terpadat serta cukuplah repot mempunyai berbagai bangunan yang populer. Satu dari bangunan di kota Bekasi ialah satu tempat beribadah buat kaum muslim dari sana. Masjid itu bernama masjid Agung Al-Barkah. Masjid ini menjadi satu diantara masjid paling tua di antara beberapa masjid yang lain yang berada di Indonesia. Persisnya berada di Jalan Veteran Lokasi Alun-Alun Pusat Pemerintahan Kota Bekasi Jawa Barat. Tempat masjid ini begitu strategis pas ada di lokasi alun-alun dan bersebrangan dengan Rumah Sakit Wilayah Kota Bekasi.

Masjid Agung Al-Barkah sudah alami beberpa kali perbaikan. Diantaranya pada tahun 1998 sebab saat itu masjid itu jadi tuan-rumah untuk acara MTQ Jawa Barat. Seterusnya perbaikan kembali dikerjakan pada tahun 2002. Lalu pada tahun 2004 sampai 2008 perbaikan keseluruhan dikerjakan dengan membuahkan satu bangunan masjid yang istimewa serta elegan.

Masjid Al Barkah

Riwayat Bangunan Masjid Agung Al Barkah

Semula pembangunan masjid ini pada tahun 1980 oleh H. Abdul Hamid yang disebut seseorang Penghulu Lanraad. Bangunan Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf seluas 3000 meter persegi yang datang dari Haji Barun. Pada awalnya masjid itu dibuat tidak kelihatan seperti bangunan masjid yang istimewa serta elegan seperti sekarang ini.

Lalu pada tahun 1967 Bupati Bekasi yang saat itu ialah Subandi lakukan rehab pada masjid Agung Al Barkah. Pembangunan juga menyertakan masyarakat Bekasi dan bekerja bersama serta bergotong royong. Seterusnya pada tahun 1985 dikerjakan kembali pembangunan oleh Bupati Bekasi yang saat itu ialah H. Abdul Fatah. Sesudah selesai, masjid Tersebut  diputuskan jadi masjid Agung yang ada di Kota Bekasi.

Sebab di tentukan jadi masjid Agung, karena itu tidak bingung Pemerintah Wilayah Kabupaten Bekasi ikut juga serta terlibat dalam pembangunannya. Saat pembangunan di tahun 1985 dana yang dihabiskan ialah sebesar Rp. 225 juta. Lalu dikerjakan kembali pembangunan oleh Muh Djamhari pada tahun 1997 yang saat itu menjabat jadi Bupati Kota Bekasi habiskan biaya sebesar Rp. 100 juta. Paling akhir pembangunan masjid dengan besar-besaran dikerjakan. Diluar itu pengaturan lagi dari tata ruangan alun-alun, jalan dan sarana yang lain yang ada makin membuat kota Bekasi saat itu begitu repot.

Pada akhirnya sebab sudah dikerjakan perbaikan besar-besaran dengan keseluruhan, sekarang bangunan masjid Agung Al-Barkah kelihatan lebih modern namun mempunyai keunikan dari arsitektur Timur Tengah. Tidak cuma digunakan jadi tempat melaksanakan ibadah kaum muslim, Masjid Agung ini digunakan jadi ruang publik dimana beberapa jamaah serta pengunjung bisa melaksanakan ibadah dan nikmati keindahan pesona taman kota yang ada dekat sama masjid.

Interior Masjid Al Barkah

Keelokan serta kemewahan masjid Agung Al-Barkah kelihatan dari arsitektur Timur Tengah yang menarik. Komplet dengan kubah besarnya berwarna warni yang berdiameter 18 meter dan menara masjid lengkapi keindahan masjid itu. Ada delapan daun pintu yang terbuat dari kayu jati datang dari Jepara. Di bagian tiang-tiang masjid dilapis memakai kayu supaya berkesan membuat situasi hangat yang di inspirasi dari masjid Agung Demak. Di bagian interior masjid ini juga tidak kalah istimewa sebab dihias dengan beberapa ornament dan kaligrafi yang begitu indah. Lantai masjid tertutupi memakai karpet berwarna hijau ditambah lagi lampu hias yang memiliki ukuran besar di tengahnya ruang masjid. Pada masjid itu ada kaca mozaik hiasi fasad depan masjid Agung ini. Itu selintas arsitektur yang dipunyai oleh masjid kebanggan masyarakat kota Bekasi.

