Category Archive Kubah Masjid

Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta – Masjid Ageng Keraton Hadiningrat

Masjid Agung Surakarta, dulu masjid ini bernama Masjid Ageng Keraton Hadiningrat serta dibuat oleh Pakubuwono III pada seputar tahun 1749. Terdapat di seputar Alun-alun Utara Keraton Surakarta, persisnya dibagian barat, masjid ini mempunyai tempat penting dalam penebaran Agama Islam di Solo.

Pembangunan masjid ini tidak lepas dari peranan penting yang digenggam oleh seseorang raja saat itu. Saat itu, raja bukan sekedar jadi pemangku kekuasaan paling tinggi dalam pemerintahan, dan juga jadi penyiar agama. Diluar itu, penentuan tempat masjid yang dekat sama keraton di inspirasi dari Masjid Agung Demak yang dibuat di dekat keraton serta alun-alun keraton.

Berdiri di atas tempat seluas hampir 1 hektare, bangunan penting masjid yang memiliki ukuran 34,2 mtr. x 33,5 mtr. dapat menyimpan seputar 2.000 jamaah. Selama perjalanannya, masjid ini sudah lewat beberapa menambahkan serta perbaikan.

Riwayat Pembangunan Masjid Agung Surakarta

Bangunan yang pertama dibikin ialah bagian utama masjid. Menambahkan pertama dikerjakan oleh Pakubuwono IV, yang memberi kubah dibagian atas masjid. Tidak seperti kubah biasanya yang bergaya Timur Tengah, kubah masjid ini bergaya Jawa. Memiliki bentuk mirip paku bumi.

Menambahkan selanjutnya dikerjakan oleh Pakubuwono X. Pakubuwono membuat satu menara di seputar masjid dan satu jam matahari untuk memastikan waktu solat. Pintu masuk masjid juga alami pergantian pada saat Pakubuwono X. Pintu bercorak gapura bangunan Jawa beratap limasan ditukar jadi bercorak Timur Tengah terbagi dalam tiga pintu, dengan pintu yang ada ditengah-tengah lebih luas dari ke-2 pintu yang mengapitnya.

Sesaat, Pakubuwono XIII membuat kolam yang mengelilingi bangunan penting masjid. Pembangunan kolam ini ditujukan supaya tiap orang yang akan masuk ke masjid dalam kondisi bersih. Tetapi, sebab beberapa fakta, kolam ini tidak digunakan. Diluar itu, Pakubuwono XIII membuat ruangan keputren serta serambi dibagian depan.

Menambahkan paling akhir dikerjakan oleh Pemerintah Surakarta. Masih di ruang masjid, ditambah lagi beberapa bangunan dengan peranan berlainan. Ada perpustakaan, kantor pengelola, serta poliklinik.

Pada waktu dulu, pengurus masjid ini adalah anggota abdi dalam keraton. Tiap pengurus diwajibkan terlebih dulu tuntut pengetahuan di Madrasah Mambaul Ulum yang terdapat antara masjid dengan Pasar Klewer. Tetapi sekarang, cuma kepala pengurus masjid sebagai abdi dalam keraton dengan gelar Tafsiran Anom. Sesaat, Madrasah Mambaul Ulum diurus oleh Departemen Agama serta jadikan pendidikan untuk warga umum.

Masih di seputar masjid, persisnya di samping utara, ada satu pemukiman yang bernama Kampung Gedung Selirang. Pemukiman ini menyengaja dibuat untuk rumah beberapa pengurus masjid.

Sampai sekarang, Masjid Agung Surakarta masih jadi pusat adat Islam di Keraton Surakarta. Masjid ini masih jadi tempat penyelenggaraan beberapa ritual yang berkaitan dengan agama, seperti sekaten serta maulud nabi, yang satu diantara serangkaian acaranya ialah pembagian 1.000 serabi dari raja pada warga.

Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung – Jawa Barat

Bandung populer dengan beberapa obyek wisata dan cuaca nya yang tetap sejuk. Kota ini adalah kota metropolitan yang benar-benar padat di Jawa Barat. Bandung dikenal juga dengan panggilan kota “Kembang” sebab pada jaman dulu dikota itu ada kembang-kembang serta pohon-pohon yang benar-benar cantik. Sampai sekarang juga Bandung masih mempunyai keindahan dari bunga serta pohon-pohon walau saat ini Bandung dipenuhi dengan beberapa jenis bangunan yang benar-benar menarik, yang salah satunya tempat ibadah umat muslim yang megah yaitu Masjid Raya Bandung.

Bila ingin lakukan wisata riwayat, kuliner sampai belanja, Bandung ialah kota yang benar-benar pas menjadi arah penting. Beberapa tempat yang benar-benar menarik, beberapa macam makanan dan beberapa mall ada di Bandung. Tidak itu saja, beberapa obyek wisata juga tersedia banyak di Bandung serta tetap dipenuhi dengan beberapa orang di luar Bandung. Misalnya seperti Tangkuban Perahu, Kawah Putih, Trans Studio Bandung, Braga Street, Kampung Gajah, Farm House serta beberapa tempat wisata yang lain. Tidak bingung Bandung tetap ramai didatangi oleh beberapa pelancong domestik bahkan juga pelancong luar negeri.

