Category Archive Kubah Masjid

Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin – Lampung Barat

Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin

Kehadiran satu bangunan masjid tidak cuma difungiskan jadi tempat melaksanakan ibadah kaum muslim saja. Tetapi jadi satu simbol sendiri buat kota itu. Beberapa bangunan masjid mempunyai keunikan semasing supaya berkesan berlainan serta mempunyai daya tarik semasing. Satu diantara bangunan masjid yang menarik buat siapa saja memandangnya ialah bangunan masjid yang ada di Lampung Barat. Bangunan masjid itu bernama masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin. Tetapi umumnya warga seputar menyebutkan masjid itu dengan nama masjid Bintang Emas. Namanya lebih populer dibanding nama resminya yakni masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin.

Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin berdiri disebuah lokasi yang cukup strategis persisnya ada di Sekuting Terintegrasi, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Masjid ini jadi satu simbol dari Kabupaten Lampung Barat. Tidak cuma dipakai jadi tempat melaksanakan ibadah, berdakwah, pengajian dan kegiatan keagamaan yang lain, masjid itu jadi satu obyek wisata religi khususnya saat sore hari. Karena itu tidak bingung pada saat itu, tidak cuma jamaah saja yang penuhi masjid Islamic Center Baitu Mukhlisin dan juga beberapa warga menyengaja hadir berkunjung ke masjid itu untuk nikmati keindahan masjid serta situasi yang begitu menyenangkan.

Islamic Center Baitul Mukhlisin ialah satu Islamic Center sebagai kebanggaan buat masyarakat Kabupaten Lampung Barat. Bangunan itu terliht demikian istimewa dengan gabungan arsitektur Lampung dan arsitektur Arab. Bangunan masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin berdiri diatas tempat seluas 13.5 hektar. Sedang luas dari bangunan masjidnya sendiri yakni 4000 meter persegi. Untuk membuat satu masjid yang demikian istimewa, dana yang diperlukan yakni sebesar Rp. 33 miliar yang datang dari dana APBD tahun 2009-2010. Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin bisa menyimpan jamaah sampai sejumlah 7200 jamaah dengan sekaligus juga.

Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin

Peresmian Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin

Sesudah selesai dibuat karena itu masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin lalu diresmikan oleh Gubernur Lampung yang saat itu menjabat ialah Sjacroedin A.P dan bersama dengan Bupati Lampung Barat yang menjabat waktu itu ialah Mukhlis Basri. Peresmian masjid itu persisnya dilaksanakan di hari Jum’at tanggal 7 Mei 2010 tahun kemarin. Sesudah usai diresmikan, kegitan pertama-tama yang dikerjakan di Masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin ialah melakukan beribadah shalat Jum’at berjamaah. Beberapa jamaah juga penuhi masjid istimewa itu yang terdoro dari beberapa jabatan, pangkat, tokoh warga, beberapa ulama dan warga seputar yang begitu ketertarikan adanya satu bangunan masjid di Lampung Barat.

Lalu pada esok harinya diteruskan dengan Pembukaan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke 38 dalam Tingkat Propinsi Lampung. Pekerjaan itu dibarengi oleh 14 kabupaten se Lampung. Saat itu nyatanya dalam peresmian masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin baru usai 90%. Tetapi keelokan masjid itu terasa sangat dalam nuansa hiasan serta beberapa ornament masjid yang begitu memesona.

Yang menarik ialah warga sekitar mengatakan dengan Masjid Bintang Emas sebab bila dilihat denah kubah masjid itu dari atas akan berupa seperti bintang yang diwarnai dengan warna emas. Ditambah lagi terdapatnya ornament bulan bintang di bagian ujung kubah masjid itu dilapis oleh emas. Diluar itu, bentuk atap masjid sangat unik sebab mengambil dari ciri rumah tradisi Lampung. Saat masuk ruangan penting masjid akan berasa lebih istimewa sebab memang ruang itu kelihatan begitu istimewa serta sisi atap masjid yang tinggi sekali. Yang paling utama yakni susunan bangunan masjid Islamic Center Baitul Mukhlisin merujuk pada ide bangunan tahan gempa yang begitu memperhitungkan dalam style lateral serta vertikal beban. Hingga masjid itu begitu kuat.

Masjid Agung Al Barkah – Kota Bekasi

Masjid Agung Al Barkah

Kota Bekasi yang disebut satu diantara kota terpadat serta cukuplah repot mempunyai berbagai bangunan yang populer. Satu dari bangunan di kota Bekasi ialah satu tempat beribadah buat kaum muslim dari sana. Masjid itu bernama masjid Agung Al-Barkah. Masjid Agung Al-Barkah jadi satu diantara masjid paling tua di antara beberapa masjid yang lain yang berada di Indonesia. Persisnya masjid Agung Al-Barkah ada di Jalan Veteran Lokasi Alun-Alun Pusat Pemerintahan Kota Bekasi Jawa Barat. Tempat masjid ini begitu strategis pas ada di lokasi alun-alun dan bersebrangan dengan Rumah Sakit Wilayah Kota Bekasi.

Masjid Agung Al-Barkah sudah alami beberpa kali perbaikan. Diantaranya pada tahun 1998 sebab saat itu masjid itu jadi tuan-rumah untuk acara MTQ Jawa Barat. Seterusnya perbaikan kembali dikerjakan pada tahun 2002. Lalu pada tahun 2004 sampai 2008 perbaikan keseluruhan dikerjakan dengan membuahkan satu bangunan masjid yang istimewa serta elegan.