Masjid Shirotal Mustaqim – Masjid Tertua di Samarinda

Masjid Shirotal Mustaqim – berdiri disebuah kampung yang dimaksud “Kampung Masjid”, ini mengacu pada masjid yang sudah berdiri di Kota Samarinda semenjak era ke-19 yang lalu. Masjid ini adalah masjid paling tua di lokasi kota Samarinda serta dibuat persisnya pada tahun 1881 dengan panggilan “Masjid Jami’. Pada tahun 1960.

Bangunan masjid ini berkolasi di Jalan Pangeran Bendahara, Kampung Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Propinsi Kalimantan Timur. Untuk sampai tempat ini dari pusat kota samarinda, anda harus seberangi Sungai Mahakam terlebih dulu, sebab terletak di seberang sungai.

Masjid Shiratal Mustaqim

Sejarah Masjid Shirotal Mustaqim

Pada jaman dulu kota Samarinda dipercayai dibuat oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa sesudah ditaklukkan oleh Penjajah Belanda pada era ke-16. Pasukan dari Kerajaan Gowa yang selamat, pindah ke wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutai saat itu. kehadiran pengungsi itu diterima secara baik oleh Raja Kutai, lalu Sang Raja memberi satu wilayah pemukiman di seputar daerah kampung melantai, yakni satu wilayah di dataran rendah yang bisa dipakai untuk Pertanian, Perdagangan, ataupun Perikanan sebab begitu dekat sama saluran Sungai Mahakam.

Tetapi, pemberian itu tidak dengan Cuma-Cuma, sebab pejuang Bugis harus menolong semua kebutuhan Raja Kutai bila memang diperlukan untuk melawan musuh yang hadir, termasuk juga penjajah Belanda. Seiring berjalannya waktu, dari tahun 1668 mereka tinggal sampai beberapa era, wilayah pemukiman pengungsian itu lebih diketahui dengan panggilan “Samarinda” yang bermakna Sama = Sama serta Rinda = Rendah, atau “Sama Rendah”. Seharusnya, hak serta keharusan ditanah itu tidak di beda-bedakan.

Cerita awal pembangunan masjid Shiratal Mustaqim diawali pada tahun 1880, saat lokasi pemukiman Bugis telah diketahui oleh Samarinda. Seseorang pedagang muslim yang datang dari Pontianak, Kalimantan Barat, bernama Said Abdurrahman bin Assegaf hadir ke Kerajaan Kutai untuk berdagang serta minta izin untuk sebarkan agama islam di wilayah Samarinda. Lihat ketekunan serta keramahan dan kejujuran yang dibawa oleh Said Abdurrahman, pada akhirnya Raja Kutai mengijinkan untuk sebarkan agama Islam didaerah itu, mengingat sehari-harinya penduduknya dipenuhi oleh beberapa hal yang sangat tidak bermanfaat, yakni berjudi serta sabung ayam.

Pada akhirnya Said Abdurrahman mempunyai kemauan kuat untuk mengubah semua hal hal jelek yang dikerjakan di kampung itu dengan membuat satu bangunan masjid dipusat pekerjaan judi serta sabung ayam itu. Yang lebih parahnya, saat itu beberapa orang Samarinda adalah penyembah berhala / patung.

Interior Masjid Shiratal Mustaqim

Pada akhirnya, pembangunan masjid Shiratal Mustaqim diawali pada sekitar tahun 1881 Masehi, dengan perancangan masjid serupa dengan masjid Jawa yakni mempunyai 4 soko guru. 4 soko guru itu mempunyai riwayat tertentu, yakni dihadirkan dari 4 tempat yang berlainan, yakni Loa Haur (Gunung Lipan), Gunung Donang Samboja, Gunung Salo Tireng, serta Sungai Karang.

Pembangunan masjid ini termasuk cukup lama karena memerlukan waktu sampai 10 tahun. Usai diresmikan pada tahun 1891 oleh Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman yang sekaligus juga yang menjadi imam sholat pertama di Masjid Shirothal Mustaqim.

Lokasi yang sebelumnya cuma dipenuhi oleh pekerjaan judi serta sabung ayam dan penyembahan berhala itu pada akhirnya dapat jadi ruang yang religius, penuh dengan kedamaian Islam. Hal ini adalah salah satu hasil cemerlang yang sudah dicapai Said Abdurrahman jadi tokoh penebar Islam di wilayah Samarinda.

Gratis Konsultasi 08122229385