Tidak cuma beberapa obyek wisata serta bermacam makanan yang benar-benar enak serta lezat, Bandung mempunyai bangunan yang benar-benar menarik serta istimewa. Satu diantara bangunan itu adalah satu tempat beribadah umat islam yakni Masjid Raya Agung. Masjid ini ada di dekat alun-alun kota Bandung serta jadi satu kesatuan yang tidak dipisahkan.

Riwayat Pembangunan Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung pertama-tama dibangun pada tahun 1810 berdiri di atas tanah seluas 23.448 m² dengan luas bangunan masjid sampai 8.575 m². Terhitung masjid yang mempunyai bangunan besar, dalam tempat ini bisa menyimpan jamaah sampai sejumlah 13.000 jamaah. Semenjak dibangun masjid Raya Bandung terjadi perombakan sekitar delapan kali yang berlangsung pada era ke-19 lalu lima kali di era 20 serta paling akhir diperbaiki kembali ke tahun 2001 sampai peresmian masjid itu dikerjakan pada 4 Juni 2003. Peresmian Masjid Raya Bandung waktu itu di resmikan oleh H.R Nuriana yang disebut Gubernur Jawa Barat pada eranya.

Awalnya masjid Raya Bandung mempunyai keunikan dari coraknya Sunda, tetapi sekarang masjid itu mempunyai corak Arab. Masjid ini di hias dengan dua menara yang menjulang tinggi sampai 81 meter di samping kiri kanan masjid. Menara itu tetap dibuka untuk umum di hari Sabtu serta Minggu. Di bagian atap masjid ditukar jadi satu kubah besar pada atap tengah serta pada atap kiri kanannya ada kubah yang lebih kecil, awalnya atap bangunan masjid ini ialah atap joglo.

Diluar itu, bangunan masjid sebelumnya memiliki bentuk berbentuk panggung tradisional simpel, tiangnya memakai kayu serta di bagian dindingnya datang dari anyaman bambu. Dalam tempat itu dahulu ada satu kolam yang dipakai beberapa jamaah untuk berwudhu. Terjadi satu diantara perombakan pada tahun 1850 atas petunjuk dari Bupati R.A Wiranatakusumah IV. Sesudah usai, bangunan masjid itu kelihatan istimewa sampai diabadikan ke satu lukisan oleh pelukis dari Inggris yang bernama W Spreat di tahun 1852.

Tetapi bersamaan dengan perubahan jaman, sekarang masjid Raya Bandung disulap jadi masjid yang benar-benar istimewa dengan beberapa hiasan dari ornament ukiran islam dengan memprioritaskan seni budaya islami tatar Sunda. Di halaman masjid ada satu halaman yang benar-benar luas serta indah tetap didatangi oleh beberapa orang saat pada hari libur atau di akhir pekan.

Masjid Nurani Bekasi Barat

Masjid Nurani

Masjid istimewa yang berdiri di ruang masjid di jalan I Gusti Ngurah Rai, Kranji, Bekasi Barat dibangun pada tahun 2013 dari dana seseorang dermawan yang bernama Ir.H.Soeharto. Masjid yang dekat sama statsiun Kranji Bekasi ini mempermudah jamaah yang jauh untuk sampai di Masjid Nurani. Jarak masjid dengan stasiun seputar 1.5 km serta dapat ditempuh 7 menit dengan naik sepeda lipat atau seli.

Masjid indah ini mempunyai style arsitektur Timur Tengah serta Andalusia dengan sentuhan style kekinian. Dari exterior masjid dapat disaksikan kubah serta menara yang mempunyai style arsitektur Timur Tengah. Selanjutnya style arsitektur Andalusia dapat disaksikan pada bentuk jendela yang berupa lengkungan dengan ujung lancip adalah arsitektur ciri khas negri Spanyol. Gapura pada pintu masuk utama masjid adalah satu lengkungan dengan ujung lancip ciri khas arsitektur Andalusia.

Sentuhan kekinian dapat disaksikan dari bentuk masjid yang berupa kubus dengan supremasi warna cerah pada bangunan Masjid Nurani. Menara masjid yang dipunyai ada pada tengah bangunan masjid hingga letak menara ini tidak sama dengan biasanya letak menara masjid. Menara dengan aksen banyak jendela berperan jadi fentilasi udara, supaya udara di dalam jadi sejuk serta fresh.

Arsitektur Bangunan Masjid

Masjid Nurani mempunyai dua lantai dengan peranan lantai satu jadi ruangan kantor serta ruangan serbaguna, tempat wudhu, toilet. Ruangan utama sholat ada dilantai dua dengan kemampuan jamaah keseluruhan ditambah ruangan serbaguna seputar 1500 jamaah. Masjid satu ini mempunyai pintu selebar 3 meter dengan daun pintu terbuat dari kayu dengan hiasan formasi satu batu bata yang berwarna emas.