Masjid Al Barkah

Riwayat Bangunan Masjid Agung Al Barkah

Semula pembangunan masjid ini pada tahun 1980 oleh H. Abdul Hamid yang disebut seseorang Penghulu Lanraad. Bangunan Masjid Agung Al-Barkah berdiri di atas tanah wakaf seluas 3000 meter persegi yang datang dari Haji Barun. Pada awalnya masjid itu dibuat tidak kelihatan seperti bangunan masjid yang istimewa serta elegan seperti sekarang ini.

Lalu pada tahun 1967 Bupati Bekasi yang saat itu ialah Subandi lakukan rehab pada masjid Agung Al-Barkah. Pembangunan juga menyertakan masyarakat Bekasi dan bekerja bersama serta bergotong royong. Seterusnya pada tahun 1985 dikerjakan kembali pembangunan oleh Bupati Bekasi yang saat itu ialah H. Abdul Fatah. Sesudah selesai, masjid Agung Al-Bakah diputuskan jadi masjid Agung yang ada di Kota Bekasi.

Sebab di tentukan jadi masjid Agung, karena itu tidak bingung Pemerintah Wilayah Kabupaten Bekasi ikut juga serta terlibat dalam pembangunannya. Saat pembangunan di tahun 1985 dana yang dihabiskan ialah sebesar Rp. 225 juta. Lalu dikerjakan kembali pembangunan oleh Muh Djamhari pada tahun 1997 yang saat itu menjabat jadi Bupati Kota Bekasi habiskan biaya sebesar Rp. 100 juta. Paling akhir pembangunan masjid dengan besar-besaran dikerjakan. Diluar itu pengaturan lagi dari tata ruangan alun-alun, jalan dan sarana yang lain yang ada makin membuat kota Bekasi saat itu begitu repot.

Pada akhirnya sebab sudah dikerjakan perbaikan besar-besaran dengan keseluruhan, sekarang bangunan masjid Agung Al-Barkah kelihatan lebih modern namun mempunyai keunikan dari arsitektur Timur Tengah. Tidak cuma digunakan jadi tempat melaksanakan ibadah kaum muslim, Masjid Agung Al-Barkah digunakan jadi ruang publik dimana beberapa jamaah serta pengunjung bisa melaksanakan ibadah dan nikmati keindahan pesona taman kota yang ada dekat sama masjid.

Interior Masjid Al Barkah

Keelokan serta kemewahan masjid Agung Al-Barkah kelihatan dari arsitektur Timur Tengah yang menarik. Komplet dengan kubah besarnya berwarna warni yang berdiameter 18 meter dan menara masjid lengkapi keindahan masjid itu. Ada delapan daun pintu yang terbuat dari kayu jati datang dari Jepara. Di bagian tiang-tiang masjid dilapis memakai kayu supaya berkesan membuat situasi hangat yang di inspirasi dari masjid Agung Demak. Sisi interior masjid juga tidak kalah istimewa sebab dihias dengan beberapa ornament dan kaligrafi yang begitu indah. Lantai masjid tertutupi memakai karpet berwarna hijau ditambah lagi lampu hias yang memiliki ukuran besar di tengahnya ruang masjid. Pada masjid itu ada kaca mozaik hiasi fasad depan masjid Agung Al-Barkah. Itu selintas arsitektur yang dipunyai oleh masjid kebanggan masyarakat kota Bekasi.

Masjid Shirotal Mustaqim – Masjid Tertua di Samarinda

Masjid Shirotal Mustaqim

Masjid Shirotal Mustaqim berdiri disebuah kampung yang dimaksud “Kampung Masjid”, ini mengacu pada masjid yang sudah berdiri di Kota Samarinda semenjak era ke-19 yang lalu. Masjid ini jadi masjid paling tua di lokasi kota Samarinda serta dibuat persisnya pada tahun 1881 dengan panggilan “Masjid Jami’. Lalu, pada tahun 1960, nama masjid ini lalu ditukar jadi “Masjid Shirotal Mustaqim”.

Bangunan masjid ini berkolasi di Jalan Pangeran Bendahara, Kampung Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Propinsi Kalimantan Timur. Untuk sampai tempat ini dari pusat kota samarinda, anda harus seberangi Sungai Mahakam terlebih dulu, sebab terletak di seberang sungai.

Masjid Shiratal Mustaqim

Riwayat Masjid Shirotal Mustaqim Samarinda

Kota Samarinda pada jaman dulu dipercayai dibuat oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa sesudah ditaklukkan oleh Penjajah Belanda pada era ke-16. Pejuang dari Kerajaan Gowa yang selamat lalu pindah ke wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutai saat itu. kehadiran pengungsi itu diterima secara baik oleh Raja Kutai, lalu Sang Raja memberi satu wilayah pemukiman di seputar daerah kampung melantai, yakni satu wilayah di dataran rendah yang bisa dipakai untuk Pertanian, Perdagangan, ataupun Perikanan sebab begitu dekat sama saluran Sungai Mahakam.

Tetapi, pemberian itu tidak dengan Cuma-Cuma, sebab pejuang Bugis harus menolong semua kebutuhan Raja Kutai bila memang diperlukan untuk melawan musuh yang hadir, termasuk juga penjajah Belanda. Seiring berjalannya waktu, dari tahun 1668 mereka tinggal sampai beberapa era, wilayah pemukiman pengungsian itu lebih diketahui dengan panggilan “Samarinda” yang bermakna Sama = Sama serta Rinda = Rendah, atau “Sama Rendah”. Berarti, hak serta keharusan ditanah itu tidak di beda-bedakan.

Cerita pembangunan masjid diawali pada tahun 1880, saat lokasi pemukiman Bugis telah diketahui dengan Samarinda. Seseorang pedagang muslim yang datang dari Pontianak, Kalimantan Barat, bernama Said Abdurrahman bin Assegaf hadir ke Kerajaan Kutai untuk berdagang serta minta izin untuk sebarkan agama islam di wilayah Samarinda. Lihat ketekunan serta keramahan dan kejujuran yang dibawa oleh Said Abdurrahman, pada akhirnya Raja Kutai mengijinkan untuk sebarkan agama Islam didaerah itu, mengingat sehari-harinya penduduknya dipenuhi oleh beberapa hal yang tidak bermanfaat, yakni berjudi serta sabung ayam.

Pada akhirnya Said Abdurrahman mempunyai kemauan kuat untuk mengubah semua hal hal jelek yang dikerjakan di kampung itu dengan membuat satu bangunan masjid dipusat pekerjaan judi serta sabung ayam itu. Yang lebih parahnya, saat itu beberapa orang Samarinda adalah penyembah berhala / patung.

Interior Masjid Shiratal Mustaqim

Pada akhirnya, pembangunan masjid diawali pada sekitar tahun 1881 Masehi, dengan perancangan masjid serupa dengan masjid Jawa yakni mempunyai 4 soko guru. 4 soko guru itu mempunyai riwayat tertentu, yakni dihadirkan dari 4 tempat yang berlainan, yakni Loa Haur (Gunung Lipan), Gunung Donang Samboja, Gunung Salo Tireng, serta Sungai Karang.

Pembangunan masjid ini termasuk cukuplah lama sebab memerlukan waktu sampai 10 tahun. Usai serta diresmikan pada tahun 1891 oleh Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman yang sekaligus juga jadi imam sholat pertama di Masjid Shirothal Mustaqim.

Lokasi yang sebelumnya cuma dipenuhi oleh pekerjaan judi serta sabung ayam dan penyembahan berhala itu pada akhirnya dapat jadi ruang yang religius, penuh dengan kedamaian Islam. Hal ini adalah satu hasil cemerlang yang sudah dicapai Said Abdurrahman jadi tokoh penebar Islam di wilayah Samarinda.

Masjid Agung Pondok Tinggi – Masjid Tertua di Kota Kerinci

Masjid Agung Pondok Tinggi, Jambi

Masjid Agung Pondok Tinggi jadi masjid paling tua di Kota Kerinci atau Kota Sungai Penuh, persisnya di Jalan Soekarno Hatta atau Jalan Depati Payung, Desa Pondok Tinggi, Kecamatan & Kiota Sungai Penuh, Propinsi Jambi. Pembangunan masjid ini dikerjakan pada tahun 1874 Masehi, sekaligus juga jadi bukti riil proses penyebaran agama islam di daerah Sungai Penuh / Kerinci.

Sebelum Masjid Agung Pondok Tinggi ini alami perbaikan yang dikerjakan oleh pemerintah Belanda, arsitekturnya begitu serupa dengan perancangan masjid Batu Al-Ikhsaniyah di Seberang Kota Jambi serta Masjid Jami’ Bengkulu. Menurut narasi masyarakat ditempat, masjid ini dibuat pada tahun 1874 Masehi serta usai pada tahun 1902 atas dana dari swadaya warga muslim ditempat.

Masjid Tertua di Kerinci

Masjid Agung Pondok Tinggi adalah dari hasil Gotong-royong yang dikerjakan oleh masyarakat seputar Desa Pondok Tinggi, Sungai Penuh Jambi. Pada pertama kalinya dibuat, sebetulnya warga muslim di sekitar masjid cuma sejumlah tidak lebih dari 90 kepala keluarga saja, tetapi gotong-royong yang dikerjakan semua warga bisa membuat satu bangunan masjid yang istimewa dengan ciri khas budayanya. Ibu-ibu bekerja untuk memasak serta menghimpun kayu, sedang bapak-bapak bekerja untuk membangun bangunan masjid itu. Beberapa pertunjukan seperti pencak silat ikut didatangkan saat malam hari, supaya semangat kerja untuk membangun masjid bisa makin bertambah.

Menurut cerita masyarakat setempat, dimulainya pembangunan masjid ini diikuti dengan pesta keramaian sepanjang tujuh hari tujuh malam, dengan sajian 12 kerbau, yang didatangi oleh semua masyarakat sekitar, serta ikut mengundang seseorang pangeran pemangku dari Jambi.

Sebelumnya, dinding masjid ini cuma dibikin dari anyaman bambu saja, persisnya pada tahun 1890-an, pada akhirnya pada perbaikan selanjutnya dinding dari anyaman bambu itu ditukar dengan kayu berukir yang begitu indah.

Arsitektur Masjid Agung Pondok Tinggi

Seni Bina Bangunan Masjid Agung Pondok Tinggi ini dibikin ikuti contoh arsitektur masjid asli Nusantara dengan ciri atap masjid Limas Tumpang Tiga yang mengibaratkan pandangan hidup, Iman, Islam serta Ikhsan.

Masjid Agung Pondok Tinggi mempunyai 36 tiang penyangga, yang dibagi jadi 3 grup tiang, semasing yakni tiang tuo atau panjang sembilan, panjang lima atau panjang limau, dan panjang dua atau tiang panjang dua. Tiang-tiang itu diatur sesuai ukurannya, formasi serta letaknya yang begitu terhitung dengan rapi.