Lantai masjid berbahan granit yang berwarna krem. Tetapi lantai ini ditutup dengan karpet berwarna merah. dinding masjid ada satu ornament ventilasi yang mempunyai bentuk formasi batu bata. Sedang bentuk cekungan selebar 6 meter dengan 3 meter kedalamannya adalah bentuk dari mihrab Masjid Nurani. Lengkungan ciri khas Andalusia mempunyai susunan dari pualam warna hitam.

Ornament ventilasi dari tembaga mempunyai formasi berupa batu bata. Pada tengah mihrab ada tulisan muncul Allah yang berwarna emas. Sedang mimbar terbuat berbahan kayu yang dicat warna hitam dengan ornament warna emas. Kubah yang dipunyai masjid ini berdiameter 8 meter dengan topangan 4 pilar yang masing masing pilar mempunyai diameter 75 cm. Serta dalam kubah dilapis tembaga polos dengan kaligrafi style kufi.

Masjid Kyai Gede Kotawaringin – Masjid Paling Tua di Kalimantan Tengah

Masjid Kyai Gede

Masjid Kyai Gede Kotawaringin adalah masjid yang paling tua yang tetap berdiri kuat sampai sekarang di Propinsi Kalimantan Tengah. Masjid ini adalah warisan dari kesultanan Kotawaringin. Kesultanan Kotawaringin sendiri ialah kesultanan pertama serta hanya satu yang sudah pernah berdiri di Propinsi Kalimantan Tengah.

Nama Masjid Kyai Gede di Kotawaringin ini diambil dari adopsi pada nama seseorang ulama dari tanah jawa yang menebarkan agama Islam di daerah Kotawaringin, yang mempunyai julukan jadi Kiai Gede.

Masjid ini termasuk benar-benar awet, sebab tidak hanya berusia sangatlah tua, masjid yang cuma memiliki bahan baku kayu ulin ini tetap berdiri kuat sampai saat ini, serta masih digunakan jadi bangunan masjid sampai sekarang.

Tempat Masjid Kyai Gede terdapat di Desa Kotawaringin Hulu, Kec. Kotawaringin Lama, Kab. Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah. Masjid Kiai Gede ini menghadap sungai antara Kota Waringin Barat, bahkan juga sungai itu masih dipakai jadi jalan transportasi penting.

Sedangkan untuk bangunan Masjidnya, dibuat dengan kayu pilihan, dan pondasinya dibikin seperti rumah panggung, hingga benar-benar tahan hadapi cuaca yang silih bertukar. Susunan Arsitekturnya dibikin dengan bersusun, serta mempunyai susunan yang hampir serupa dengan arsitektur Masjid Agung Demak.

Riwayat Masjid Kyai Gede

Masjid Kyai Gede pertama-tama dibuat pada tahun 1632 Masehi, jadi sampai sekarang telah berusia lebih dari 300 tahun. Menurut satu cerita riwayat dikisahkan jika Kiai Gede adalah salah seseorang ulama yang datang dari Kesultanan Demak. Beliau adalah murid dari Sunan Giri Gresik, lalu berhijrah ke pulau kalimantan untuk menebarkan agama islam dari sana seputar tahun 1591 masehi. Saat itu kesultanan Banjarmasin masih diperintah oleh Sultan Mustainubillah.

Saat kehadirannya pertama-tama, Kiai Gede diterima secara baik di Kesultanan Banjar, yang saat itu telah masuk islam. Sultan Banjar selanjutnya memberikan tugas Kiai Gede untuk lakukan syiar agama islam di Kotawaringin, serta meniti satu kesultanan baru. Bersama dengan beberapa pengikutnya, Kyai Gede babat alas belantara untuk jadikan jadi pemukiman. Saat awal babat alas itu, cuma seputar 40 orang saja yang mengerjakannya, lalu berkembang serta terus berkembang sampai sekarang jadi satu diantara tempat tinggal masyarakat yang benar-benar maju.

Pada akhirnya, babat alas itu sukses dikerjakan serta satu bangunan masjid dibangun jadi pondok serta tempat untuk melaksanakan ibadah pada saat itu, dengan bahan baku seadanya.

Masjid Kyai Gede memang terbuat berbahan baku Kayu saja keseluruhannya. Kayu itu adalah Kayu Ulin pilihan yang memungkinkannya untuk mempunyai ketahanan sampai beberapa ratus tahun. Untuk menghindarkan kelapukan di bagian tiang, kayu sisi tiang tidak ditanam, tetapi ditempatkan di atas mangkok’an yang terbuat dari kayu ulin.

Bangunan Masjid Kyai Gede Kotawaringin berdenah bujur sangkar dengan ukuran 15,5 x 15,5 meter, dengan type Joglo. Keseluruhan bangunan masjid dikelilingi oleh pagar kayu setinggi 1,25 meter. Bahkan juga, bangunan lantai serta dindingnya semua memakai bahan baku kayu ulin saja. Untuk tiang yang menyokong bagian atap masjid, dibangun sekurang-kurangnya 36 tiang.

Diluar itu, masjid ini mempunyai mihrab serta mimbar yang terbuat dari kayu ulin. Masjid ini mempunyai satu beduk yang benar-benar tua jadi hadiah dari kerajaan Demak. Di bagian belakang masjid, ada satu bangunan penambahan (serambi) yang umumnya dipakai untuk jamaah yang terlambat (ma’mum masbuq).

Masjid Al Dahab di Manila Filipina

Masjid Al Dahab Manila

Masjid Al-Dahab atau lebih diketahui dengan nama The Golden Mosque atau oleh orang melayu disebutkan Masjid Emas atau dalam bahasa Spanyol disebutkan Mezquita del Globo de Oro serta dalam bahasa Tagalog Filipino disebutkan Moskeng Ginto, adalah satu diantara masjid paling besar di Manila, Ibukota Negara Philippina. Disebutkan dengan golden mosque atau masjid emas sebab kubahnya yang memang di cat dengan cat warna ke emasan yang berkilauan. Al-Dahab sendiri jika di Indonesiakan berarti “Emas”. sedang nama sah yang terpajang di atas gerbang masjid ialah “Manila Golden Mosque and Cultural Center”.

Manila Golden Mosque

Tempat Masjid Al-Dahab

Masjid Al-Dahab atau Golden Mosque berdiri di ujung jalan Globo de Oro, nama jalan yang bermakna “bola dunia keemasan”. Distrik Quiapo yang didiami oleh komunitas muslim Metro Manila. Di seputar masjid di distrik Quiapo terdapat banyak toko, warung serta rumah makan yang menyediakan makanan halal serta buah buahan fresh dari pulau Mindanao, walau pengunjungnya dari bermacam latar terhitung pengunjung non muslim.

Masjid ini terbuka untuk kunjungan dari golongan mana saja terhitung non muslim yang ingin berkunjung ke masjid sampai ke sisi dalam, pengurus masjid akan suka hati temani. Buat pengunjung yang tidak dengan baju muslim (tidak tutup aurat secara baik) disiapkan baju untuk tutup aurat oleh pengurus masjid.

Riwayat Pembangunan Masjid Al-Dahab Manila

Masjid Al-Dahab ini dibuat tahun 1976 di distrik Quiapo, dalam kota Metro Manila di waktu pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos berkuasa di Philippina, dengan pengawasan langsung dari fist lady Philippina saat itu, Imelda Marcos. Pembangunan masjid Al-Dahab ini diperuntukkan untuk menyongsong kehadiran Presiden Libya, Kolonel Muammar Qaddafi yang sedianya akan tiba ke Philippina untuk satu kunjungan kenegaraan dalam usaha mengatasi pertikaian di antara pemerintah Philippina dengan pejuang kemerdekaan Moro (MNLF-Moro National Liberation Front) yang ingin membangun Negara berasaskan Islam di gugus kepualauan selatan Philippina yakni di kepulauan Sulu, Mindanao serta Palawan.

Gagasan kunjungan presiden Libya, Muammar Qaddafi itu memang selanjutnya diurungkan tetapi gagasan kunjungan nya itu sudah memberi karunia tertentu buat muslim Kota Manila yang selanjutnya nikmati megahnya masjid yang di dirikan pemerintah Katholik Philippina ditengah-tengah komune muslim di Ibukota negeri itu.

Riwayat mencatat jika perdamaian di antara pejuang muslim MNLF di bawah pimpinan Nur Misuari itu berlangsung sesudah Presiden Republik Indonesia saat itu (alm) Pak Harto mengundang presiden Philippina, Ferdinand Marcos serta tokoh MNLF, Nur Misuari untuk berdialog di Istana Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dalam perundingan yang di memimpin oleh Menlu RI, (Alm) Ali Al-Atas tanggal 17 April 1993 selanjutnya terwujud persetujuan pemberian otonomi Spesial pada Muslim Mindanao dengan Nur Misuari jadi Gubernur nya.

Interior Masjid Al Dahab

Arsitektur Masjid Al-Dahab Manila

Masjid Al-Dahab atau Golden Mosque ini dibuat untuk menyimpan 3000 jamaah, membuatnya jadi bangunan masjid paling besar di kota Manila. Komplet dengan satu kubah besar berwarna ke emasan. Warna kubah dengan warna emas itu yang selanjutnya jadikan masjid ini dikatakan sebagai golden mosque. Satu menara lengkapi masjid jadi tempat disuarakan nya azan.

Masjid kubah emas ini cukup istimewa ditengah-tengah kota Manila, interior masjid di penuhi dengan lengkungan lengkungan yang elok. Walau beberapa laporan mengatakan jika eksterior masjid terlihat dikit kurang tertangani secara baik, tetapi interior masjid dengan nuansa warna kuning jelas ini cukup bagus serta memberi ke khusu’an buat tiap jema’ahnya.