Masjid Agung Pondok Tinggi dibikin memiliki ukuran 30 x 30 meter dengan tinggi bangunannya sampai 100 kaki, atau 30,5 meter. Dinding masjid terbuat dari kayu ukir sulur-suluran serta bunga yang sekaligus juga berperan jadi ventilasi. Pada tiap pojok didindingnya ada hiasan motif sulur, sedang di bagian lantai terbuat dari ubin. Masjid ini mempunyai 2 buah pintu berdaun ganda yang ikut mempunyai ukiran sulur-suluran.

Bedhug Masjid Agung Pondok Tinggi

Sisi Mihrabnya berdenah persegi panjang dengan ukuran 3,10 x 2,40 meter. Di bagian depan mihrab ada bentuk lengkungan yang dihias dengan ukiran geometris. Kekhasan yang dipunyai masjid ini ialah tempat muadzin dalam mengumandangkan adzan terdapat diatas tiang utama masjid, untuk sampai tempat itu dibikin anak-anak tangga yang diukir demikian rupa sampai ke satu panggung kecil memiliki ukuran 2,60 x 2,60 meter, dikelilingi oleh pagar yang berhiaskan motif flora. Sedang sisi mimbar dibikin dengan ukuran 2,4 x 2,8 meter, dan ikut berhiaskan motif sulur-suluran ditambah lagi atap berupa kubah kecil.

Memang sedikit unik serta mempunyai ciri khas tertentu, sebab hampir keseluruhnya sisi bangunan masjid ini mempunyai hiasan motif sulur-suluran ataupun flora lain yang pasti jarang didapati dimasjid lain biasanya.

Masjid Raya Al Batani – Banten

Masjid Raya Al Batani

Di tiap kota terutamanya di Indonesia umumnya mempunyai ciri khas masing-masing. Tidak cuma berbentuk makanan, obyek wisata dan budaya dari tiap wilayah, kadang satu bangunan jadi ion tertentu buat kota itu. Diantaranya ialah kota Banten yang popular dengan bangunan masjid besarnya bernama Masjid Raya Al-Bantani.

Masjid Raya Al-Bantani adalah bangunan masjid yang istimewa serta besar tidak bingung masjid itu dikatakan sebagai masjid paling besar serta termegah yang ada di Propinsi Banten. Tidak cuma digunakan untuk tempat melaksanakan ibadah, masjid Raya Al-Bantani umumnya dipakai untuk pendidikan serta penyebaran agama islam secara detail. Sesudah usai pembangunannya serta diresmikan, masjid Raya Al-Bantani diinginkan bisa tingkatkan tali bersilahturahmi antar pegawai yang ada di propinsi Batam sebab tempatnya memang strategis.

Masjid Raya Al Batani

Ada di lokasi Pusat Pemerintahan Propinsi Banten persisnya di Jalan KP3B Kecamatan Curug Kota Serang Banten ini tetap jadi daya tarik sendiri buat beberapa jamaah atau pengunjung yang saat itu ada di daerah itu. Proses pembangunannya sendiri diawali pada bulan Januari 2008 serta diresmikan pada tanggal 4 Oktober 2010. Peresmian Masjid Raya Al-Bantani dikerjakan oleh Gubernur Banten sendiri yang saat itu ialah Ratu Atut Choosiyah. Walau saat itu saat peresmian masjid berjalan berlangsung hujan yang cukuplah lebat serta anginnya kencang tetapi acara itu selalu berjalan serta berjalan baik. Awal peresmian masjid itu akan dikerjakan di tenda halamanmasjid tapi sebab turun hujan serta angin kencang karena itu peresmiannya dipindahkan ke masjid Raya Al-Bintani. Bertepatan dengan peresmian masjid itu , Ratu Atut Choosiyah resmikan peluncuruna Mushaf Al-Qur’an yang banyaknya sekitar 30 ribu dan melepas tpetugas team pembimbing haji wilayah Banten. Tidak bingung saat itu peresmianmasjid dan peresmian yang lain didatangi oleh beberapa orang.

Riwayat Pembangunan Masjid Raya Al Batani

Proses pembangunannya juga habiskan dana sebesar Rp. 94.3 miliar. Tidak bingung hasilnya juga begitu mengagumkan istimewa nan mewah. Bahkan juga direncanakan sekitar 13 ribu jamaah bisa ditampung di masjid Raya Al-Bantani. Dengan dana yang mengagumkan itu membuat Masjid Raya Al-Bantani semain populer serta jadi satu diantara arah penting buat beberapa pengunjung yang ingin lakukan wisata religi. Pembangunan masjid juga dikerjakan oleh beberapa team serta petugas bangunan pada siang serta malam hari supaya prosedurnya cepat usai sesuai dengan gagasan. Mereka kerja membuat masjid Raya Al-Bantani diawali pada jam 8 pagi sampai jam 12 malam. Pekerjanya pun mencapai sekitar 300 orang. Kecermatan serta kecepatan dalam proses pembangunannya juga butuh dilihat sebab hamper semua sisi masjid cukuplah susah tetapi begitu indah. Saat proses pembangunan masjid terebut nyatanya menaruh narasi yang cukuplah unik sebab tempat serta letaknya harus digeser dari gagasan awalnya. Hal itu dikerjakan sebab ada satu pohon besar dilingkungan masjid serta masyarakat seputar melarang untuk menebang pohon itu. Pada akhirnya tempat masjid Raya Al-Bantani dipindahkan serta di geser.

Interior Masjid Raya Al Batani

Arsitektur Masjid Raya Al-Bantani begitu menarik diantaranya ada pada bagian atap dengan menggabungkan atap limas bersusun dengan kubahnya yang besar seperti dalam masjid modern. Ditambah dengan menara yang sejumlah dari tiga membuat masjid itu berkesan begitu elegan. Dan warna dari dinding luar serta masjid yang begitu tenang berkesan bangunan masjid itu makin nyaman serta kelihatan lebih luas serta besar. Di bagian pelataran masjid juga begitu luas hingga beberapa jamaah saat melaksanakan beribadah shalat khususnya saat ke-2 Hari Raya Besar datang, karena itu beberapa jamaah akan shalat dari sana. Pada bagian interior masjid juga tidak kalah istimewa sebab dihias dengan beberapa ornament serta kaligrafi yang demikian menarik.

Masjid Kampung Hulu Malaka – Malaysia

Masjid Kampung Hulu Malaka

Riwayat berdirinya Malaka tidak dapat dipisahkan dengan Riwayat Negara kita Negara Republik Indonesia, sebab saat yang sama negeri tetangga kita tengah berusaha menantang penjajahan Belanda serta Portugis saat yang sama juga dengan saat-saat perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Beberapa saksi bisu yang masih berdiri sampai saat ini dapat tunjukkan jika eksistensi perjuangan penyebaran islam serta kemerdekaan persis sama dengan yang berlangsung di Indonesia. Masjid sebagai saksi bisu itu salah satunya ialah Masjid Kampung Hulu Malaka, Malaysia, yang akan kita ulas kesempatan ini.

Masjid Kampung Hulu Malaka jadi satu diantara masjid paling tua di negeri Malaysia serta sampai sekarang ini jadikan satu diantara bangunan warisan riwayat serta cagar budaya nasional oleh pemerintah Kerajaan Malaysia. Walau jadi masjid paling tua di Malaysia, tetapi majid ini masih menjalankan manfaatnya menjadi tempat peribadatan dengan baik. Bahkan juga sekarang ini Masjid Kampung Hulu ikut jadikan tempat wisata serta satu diantara landmark Kota Malaka terutamanya.

Di dalam area Masjid Kampung Hulu Malaka ada satu makam keramat yang dipercaya adalah makam Sayyid Abdullah Al-Haddad, yaitu seseorang guru agama yang dipandang wali pada saat-saat itu. Umat non-muslim tidak diijinkan untuk masuk ke masjid, tetapi masih bisa berkunjung ke masjid ini sekedar hanya lihat di luar saja.

Masjid Kampung Hulu Malaka berdiri di tempat yang belum pernah dipindahkan dari pertama dibangun, yakni ada dalam suatu pusat kota mala yang populer dengan dominasi ruko-ruko punya keturunan masyarakat China.

Masjid Kampung Hulu Malaka

Arsitektur Masjid Kampung Hulu Malaka

Arsitektur bangunan Masjid Kampung Hulu dibuat dengan adopsi dari arsitektur Sumatera serta Jawa, diperlengkapi dengan satu bangunan menara dibagian samping kiri masjid, serta terpisah jauh dengan bangunan terutamanya. Atap bangunan masjid ini dibikin demikian rupa mirip bentuk piramida yang bersusun tiga, dengan 4 soko guru utama menjadi penopang penting, serta beberapa soko guru yang lebih kecil untuk menyokong sisi atap yang lain.

Bila dilihat selintas, memang Masjid Kampung Hulu ini begitu serupa dengan masjid yang berada di Sumatera serta di Pulau Jawa, jadi Orang Indonesia yang hadir berkunjung tentunya tidak rasakan asing dengan design bangunannya.

Tidak hanya Budaya Sumatera serta Jawa, nyatanya Budaya Bangunan Cina diadopsi, kelihatan dari Ornament dari pucuk atap di Import langsung dari Cina, keramik menjadi pelapis lantai dihadirkan dari negara Cina, bahkan juga bentuk bangunan menaranya lebih serupa dengan bangunan Pagoda.

Riwayat Masjid Kampung Hulu Malaka – Malaysia

Bangunan Masjid Kampung Hulu dibangun pertama-tama pada tahun 1728 oleh Dato’ Samsudin Bin Arom, seseorang Wakil dari Warga Melayu saat saat-saat penjajahan Belanda di Malaka. Saat itu, kebebasan umat beragama masih dihargai serta agama apa pun diijinkan untuk membangun tempat ibadahnya. Tetapi, kebijaksanaan pembebasan agama apa pun itu nyatanya cuma untuk satu politik yang dikerjakan oleh pemerintah kolonial Belanda, supaya simpatisme dari warga pribumi dapat didapat oleh Belanda, sesudah Portugis membumi hanguskan semua tempat beribadah yang berada di Malaysia, terkecuali bangunan Gereja Katolik.

Lalu, saat Portugis ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1640-an, kekuasaan Malaka juga berubah pada Belanda. Pada saat penjajahan Belanda berikut agama Katolik dilarang, diluar itu diijinkan.

Lalu kolonial Belanda menunjuk Dato’ Syamsuddin bin Arom menjadi Kapitan, pimpinan warga pada saat itu, untuk pimpin satu pembangunan masjid serta pimpin kaum muslim di Malaka.