Masjid Negara – Masjid Nasional di Malaysia

Masjid Negara Malaysia

Masjid Negara adalah Masjid Nasional Malaysia yang ada di Ibukota Negara, Kuala Lumpur. Masjid Negara dapat menyimpan 15 ribu jamaah sekaligus juga, membuatnya jadi masjid paling besar di Malaysia saat usai dibuat, sampai selanjutnya Masjid Biru di Shah Alam berdiri. Tidak cuma luas, besar, serta istimewa, dan juga dikelilingi oleh taman yang diatur demikian bagus serta indah. Masjid Negara adalah simbol keagungan Islam, jadi agama sah di Malaysia

Masjid ini direncanakan oleh tiga arsitek, masing masing ialah Howard Ashley dari departemen pekerjaan umum Inggris serta dua Arsitek pribumi, Hisham Albakri serta Baharuddin Kassim. Dibuat tahun 1965 dilokasi Gereja Venning Road Brethren Gospel Hall yang telah berdiri dari sana semenjak tahun 1922 selanjutnya diambil pindah oleh pemerintah Malaysia untuk membuat Masjid Negara. Bangunan masjid Nasional Malaysia dibuat jadi masjid modern serta istimewa dengan susunan beton bertulang dan melambangkan inspirasi bangsa Malaysia yang saat itu barusan mendapatkan kemerdekaan dari Inggris.

Masjid Negara Malaysia

Masjid Negara ada di lokasi strategis di Pusat kota Kuala Lumpur, berdekatan dengan Kereta api Malaysia , gedung Daya Bumi , Kantor Pos Besar Malaysia, Musium Seni Islam, Taman Burung Kuala Lumpur serta Taman Tasik Pertama.

Arsitektur Masjid Nasional Malaysia

Lokasi Masjid ini luas nya mencapai 13 hektar serta bangunan intinya seluas kurang lebih 3 hektar. Semua lokasi masjid di kelilingi sebahagian besar oleh tembok konkrit serta beberapa oleh pagar. Diperlengkapi tujuh pintu masuk. Sarana untuk pengunjung non muslim disiapkan terhitung toilet umum. Pintu masuk spesial pelancong dalam dan luar negeri ada bersisihan dengan Dewan Bandaraya Kuala Lumpur.

Pada umumnya, Masjid ini dibuat dengan gaya modern. Arsitektur masjid ini dikenali dengan satu menara setinggi 73 meter serta kubah di atap masjid yang jika disaksikan dari udara berupa bintang 16. Kubah dengan bentuk bintang 16 ini cukup unik, jika disaksikan dari samping benar-benar jelas kelihatan jika kubah masjid Negara berupa payung yang sedang terbuka beberapa, persamaan kata dari pelindung pada sengatan panasnya matahari tropis. Kubah berupa payung memiliki ukuran tinggi 84ft serta diameter 200ft.

Interior Masjid Negara Malaysia

Kubah Masjid Nasional Malaysia

Bagian dalam kubah payung dihias dengan ukiran kaligrafi ayat suci Al-quran berbahan alumuium menyimbollkan kesultanan di Malaysia serta kelihatan demikian indah dari dalam masjid. Sedang sisi pucuk bangunan menaranya mirip bentuk payung yang sedang tertutup. Digunakannya susunan beton bertulang pada atap masjid utama ialah untuk memperoleh ruangan yang lega buat ruangan sholat penting. bangunan masjid ini terpantul dengan indah dari kolam serta pancuran air yang menyengaja dibuat di sekitar masjid.

Tidak jauh dari Masjid ini ada Taman Makam Pahlawan Nasional Malaysia, tempat dimakamkannya beberapa politikus malaysia salah satunya ialah Tun Abdul Razak, Tun Hussain Onn serta lain lain. Maosoleum Makam Pahlawan dibuat dengan atap berupa tujuh bintang tujuh jika disaksikan dari udara.

Kemegahan Masjid Agung Kuwait

Masjid Agung Kuwait

Masjid Agung Kuwait ada di atas tempat seluas 45 ribu meter persegi. Masjidnya sendiri mempunyai ukuran 20 meter persegi. Pada ukuran ruangan penting masjid ini sama dengan ukuran lapangan sepak bola yang sekitar 72 m x 72 m. di ruangan penting ini ada 21 pintu dengan hiasan ukiran islam kaligrafi Al-Qur’an dengan skema geometris. Semua pintu itu memiliki bahan kayu jati yang kuat bertahan lama serta benar-benar cantik. Diluar itu, diperlengkapi dengan 144 jendela kaca yang ukurannya besar sekali. Kubah di masjid Agung Kuwait ini mempunyai ukuran yang berdiameter 26 meter atau setinggi 85 kaki serta tingginya sampai 43 meter atau 141 kaki.

Dalam masjid ini bisa menyimpan lebih dari 10 ribu jamaah. Pada ruangan penting masjid Agung bisa menyimpan sampai 10 ribu jamaah. Dan ditambah lagi 950 jamaah yang bisa ditampung pada bagian ruang spesial jamaah wanita. Tidak cuma disana saja, sekitar 7.000 jamaah bisa ditampung pada bagian pelataran masjid yang memiliki ukuran 6.500 meter persegi. Di sini ada perpustakaan islam yang luasnya 350 meter persegi. Diperlengkapi tempat parkir untuk menyimpan kendaraan beberapa jamaah sekitar lima lantai, yang ada dibawah pelataran barat masjid. Ruang parkir itu bisa menyimpan lebih dari 550 kendaraan roda empat.