Masjid Syekh Mangsiangan Tanah Datar – Sumatera Barat

Masjid Tuanku Syekh Mangsiangan Tanah Datar

Masjid yang paling tua di Koto Laweh ialah Masjid Tuanku Syekh Mangsiangan dari Kabupaten Tanah Datar atau Luhak Tanah Datar yang srletak di Kaki Gunung Tigo, bersisihan dengan Gunung Singgalang. Udaranya sejuk. Maklumlah, dataran tanahnya berbukit serta berlurah ang dalam dan jauh dari keramaian Jalan Raya Bukittinggi-Padang Panjang. Di daerah berikut di waktu yang lalu lahir seseorang pejuang serta ulama bernama Syekh Mangsiangan yang turut berperang pada Perang Padri yang legendaris itu.

Masjid ini ialah hasil karyanya. Maklumlah dia seseorang anak tunggal, hingga sawah ladang serta harta peninggalan orang tuanya di hibahkan untuk perjuangan mengusir penjajah Belanda serta menegakkan Islam di Tanah Air. Orang tuanya mengharap dia jadi ulama. Oleh orang tuanya dia diberikan pada orang ulama, murid Syekh Burhanudin di daerah Ulakan, Pariaman.

Sekembali dari Pariaman, dia membuat masjid dengan cost sendiri. Tenaga kerja (tukang) nya ialah beberapa orang Cina. Sesudah siap dipakai, dia langsung mengadakan shalat Jumat serta mengemukakan khotbah dengan semangat berapi-api.

Sebab soko gurunya dulu diambil dari Gunung Tigo, pasti begitu susah membawanya meskipun dengan bergotong royong. Tapi, oleh syekh dengan sebilah rotan kecil saja, batang-batang kayu itu melaju membelah bumi dengan pergerakan sampai dalam tempat ini.

Masjid Syekh Mangsiangan

Riwayat Pembangunan Masjid

Masjid yang dibuat sekitar tahun 1800 M itu telah 3x diperbaiki. Saat pertama-tama dibuat, atap masjid nya terbuat dari ijuk, lalu ditukar dengan daun rumbia (aren), serta paling akhir dengan atap seng. Memiliki bentuk lancip ke atas dengan corak arsitektur ciri khas Cina. Sedang, dinding, tiang, serta lantainya terbuat dari kayu. Sejauh ini masih tetap utuh. Situasi tertangani baik.

Syekh Tuanku Mangsiangan yang lahir pada tahun 1771 turut bertempur pada Perang Padri sampai terbunuhnya pada tahun 1833. Perang Padri berkobar pada tahun 1821-1837 atau 1839 serta selesai di Lembah Bawan. Lembah Bawan jatuh ke tangan musuh di tahun itu. Tuanku Mangsiangan sebagai panglima perang bersama dengan Tuanku Nan Gapuk divonis tembak mati. Dengannya turut ditembak mati 15 orang pengikutnya. Sedang, prajuritnya yang lain dibuang entahlah ke manakah. Dia diganjar hukuman tahun 1833 M serta dikuburkan di Guguk Sikundang, masih tetap di daerah Koto Laweh, seputar 1.500 meter dari Talan Raya Bukittinggi Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Masjid peninggalannya ini begitu dihormati oleh warga, sebab posisi Tuanku Syekh Mangsiangan menjadi ulama besar serta memiliki banyak karomah serta bertuah. Tiap minggu banyak peziarah hadir ke masjid ini serta diteruskan ke pekuburan. Mereka umumnya membawa makanan, seperti ayam dengan nasi kunyik serta kue-kue.

Peziarah yang hadir dari jauh ada yang berkendaraan atau berjalan kaki. Cukuplah unik buat warga makan bersama dengan di pekuburan. Sebab banyak diziarahi orang, pada akhirnya dia dipindahkan. Termasuk masjidnya, sekarang terlihat istimewa.

Tidak hanya membuat masjid, Tuanku Syekh membuat oesantren yang sejauh ini masih tetap berjalan, bahkan juga sekarang dibuka SMP Islam. Untuk melestarikan nilai sejarahnya, bentuk fisik masjid tidak bisa di ganti, sekalinya Pemda telah memberi sumbangan RplO juta. Rupanya, ninik mamak belum mengijinkan.

Sekarang, masjid telah memiliki kolam untuk ambil wudhu. Airnya dari pucuk gunung, tidak gunakan air PDAM. Selain itu, masjid juga memiliki beton plaza, kamar mandi, serta yang lain. Dengan hasil ziarah itu, banyak pengunjung memberi infak sedekah untuk mendapatkan barokahnya. Disana ada panitia bekerja menyongsong beberapa tamu yang hadir.

Masjid Taqwa Wonokromo – Yogyakarta

Masjid Taqwa Wonokromo

Wonokromo, tidak hanya diketahui menjadi daerah persimpangan arah wisata (makam raja-raja Imogiri), dikenal’sebagai basis Islam yang begitu kuat. Sebenarnya masih tetap ada beberapa daerah lain di lingkungan kota Yogyakarta yang mempunyai keserupaan seperti daerah Wonokromo, contohnya daerah Kauman serta Kotagede Yogyakarta.

Desa Wonokromo persisnya ada di Kabupaten Bantul, Daerah Spesial Yogyakarta. Daerah yang begitu kental dengan nuansa Islam ini, temyata menaruh peninggalan asset budaya Islam berbentuk masjid yang berumur beberapa ratus tahun. Salah satunya ialah Masjid Taqwa.