Masjid Agung Kuwait

Walau masjid ini cuma bisa menyimpan keseluruhan kira-kira 17.950 jamaah, tapi di bulan Ramadhan jumlahnya jamaah yang melakukan beribadah di masjid ini melompat tajam. Tidak cuma warga yang ada dari sana, beberapa pelosok Kuwait umumnya hadir serta memadati masjid sampai sampai 100 ribu jamaah. Serta sepanjang bulan Ramadhan pengelola masjid dengan spesial menyiapkan semua keperluan untuk melayani beberapa tamu yang hadir ke masjid ini. Tidak cuma hanya itu, di masjid ini umumnya diselenggarakan beberapa acara, sepanjang bulan puasa acara itu bisa dibarengi dengan cara langsung lewat aliran TV Nasional Kuwait.

Arsitektur Masjid Agung Kuwait

Arsitektur masjid Agung Kuwait adalah design yang sangat islami serta prima. Adanya masjid yang istimewa ini, jadikan satu diantara daya tarik tertentu di kota ini. Sebab semenjak awal pembangunan yang dikerjakan oleh pemerintah Kuwait benar-benar betul-betul serius, dalam memerhatikan pembuatan semua detil bangunannya. Sebagai keunikan dari masjid ini ialah kombinasi di antara style arsitektur tradisional dengan keindahan kaligrafi. Di bagian kiblat masjid disisinya ada kaligrafi Al-Qur’an dengan style Kufi. Berhias dengan memakai kombinasi warna serta bentuk yang benar-benar indah menimbulkan warna serta ciri-ciri ciri khas dari padang pasir serta lokasi teluk tempatnya ada. Ada empat lampu gantung yang benar-benar cantik pada bagian ruangan penting masjid. Bahan material yang dipakai juga datang dari tembaga serta kayu yang membuahkan kombinasi memesona menggantung di kubah utama. Ukiran kaligrafi di masjid ini diantaranya ialah Asmaul Husna.

Interior Masjid Agung Kuwait

Bila dilihat dengan terlalu jauh, bangunan ini mempunyai kombinasi adat lama serta baru. Tetapi selanjutnya membuahkan bangunan masjid yang kekinian. Menara di masjid ini sampai tinggi 74 meter serta dibuat terpisah disamping barat laut dibagian bangunan masjid. Menara yang dipunyai masjid ini tunggal serta tinggi sekali. Keindahan yang lain yang makin membuat jamaah kerasan ialah diperlengkapi dengan beberapa jenis bunga yang cantik ada di taman. Tidak hanya bermacam bunga, ada pohon-pohon kurma serta bermacam pancuran air terjun yang lain.

Di masjid ini ada kegiatan internasional yang diadakan, contohnya saja Komunitas Seni Islami yang sudah diadakan pada bulan Desember 2011 lalu dalam acara The Fifth Islamic Arts Komunitas yang di turuti oleh peserta dari 10 negara islam dari beberapa penjuru dunia.

Masjid Mantingan – Peninggalan Sejarah Islam di Jepara

Masjid Mantingan Jepara

Salah satu masjid tua di Indonesia ini berada di Desa Mantingan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Masjid Mantingan dibangun pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 M. Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak terakhir yang telah membangun Masjid Mantingan. Beliau pernah menjabat sebagai Adipati Jepara dan di beri gelar Sultan Hadiri. Makam beliau berada di dekat Masjid Mantingan yang telah dibangunnya.

Masjid Mantingan dibangun ketika budaya Hindu masih sangat kuat melekat pada masyarakat saat itu. Terbukti pada hiasan hiasan dinding pada Masjid Mantingan. Ornamen relief dengan citarasa tinggi melekat pada hiasan dinding Masjid mantingan berupa motif binatang seperti kera, gajah, kijang yang terukir dengan halus pada batuan sejenis batuan kapur yang keras.

Masjid Mantingan Jepara

Cerita pewayangan Ramayana juga tergambar pada relief yang ada di dinding masjid mantingan seperti Hanoman, Rama, Sinta. Gaya arsitektur Hindu juga terlihat sampai sekarang adalah sebuah bangunan gapura candi bentar. Patih Sungging Badar Duwung adalah pemahat ulung dijamannya, ia adalah pembantu dari Sultan Haldirin. Sehingga di Jepara sekarang masih terkenal dengan kemasyurannya tentang ukiran.

Riwayat Pemugaran Masjid Mantingan

Pemugaran yang dilakukan beberapa kali pada Masjid Mantingan membuat beberapa keaslian bangunan hilang. Keaslian bangunan Masjid Mantingan mulai dari dinding yang terbuat dari bata merah, kemudian memiliki atap masjid yang bersusun tiga. Ada tiga pintu utama dan setiap pintu memiliki dua buah daun pintu. Tiga buah pintu ini berfungsi untuk membagi dinding bagian depan menjadi empat bidang. Pada setiap bidangnya tembok memiliki tujuh panel relief yang tersusun rapi dari atas hingga kebawah. Jadi total panel relief yang dimiliki adalah 28 panel relief.

Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1927, dan pemugaran yang dilakukan tidak hanya bangunan masjid saja, tetapi kompleks mantingan keseluruhan mengalami pemugaran. Bahan material semen dan kapur membuat keaslian bangunan hilang, namun sebagian relief diletakkan pada serambi masjid. Pemugaran berlangsung kembali dilakukan pada tahun 1978 hingga 1981. Pemugaran kali ini mengakibatkan atap kubah masjid yang semula bersusun tiga menjadi cuma satu saja. Panel relief juga dipindah dengan menambah bidang pada bangunan yang semula empat sekarang menjadi enam bidang.

Relief sebagiannya masih dipasang di serambi masjid, ada yang disimpan di gudang masjid, dan ada juga yang disimpan di Museum Kartini Jepara. Hingga di Museum Ronggowarsito Semarang, Jawa Tengah pun menjadi penyimpanan sebagian relif yang di miliki Masjid Mantingan.

Masjid Agung Al Fateh – Bahrain

Masjid Agung Al Fateh

Masjid Agung Al-Fateh ada di kota Manama, ibukota Bahrain yang di klaim jadi satu diantara masjid dengan ukuran paling besar di dunia, dengan ukuran 6500 meter persegi serta bisa menyimpan 7000 jamaah sekaligus juga. Walau disebutkan ucap jadi satu diantara masjid paling besar di dunia, masjid ini kalah jauh jika dibanding dengan daya tampung Islamic Center Samarinda (Kalimantan Timur) yang mempunyai kemampuan hingga 40 ribu jamaah sekaligus juga.

Seperti disebutkan di situs resminya Masjid Agung Al-Fateh bernama sah jadi Ahmed Al-Fateh Islamic Center atau dalam bahasa Arabnya dikatakan sebagai Markaz Ahmad Alfatih Al-Islamiya. Tetapi lebih populer dikatakan sebagai Masjid Agung Al-Fateh atau Masjid Al-Fateh saja. Kedatangan masjid ini meningkatkan rangkaian bangunan bangunan istimewa serta mendunia di Bahrain. Tidak hanya diketahui dengan Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain diketahui dunia internasional dengan Circuit Formula Satu serta Jalan tol empat lajur lintas laut “The King Fahd Causeway” yang menyambungkan pulau Bahrain dengan Saudi Arabia di daratan penting semenanjung Arab.

Masjid Agung Al Fateh

Riwayat Islam di Bahrain

Bahrain adalah lokasi pertama di luar semenanjung Arabia yang terima Islam. Sebelum masuknya islam ke kepulauan ini, rakyat Bahrain adalah beberapa penyembah berhala. Nama Bahrain sendiri saat itu diketahui dengan nama Pulau Awal, nama yang diambil dari nama berhala suku Wael. Islam masuk ke Bahrain sewaktu hidup baginda Rosullullah SAW. Ialah Al-Ala’a Al-Hadhrami yang bawa surat ajakan ber-Islam dari Rosulullah SAW datang di Bahrain pada tahun ke delapan hijirah. Al-Hadhrami mengemukakan surat baginda Rosul pada Raja Bahrain, Al-Mundhir ibnu Sawa. Sesudah konsultasi dengan beberapa kepala suku yang ada Raja putuskan terima ajakan Rosulullah untuk ber-Islam.

Bersamaan dengan wafatnya Rosulullah S.A.W, serta 30 tahun waktu kekuasaan khulafaur Rasyidin (Khalifah Abu Bakar R.A., Khalifah Umar R.A. Khalifah Usman R.A.,.serta Khalifah Ali R.A. Bahrain jadi sisi dari daerah dinasti Umayah serta Abasiah. Dari era ke 7 sampai era ke 13 Bahrain jadi perhentian penting rute perdagangan di antara Iraq serta anak benua India. Jadi penghasil mutiara, Bahrain populer sampai ke pelosok emperium Islam jadi permatanya ekonomi.

Melalui perjalanan berabad era Bahrain selanjutnya dikuasai oleh beberapa Dinasti Arabia serta Persia silih bertukar. Bahkan juga Portugis sempat juga kuasai kepulauan Bahrain sepanjang 80 tahun di era ke-5 belas. Beberapa penakluk, pedagang, petualang, beberapa budak, barisan agama yang ekstrim sampai beberapa tentara bayaran sudah pernah menelusuri di negeri pulau ini dalam usaha temukan harta karun Bahrain.