Masjid di Yogyakarta

Masjid Tiang Negara

Masjid Taqwa ini keberadaanya jauh dari keramaian kota. Masjid ini berdiri berdekatan dengan Sungai Tempuran (pertemuan pada anak-anak sungai). Pada saat-saat tersendiri, Desa Wonokromo jadi pusat keramaian. Meskipun terlihat tertangani baik, masjid ini tidak didapati kapan berdirinya. Beberapa orang memprediksi umur Masjid Taqwa ini dibawah umur Masjid Agung yang ada di Kampung Kotagede.

Data lain ialah ukiran-ukiran ayat suci yang ada di selama bangunan masjid itu, mempunyai keserupaan dengan yang berada di Masjid Agung Kotagede serta Masjid Kauman yang ada di samping barat Keraton Yogyakarta. Beberapa data yang dikumpulkan dari lapangan, Masjid Taqwa ira terkait dengan pendirian Kerajaan Mataram sebelum geser ke daerah Kotagede pertama kali ada di daerah Pleret. Kampung Pleret ini ada pas di samping timur Sungai Tempuran. Sebenarnya, di pusat pemerintahan Kerajaan Mataram yang pertama ini gagasannya akan dibangun satu masjid. Tapi, pendirian masjid itu diurungkan serta untuk selanjutnya dibangun di Kampung Kotagede Yogyakarta.

Bahkan juga menjadi bukti riwayat, di daerah sisa pemerintahan Kerajaan Mataram itu diketemukan beberapa buah umpak (alas yang terbuat dari bongkahan batu yang diukir untuk tempat tiang penyangga masjid) yang ketinggalan (tertanam) dalam tanah.

Beberapa masyarakat sekitar Wonokromo meyakinibahwa Masjid Taqwa ini adalah satu dari demikian masjid yang diberi nama Masjid Tiang Negara. Masjid tiang negara ini memilik pemahaman jika masjid itu berperan menjadi lambang kemampuan negara (Kerajaan Mataram).

Syahdan, Sultan Mataram pada saat itu minta nasehat pada beberapa pemuka warga yang berada di Dusun Pleret yang terdiri atas beberapa kiai. Sultan Mataram pada saat itu bertanya tentang bagaimana menyelamatkan daerah Mataram.

Beberapa kiai menyarankan supaya sultan membuat beberapa masjid yang berperan menjadi cagak negara (tiang negara). Atas saran beberapa kiai Wonokromo itu pada akhirnya dibikin empat buah masjid yang mengurung Kerajaan Mataram (saat ini Yogyakarta).

Masjid Pertama di Wonokromo Yogyakarta

Masjid yang pertama dibuat pada saat itu ialah Masjid Taqwa yang ada di daerah Wonokromo ini, lalu dilanjutkarn masjid yang ada di Desa Mlingi, Minggiran (daerah Bantul). Seterusnya, masjid ke-3 ialah Masjid Ploso Kuning yang ada di daerah Ploso Kuning lereng Gunung Merapi. Yang paling akhir ialah Masjid Wotgaleh yang ada di daerah Godean Yogyakarta.

Versi lain, ada yang menjelaskan, sebenamya Masjid Taqwa ini semula berbentuk satu Pendopo Kabupaten. Sehubungan pembangunan pendopo ini tidak dilanjutkan karena itu disetujui untuk dirubah jadi satu masjid.

Umumnya, masjid yang mempunyai umur beberapa ratus tahun tetap dihubungkan adanya kemampuan di luar kemampuan manusia (mistik atau supranatural), seperti kemampuan mistik dari kemampuan beduknya, mimbarnya, dan lain-lain.

Tetapi, sebagian orang yang diminta konfirmasi menghalau asumsi jika masjid itu mempunyai pusaka yang tersimpan di Masjid Taqwa itu atau angker dan lain-lain. Mereka yakini cuma hanya peninggalan warisan beberapa pemimpinnya (kiai-kiai) awalnya.

“Masyarakat di sini lebih mengutamakan pengetahuan agama dibanding narasi klenik (mistik) seperti itu,” papar Moh. Kholik, salah seseorang masyarakat yang penulis jumpai saat itu. Meskipun tidak disangkal sebenarnya di daerah Wonokromo ini sarat dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan, contohnya peringatan Rabu Pungkasan (Rabu paling akhir), yaitu pekerjaan yang berbentuk mandi ramai-ramai di Sungai Tempuran untuk minta rejeki.

Masjid Agung Sumedang – Jawa Barat

Masjid Besar Tegalkalong, Sumedang

Di Sumedang Jawa Barat ada beberapa masjid dengan satu diantara fakta menjadi penyebaran agama islam. Satu diantara masjid itu ialah Masjid Besar Tegalkalong sebagai tempat beribadah kaum muslim terutamanya diwilayah itu. Arsitektur yang menempel dari masjid Besar Tegalkalong Sumedang tidak terlepas dari riwayat yang terjada pada zamannya. Masjid Besar Tegalkalong Sumedang termasuk juga satu diantara masjid yang unik sebab mempunyai kombinasi pada Islam serta Tionghoa. Berada di Jalan Sebelas April, Kelurahan Talun, Kecamatan Sumedang Utara ini letaknya tidak jauh dari pusat kota yang cuma berjarak seputar satu kilo meter.