Riwayat Masjid Agung Al-Fateh

Masjid ini adalah sisi dari Islamic Center Ahmad Al-Fateh. Pusat ke-Islaman ini terhitung di dalamnya ialah Masjid Agung Al-Fateh, pusat studi Al-Qur’an serta Perpustakaan Islam. Dibuat atas perintah dari Amir Bahrain, Sheikh Isa ibn Salman Al Khalifa. Project pembangunan lokasi ini diawali dengan upacara penempatan batu pertama pada bulan Desember 1983. Proses pembangunannya diawali tahun 1984 serta diresmikan langsung oleh beliau tahun 1988. Nama Al-Fateh yang menempel pada nama masjid ini adalah bentuk penghormatan pada mendiang Ahmed Al Fateh, sang penakluk Bahrain.

Bahrain Grand Mosque

Masjid Agung ini memiliki ukuran 6500 meter persegi dapat menyimpan 7000 jamaah sekaligus juga. Keseluruhnya lantai masjid ditutup memakai batu pualam dari Italia terhitung bagian-bagian besar dindingnya, sedang lampu gantungnya dibikin spesial di Austria. Pintu pintu masjid ini dibikin berbahan kayu teak wood dari India, kubah besar masjid dibikin berbahan fiberglas, serta adalah kubah masjid fiberglass paling besar di dunia.

Masjid Agung Al-Fateh mengambil kebijaksanaan memoderenisasi negaranya namun pelihara secara baik nilai nilai Islam dalam Karakter-nya jadi Negara Arab. Islamic Center Ahmad Al-Fateh ini dibuat dengan misi mencerminkan serta mempromokan kebijaksanaan itu. Misi penting nya ialah memfasilitasi serta mempromosikan pandangan yang benar serta tepat mengenai Islam sekalian berusaha tampilkan kerajaan Bahrain jadi Negara Islam yang kekinian serta toleransi dimana ketidaksamaan serta komune yang multi budaya bisa hidup berdampingan dalam damai.

Masjid Agung Baitul Makmur – Meulaboh Aceh

Masjid Termegah di Pantai Barat Aceh

Masjid Agung Baitul Makmur adalah satu diantara masjid yang paling besar serta termegah di daerah Pantai Barat Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Terletak benar-benar strategis sebab ada di persimpangan yang membelah beberapa kabupaten.

Sisi timur masjid terdapat di persimpangan Kabupaten Nagan Raya serta Aceh Barat Daya, semasing ke arah Kabupaten Aceh Tengah serta Kabupaten Aceh Selatan atau Singkil. Di samping barat ada persimpangan Aceh Jaya ke arah Banda Aceh, sesaat dibagian selatan dijepit Lautan Hindia dengan pelabuhan kota Meulaboh ke arah Kabupaten Simeulu.

Masjid Agung Baitul Makmur

Arsitektur Masjid Agung Baitul Makmur

Bangunan masjid terlihat benar-benar mencolok dengan gaya arsitektur kombinasi Timur Tengah, Asia, serta Aceh dan penentuan warna cokelat cerah yang digabungkan dengan warna merah bata di kubah masjid.

Keunikan masjid yang bisa dilihat dengan kasatmata ialah tiga kubah utama yang dijepit dua kubah menara air memiliki ukuran lebih kecil. Bentuk kepala semua kubah sama, yaitu bundar berbuntut lancip, ciri khas gabungan arsitektur Timur Tengah serta Asia.

Masjid akan diperlengkapi dua menara baru yang sampai tulisan ini di turunkan masih juga dalam step penyelesaian. Menara itu akan membuat masjid kelihatan makin istimewa serta bisa berperan jadi landmark daerah ditempat.

Pintu gerbang masjid juga adalah kelebihan tertentu. Gerbang yang berdiri dengan sendiri dengan jarak beberapa meter dari masjid ini kelihatan benar-benar anggun. Gerbang ini seolah-olah memperjelas jika siapa juga yang masuk gerbang akan menemui panorama yang benar-benar indah.

Interior Masjid Agung di Meulaboh

Di masjid kelihatan dua ide ruangan yang berlainan. Pertama, pengunjung diterima oleh ruang yang mempunyai banyak tiang penyangga lantai dua jadi mezzanine. Dibagian tengah ada ruangan lega yang sangat terasa lega dengan ornament lampu hias pas di tengahnya.

Interior Masjid Agung Baitul Makmur

Ide style arsitektur Timur Tengah kelihatan dari bentuk mihrab. Mihrab yang kelihatan benar-benar indah ini didominasi warna cokelat serta nuansa keemasan ciri khas material perunggu dengan ornament ciri khas Islam. Kesan-kesan elegan serta sejuk langsung berasa waktu menatapnya.

Tidak hanya jadi tempat beribadah, masjid mempunyai peranan pendidikan. Peranan ini diwakili oleh kehadiran Madrasah Tsanawiyah, Ibtidaiyyah, Dinniyyah, TK Al-Quran, serta TPQ di tempat masjid. Keberadaan Masjid Agung Baitul Makmur ditengah-tengah warga Meulaboh yang religius juga makin kuat.

Gabungan di antara keluasan bangunan serta keindahan arsitektur yang membuat satu susunan keelokan sudah jadikan Masjid Agung Baitul Makmur jadi satu diantara masjid terelok di Indonesia.

Gratis Konsultasi 08122229385