Pada dulunya daerah Tegalkalong adalah ibukota dari Kota Sumedang sesudah dipindahkan dari Dayeuh Mulia pada tahun 1600-an. Sampai pendopo yang ada di Kecamatan Sumedang Utara juga kononnya adalah peninggalan pada saat itu. Diceritakan pada seputar tahun 1678 persisnya pada bulan Oktober sempat berlangsung serangan ke-2 kalinya oleh Kesultanan Banten sesudah serangan pertamanya tidak berhasil pada bulan Maret 1678. Kali itu Kesultanan Banten menyiapkan kemampuan semakin besar serta masuk dengan pasukan Bali. Akhirnya Sumedang banyak sebagai korban dalam pertarungan sebab saat itu Pangeran Panembahan bersama rakyat Sumedang tengah melakukan beribadah shalat Ied. Saat itu berlangsung di hari raya Idul Fitri pasukan yang di pimpin oleh Cilikwadara serta Cakrayuda membuat Sumedang dirundung waktu kelam. Kerabat dari Pangeran Panembahan juga jadi korban peperangan ini sedang beliau mencari perlindungan serta selamat di Indramayu. Lalu Pangeran Panembahan mengalihkan pusat pemerintahan Sumedang ke Regolwetan sesudah perseteruan itu berkurang.

Masjid Agung Sumedang

Arsitektur Bangunan Masjid Agung Sumedang

Kelihatan design masjid yang menarik datang dari pagarnya bewarna hijau serta pada dinding bercat warna putih. Sedang atap masjid mempunyai keserupaan dengan Masjid Agung Sumedang adanya atap tumpang tindih yang sejumlah tiga tingkat serta di bagian pucuk ada mustaka seperti bunga yang tengah mekar. Bangunan masjid Tegalkalong tidaklah terlalu tinggi dengan jarak dari pintu ke langit-langit cuma seputar 30 cm. luas bangunan masjid Tegalkalong juga seputar 378 meter persegi yang bisa menyimpan jamah sampai sejumlah seputar 600 jamaah. Hal yang unik dari masjid ini ialah tidak ada kubah seperti keunikan masjid biasanya hingga banyak yang menduga jika bangunan itu ialah bangunan pemerintahan biasa. Lebih tempat masjid Besar Tegalkalong pas ada di muka kantor Kecamatan Sumedang Utara.

Interior Masjid Agung Sumedang

Masjid Besar Tegalkalong sempat alami seringkali perbaikan seperti yang sudah dikatakan oleh Dewan Keluarga Masjid (DKM) Tegalkalong, Bachren Syamsul Bachri. Tetapi keunikan pada masjid itu yakni atap yang bertumpang serta mustaka masih dilewatkan tidak ada pergantian benar-benar. Satu diantara fakta dari perbaikan masjid Besar Tegalkalong ialah karena kemampuan daya tampung masjid Besar Tegalkalong tidak penuhi jamaah yang melakukan beribadah. Masjid Besar Tegalkalong dirubah dengan nama masjid Besar Al-Falah Tegalkalong pada tahun 1985.

Di masjid itu ada beberapa kegiatan dikerjakan dari sana diantaranya ialah pengajian ibu-ibu yang ada sehari-hari senin serta hari sabtu jam 14.00 WIB. Tidak cuma itu saja, pada kamis malam umumnya ada pengajian yang dikerjakan oleh bapak-bapak serta pada hari sabtunya pada saat subuh tetap di ramaikan dengan pengajian. Di akhir bulan umumnya diadakan pengajian yang didatangi oleh warga Kecamatan Sumedang Utara.

Kubah Panel

Kubah Masjid Panel

Kubah merupakan salah satu ciri khas bangunan masjid. Meskipun tidak ada keharusan menggunakan kubah untuk bangunan masjid, namun seakan sudah menjadi satu kelaziman di kalangan umum bahwa membangun masjid harus dilengkapi dengan kubah.

Di sisi lain, orang yang berada dalam perjalanan dan hendak ke masjid, biasanya menggunakan kubah sebagai acuan pencarian. Bangunan masjid berkubah memberikan dan memancarkan kesan megah dan indah. Selain itu kubah juga berfungsi sebagai penanda arah kiblat dari bagian luar dan reflektor cahanya untuk menerangi bagian dalam masjid.

Kubah panel adalah salah satu kubah alternatif yang saat ini lagi trend, disamping karena bentuk kotak atau belah ketupat yang menyusun bangunan kubahnya, kubah panel memiliki paduan motif warna yang sangat atraktif yang menambah nilai estetik dari kubah itu sendiri.

Bahan Kubah Panel

Kubah Panel Enamel

Ada dua macam bahan dasar yang biasanya digunakan untuk pembuatan kubah Panel yaitu plat Zincalume atau juga disebut galvalum dan plat baja low carbon yang dilapisi dengan enamel yang kemudian orang sering menyebutnya sebagai Kubah Enamel.

Zincalume/Galvalume merupakan logam campuran antara seng dan alumunium yang ringan dan tahan karat. Sedangkan enamel adalah bahan yang terbuat dari paduan kaca (Silica) yang dileburkan (to smelt) diatas lempengan besi-baja bermutu tinggi pada sebuah oven dengan temperatur tinggi, kemudian mengurai hingga menyatu dan menjadi keras. Kelebihan Kubah dengan lapisan enamel adalah ketajaman dan kecerahan warna yang tahan lama bahkan sampai 20 tahun.

Kelebihan – kelebihan kubah panel dibandingkan kubah lain adalah
1. Lebih ringan sehingga pemasangannya tidak membutuhkan pondasi ekstra kuat.
2. Resiko kerusakan yang ditimbulkan ketika terjadi bencana gempa juga relatif lebih kecil
3. Potensi rembes atau bocor jauh lebih kecil dibanding kubah lain
4. Kubah Panel lebih indah dengan warna yang tajam dan variatif juga tahan lama
5. Purna Jual yang lumayan

Gratis Konsultasi 08122229385